
:|
Angin dingin bercampur panas seakan mengikis kulit wajahnya, firasatnya mengatakan bahwa saat ini sedang berada disituasi yang tidak menguntungkan sama sekali. Abang dan adiknya terlihat sangat jelas dalam bahaya terutama si abang, apa yang sebenarnya terjadi pun dirinya belum memahami situasi buruk ini tapi yang jelas sang bunda menguarkan aura yang menengangkan.
"Demi alvin the chipmunk gue kayaknya bakalan jadi beban abang sama adek gue." Gumamnya sambil melirik Bizar dan Kahfi bergantian tapi tidak melirik Shena, takut bertatap mata langsung ada laser menghunus.
"Kebetulan sekali." Sinis Shena menatap putrinya dan tanpa pikir panjang Sauqi langsung mengambil langkah seribu, bukan lari melainkan berpura-pura kesurupan didepan pintu seolah setan yang ada pada ibunya transmigrasi kedalam jiwanya.
Karena kaget, Bizar dan Kahfi reflek dan langsung lari menuju saudara perempuan mereka yang terlihat mengenaskan kejang-kejang didepan pintu. Bukannya menyerahkan diri dengan hormat malah bikin masalah baru membuat Kahfi dan Bizar ingin langsung membakar gadis itu supaya lekas menjadi abu.
"Buduh bet lu sih kak, bukannya jelasin baek-baek malah kejang-kejang." Bisik Kahfi dengan geram, dapet hidayah darimana pulak sang kakak untuk melakukan aktivitas yang terlihat konyol seperti ini? Jika di STM mungkin para guru masih percaya untuk meringankan hukuman tapi jika didepan bundanya itu hal yang tabu.
"Gue gak ada cara laen satt, gue gak tau apa yang terjadi ama lu bedua khusus nya abang yang udah pucet kek udang kesiram cuka." Balas Sauqi yang juga berbisik dan jangan lupakan dirinya masih akting kejang-kejang supaya bundanya tidak menaruh kecurigaan berlebihan.
"Perkara lu yang kemaren bunda dah tau, gue dipaksa ngemeng kalo kagak masa depan gue musnah." Adu Bizar dengan sisa ketakutan akan ancaman bundanya tadi, demi adik-adiknya tersayang apapun akan ia lakukan tapi tidak jika harus mengorbankan batangannya.
"Nggak usah pada bisik-bisik, bunda gak mau tanggungjawab kalo bebek tetangga hilang." Ucap Shena dengan santai, namun dalam pendengaran anak-anaknya nada bicaranya lebih menyerupai sangkakala, mengerikan.
"Hihi maap bund, lagian si kakak malah kek sakaratul maut gini jadi bawaannya pen langsung bisikin dua kalimat syahadat." Jawab Kahfi dengan senyum kaku dan seketika membuat Sauqi semakin melototkan matanya, kali ini bukan akting tapi memang reflek alami setelah mendengar penuturan sang adik yang lidahnya belum pernah disayat dengan ujung bambu tusuk sate.
"Nih bocil kalo ngemeng suka nggak mikir, suka bener aja." Lanjut Bizar dengan menahan mulutnya agar tidak kelepasan, batangannya terancam jadi jangan sampai tertawa disaat yang tidak baik seperti ini.
"Kalian berdua dari pada bacod disitu bagus angkat tu calon mayat kesini biar bunda enak ngeratain dadanya." Titah Shena dengan tatapan datar, baru denger omongannya aja udah bikin semua rerambutan dibadan berdisko ria berdiri semua dan bergoyang asik, apalagi melihat tampang datar dan bengisnya sekarang, udah dijamin bakal jadi mayat sebelum terbunuh.
"Duh bang mampus gue, aset masa depan biar anak gue ntar gak stanting terancam" Gumam Shena melirik sang abang yang kembali pucat pasi, bagaimana mungkin dia membiarkan kembaran nya dijadikan samsak sang bunda tapi jika dia tidak patuh maka masa depannya juga lebih terancam, gak ada buah pepaya masih ada kotakan yang terjual bebas, lah kalo batangan yang raib mana ada yang jual sambungannya.
__ADS_1
"Gue tadi dipihak bunda eh sekarang malah jadi sasaran juga, beh kaus kaki baru gue bakal gagal total ini." Keluh Kahfi yang wajahnya juga menyusul kedua kakaknya, pucat. Bahkan dirinya gemetar ketika membantu sang abang mengangkat sang kakak dan mendekatkan ke sang bunda.
Mau tidak mau keduanya lebih memilih mematuhi sang bunda, biarlah saudara perempuan nya teraniaya hari ini. Kalo pun mereka kehilangan nya maka tinggal meminta si ayah untuk ngajakin bunda bikin dedek cewek yang baru. Saudara lucknut memang.
