
Acara jemput Kahfi sudah terlaksana, bahkan sekarang Ghifa juga sudah berakhir diatas ranjang bersama Shena dengan dongeng perghostingan buaya lengkap dengan tepukan ringan yang mampir dibokongnya.
Tidak ada pilihan lain lagi untuknya selain nurut dan pasrah lapang dada. Masih bersyukur juga karena dirinya tak sendiri tapi juga ada Om Ahpi nya yang bernasib sama.
Sedangkan Bizar, dirinya kini sudah tancap gas kembali tanpa berpamitan ulang pada sang Bunda.
Mobil mewahnya ia kendarai menuju SMA, ntah apa yang akan ia lakukan disana. Yang jelas saat ini dirinya sudah berdiri dengan setengah bersandar pada mobilnya. Menatap gerbang SMA dengan seksama.
"Udah pulang apa ya ? Kok nggak ada keliatan." Gumamnya pelan seraya celingukan.
Matanya menajam, setiap perempuan berhijab dengan seragam guru ia pandang dengan teliti. Hingga akhirnya ada sesosok gadis manis tengah berjalan keluar gerbang menenteng tas nya.
Senyuman Bizar mengembang, apa yang dinantinya akhirnya menampakkan diri juga.
Ini kesempatan baginya.
"Samperin atau nunggu lewat dulu kesini ?" Tanyanya pada diri sendiri. Dia bingung ingin bagaimana. Tiba-tiba keberaniannya perlaham sirna seiring angin berhembus.
Dipandang nya lagi gadis berhijab yang hendak menyebrang itu. Senyum manis terlontar untuk nya tanpa diminta.
Ntah kebetulan atau keberuntungan, Bizar merasa ini adalah kode rasa dari hati yang tertuju khusus untuk dirinya.
Dengan tergesa, Bizar langsung melangkah kan kakinya. Ia juga melayangkan senyum manis guna membalas senyum yang sebelum nya sudah ia terima.
Gadis yang dituju hanya menunduk malu, sedangkan Bizar sudah berdiri tepat di samping gadis itu.
"Assalamualaikum." Sapa Bizar dengan suara khasnya yang ngebas manja.
Gadis itu mendongakkan kepalanya. "Waalaikumsalam." Jawabnya dengan diiringi senyum.
"Kenalin nama saya Bizar, ibu guru masih ingat saya ?" Bizar langsung memperkenalkan diri. Dirinya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga ini.
Ibu guru cantik itu lagi-lagi tersenyum, membuat Jantung Bizar tidak aman.
__ADS_1
"Saya masih ingat, masnya kakaknya Kahfi kan ? Saya Naraya masnya." Jawabnya dengan suara lemah lembut.
"Masnya mau jemput Kahfi ?" Lanjutnya bertanya. Bukankah para siswa sudah pulang sejak setengah jam yang lalu.
Bizar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bibirnya juga sedikit terangkat menampil kan senyum. "Kahfi sudah saya antar pulang, saya sengaja datang agar bisa berkenalan dengan ibu guru." Jawabnya serius.
Bu guru cantik yang bernama Naraya itu sontak menundukkan kepalanya. Pipinya merona, tak pernah terpikirkan olehnya jika akan ada lelaki setampan Bizar mengajaknya untuk berkenalan.
"Boleh saya mengenal ibu guru ?" Tanya Bizar lagi karena Naraya hanya terdiam dengan kepala yang menunduk.
Bizar masih setia menunggu jawaban, namun Naraya masih memilih untuk diam. Tapi saat Bizar akan melontarkan pertanyaan kembali, kepala Naraya mengangguk pelan. Tanda bahwa ia menyetujui nya.
Melihat itu Bizar langsung tersenyum bahagia dan lega. "Terimakasih ibu guru, bisakah kita juga berteman mulai sekarang ?"
"Bisa, tapi bisa kah jika masnya tidak memanggil saya dengan ibu guru jika diluar jam kerja saya ?" Tanya Naraya dengan pelan, ntahlah dirinya merasa tak nyaman dengan panggilan Bizar untuk nya.
Bizar tertawa renyah, bahkan matanya hingga menyipit. Ia mengira gadis manis berprofesi guru dihadapan nya ini akan susah untuk didekati namun kenyataannya diluar ekspetasi. "Maaf, saya hanya menghormati kamu. Bukan kah ini termasuk sopan santun karena kita baru berkenalan ?"
"Oh ya kamu mau langsung pulang ??" Tanya Bizar.
Naraya hanya mengangguk mengiyakan.
"Mau saya antar sekalian ?" Bizar menatap Naraya penuh harap. Kapan lagi jika bukan sekarang. Kalo udah deket dari sekarang kan dalam waktu dekat bisa langsung gas ta'aruf.
