IMAM KU

IMAM KU
Perjodohan


__ADS_3

Dalam sebuah rumah mewah minimalis, Sauqi memerankan peran ibu yang baik untuk bujang kecilnya. Dimulai dari menggantikan baju, memasak makan siang, dan berakhir menyuapi bujang kecil sekalian menemani nya bermain diruang Keluarga.


"Mom. Eh Tante Sao, makasih ya udah temenin Ghifa." Ucap Bujang kecil itu merubah panggilannya karena belum mendapat izin dari sang Papi dan tidak ingin membuat Sauqi merasa canggung.


"Sama-sama boy, oh yaa biasanya kamu sama siapa kalo Papi kerja ?" Tanya Sauqi memulai obrolan.


"Biasanya sama Tante Manda." Jawab Ghifa singkat karena terlalu sibuk menantikan suapan dari Sauqi yang tak kunjung sampai kemulutnya.


"Terus kemana sekarang ?" Lanjut Sauqi yang belum sadar bahwa tangannya tak juga memberi suapan, padahal Ghifa udah mangap.


"Persiapan menikah, makanya Tante buruan menikah biar nyuapin nya juga nggak tertunda." Ketus Ghifa seraya menarik tangan Sauqi, melahap nasi yang sudah lama menetap disendok.


"Haiss, jodoh belom ada boy." Kesal Sauqi, anak kecil bisa-bisanya nyuruh buruan nikah, nggak tau apa habis putus cinta belom dapet ganti.


"Udah ah ngobrolnya, Tante Sao jadi lupa gitu nyuapin Ghifa." Ucap Ghifa dengan cemberut, perut lapar yang nyuapin malah kenak macet kan jadi sebel.


"Maaf kalik Boy, yodah nih aakkk udangnya dihap gih." Saut Sauqi seraya mengarahkan sesendok nasi dengan udang yang bertengger indah dan langsung diterima Ghifa dengan sukarela.


Melihat Sauqi yang fokus memilah udang dan sayur didalam piring sebelum masuk ke mulut bujang kecil itu, diam-diam Ghifa mengamatinya dengan seksama hingga menemukan celah untuk sedikit menjulid.


Rasanya nggak julid itu nggak menyenangkan. "Tante kok berubah jadi gembel ? Rambutnya diikat sembarangan." Oceh Ghifa sambil menyentuh rambut Sauqi.


"Ini seksi tau." Jawab Sauqi malas menanggapi lebih jauh.


"Darimana nya ? Lebih mirip gelandangan yang nggak punya sisir." Lanjutnya dengan tatapan menilai.


Sauqi menghela nafas. "Boy, kamu belum tau lebih banyak soal perempuan. Jadi julidnya di kurangin yaa, nanti Tante nggak mau loh kamu panggil Mommy." Ucap Sauqi dengan senyuman manis.


"Kenapa emang ?" Tanyanya.


"Masak iya Mommy nya dihina terus, kan sedih." Jawab Sauqi memasang wajah memelas guna mencari perhatian Ghifa si bujang cilik itu.


Seketika ekspresi nya berubah. "Come here Mommy, Ghifa peluk yaa Sorry." Ucapnya seraya memeluk Sauqi dengan erat, segitu aja udah langsung merasa bersalah. Kenak kan lu dipermainkan calon emak.


"Oke, Mommy nggak apa-apa." Jawab Sauqi yang tanpa sadar menyebut dirinya sendiri Mommy, rasa baper nya mengalahkan otaknya untuk berpikir jernih.

__ADS_1


Mendengar itu Ghifa serasa mendapatkan hidayah yang tak disangka. "Udah boleh panggil Mommy ? Ya ya ya Mommy dekil ?" Teriak Ghifa senangnya bukan main, bahkan mulut julid nya sampai lupa terkontrol.


"Hina teros boy, nggak papa. Nanti kalo udah glow up, Mommy cari anak bujang yang baru." Cuek Sauqi, sebel juga habis diterbangin langsung dijatuhin tanpa pemberitahuan.


"No, tidak boleh. Mommy Sao cuma boleh jadi Mommy nya Ghifa, walaupun jelek nggak papa." Ucap Ghifa yang memeluk leher Sauqi dengan erat. Dan lagi-lagi hinaan yang tepat sasaran menyergap diri Sauqi, anak kecil tak pernah bohong, sebegitu buriknya kah dirinya.


"Yaakk Mommy bakal nyusul Mama kesurga kayaknya, udah dihina di cekik pulak." Keluh Sauqi yang berpura-pura kehabisan nafas membuat Ghifa langsung kalang kabut melepas pelukan nya dan mengipasi wajah Sauqi dengan kertas, berharap udara segera masuk kedalam hidung Sauqi sebanyak banyaknya.


Melihat interaksi Ghifa dan Sauqi, ketiga orang yang sedang berdiri didepan pintu menggeleng tak percaya. Bagaimana mungkin sosok Ghifa yang susah untuk dekat dengan orang lain bisa seakrab ini dengan perempuan yang baru dikenalnya.


"Itu anak gue ?" Tanya Lutfi menatap lurus kedepan.


"Lu dapet itu perempuan dari mana Fi ?" Tanya Manda yang belum mengalihkan perhatiannya dari Sauqi dan Ghifa. Berhubung Sauqi membelakangi ketinganya jadi mereka belum mengetahui sosok aslinya, kecuali Lutfi.


"Dateng sendiri kerumah, terus tadi langsung gue tinggalin gitu aja. Amanah juga tu orang." Jawab Lutfi apa adanya.


"Say, itu Tante Sao nya Ghifa kan ya ?" Tanya Argi dan mendapat anggukan antusias dari Manda.


