
Tenang dan tentram, begitulah kehidupan Lutfi yang kembali pada semula. Setelah sempat terkena virus demam Tante Sao, kini Lutfi sudah kembali normal seperti sedia kala.
Jika bertanya mengapa, jawabannya hanyalah karena Ghifa yang sudah sibuk bersekolah. Setiap waktunya hanya bercerita tentang teman baru, guru baru, sekolah baru dan apa yang ia dapatkan dari sekolahnya bukan lagi perihal Tante Sao.
"Selamat terlelap Papi, besok anterin Ghifa pagi-pagi ya soalnya mau berangkat bareng Lauren." Ucap Ghifa sebelum dirinya benar-benar terlelap. Sekarang hobynya setiap malam harus mengingatkan sang Papi untuk hal-hal yang akan dilakukannya besok pagi.
"Syukurlah, ceritanya sudah berubah." Gumam Lutfi setiap malam sebelum memejamkan mata. Dengan begini, pikirannya menjadi lebih fokus dan tidak lagi dibayangi Peri Petir yang menjelma menjadi Tante Sao.
Pagi ini dengan sangat telaten, Lutfi menyiapkan segala kebutuhan untuk Ghifa dan untuk dirinya sendiri. Walaupun kadang kerepotan, Lutfi masih enggan untuk mempekerjakan pembantu dirumahnya .
Dirinya lebih memilih menjadi ayah dan sosok ibu sekaligus tanpa bantuan orang lain. Selagi dia mampu maka dia akan lakukan untuk sang anak apapun itu.
"Ayolah Papi, sarapan roti aja lama banget." Ucap Ghifa yang sudah tak sabar untuk pergi kesekolah. Bahkan sang Papi aja belum selesai meneguk secangkir kopi.
"Sabar boy ini masih jam tujuh, kamu masuk jam 8 kan ?? Lagian Papi juga kerja nya nanti siang." Jawab Lutfi yang memilih untuk melanjutkan sarapan, sebenernya Lauren itu siapa sampai harus berangkat pagi demi bisa berangkat bareng.
Ghifa mendengus. "Nanti Lauren kelamaan nunggu." Ucapnya cemberut.
"Iya udah ayok berangkat." Putus Lutfi pada akhirnya, kalo nggak buruan diantar yang ada malah bikin seret aja.
______
Dilain tempat, seorang gadis muda sedang membereskan meja makan. Dirinya terlihat sangat terburu-buru ntah apa yang akan dilakukannya.
"Buru-buru banget kak, mau kemana ?" Tanya Shena merasa heran.
"Mau ke studio Bun, nyelesain job yang sempat tertunda." Jawabnya.
"Yakin cuman ke studio sampek bawa 3 toples cookies ?" Tanya Shena sekali lagi setelah melihat 3 toples cookies yang siap masuk paperbag.
"Yang 1 buat duo curut, yang 1 nya buat Aunty Naswa, nah sisanya buat Ghifa kalo ntar ketemu." Jelas Sauqi seraya menatap sang bunda dengan senyum.
Melihat itu, Shena hanya menaikkan alisnya ."Disogok Cookies tuh bocil, jangan-jangan bapaknya mau disogok pakek first kiss nya kakak biar luluh." Ucap Shena menggoda dan membuat Sauqi melotot kan matanya.
"What the ?? Eh bunda ngadi-ngadi kalo ngemeng." Saut Sauqi setengah tak percaya dengan ucapan sang bunda. Pagi-pagi udah mikirin kiss aja, kebanyakan dapet jatah ya si Bunda, pikir Sauqi.
Dan Shena hanya menanggapi putrinya dengan kekehan.
Perbincangan dengan sang bunda telah usai, dirinya saat ini sudah sampai di Studio untuk menyelesaikan photo milik konsumen bersama dua curutnya. Jika menanggapi sang Bunda lebih lama lagi, yang dibahas bukan hanya kiss tapi hug dan bisa jadi sampai keranah yang lebih sensitif. Maklum bundanya sedikit tidak beres.
__ADS_1
Tangan lihainya mulai menyusun beberapa cetak photo dalam album besar nan mewah, dua curutnya sibuk memasang photo cetakan besar dalam bingkai. Tanpa berlama-lama, Sauqi menyelesaikan kewajibannya dan kemudian bersiap untuk pergi ke suatu tempat.
Hari sudah menunjukkan pukul 10 pagi, dirinya juga sudah sampai didepan sebuah rumah yang baru dua kali ini dilihat nya. Dengan harapan bujang kecil dirumah dan si bapak pergi, Sauqi melangkah kan kakinya mendekat kearah gerbang.