"Kakak sadar sendiri atau bunda yang sadarin ?" Tanya Shena yang masih mode setan, dirinya marah saat ini tapi tidak kepada anak-anak nya.
"Selow bun kakak udah sadar setelah dibanting abang sama adek." Saut Sauqi dengan cepat sebelum bundanya bertindak, bangunin tidur aja hampir jatuhin jantung apalagi nyadarin dari kesurupan pura-pura, bisa-bisa empedunya resign detik itu juga.
"Bagus." Jawab Shena singkat, jika saat ini Sauqi yang pucat pasi maka kedua makhluk yang tadi sempat jadi vampir kini sudah terlihat lebih manusiawi dengan mulut yang terkunci rapat bahkan berkedip saja mereka takut.
Keringat didahi Sauqi sudah bagaikan air terjun, mengalir sampai jauh. Kedua saudaranya tidak ada yang membuka suara dan itu semakin membuatnya susah menelan salivanya sendiri apalagi ekspresi sang bunda yang lebih mirip pembunuh bayaran, sangar.
Ketika jantungnya berdetak semakin kencang, pikirannya kacau tak karuan dirinya semakin lemas dan berkunang-kunang. Apalagi saat ini orang yang dirinya takuti selain bundanya juga melangkah kan kaki semakin mendekat dengan tatapan yang sulit diartikan. Dirinya bagaikan tersangka pembunuhan ikan dugong secara berencana.
"Duduk dulu ay, gak usah ngopi dulu lah ya ini masalah nya genting." Ucap Shena menyambut kedatangan suaminya dan mempersilahkan duduk. Dirinya ingin sang suami tau apa yang telah terjadi kepada anak-anak nya sehingga harus disidang detik itu juga.
"Emang ada apa?" Tanya Juan lagi yang sekarang juga sudah memasang mode dingin mengimbangi sang istri.
"Kakak jelasin sendiri atau bunda minta abang yang jelasin?" Tanya Shena kepada Sauqi, dan Bizar hampir tersedak nafasnya sendiri karena namanya juga tersebut oleh sang bunda. Kalo bisa memohon, mungkin Bizar akan berlutut didepan sang bunda untuk tidak melibatkan nya dalam persidangan ini.
"Je..jelasin sendiri deh bun." Jawab Sauqi terbata, dirinya sungguh takut dengan reaksi ayahnya nanti setelah tau permasalahan nya.
"Jelaskan." Perintah Juan tegas.
"Mmm ja..jadi gini yah, emm itu mu..mungkin bunda udah tau dari abang tapi sebelumnya maafin kakak yang nggak bilang." Ucap Sauqi, dirinya terlalu takut untuk melanjutkannya. Dia takut jika reaksi sang ayah dan bundanya diambang batas normal mengingat ayahnya dan ayah Pasha adalah sahabat sejak lama.
__ADS_1
"Mm lalu?" Lagi-lagi Juan masih bersikap dingin, dirinya merasa jika ada kesalahan fatal sampai membuat istrinya marah.
"Mm itu Yah, bunda marah sama abang karena tau masalah kakak tapi gak cerita ke bunda atau ayah. Tapi kakak yang suruh abang untuk diem dulu karena kakak belum berani bilang." Jelas Sauqi dengan menunduk takut, sebisa mungkin dia harus menyelamatkan sang abang dan dirinya sendiri. Untuk Kahfi biarlah dirinya tidak ada sangkut pautnya soal ini.
"Sebenernya kakak udah nggak sama Pasha lagi Yah, dia ada main belakang selama setahun terakhir ini. Dan saat abang nanya tentang hubungan ini sebenernya itu lagi buruk-buruknya, bahkan untuk sekedar komunikasi bertukar kabar kami sudah tidak lagi Yah. Hingga akhirnya aunty Naswa bilang kalo dia pulang dan saat itu kakak sama sekali gak tau." Lanjut Sauqi dan di akhiri dengan helaan nafas kekecewaan serta amarah. Sebelum melanjutkan ceritanya, dirinya mengelus dadanya terlebih dahulu seolah banyak beban yang menyangkut disana.
"Dan saat itu pula aunty nyadarin kakak kalo ada yang gak beres dan mengaitkan dengan pertanyaan abang waktu itu. Sehari sebelum Pasha tiba disini, kakak sama aunty Naswa mencari bukti kebusukannya hingga akhirnya kami tau semuanya. Dihari kedatangan nya kakak kerumah kontrakan nya, kakak diantar aunty dan kakak juga ngajak abang dan bang Farhan kesana." Lagi-lagi Sauqi menghentikan penjelasan nya, hatinya tiba-tiba serasa diremas dengan ganas. Ingin menangis namun air matanya terlalu mahal untuk menangisi perkara yang hina seperti ini.
