IMAM KU

IMAM KU
Bertemu 2


__ADS_3

Karena niat baiknya ditolak, Sauqi hanya memperhatikan Ghifa yang sudah jauh melangkah dari tempatnya menuju dua orang paruh baya yang dikenalkan padanya sebagai Oma dan Opa dari Ghifa.


Dan seandainya Ghifa menerima tawarannya, sesungguhnya dalam batin Sauqi sedang bergejolak. Pikirannya kacau karena bingung akan bersikap seperti apa pada kedua paruh baya itu nantinya. Walaupun belum jelas sepasang paruh baya itu dari pihak Pak Duda atau dari pihak mantan istrinya.


Namun Ghifa seolah tau perasaannya dan dengan sangat pengertian menolaknya, itu membuat Sauqi sedikit bernafas lega namun juga sedikit kecewa.


"Haihhhh, kesempatan terlepas." Gumamnya kecewa.


"Masih ada lain kali, kalo belum siap jangan maksain." Tegur Bizar yang memahami apa yang Sauqi rasakan. Wajar saja mereka adalah saudara kembar dan pernah berjuang tumbuh bersama di satu tempat yang sama.


Sauqi menghela nafas, raut wajahnya sedikit kusut. "Yaa lagian juga belum jelas bang, mungkin Allah belum ridho." Jawabnya pelan.


"Qi, hubungan kamu sama anak kecil tadi apa ?" Pasha memberanikan diri untuk bertanya setelah memperhatikan situasi dirasa cukup aman, dan dari pertanyaan itu semua yang ada disana mengangguk karena juga cukup penasaran.


Tanpa basa basi Shazia langsung menjawab. "Calon anaknya kalik, putus dari kamu dapetin duda." Ucapnya dengan nada ejekan.


"Beneran kak ?"


"Duren Sawit ya kak ? Duda keren sarang duit ?"


"Kalo dudanya kayak aktor korea itu sikat kak."


"Bau-baunya duda yang itu tuh, bocil lidah pedang dah panggil mommy aja." Saut Gheza sedikit menggoda bossnya itu.


Tanpa menanggapi, Sauqi berdiri dari tempat duduknya. "Kanjeng ratu udah kasih pesan, reuninya udah bubarr."  Ucap Sauqi yang kemudian melenggang dan disusul Kedua saudara serahim.


**


Rombongan Juan sudah keluar dari ruangan, mereka sesekali masih saling berbincang membahas yang belum sempat dibahas. Dan bahkan Arka berulangkali mengingatkan untuk para sahabat nya itu menghadiri hajatannya bulan depan.


"Udah lah Ka, lu diem bisa nggak. Kita nggak bakal lupa." Jawab Aldo dengan jengah.


"Tanggal hajatan lu udah gue lingkarin di kalender Ka, aman." Saut Dion yang tak kalah jengah dari yang lain.

__ADS_1


"Udah dulu ya, gue ama istri duluan. Takut anak gue godain pelayan disini sampek subuh." Ucap Sultan yang sudah menyeret Nisa untuk menghampiri Gheza.


Dan benar sekali, pemandangan yang terlihat dimana Nisa menjewer putranya dengan sekuat tenaga. Bagaimana tidak murka jika anak bujangnya menggoda pelayan yang telah bersuami bahkan memiliki 4 orang anak.


Shena mengernyit. "Lebih sadis dari gue." Gumamnya.


Stelah melihat keganasan Nisa, yang lainnya segera bubar. Tinggalah Juan dan Shena, serta Dion dan Ara ditambah Rudi dan Rania. Ketiga pasang suami istri ini tidak segera keluar karena mencari anak masing-masing, walaupun sudah besar keenamnya masih tidak tenang jika melihat anak-anaknya tiba-tiba menghilang.


"Pokemon gue pada kemana ?" Tanya Juan yang sama sekali tidak menemukan anak-anaknya.


"Bujang tunggalku menghilang ? Walaupun nggak ada otak tapi kan sayang kalo hilang." Ucap Rudi tak kalah panik ketika putranya tidak berada ditempat.


"Semoga gadisku yang kayak ulet bulu nggak godain om-om". Sambung Dion yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari orang terdekatnya.


Walaupun Shena sempat jijik dengan Shazia tapi ketika mendengar Dion yqng sebagai ayahnya menyebutnya seperti itu membuat Shena sedikit ingin menjitak kepala Dion dengan kekuatan super catwomen. Apalagi melihat respon Dion yang hanya nyengir saat semua tatapan menghunus kearahnya, anak sendiri juga, seenak jidad kalo ngomong.


