
Hari ini Alvian dan juga Naima sudah bersiap untuk ke rumah Raynan. Tak butuh waktu lama, dengan berjalan kaki pun hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit saja kini mereka berdua sudah sampai di sana dan di sambut oleh si kecil Kinanti yang berlari ke arah Alvian.
" Hai Papa, Hai tante" gadis kecil itu menyapa keduanya dengan riang. Alvian pun berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil yang begitu dia sayangi.
" Gendong... " ucapnya kemudian sambil bergelayut manja dan membisikan sesuatu yang entah apa, sehingga membuat Alvian menggendongnya dan masuk kedalam rumah, melupakan Naima yang menatap kepergiannya.
Tak lama Zahra keluar dan menghampiri Naima yang sedang berdiri, terpaku menatap lurus ke depan.
" Ayo masuk! maaf gadis kecilku merebut suamimu." ucapnya sambil terkekeh dan menarik Tangan Naima dan mengajaknya masuk ke dalam.
Di dalam terlihat kedua mertuanya sedang berbincang dengan sang kakak ipar. Naima pun berjalan mendekati mereka mengikuti langkah Zahra yang berada di depannya.
" Sini Nay," Nama mertuanya memanggil. Naima pun mendekati mereka dan menyalaminya. Mereka pun mengobrol tentang rencana ke depan, Zahra yang akan segera melahirkan dan juga rencana Alvian dan juga Naima yang akan pergi berbulan madu. Perjalanan ini sebenarnya bukan hanya untuk berbulan madu bagi Naima dan Alvian karena di sana Alvian juga akan mengurus perusahaan yang ada sedikit masalah. Sekali mendayung satu dua pulau terlampaui itulah kira-kira peribahasa yang tepat untuk rencana bulan madu mereka.
__ADS_1
Karena Papa mertua dan juga kakak iparnya berlanjut membicarakan urusan pekerjaan Para perempuan pun akhirnya beranjak dan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Walaupun di sana ada bik Imah yang sedang menyiapkan bahan- bahan yang akan di masak.
" Nay, kamu bisa masak? " tanya zahra.
" Bisa namun tidak begitu mahir." jawabnya sambil tertunduk malu."
" Gak apa, nanti juga akan bisa dengan sendirinya. toh sekarang banyak kok tutorial masak di aplikasi." Zahra berusaha menenangkan melihat Naima yang tertunduk.
" Betul ucapan kakak ipar mu, tenang saja Alvian tuh, gak banyak protes masak apa pun di makan. Lagian rumah kalian kan deketan, kamu bisa belajar dari kakak ipar mu yang jurusan tata boga." Nama mertua pun gak pernah keberatan sepertinya tentang bisa atau tidak menantunya memasak.
" Hari ini masak apa Mbak?" tanya Naima.
" Kita bikin goreng ayam, balado telur, cah kangkung dan pepes tahu. Tuh pepesnya malah udah matang dari tadi. " Zahra menunjuk sebuah panci yang berada di dekat kompor. " gak lupa aku juga sudah buat puding coklat yang diatasnya pakai buah strawberry, kesukaan Mas Rey dan juga Kinan."
__ADS_1
" Wah, enak banget nya kalau pintar masak, bisa membuat apa pun yang menjadi kesukaan keluarga. Mas Rey, beruntung punyak mbak Zahra." Naima menatap kakak iparnya penuh rasa kagum.
" Bisa aja kamu. Setiap orang punya kelebihan, kamu juga tentunya. Jadi kamu pastinya juga istimewa dimata suamimu."
" Ya betul kalian para menantu yang istimewa buat Mama." Mama Siska pun merangkul kedua menantunya menatap keduanya bergantian dengan. penuh rasa sayang, membuat hati Naima menghangat.
Mereka pun memasak sambil berbincang seru, Naima pun berusaha mengakrabkan diri dengan ibu mertua dan sang kakak ipar. Naima merasa tidak canggung karena keduanya begitu baik memperlakukannya. Naima melihat Mama Siska begitu menyayangi Zahra, terlihat dari interaksi keduanya yang terlihat sangat akrab. Dia pun berharap akan seperti itu dengan Mama Siska.
Setelah selesai menyiapkan makan siang, Zahra pun pamit untuk membersihkan diri begitu oun Mama Siska pamit ke kamarnya sebentar. Naima pun disuruh menghampiri Alvian yang berada di taman samping.
Naima pun melangkah ke taman samping dan melihat sang suami di sana yang sedang menemani keponakannya bermain. Naima melihat interaksi keduanya yang begitu akrab. Bahkan terlihat seperti seorang ayah dan anaknya. Naima berpikir Alvian memang sangat menyayangi Kinanti.
' apa kamu akan memperlakukan anak-anakmu kelak seperti itu' gumam Naima. Ada rasa khawatir yang tiba-tiba saja menjalar di hati dan juga pikirannya kalau kelak Alvian akan lebih menyayangi keponakannya yang memang dari dulu sangat dekat dengan suaminya itu, karena saat ini pun Alvian seakan lupa pada dirinya. Namun dia teringat bahkan rasa kagum mulai tumbuh dihatinya dari sejak Alvian membawa Kinanti ke kantor waktu itu. Alvian begitu menyayangi gadis kecil itu.
__ADS_1
" Tante, sini ikut main! " Ajak Kinanti. Naima pun tersentak dan melangkah mendekati mereka sambil tersenyum. Akhirnya mereka pun bermain sampai akhirnya AlVian di panggil sang ayah dan diajak untuk ke masjid karena panggilan adzan sudah berkumandang.
Happy reading๐๐๐