
Dikala sedang panik-paniknya, ada saja yang terlupakan. Mana yang paling urgent lagi.
Sauqi dengan sigap mengambil ponselnya dan melupakan sisir yang sejak tadi berada dalam genggamannya.
"Astaghfirullah mas duda, nggak nyasar ke rumah janda sebelah kan." Gumam Sauqi yang tangannya sibuk berselancar diponsel pintarnya.
Tanpa basa-basi dirinya langsung mengirim alamat rumah mewahnya pada Luthfi.
***
Dilain rumah, Luthfi yang dilanda kepanikan dalam memilih baju yang akan ia dan sang bujang kenakan. Waktu sudah semakin mepet, namun dirinya dan bujuang kecil sama-sama belum mendapat baju yang cocok.
Disaat keduanya sedang terfokus dengan deretan baju-baju mahal, Ponsel Luthfi berbunyi.
Ting!
Ghifa menatap Luthfi. "Pasti Mommy Sao, ayo Papi gimana ini !!!." Pekik Ghifa semakin panik karena dirinya saat ini masih mengenakan kolor dan kaos dalam khas anak-anak.
"Iya bener Mommy kamu. Dia udah siap, ini udah kirim alamat rumahnya." Jawab Luthfi tak kalah panik.
"Lah kita masih kayak tuyul gini Papi, gimana ini. Kalo kita lambat jemput nanti Mommy ngambek." Ucap Ghifa semakin menjadi, membuat Luthfi hilang akal.
"Lah gimana boy, pakek yang mana ?."
"Photoin aja semua baju Papi sama baju nya Ghi, biar Mommy yang pilih." Saran Ghifa.
Tanpa membuang waktu, akhirnya Luthfi mengikuti saran bujang kecilnya. Satu persatu baju diphotonya dan dikirim ke Sauqi dengan pertanyaan mana yang lebih cocok untuk nya dan Ghifa.
****
Disisi Sauqi saat ini, posnel pintar yang ada digenggamannya berbunyi tanpa henti, tanda spam pesan.
__ADS_1
Orang-orang yang berada disekitarnya mengalihkan perhatian dan terpusat padanya.
"Ngapa kak ? Ponsel kakak ke spam promo susu ibu hamil ??" Tanya Kahfi lebih dulu.
"Iya tuh, bukannya buruan berangkat malah berisik disini." Lanjut Shena yang masih sedikit kesal akibat kejadian siang tadi.
"Mas duda mu nggak nyasar kan kak ?" Tanya Juan yang hanya ditanggapi gelengan oleh Sauqi.
Bukannya nyasar, tapi emang belum berangkat.
Melihat photo yang masuk terlalu banyak Sauqu mengerutkan kening. Namun setelah membaca teks pesan yang muncul Sauqi langsung reflek menepuk jidadnya sendiri dengan sangat keras.
"Weh ngapa lu kak ? Salah hari ?" Tanya Bizar dengan heran.
"Bukan bang, lebig urgent dari itu." Jawab Sauqi dengan nafas tertahan. Ada rasa geregetan dalam hatinya.
"Bunda, Ayah, Sauqi pergi dulu yaa. Mau nyusulin yang ngajakin pergi." Lanjut Sauqi berpamitan.
"Yang sabar kak, ntar juga bakal dijemput." Jawab Juan, namun juga tak menolak salam dari putrinya.
"Yodah pergi sana, pak duda kamu ntar berangkat cuma pakek boxer lagi karena saking paniknya." Ucap Shena.
Setelah mendapat izin, Sauqi langsung menghilang dari pandangan. Dirinya sengaja meminta diantar oleh supir pribadi sang bunda menuju kediaman Luthfi.
Beberapa menit telah terbuang dengan percuma, Sauqi akhirnya tiba dihalaman rumah mewah minimalis berwarna putih.
Tanpa menunggu sambutan pemilik rumah, dirinya langsung masuk gerbang dan menuju pintu utama. Tangannya bergerak meraih handle pintu, dan kebetulan saja tidak terkunci.
Rasa greget nya membuat otaknya lupa akan sopan santun, langkah kakinya menyusuri ruangan menuju sumber suara.
Sedangakn didalam salah satu kamar, Luthfi dan Ghifa memandangi chat nya dengan Sauqi yang hanya mengirim sticker Ok tanpa ada penjelasan.
__ADS_1
Keduanya lupa soal baju mana yang akan dikenakan, dalam otak mereka kini hanya saran Sauqi lah yang utama.
"Astagfirullah !!! Wahai bapak dan anak yang ganteng !!! Kalian mau sampai kapan memandangi benda persegi panjang itu ??" Pekik Sauqi tepat didepan pintu kamar, membuat dua penghuninya kaget bukan kepalang.
Beginikah jadi Bunda siang tadi ?? Ini mah Karma namanya. Batin Sauqi mengasihani dirinya sendiri.
"Astagfirullah !!! Galak calon bini." Gumam Luthfi tanpa sadar sambil memegang erat handuk yang menutupi bagian terpenting dari nya hingga batas lutut.
"Mommy !! Kok dateng kesini kan Papi sama Ghi belom jemput." Teriak Ghifa yang baru tersadar dari rasa keterkejutannya.
Sauqi menghela nafas kemudian menghampiri Ghifa. "Kalo Mommy gak dateng, kita gak akan jadi pergi. Lihatlah kalian masih seperti apa." Ucap Sauqi.
"Oh ya Mas, aku ternodai dengan tampilan mu yang sekarang. Nih pakek dulu." Lanjut Sauqi seraya menyerahkan celana jeans berawarna hitam.
Tangannya mengarah pada Luthfi namun pandangan nya fokus kearah lain.
Luthfi tersadar. "Sorry, kamu masuk nggak konfir dulu." Ucapnya yang kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Setelah beberapa saat yang singkat, Sauqi telah selesai mendadani Ghifa dengan setelan celana hitam selutut dan kemeja setengah lengan berwarna maroon. Bahkan Luthfi juga diberi kemeja berwarna senanda dengan Ghifa.
"Nah gini kan ganteng." Ucap Sauqi yang tersenyum puas memandang dua pangeran dihadapan nya saat ini.
"Ghifa emang ganteng sejak lahir Mommy." Jawab Ghifa percaya diri.
"Gantengan Papi pokoknya." Sambung Luthfi yang juga tak mau kalah.
Saya hanya menggelengkan kepala. "Ya udah, semua udah beres, kita berangkat lagi." Ajak Sauqi.
"Ayok Mommy." Ghifa langsung mengandeng Tangan Sauqi menuju kehalaman.
Luthfi dengan senyum yang menawan hanya mengikuti dari belakang. Sesekali dirinya mencuri pandang pada Sauqi yang sangat cantik dengan mini dress ketat selutut berwarna hitam dipadukan dengan cardigan berwarna maroon.
__ADS_1
Sesampainya dihalaman rumah, Luthfi membuka kan pintu mobil untuk Sauqi dan Ghifa. Keduanya kemudian masuk dan diikuti Luthfi dari arah kanan.
Ketiganya kini menuju tempat dimana acara ulangtahun teman sekolah Ghifa dilaksanakan. Dalam perjalanan ketiganya hanya diam dan sesekali saling melirik dan tersenyum.