"Udah para bapak tenang, para anak menunggu diparkiran." Ucap Rania yang mendapat pesan diponselnya.


"Yodah pulang-pulang, mau produksi adeknya Kahfi gue." Ujar Juan tak tau malu, seketika itu juga mendapat cubitan keras dari Shena diperutnya.


Dion dan Rudi kompak mengumpat. "Njayyyyy".


"Situ enak, bini masih muda digoyang terus tetep syahdu. Kayak gini nih yang bini seumuran cepet capek nya karena faktor U." Sewot Rudi seraya menarik Rania untuk meninggalkan manusia tidak ada otak itu secepatnya.


"Gue capek bini capek, emang kalo sama tua nih. Situ capek istri manjain." Sambung Dion dengan penuh kekesalan.


Disaat situasi memanas hanya karena Juan yang tidak tau malu, Shena memperhatikan empat orang yang terlihat sedang berjalan kearahnya dengan senyuman hangat saat pandangannya bertemu.


"Shena." Sapa nya dengan tersenyum.


Shena mengkerutkan dahinya, otaknya berusaha mengenali seorang perempuan paruh baya yang menyapanya. "Iya." Jawabnya dengan tersenyum canggung.


"Lama nggak ketemu, makin cantik aja." Ucapnya mengagumi kecantikan Shena yang memang faktanya terlihat lebih anggun daripada saat sebelum diperistri Juan.

__ADS_1


Shena semakin mengerutkan dahinya, memorinya seketika tidak berfungsi hingga dengusan Rania menyadarkan kepikunannya yang mendekati akut. "Kak Aleta ?" Tanya Shena memastikan, dan diangguki Aleta.


"Lama nggak ketemu ya Let, udah punya bujang dua sekarang ?" Tanya Rania melepas kecanggungan.


"Alhamdulillah Ran, oh iya ini suamiku Mas Guntur dan Ini anak ku yang kedua. Dan yang tampan ini cucuku." Aleta mengenalkan anggota keluarganya.


"Uhuyyyy ganteng banget, kayak masa bocilnya Kahfi." Ucap Shena mengelus pipi gembul bocah itu dengan sayang.


"Udah ay kita pulang." Ajak Juan dingin, bahkan tidak menanggapi kehadiran Aleta maupun Guntur sedikitpun.


Guntur yang sudah mengetahui semua cerita masa lalu Aleta membuatnya merasa bersalah karena menghampiri Juan dan lainnya.


"Maaf pak Juan, kami sudah menanggung waktu Anda dan yang lain." Ucap Guntur meminta maaf atas kelancangannya.


"Tidak masalah, Kak Aleta dan keluarga lain kali kita bisa liburan bareng ya." Ucap Shena dengan senyum ramah tanpa memperdulikan Juan yang sudah berusaha untuk menahan emosinya.


"Kami pamit dulu, anak-anak sudah menunggu diparkiran." Pamit Shena kemudian dan akhirnya Dion dan Rudi beserta istri memilih meninggalkan tempat itu lebih dulu.


Di jarak yang belum terlalu jauh, Juan sudah melayangkan protes pada Shena. Bahkan suaranya pun masih dapat terdengar oleh Aleta dan suami yang berjalan dibelakang nya.


"Ay, tolong lah hargai perasaan aku. Aku udah maafin dia tapi bukan berarti bisa nerima dia untuk jadi orang dekat kita." Ucap Juan sedikit emosi.


Shena menatap Juan. "Ay, semua udah berlalu jangan lagi ada dendam supaya hidup kita lebih tenang kedepannya oke. Berdamai lah dengan keadaan yang sudah ditakdirkan." Jawab Shena seraya membelai lembut tangan Juan yang menggenggam nya.


"Tapi...."


"Berdamailah, sampai rumah kita bikin adeknya Kahfi." Ucap Shena dengan senyuman polos membuat Juan seketika langsung luluh.


**


Melihat kejadian yang tepat berada dihadapan nya membuat Aleta dan Guntur tersenyum malu.


"Romantis nya mereka." Ucap Guntur seraya merangkul istrinya penuh sayang.

__ADS_1


"Aku salut sama Shena mas, walaupun usianya 8 tahunan lebih muda dari kita tapi pikirannya sangat dewasa." Jawab Aleta dengan senyuman yang mengagumi sosok Shena.


__ADS_2