IMAM KU

IMAM KU
130


__ADS_3

Menjelang sore Alvian membangunkan Naima dengan lembut Kinanti yang sudah sejak tadi bangun dari tidurnya ikut menggoyangkan lengan Naima.


" Tante Ima... bangun ayo kita lihat adik bayi! " ajaknya. Naima pun perlahan membuka matanya.


" Ayo bersiap kita ke rumah sakit melihat anaknya Mas Rey... "


" Mbak Ara sudah melahirkan? " Alvian mengangguk dan membangunkan Tubuh Naima untuk duduk.


" Ayo tante Ima, aku tak sabar melihat adik bayi." Kinanti terlihat tidak sabar.


" Biarkan Tante Ima bersiap dulu. Ayo kita tunggu di taman . ' Mereka berdua pun berjalan meninggalkan Naima.


Naima bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu dan merapikan diri. Tak butuh waktu lama karena tidak perlu mengganti bajunya Naima pun telah siap berangkat.


" Mas, kita berangkat sekarang? "


" oke. '


Mereka bertiga pun berangkat menuju rumah sakit. Di sana Zahra serta bayinya sudah dipindahkan ke ruang rawat, karena mereka memesan ruangan VIP jadi lebih leluasa untuk keluarga yang menjenguk. Ketika Alvian datang Malam suska terlihat sedang menggendong putra kedua Reynan dan orang tua Zahra pun sudah berada di sana.


" Naima sini... " panggil mama Siska antusias. Naima pun mendekat setelah mengucapkan selamat pada kakak iparnya dan tak lupa mengucapkan seuntai doa kebaikan untuk ibu dan juga bayinya.


" lihat Nay, lucunya jagoan Mama. Ayo kamu jangan ditunda kapan ngasih cucu buat Mama. " Naima bingung mau mengucapkan apa, dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Namun Alvian segera mendekat dan menjawab ucapan sang Mama.

__ADS_1


" Segera ma, iya kan sayang? "Alvian menarik pinggang Naima agar mendekat padanya. Naima pun hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya. Dibenaknya terlintas kembali pertanyaan akan kah dia akan mendapatkan kasih sayang ayahnya secara utuh melihat kedekatan sang suami dan keponakannya ini. Walaupun ada ayah dan ibunya namun Kinanti tetap meng-ekori sang paman yang selalu dia panggil Daddy. Namun ketika akal sehatnya kembali dia pun segera menepis perasaan itu. Dia harus yakin bahwa lelaki yang kini bertanggung jawab atas dirinya adalah lelaki bijaksana, penyayang dan sangat bertanggung jawab atas apapun.


Alvian pun bergabung dengan Papanya yang sedang mengobrol dengan besan dan juga kakaknya.


" Sini Nay! Zahra melambaikan tangannya meminta Naima mendekat padanya.


" Biarkan Mama dan ibu, mereka sedari dari gantian menggendong Albiruni. "


" Wah, namanya Albiruni ya mbak? Bagus banget. Siapa yang kasih nama? " tanya Naima antusias.


" Mas Rey, Namanya Albiruni Bagaskara Wijaya. " ucap Zahra.


" Wah dia ganteng banget wajahnya perpaduan May Rey dan mbak Ara.Walaupun lebih banyak Mas Rey nya. Berbeda dengan Kinan yang lebih mirip Mbak cantik banget. Nanti kalau sudah besar yang cowok akan menjadi idola para gadis sedangkan yang cewek akan jadi rebutan para cowok ."


Mereka pun tertawa membicarakan masa depan ke dua anak itu.


" Ayo kamu juga cepat nyusul Nay, kehadiran mereka itu pelengkap dalam hubungan suami istri atau Jangan-jangan kamu udah isi lagi? terlihat agak berisi soalnya." Zahra reflek mengelus perut Naima yang rata.


" Doakan saja Mbak, aku tidak ingin menunda tapi juga tidak ingin memaksa terburu-buru. " Namun tanpa disangka Alvian mendekat dan menarik tangan Naima. Dan Naima menatapnya penuh tanda tanya


" Ayo Nay, Jangan-jangan kamu memang tengah hamil."


" loh benarkah Nay? Mama Siska pun antusias mendekat. Dan semua yang ada di ruangan itu menatap Naima penuh harap. Sedangkan yang ditatap malah bingung sendiri. Akhirnya Naima pun melirik suaminya meminta tolong untuk menjelaskan.

__ADS_1


" Ya kemungkinan... " kata Alvian.


" Tapi Naima terlihat lebih sensitif." Alvian menambahkan. Namun dia juga tidak akan mengatakan bahwa sang istri tadi tiba-tiba saja menangis tanpa sabab.


" Ya sudah cek sana mumpung lagi di rumah sakit. " titah Mama Siska.


"Ayo Nay! " Alvian pun menggandeng istrinya keluar ruangan dan menuju ruangan dokter kandungan.


Semua yang ada di ruangan tepatnya Mama Siska Papa Bagas yang terlihat antusias. Meraka menunggu kabar dari kedua sejoli yang sudah meninggalkan ruangan hampir satu jam lamanya.


" Lama sekali meraka Pa? " Mama Siska benar-benar sudah tidak sabar menunggu setelah Albiruni terlelap dan menaruh bayi mungil itu di box bayi. Mama Siska seakan kehilangan mainannya yang sejak tadi terus berada digendongannya walaupun sesekali Mama Siska mengalah dan memberikan bayi Albi pada besannya yang juga antusias ingin menggendong bayi itu.


Karena tidak sabar lagi Mama Siska sudah hampir bangkit dari duduknya untuk menyusul Alvian dan juga Naima yang sudah pergi terlalu lama, sebelum pintu ruangan lebih cepat terbuka dan Alvian di sana muncul sambil menuntun istrinya dengan senyum lebar.


" Bagaimana?? " Mama Siska rak sabar lagi.


" Positif " ucap mereka kompak. Dan semua orang yang ada di ruangan itu mengucap syukur atas kebahagiaan yang diberikan sang Pencipta secara bersamaan. Kelahiran bayi Albi dan juga atas kehamilan Naima.


Happy reading๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


jangan lupa dukungannya ya..


silahkan komen untuk memberikan masukan untuk cerita ini. terimakasih

__ADS_1


__ADS_2