IMAM KU

IMAM KU
107


__ADS_3

Ketika sore tiba, Bu Rahma benar-benar menyuruh Naima mengajak Alvian berjalan-jalan.


Disinilah mereka sekarang duduk saling berhadapan di sebuah ankringan yang menyediakan makanan khas Yogyakarta.


Tak ada yang membuka suara sejak tadi keberangkatan. Didalam mobil mereka berdua diam membisu, Alvian hanya fokus mengemudi sambil sesekali melirik Naima yang duduk di sebelahnya sedang menatap jalanan kota Yogya. Ketika Alvian memutuskan untuk ke angkringan ini pun Naima hanya mengikuti tanpa membuka suara sedikitpun.


" Nay..." Alvian membuka suara terlebih dahulu, dia tidak nyaman dengan situasi keterdiaman ini. Sejak keluar dari pintu rumah mereka benar-benar membisu tanpa kata.


" ya pak..." Naima menyahut pelan. Membuat Alvian berdecak kesal dengan sebutan Pak yang melekat pada dirinya.


" Bisakah kamu jangan memanggilku Pak" ucap Alvian kesal. Membuat Naima tersenyum geli melihatnya.


" Lalu, saya harus mengambil bapak apa?" pertanyaan Naima membuat Alvian kembali menatap kesal.


" Panggil aku sayang atau semacamnya." Alvian berkata dengan santainya dengan wajah yang tanpa ekspresi sedikitpun.


" Nama menatap tajam dan ini adalah kali pertama dia menatap seperti itu pada Alvian. Membuat Alvian terkekeh.

__ADS_1


" Nay, sebelumnya aku mau minta maaf..." Alvian mengubah kata saya menjadi aku, menandakan ada peningkatan dalam hubungan mereka.


Setelah menjeda kalimatnya Alvian pun menarik nafas pelan sebelum dia memulai kembali pembicaraannya.


" Aku minta maaf, karena sudah mengambil tindakan tanpa persetujuan mu. Aku mengenalkan diriku pada pria tadi sebagai calon suami mu, juga terkait lamaranku pada ibumu tadi.


Nay, kamu harus tahu bahwa aku memang punya niat yang baik. Aku tahu kita belum saling mengenal namun kita bisa mengenal setelah pernikahan dan juga kita bisa saling jatuh cinta setelah menikah." Naima menoleh dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya namun sebelum dia berkata Alvian lebih dulu meneruskan bicaranya.


" Kamu jangan salah paham dengan jatuh cinta setelah menikah. Aku akui, aku belum terlalu mengenal mu namun aku tahu kamu wanita yang baik. Aku ingin kita pacaran setelah menikah. Ayo kita hidup bersama dan hadirkan rasa sayang diantara kita."


" Maksud kamu apa, kamu tidak mencintaiku, tidak mengenalku tapi ingin kita menikah? Pernikahan seperti apa yang akan kita jalani nanti." Naima berkata dengan intonasi yang meninggi namun tetap menjaga volume suaranya.


Naima terdiam cukup lama, Alvian pun membiarkan itu. Alvian ingin memberi waktu pada Naima untuk berpikir.


" Baiklah, aku akan coba." Naima bersusah payah mengucapkan kalimat itu. Sedari tadi lidahnya terasa Kelu, ingin menerima namun ragu namun menolak pun tidak ingin karena hatinya mengatakan. bahwa diapun mempunyai ketertarikan pada pria di depannya. Sikap bijaksana dan penyanyang seolah melekat pada pria itu. Apalagi senyumnya membuat jantung Naima berdetak lebih cepat.


" Besok pagi kita ke kota X. Seperti yang kukatakan tadi. Besok akan aku kenalkan pada keluargaku. Naima pun hanya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan jalan-jalan mereka ke candi Prambanan. Naima yang memang sudah lama tidak ke sana merasa antusias juga. terakhir Naima ketempat ini adalah sewaktu kuliah. Alvian pun pernah ke candi Prambanan waktu dia kecil. Ibunya memang keturunan Jawa, Bu Siska dilahirkan di Solo dan sewaktu eyang Kakung nya masih ada dalam setahun pasti keluarga mereka beberapa kali ke sana. Dulu sekali, mungkin Alvian pun masih duduk di sekolah dasar terakhir kesini. Setelah Ayah dari Bu Siska meninggal memang mereka hampir tidak pernah pulang ke Solo.


Dulu ibunya pernah bercerita tentang candi Prambanan. Konon katanya, dahulu kala ada seorang putri kerajaan yang meminta dibuatkan 1000 candi dalam waktu semalam pada seseorang yang ingin memperistrinya. Namun ketika lelaki itu hampir selesai membuatnya karena dibantu oleh para jin, sang Putri pun bersiasat untuk menggagalkan nya. Lelaki itu pun murka karena setelah di hitung candi yang di buatnya hanya berjumlah 999 jadilah dia mengutuk sang putri dan menjadikannya candi yang ke 1000. Kurang lebih seperti itu cerita ya g Alvian masih ingat ketika dulu sang ibu memberitahu kisah candi Prambanan ini.


Alvian pun diam-diam mengambil foto Naima ketika disana.


Perlahan obrolan mereka pun mengalir begitu saja, membuat hubungan mereka menjadi lebih akrab. Sesekali Naima akan tertawa ketika Alvian menceritakannya sebuah lelucon. Semua itu membuat Alvian merasa bahagia, melihat Naima yang tertawa hatinya menghangat begitu saja.


Maka dimulai dari sore ini mereka berusaha lebih mengenal satu sama lain. Mencoba saling menyelami keinginan satu sama lain. Malam ini mereka pulang dengan ceria, tidak seperti ketika berangkat yang saling terdiam, justru ketika pulang mereka sama-sama mengimbangi pembicaraan yang mengalir begitu saja.


Alvian pun langsung pamit ketika sudah mengantarkan Naima dan pamit kepada bi Rahma. Alvian akan pulang ke hotel dan akan menjemput Naima pagi sekali untuk membawanya bertemu keluarganya di kediaman kakaknya Reynan.


Malam ini mereka tidur dengan nyenyak dengan membawa satu mimpi dan harapan yang sama bahwa hari esok akan dijalani mereka lebih baik lagi. Berharap esok hari ketika mereka bangun akan tetap merasakan bahagia yang sama seperti hari ini. Ya, hari ini adalah nyata dan sebuah mimpi belaka yang ketika esok bangun kita dihadapkan dalam dua pilihan, melupakan mimpi itu atau berusaha meraihnya.


Ketika ada dua orang yang tengah berbahagia, disisi lain ada seseorang yang terluka dan kecewa. Namun berusaha mengikhlaskan semua yang terjadi, berharap suatu hari nanti dia menemukan pasangan yang tepat untuk dijadikan pendampingnya. Dialah Kemal, pria baik hati yang merelakan Naima bersama seseorang yang membuatnya bahagia. Dia percaya pada takdir baik yang akan mempertemukannya dengan seseorang yang tepat dan di waktu yang tepat pula.


Happy reading 💜💜

__ADS_1


silahkan sampaikan kritik dan saran di kolom komentar.


__ADS_2