
Aku menangis. Bukan sedih karena peristiwa naas yang merenggut nyawa Yunita, tapi karena kemungkinan perbuatan tidak senonoh yang mungkin mereka lakukan sebelum kecelakaan itu. Karena hal itu. Bukan, bukan aku sok suci, tetapi, karena Yunita melakukannya dengan suami sepupunya sendiri. Bagaimana perasaan Puspita? Betapa malang nasib sahabatku itu. Aku pun takut kalau semua ini akan berakibat buruk pada kandungannya.
"Hei, jangan menangis," tegur Mas Ilham seraya mengusap air mataku. "Semua ini sudah takdir-Nya."
Aku menggeleng. "Aku kepikiran Puspita, Mas," kataku. "Dia pasti...." Aku terisak.
"Telepon," katanya menyuruhku. Bahkan, Mas Ilham sendiri yang mengambilkan ponselku, menyerahkannya kepadaku, dan aku langsung menelepon Puspita.
Sambungan telepon ke Indonesia pun terhubung.
"Ada apa?" tanya Puspita setelah menjawab salamku. Jelas suaranya terdengar seperti orang yang mengantuk berat. "Tidak usah mengucapkan belasungkawa," katanya, enteng dan teramat tenang, bahkan terkesan cuek.
Aku terkejut. "Lo? Kok?"
"Aku tidak sedih. Malah kalau diperbolehkan, aku mau bersyukur karena azabnya cepat sekali sampai."
Ya Tuhan... seperti itulah gambarannya kalau wanita sudah sangat sakit hati dan sudah berada di titik jenuh. Yang tersisa hanyalah kebencian.
"Ya sudahlah. Tadinya aku khawatir. Takut kamu...."
Puspita cekikikan, menertawaiku sampai terkekeh dan nyaris ngakak. "Sedih kenapa? Ada-ada saja kamu, Bil. Malah mending kejadian begini. Jadinya belang mereka berdua ketahuan, kan?"
Hmm....
"Sudah, ya... kamu tidak perlu memikirkan aku. Demi Allah, aku baik-baik saja. Yang membuatku kepikiran cuma satu, bagaimana membatalkan perceraian dengan orang yang sudah mati?"
__ADS_1
Hmm....
"Meninggal, Pus...."
"Mati, Bil...."
"Kamu ini...."
"Lah... meninggalkan untuk manusia. Mereka kan binatang."
Hmm....
"Tapi aku akan mengusahakan semuanya supaya identitas anakku jelas. Sudah, ya. Aku ngantuk, nih. Kamu fokus saja dengan bulan madu kalian. Dah, Bila...."
Sahabatku gendeng!
"Eh?"
Tiba-tiba Mas Ilham memelukku dari belakang. Begituuuuuu erat. Dia mencium pipiku. "Terima kasih, Sayang."
Duuuh... kenapa lagi dengan yang satu ini?
"Terima kasih untuk apa?"
Dia menunjukkan testpack yang sudah dia uji sendiri. Bergaris dua.
__ADS_1
"Positif?"
Aaaaah... bahagianya tak terkira. Untuk yang ini aku tak lupa memanjatkan syukur, mengucapkan hamdalah dan pujian-pujian kepada yang Mahakuasa yang terucap spontan begitu saja.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih."
Aku berputar menghadap Mas Ilham, lalu mengangguk, dan menangis haru dalam pelukan suamiku.
"Semoga ini yang terbaik, ya. Aku janji, aku akan menjaga dan melindungi istri dan calon anakku dengan baik."
Aku tidak menyahut, hanya mengangguk tanpa mengurangi eratnya pelukanku pada tubuh suamiku.
"Satu lagi."
"Emm? Apa?"
"Jangan minta pulang, ya?"
"Pulang?"
"Em, jangan minta pulang. Kita tetap di sini sampai lewat trimester pertama kandunganmu. Oke?"
Aku mengangguk lagi. Kenapa juga aku harus pulang? Yang meninggal bukanlah anggota keluargaku, dan seakan bukan lagi temanku. Bukan aku bersyukur atas kematiannya, bukan pula berniat untuk berbahagia atas kemalangannya, namun rasa peduliku padanya seakan sudah lenyap semuanya sejak ia memfitnahku atas kehamilanku yang pertama, ditambah lagi dia memfitnah Mas Ilham berselingkuh dengan Puspita. Kalau ditanya benci atau tidak, aku seakan ingin mengiyakan. Tapi sudahlah. Toh, orangnya sudah meninggal. Dan aku akan tetap di sini, bersama suamiku, menjalani babak baru dalam kehidupanku, dengan keajaiban.
Tolong, jangan renggut lagi kebahagiaan ini dariku, Tuhan. Aku sangat mengharapkan anak ini. Dia penyempurna pernikahanku. Aku mohon....
__ADS_1