Dengan langkah cepat, Manda menghampiri keduanya. Kesempatan berkenalan dengan Sauqi tidak boleh dilewatkan nya begitu saja.


Kompak kedua nya menoleh "Waalaikumsalam."


"Hey boy, udah punya tante baru nih." Ucap Manda seraya mengelus pucuk kepala Ghifa dengan gemas, itupun juga tak luput dari pandangan Sauqi.


"Tante Manda kenalin ini Mom..." Sauqi menatapnya tajam ."Eeemm Tante Sao." Ucap Ghifa yang hampir salah ucap.


Melihat ekspresi Ghifa yang seperti terancam, Manda hanya menggelengkan kepala seraya menatap Sauqi dengan senyuman.


Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum manis tanpa dosa. "Hai Mbak Manda, aku Sauqi." Sauqi mengulurkan tangan nya.


Manda menjabat tangan Sauqi "Aku Manda, dan ini calon suamiku Argi." Ucap Manda dan mengenalkan calon suaminya yang baru saja bergabung.


"Salam kenal Mas, aku Sauqi." Sauqi mengatupkan kedua tangannya tanda salam dan dibalas senyum oleh Argi.


"Ohh jadi ini Tante Sao nya Ghifa yang sering diceritain itu ? Yang sampai bikin Papi demam ??" Tanya Argi kepada Ghifa dan sekalian menggoda Lutfi yang hanya terdiam dipojok ruangan. Uh uh uh nggak berani mendekat.

__ADS_1


"Yes of course." Singkat Ghifa yang lebih memilih lanjut makan dari pada ngobrol. Dan dengan telaten pula Sauqi melanjutkan acara menyuapi bujang kecil itu.


Manda tersenyum. "Boy, tante nya cantik nih. Cocok buat jadi Mommy." Ucap Manda.


"Emang cantik, kemaren cuma nggak dandan aja makanya dekil." Jawab Ghifa acuh.


"Baik juga kan ya tante Manda, bisa nih jadi Mommy. Kalo nggak buruan nanti dijadiin mommy sama yang laen loh." Sambung Argi menghasut Ghifa, lagian juga cewe secantik dan sebaik Sauqi kalo diskip kan gubluk si Lutfi, pikir Argi.


'Gue bantuin lo dapet gadis nih Fi, berterimakasih lah elu ama gue.'


Argi menatap Lutfi sejenak. "Qi, jadi ibu sambungnya Ghifa aja, masa depan terjamin." Ujar Argi yang berganti mempengaruhi Sauqi, siapa tau mempan.


"Lah iya bener, kamu sama Ghifa itu cocok banget." Sambung Manda antusias, baginya Sauqi adalah orang yang tepat untuk menjadi ibu bagi Ghifa sekalian menyenangkan adik kecil Lutfi yang kesepian.


'Perjodohan kah ? Dapet support nih gue ceritanya ?'


"Haiss Mbak Manda sama Mas Argi kalo ngomong ngadi-ngadi, jadi keliatan banget kalo gue pemburu duda." Jawab Sauqi sekenanya. Bingung juga mau tanggepin dua orang itu gimana.


Argi dan Manda tertawa. Bagaimana bisa ada cewe sejujur ini, pesona duda emang lagi jadi incaran sepertinya. "Kebetulan, sahabat kita yang dipojokkan noh, duda anak satu. Belom ada yang bisa lelehin bongkahan es dihatinya, dan Juga baru elu nih yang bisa lelehein gunung es anakannya dia." Ucap Argi dengan menunjuk Lutfi secara terang-terangan.


"Gue bersyukur banget kalo lu bisa jagain Ghifa sekaligus bapaknya, selama ini yang jaga Ghifa kan gue dan bapaknya dijagain Calon suami gue. Berhubung kita dah mo nikah, mereka lu yang jaga begimana ?" Tanya Manda dengan senyum godaan, ditawarin duda ganteng plus tajir mah Sauqi iya-iya aja, tapi tuh duda mau kagak ama dia ?


"Hahaha, belom mau jadi istri yang berasa babysitter. Udah nikah berasa janda." Tawanya garing, dibalik ucapannya ada sindiran yang nyata. Sauqi sepertinya belum siap menjadi seperti MC cewek di novel mas duda dan sebagainya.


Lutfi melangkah mendekat. "Nggak usah jadi biro jodoh, gue ama ni cewek juga nggak saling kenal." Ucapnya.


Argi tercengang, kebodohan apa yang telah dilakukan Lutfi barusan. "Apaa ??? Lu gila ya Fi ? Lu belum kenal ?" Bentak Argi tak percaya dengan sahabatnya yang duda ini.


"Belum." Singkatnya.


"Lah kalo belom kenal, kenapa lu dengan percaya dirinya ninggalin rumah tanpa lu kunci dan lu biarin orang yang nggak lu kenal didalem rumah sattt ? Walaupun anak lu kenal, lu juga nggak se begookk itu kan ?" Oceh Argi, bagaimana bisa nggak kenal tapi udah dipercaya jemput anak dan nunggu rumah ? Modelan dia kayaknya gampang kerampokan kalo begini cerita.


"Tampang dia lumayan, gue khilap. Lagian juga nggak ada apa-apa." Jawab Lutfi santai.


"Papi buta. Jelas cantik banget dibilang lumayan. Rabun si Papi kayaknya." Saut Ghifa yang ternyata tidak terima tante Saonya di katakan lumayan.

__ADS_1


"Uhuyyy anak bapak mengakui pesona seorang gadis. Udah aahh digas aja keburu ketikung." Lanjut Manda. Kalo dipikir ada benernya juga, kelamaan dianggurin kalo nggak diambil orang ya bakalan pergi sendiri.


__ADS_2