IMAM KU

IMAM KU
Kenyataan


__ADS_3

Langit seolah ikut berduka cita, senja nan indah menyembunyikan jingganya. Awan hitam menghias angkasa, menggambarkan duka yang mendalam diantara sekelompok orang yang berada dibawahnya.


Tak ada isak tangis, tak ada jeritan pilu. Semuanya hanya memilih dengan keterdiaman, namun bukan berarti tidak bersedih. Dalam hati masing-masing merasakan perih akan perpisahan ini, namun keikhlasan mereka membuat semua lebih bisa menahan air mata.


"Abang udah tenang sekarang, abang udah bahagia disisi-Nya. Qi udah maafin abang dan juga akan selalu menyayangi abang. Tolong maafin Qi juga ya bang." Syauqi berjongkok tepat disisi batu nisan Pasha, bibirnya tersenyum indah dan sebucket bunga mawar putih ia letakkan disana.


Semua orang yang menyaksikan itu hanya mampu menunduk kan kepala. Betapa lembut nya hati Syauqi, dan betapa besarnya cinta Pasha semua nya tau akan hal itu.


"Maafkan juga saya Pash, mungkin kehadiran saya dikehidupan Syauqi malah memperburuk hubunganmu dengannya. Saya akan berjanji untuk menyayangi dan mencintai Syauqi setulus hati saya. Saya juga akan membiarkan putra putri kami nanti memanggilmu dengan sebutan papa, sebagai rasa terimakasih saya karena kamu telah menjaga dan menyayangi Syauqi sedalam ini." Gumam Luthfi yang berjongkok disebelah Syauqi. Dirinya tulus akan hal ini walaupun ia tau bahwa Pasha telah menyakiti hati calon istrinya.


Syauqi yang sangat mendengar dengan jelas apa yang digumamkan Luthfi disampingnya hanya mampu menghela nafas pelan. Sebegitu beruntung nya dia dikelilingi orang orang dengan hati yang penuh kehangatan. Ia sangat bersyukur akan hal itu.


"Papa ganteng, walaupun masih gantengan Ghi. Bahagia disana, kami semua akan selalu doakan papa ganteng. Dan ingat, papa ganteng jangan pernah merasa kesepian karena kami akan selalu berkunjung. Kalo ada yang ga datang hantuin aja, oke." Ghifa tiba-tiba bersuara seraya meletakkan setangkai mawar putih yang ntah ia dapat dari mana.


Dan apa ? Ia memanggil Pasha dengan sebutan papa ganteng ?? Yaa, Ghifa sudah lebih dulu di briefing oleh Luthfi mengenai panggilan untuk Pasha sebagai tanda terimakasihnya.

__ADS_1


Mendengar betapa tulusnya dalam setiap kalimat yang Ghifa ucapkan, Rania dan Rudi tersenyum samar. Betapa bersyukurnya mereka, disaat anaknya pernah melakukan kesalahan yang begitu fatal, namun masih dikelilingi oleh orang orang dengan ketulusan yang teramat dalam.


Harapan mereka hanya satu, putranya bahagia disana. Beribu maaf telah tercurahkan untuk nya bahkan doa tulus mengalir begitu saja. Kini hati keduanya merasa lega.


Hari sudah semakin sore, semua orang kembali pulang kerumah masing-masing. Dan malam ini, semua orang kembali kekediaman Nugraha untuk melantukan doa-doa atas kepergian Pasha.


Tak hanya keluarga dekat dan juga sahabat, Keluarga Luthfi dan juga Naraya ikut hadir kerumah Nugraha.


"Mas, aku izin kekamar Pasha sebentar. Ada yang mau aku ambil, kata Tante Rania ada bingkisan dari Pasha untuk aku." Syauqi izin kepada Luthfi, bagaimanapun dirinya sudah menjadi calon istri orang tidak baik jika sembatangan masuk kekamar laki-laki lain sekalipun laki-laki lain itu sudah almarhum.


Luthfi mengangguk. "Pergilah, jika ada sesuatu yang membuat mu sedih, segera katakan." Ucaonya dengan senyum tipis guna menenangkan hati Syauqu yang ia tau saat ini sedang dalam keadaan tidak baik.


Sesampainya disana, ia langsung membuka pintu lemari bagian ujung, sesuai dengan apa yang sudah Rania tunjukkan.


Didalam lemari itu terdapat satu kotak berukuran besar dengan pita putih. Dengan perlahan Syauqi membawanya duduk disisi ranjang dan mulai membukanya.

__ADS_1


"Gambar yang indah." Syauqi tersenyum, walaupun hatinya terasa sakit.


Dielusnya bingkai kaca yang didalam nya terdapat potret burung khas pulau merauke, dan terdapat tulisan kecil bahwa itu hasil potretan pertama bagi Pasha dengan hasil yang memuaskan.


Siapa yang tak akan terpana dengan keindahan bulunya, dan apalagi bagi seorang photographer seperti Syauqi yang selalu menghargai jenis apapun moment yang terabadikan dalam bentuk gambar.


Setelah puas melihatnya, Syauqi beralih pada surat yang juga ada didalam kotak itu.


"Aku udah maafin abang, tapi cara abang ngusir Shazia itu salah bang. Abang bukan hanya nyakitin aku tapi juga dia. Dan lagi, aku semakin nggak ngerti sama abang. Kenapa abang juga bikin Shazia seperti sekarang, dia nggak bisa jalan lagi bang." Syauqi memejamkan matanya, rasanya semua seperti drama yang selalu ditonton sang bunda. Surat yang ia genggam sekarang seolah menanyangkan semua kejadian sesuai faktanya.


"Ya Allah, kenyataan apa lagi ini." Lagi-lagi ia menghela nafas kasar.


Ntah apa yang sedang ia alami, dan ntah apa takdir yang ia jalani saat ini. Semuanya terasa begitu tidak nyata, semua hanya seperti skenario drama.


Pasha yang digoda Shazia, dan Pasha yang menolak Shaiza dengan kekerasan. Pasha yang mencintainya begitu dalam hingga menyakiti Shazia agar tak merusak kebahagian nya lagi. Dan kini Pasha sudah tak bersama nya didunia ini

__ADS_1


Syauqi mengusap wajahnya kasar, kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar itu dengan pikiran yang ntah berantah. Namun saat membuka pintu, disana ada Shazia yang menghadang jalannya.


"Tunggu.."


__ADS_2