Juan dan Shena hanya menjadi pendengar yang baik dengan sesekali menghela nafas. Sedangkan Bizar dan Kahfi sudah mengepalkan tangan, jika mungkin Pasha ada disana saat ini tanpa babibu pasti kepalan itu akan mendarat cantik diwajah penghianat nya itu tanpa ampun.
"Sampai disana kakak turun sendiri, kakak memungut semua kaktus yang sengaja kakak letakin disana seakan kakak gak tau apa-apa soal kepulangannya, tapi setelah kakak berdiri cukup lama diteras itu kakak denger suara yang seharusnya gak mereka perdengarkan diwaktu yang mendekati tengah hari. Setelahnya dia keluar dan terlihat jelas bahwa dia gugup, dia seperti menyembunyikan sesuatu. Kami berdebat, hingga akhirnya sesosok perempuan datang dari dalam rumah dengan keadaan yang berantakan dan dia mengatakan hal-hal yang tidak sepantasnya dia ucapkan didepan seorang tamu. Wanita itu adalah sahabat yang selama ini tidak menyukai kakak, Shazia." Akhirnya dengan menahan segala sesak didadanya, Sauqi bisa menceritakan semuanya kepada kedua orangtuanya. Awalnya Shena tidak terlalu marah apabila Sauqi diselingkuhi oleh Pasha, namun setelah mendengarkan wanita selingkuhan Pasha adalah Shazia entah hasutan dari mana dirinya seakan meledak saat itu juga. Melihat perubahan istrinya yang sangat tak terduga Juan berusaha menenangkan permaisuri agar tidak terlarut dalam emosi.
"Ay tenang, aku juga marah soal ini tapi kita harus tenang." Ucap Juan dengan lembut seraya merangkul bahu Shena. Sauqi sudah semakin pucat pasi, Bizar dan Kahfi menjadi gemetar menahan amarah juga menahan ketakutan.
"Gimana aku tenang bang? Putri kita dihianti laki-laki yang dipercaya olehnya dan lebih sakitnya lagi seseorang yang selalu dihargai walaupun tidak menyukainya malah menusuk dari belakang. Apa abang akan dengan mudah nya memaafkan ini karena kedua penghianat itu adalah anak dari sahabat abang?" Sinis Shena, jelas terlihat rasa ketidaknyamanannya atas perbuatan terhadap putrinya. Ibu mana yang rela jika anaknya disakiti oleh orang terdekatnya sendiri.
"Abang gak akan semudah itu dek, tapi kita juga harus tenang menghadapi masalah ini. Ingat ini yang terbaik untuk Sauqi, Allah sudah mengaturnya dengan tepat kita harus bersyukur karena ini terjadi lebih awal." Ucap Juan memberi pengertian kepada Shena, bagaimana pun mereka adalah orangtua yang harus lebih tenang menghadapi pertikaian ini.
"Aku tau soal itu bang, aku hanya tidak terima jika anak-anak ku disakiti, apalagi oleh orang terdekat nya." Jawan Shena semakin dingin, dirinya saat ini benar-benar ingin meluapkan lava panas dari kepalanya yang sudah hampir mendidih.
"Ternyata memang benar jika pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Seberapa keras orangtuanya mendidik anak mereka untuk lebih baik darinya, yang namanya perangai pasti akan mendarah daging dengan sendirinya. Hmm putriku ternyata tak seberuntung aku dulu, namun sayangnya putrinya lebih hina dari ibunya." Sarkas Shena dengan tatapan penuh amarah, kebaikannya dulu menghilang hari ini. Kebencian yang pernah dia singkirkan agar tetap berjalan baik sekarang hadir dengan tambahan. Dia tidak akan ambil hati jika ada yang mengusiknya tapi jika menyangkut anak-anaknya itu sudah beda cerita.
"Bagaimanapun aku tidak terima dengan semua ini, cepat atua lambat aku akan menemui mereka. Aku tidak membutuhkan izin dari abang karena ini tanggungjawab ku sebagai seorang ibu." Lanjut Shena tidak ingin mendapat bantahan. Persetan dengan persahabatan suaminya, perasaan anak-anaknya lebih berharga daripada apapun bahkan perasaannya sendiri.
Mendengar keputusan sang istri, Juan hanya bisa mengangguk pasrah. Dirinya juga marah masalah ini, Laki-laki yang dia percaya untuk menjaga putrinya malah dengan terang-terangan mengkhianati kepercayaan nya dan putrinya. Persahabatan itu dulu tapi untuk nanti lain lagi setelah Permasalahan ini, yang jelas pemikirannya saat ini sama persis dengan apa yang Shena pikirkan.
__ADS_1