Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)

Hot Couple: Ilham Dari Tuhan (I Love You, Ustadz!)
Momen Terdahsyat


__ADS_3

Tapi sayangnya tidak bisa. Kami pulang ke Indonesia menjelang persalinan istri muda Abi. Demi Umi, Mas Ilham mengajakku pulang. Dan kami semua sepakat untuk tidak membahas perihal persalinan itu sama sekali. Saat itu, Umi menginap di rumah kami, dan, pulang ke pesantren hanya ketika Abi pulang dari rumah istri mudanya.


Sebenarnya agak perih, ya. Wajar, kan? Aku seorang anak perempuan, aku merasakan sakitnya hati ibuku meski rasa sakit itu tak ia tunjukkan kepadaku. Meski ia memendamnya sendiri. Dan sebenarnya aku dan Mas Ilham sama-sama tahu kalau keadaan ini tidaklah baik bagiku. Tapi, kalau bukan aku yang berada di sisi Umi, siapa lagi?


Laila dan Laili tidak boleh terganggu. Mereka sudah kelas dua belas. Mereka mesti konsentrasi dan hanya fokus belajar.


Dalam hal ini, aku dan anakku yang menjadi penghibur untuk Umi. Sementara aku, Mas Ilham yang menjadi penguat bagiku.


"Semuanya akan berubah setelah anak kita lahir," ujarnya. "Aku jamin, Umi akan luar biasa bahagia dan tidak akan lagi dirundung kesedihan. Apalagi kalau cucunya ada empat, ya kan?"


Aku mengangguk.


"Zahra," bisik Mas Ilham. "Kita proses terus, ya. Mumpung kita masih muda. Kita jeda per enam bulan saja. Mau, tidak?"


Wow...! Dahsyat. Tapi aku setuju. Hah!


Tetapi... faktanya, semakin besar kandunganku, semakin niat itu ingin kuurungkan. Sebab, dalam kehamilan pertama ini, meski bahagia, aku juga merasa tersiksa. Aku bahagia karena Mas Ilham benar-benar berbagi suka-duka denganku. Tapi aku juga tersiksa: badanku bengkak seperti gajah. Berjalan sedikit napasku terasa sesak. Pinggangku sering pegal. Dan kakiku, hmm... sangat sering sakit, keram, nyeri dan pegal yang luar biasa, ditambah lagi sakit gigi. Klop! Kombinasi penyakit yang lengkap.


"Istighfar...," kata Mas Ilham. Dia senantiasa berada di sisiku, memelukku, meski itu tak mengurangi rasa sakitku. Tapi dia rajin mengurut kaki dan pinggangku. Dioleskannya minyak urut dan dia langsung memijatku dengan telaten. "Kalau begini, hamilnya sekali saja, ya. Aku tidak tega kalau melihatmu nangis terus begini," katanya.


Wait, aku bukannya cengeng, lo, ya. Tapi ini sakitnya memang luar biasa. Cenat-cenut. Sementara, aku takut mengonsumsi obat-obatan. Mas Ilham pun berkata seperti itu dikarenakan dia kasihan kepadaku. Sama sekali bukan karena tidak ikhlas mengurusi aku. Sama sekali bukan begitu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Mas," kataku sambil menahan sakit dengan derai air mata. "Kan ini cuma pas kandunganku sudah besar kayak sekarang. Awal-awal hamil kan tidak begini."


Ngeyel, ya, aku?


Eh, sewaktu lahiran, niatku untuk empat kali hamil malah semakin ingin kuurungkan. Kalau kuingat-ingat masa persalinan yang pertama itu, rasa ngilunya yang luar biasa itu sampai sekarang masih jelas terasa. Sumpah.


"Sakiiiiiit...," teriakku. Perutku mules bukan main. Di bagian bawah tubuhku seakan ingin didobrak paksa oleh si bayi.


Aku yang menjerit, Mas Ilham yang menangis. Dia menggenggam tanganku begitu erat, tapi dia juga berkata, "Aku mau keluar saja, Zahra. Aku tidak tega melihatmu seperti ini."


Hmm... enak saja! Produksinya sama-sama, kok sewaktu launching tidak mau ikut?


"Tidak boleh! Enak saja kamu! Pokoknya temani aku sampai berojol!"


"Sakit, Maaaaas...."


"Tarik napaaas... dorooong...," kata Bu Bidan.


"Emmmmm...."


Berulang-ulang, instruksi berulang, dan responsku pun berulang. Sampai...

__ADS_1


Suara tangis bayiku terdengar, melengking dengan keras. Bayi laki-laki berbadan gemuk dan berkulit putih. Hidungnya mancung, dan ia memiliki rambut hitam yang lebat. Dia persis seperti Mas Ilham.


Ya Tuhan... lega sekali rasanya. Kelegaan yang tak bisa kudeskripsikan. Meski keadaanku pastilah sangat kacau dan sangat buruk, pasti pucat dan terlihat kucel, tapi aku tersenyum meski sakit itu masih terasa. Sebabnya, Mas Ilham sudah tersenyum bahagia. Dia sudah melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, dan tangan itu sekarang sibuk menyeka air mata dari wajahnya.


"Aduh. Aduh, Mas. Aduh. Aduh, aku mules lagi. Sakit. Sakit, sakit. Sakit, Mas...."


Argh! Kontraksi lagi. Ada satu bayi lagi yang ingin menerobos keluar. Kutarik lagi napasku dan aku menjerit lagi, mendorongnya dengan sekuat tenaga.


Kok bisa? Kok ada dua? Aku sendiri bingung. Hasil USG-ku selama ini tidak pernah terdeteksi kalau aku hamil bayi kembar. Masyaallah....


Ini buah dari keikhlasanku.


Mas Ilham menangis lagi. Kali ini bukan sekadar tangisan bahagia, tapi terharu. Dia mendapatkan dua jagoan kecil sekaligus. Dua pangeran tampan yang sangat identik. Seiras dan tanpa cela. Duplikat dirinya yang tampan dan gagah.


"Terima kasih, Sayang. Kamu ibu yang hebat." Dia mencium keningku, lama, dan, dengan sepenuh perasaan. "Aku mencintaimu, Salsabila Azzahra binti Muhammad Siddiq. Terima kasih."


Aku mengerjap. Tak mampu bersuara. Tak mampu berbuat apa-apa lagi.


Aku jera. Rasanya tak kepingin hamil lagi. Hiks! Ngiluuuuu, tahuuuuu...!


Tapi bahagia... luaaaaarrr biasa rasanya. Aku sangat bahagia melihat semua orang di sekelilingku bahagia. Terutama melihat kebahagiaan ibuku, kebahagiaan ibu mertuaku, dan kebahagiaan suamiku. Ini kebahagiaan yang sempurna.

__ADS_1


Selamat, Zahra. Sekarang kau sudah menjadi seorang ibu.


__ADS_2