Naraya berpikir sejenak. Namun akhirnya menganggukkan kepala. "Boleh jika tidak merepotkan masnya." Jawabnya dengan malu malu. Dirinya juga menyadari bus yang akan ditumpanginya sudah berlalu beberapa menit yang lalu.
Dan dirinya juga bisa menilia bahwa Bizar adalah laki laki baik dari keluarga yang baik pula. Kahfi saja bisa sesantun itu apalagi kakaknya kan ? Bukankah itu sudah membuktikan jika orangtua keduanya adalah orang yang baik fandan hebat dalam mendidik anak.
Akhirnya keduanya kini sudah berada didalam mobil. Bizar mengendarai mobilnya menuju kediaman Naraya sesuai alamat yang sudah Naraya sebutkan sebelumnya.
Selama perjalanan, keduanya juga saling berbagi cerita. Ntah karena memang jodoh atau karena sefrekuensi makanya keduanya bisa nyambung dan tak lagi canggung.
"Kahfi bilang kamu ditembak sama guru pjok dan kamu tolak emang kenapa ?" Tanya Bizar yang sudah terbiasa dengan Naraya, bahkan sudah seperti kenal lama.
__ADS_1
Naraya hanya tersenyum samar, ternyata Kahfi yang bergaya brandal seperti itu bisa menceritakan keseharianya disekolah kepada keluarga nya. Dan saking percayanya, Naraya tanpa ada rasa curiga jika Kahfi adalah mata-mata Bizar sehingga Bizar banyak tau tentang dirinya.
"Pengalaman sebelumnya yang menjadi alasan mas. Dan mungkin masnya juga tau soal ini dari Kahfi. Untuk apa menjalin hubungan yang belum tentu ada kepastian." Naraya menjawab dengan tenang, sorot matanya menandakan bahwa dirinya memiliki ketegasan layaknya laki laki.
Bizar hanya mengangguk, tebakan Naraya terhadapnya tepat. Memang dia sudah tau jika Naraya pernah ditinggal menikah oleh kekasihnya. "Jadi mau nya yang langsung ngasih kepastian ??"
Naraya menoleh sejenak menatap Bizar, dan kemudian mengangguk.
"Nggak takut kalo bakalan kayak kasus yang lagi viral itu ?? Dikasih kepastian untuk dihalalin tapi setelah seminggu dicerai ??" Bizar mencoba mencari keyakinan dari gadis di sampingnya, jika memang guru cantik itu sudah yakin untuk di ta'aruf maka dirinya akan langsung gas nantinya.
Lagi-lagi Naraya hanya tersenyum. Siapa juga yang tidak tahu dengan cuitan seorang istri di apk burung biru akhir akhir ini ? Dia juga mengikuti kisahnya.
Tapi ini bukan alasan untuk menggoyahkan keyakinannya kan ??
Buktinya banyak juga yang berpacaran lama tapi nikahnya dengan orang yang baru dikenal. Dan mereka bahagia bukan ??
"Aku udah yakin dengan keputusan ku mas. Dalam islam juga melarang berpacaran bukan ? Untuk apa berhubungan begitu lama tapi akhirnya juga akan sama ?? Jika memang sudah waktunya maka akan datang sendirinya, dan itu sudah dapat dipastikan adalah pilihan terbaik dari Allah untukku. Yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani nya." Jawab Naraya denga penuh keyakinan.
Bahkan hanya dengan medengar itu pun Bizar sudah berasa melayang ke angkasa raya bersama meteor. Ingin sekali rasanya ia ajak menikah hari ini juga.
"Bagaimana jika kita bertukar CV ??" Tanya Bizar to the point.
Naraya sedikit tercengang dengan keterus terangan laki laki yang kini mengantarnya pulang. Apa ini tidak terlalu cepat ?
Bizar tersenyum melihat raut wajah Naraya. Dia tau betul ini pasti mengejutkan gadis itu. "Kenapa ? Terlalu cepat ? Saya mohon maaf jika begitu." Ucap Bizar kemudian. Pandanganya kembali fokus pada jalanan, dia takkkan memaksa.
Naraya masih diam, sesekali menghela nafas. "Boleh saja, sebagai perkenalan." Jawab Naraya dengan tersenyum.
"Bolehkah saya bertemu orangtua mu nanti ?" Tanya Bizar serius, bahkan aura ketegasannya langsung terpacar begitu saja.
Naraya kembali tercengang, apalagi ini ??
"Meminta CV mu kepada orangtua mu secara langsung. Bukankah ini salah satu proses Ta'aruf ???"
__ADS_1