IMAM KU

IMAM KU
103


__ADS_3

Dalam sebuah ruangan terlihat Alvian tengah sibuk dengan pekerjaannya.


Setelah dia tahu Kana Naima pergi, dia bertekad akan menyusulnya kesana


Dia tidak sanggup jika harus menunggu jawaban dari Naima yan terlalu lama.


Sore ini Alvian akan ke Yogyakarta, setelah dia tahu bahwa Naima berada di kota itu. Berharap cemas akan jawaban gadis itu. Namun di satu sisi dia ingin egois. Alvian tidak ingin penolakan dari Naima. Sungguh gadis itu telah membuatnya frustasi beberapa hari ini.


Hari ini juga dia harus menyelesaikan pekerjaannya dan akan menyuruh Romi orang kepercayaannya yang akan mengurus perusahaannya selama dia pergi ke Yogyakarta.


Senyum terukir di bibirnya, Alvian sudah membayangkan bertemu dengan gadis pujaannya. Takkan ada rasa lelah walaupun dia harus pergi sore nanti setelah menyelamatkan pekerjaannya, yang terpenting dia bertemu dengan penawar rindu yang beberapa hari ini membuat hatinya gundah.


Deri g ponsel membuyarkan pikirannya yang dipenuhi dengan satu nama yaitu Naima.


Kak Rey adalah nama yang muncul di layar ponselnya. segera dia menjawab panggilan itu.


" Ya kak?"


" Assalamu'alaikum... Al" ucap suara dari seberang telepon.


" wa'alaikumussalam..." jawab Alvian sambil mengusap tengkuknya. karena terburu-buru menjawab sehingga lupa untuk mengucapkan salam.


" Kamu bisa datang hari Minggu nanti ke rumah?"


" Memangnya ada apa?" pertanyaan yang terdengar bodoh keluar dari mulut Alvian.


" Memangnya harus ada alasan dulu, baru kamu akan berkunjung kesini. Apakah kakak mu ini harus sakit dulu untuk bisa di jenguk oleh mu?" Reynan berkata seolah-olah kesal pada adiknya.


" ya tidak kak, kak Rey baik-baik saja kan?" ucap Alvian merasa bersalah.


" Kamu datang saja. ini tentang kakak ipar mu..." ucap Reynan menjeda kalimatnya.


" Kakak ipar sakit?" pertanyaan yang terdengar panik.

__ADS_1


" Maaf, aku tidak bermaksud..." ucap Alvian, meras tidak enak karena respon dia tentang kakak iparnya.


" Tenang saja, kakak ipar mu baik-baik saja. Sekarang dia tengah mengandung. Jadi hari Minggu nanti kami akan me gadakan syukuran. Mama Papa juga akan datang lusa."


" Selamat kak, aku akan mengusahakan datang." Alvian tidak berjanji karena dia tidak tahu apakah urusannya dengan Naima akan dalam waktu tiga hari.


" Kamu harus datang Al!" ucap Reynan tegas.


" Iya, kak."


" Satu lagi kakak ipar mu berpesan kamu harus mengajaknya."


" Maksudnya " Alvian bertanya bingung.


" Aku tidak tahu. Katanya kamu akan mengerti. itu pesannya.


Setelah mengucapkan itu Reynan pun mengungkapkan salam dan segera mengakhiri panggilannya.


Perkataan Reynan barusan mbuatnya ingin segera pergi sekarang juga untuk menemui Naima dan memperkenalkannya pada keluarganya nanti.


Naima sedang memberikan obat pada ibunya. Dia harus memastikan bahwa ibunyaeminum semua obat yang telah diresepkan dokter.


Ibunya yang sudah membaik dari seminggu yang lalu. Beliau duduk di tempat tidur dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


." Ima, apa kamu sudah punya tambatan hati?" pertanyaan ibunya sontak membuat Naima terkejut. baru kali ini dia bertanya tentang hal seperti ini padanya.


" Maksud ibu?" Naima malah bak k bertanya.


" Ada seseorang ya g berniat melamar mu. Namun ibu belum mengatakan iya. Dia pemuda yang baik. kamu juga mengenalnya dengan baik. Jika kamu belum mempunyai tambatan hati, ibu sarankan agar mempertimbangkan lamarannya."


" Siapa Bu?" Naima bertanya dengan perasaan berkecamuk di hatinya. Tiba-tiba saja dia teringat Alvian yang Minggu lalu mengajaknya menikah.


Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Naima. Naima terpaksa harus beranjak untuk membukakan pintu sebelum dia mendengar jawaban dari sang ibu, siapakah pemuda yang ibunya maksud.

__ADS_1


Naima pun berjalan menuju pintu depan.


Ketika pintu terbuka, terlihat seorang pemuda yang tengah berdiri di hadapannya sambil tersenyum ramah. Naima sedikit terkejut melihat sosok pria yang datang kerumahnya. Dalam hati ya dia bertanya ada apa gerangan pria itu bertandang ke rumahnya di malam hari. Memang malam belum terlalu larut namun tetap saja Naima heran dengan kedatangannya.


" Apa kabar, Ima? tanyanya. Dia melihat Naima sedikit terkejut dengan kedatangannya.


." Ba...baik Mas, ada keperluan apa ya?"


" Saya mau menjenguk ibu. Katanya ibu sakit. Maaf saya baru sempat menjenguk." ucap pria di depannya sambil tersenyum ramah.


" Iya mas, tapi ibu baru saja akan istirahat. Beliau baru saja meminum obat."


" Maaf jika kedatangan mastidak tepat waktu. bahkan membuat mu terganggu. Mas permisi saja, biar besok kembali lagi ke sini siang hari." ucap pemuda itu sambil memberikan sebuah kantung plastik yang berisi buah-buahan.


" Mas pamit ya."


Pria itu pun pergi tanpaenunggu jawaban Naima yang masih saja terdiiam.


Segera Naima kekamar ibunya. Meletakkan kantong plastik itu di meja kecil disamping tempat tidur.


" Siapa, Ima?" tanya ibunya pada Naima yang hanya duduk terdia setelah meletakan kresek di meja tadi.


" Mas kemal Bu, anaknya Pa Wijaya.


" Ucap Naima.


" Kamu sudah bertemu dengannya? dia pemuda yang baik dan santun."


" Maksud ibu?"


" Dia yang berniat melamar mu. Sudah dua kali dia mengutarakan niat baiknya, namun ibu tidak bisa memutuskan tanpa berbicara dulu dengan mu."


Naima tertunduk, mencerna semua perkataan ibunya Inikah jalan takdirnya dia hanya termenung memikirkan semua yang terjadi padanya. Dia hanya berharap yang terbaik untuk masa depannya.

__ADS_1


Happy reading 💜💜💜


__ADS_2