Sauqi menarik nafas dalam dan menatap rumah itu "Semoga bapaknya nggak ada, belum siap lelehin bongkahan es dihatinya. Aku masih mudah pilek untuk dia yang dingin." Gumamnya tersenyum getir.
Dengan ragu, akhirnya Sauqi memberanikan diri memencet bel demi bertemu dengan bujang cilik yang terakhir kali terlihat dekat dengannya. Sebulan tidak bertemu membuatnya memiliki rasa rindu.
"Buset budeg nih yang dirumah, udah gue pencet berkali-kali nggak nongol juga." Gerutu Sauqi yang kembali memencet bel rumah dengan diringin emosi jiwa. Berdiri depan gerbang kek satpam, pegel juga nih kaki.
"Kagak ada orang apa gimana sih, harusnya kan anak TK udah pulang. Apa TK jaman sekarang fullday ?"
Jika diluar rumah, Sauqi menggerutu dan semakin antusias membunyikan bel, maka pemilik rumah yang sedang bersiap tengah memaki dan mengumpat. Bisa-bisanya ada tamu yang dengan senangnya memainkan bel Rumahnya tanpa tau malu.
"Sialann! Siapa sih yang dateng kerumah disaat gue gak pengen terima tamu." Kesalnya, dengan tergesa-gesa menuju pintu utama untuk melihat tamu kurang ajar yang menganggu paginya.
"Bangsaaattt, kagak tau gue udah telat apa ya. Makin kenceng aja tu orang pencet bel."
"Mana anak gue udah jam pulang. Telat jemput, anak gue diculik tante-tante." Gumamnya seraya membuka pintu.
Dengan langkah cepat Lutfi menuju gerbang dan siap untuk meledakkan emosinya, terserah siapa tamunya sekarang yang jelas Lutfi akan protes karena telah diganggu ketentramannya.
Sauqi mengedipkan matanya dua kali sebelum akhirnya tersadar. "Yah malah bapaknya." Ucapnya terlihat kecewa.
"Ohh jadi kamu, tamu yang nggak punya sopan santun. Pencet bel kayak lagi kain pianika nggak pajek jeda, kamu kira saya budeg ?" Oceh Lutfi yang mengajukan protes, udah untung disambut eh malah kecewa.
"Maaf pak, saya cuma mau cari Ghifa. Ghifanya udah pulang pak ??" Tanya Sauqi yang tidak terlalu menanggapi ocehan Lutfi.
"Belom. Saya buru-buru dan belom sempet jemput." Jawab Lutfi datar.
"Kalo gitu saya permisi pak, maaf ganggu." Ucap Sauqi pada akhirnya. Misinya kali ini adalah anaknya, kalo langsung bapaknya level kekuatannya belum cukup.
"Enak aja habis ganggu langsung mau pergi, tanggung jawab dulu." Cegah Lutfi saat Sauqi sudah berbalik badan hendak meninggalkan rumah itu.
'Sejak kapan nih duda banyak bacot ?'
"Saya harus apa ya pak ?" Tanya Sauqi.
"Masuk." Titahnya.
__ADS_1
"Kemana pak ?"
"Menurut kamu kemana ? Kedalam celana saya gitu ? Ya kerumah saya lah." Kesal Lutfi mendengar pertanyaan Sauqi.
'Eh apa ? Celana ? gimana ?'
"Mau pak." Seru Sauqi dengan semangat, perkataan terakhir Lutfi seperti tak terdengar olehnya.
"Mau apa maksud kamu ?" Tanya Lutfi sedikit bingung dengan perkataan gadis didepannya.
"Masuk celana bapak." Jawab nya polos dan kurang sadar membuat Lutfi melebarkan matanya menatap Sauqi dengan tajam.
'Ditatap begitu apa salah gue ?'
'Ni cewek otaknya kemana ?'
"Cepat masuk kerumah saya, atau saya tidak izinkan kamu bertemu dengan Ghifa." Ucap Lutfi memberi intruksi dan menyadarkan Sauqi dari kehaluan yang kotor.
Dengan sangat menurut, Sauqi mengikuti Lutfi dari belakang. Sesampainya didalam rumah, Lutfi langsung menyerah kan kunci mobil serta ponsel yang ntah apa tujuannya, Sauqi belum memahami situasi itu.
"Saya mau berangkat kerja, tolong bantu saya satu hal." Ucap Lutfi yang sudah lebih rapi dari sebelumnya. Kemeja navy serta celana hitan sangat membuatnya terlihat berwibawa dan dewasa. Tanoa sadar Sauqi memandang pangeran ciptaan Tuhan itu dengan tatapan memuja.
"Itu ponsel saya jangan dimasukin tas, dan satu lagi liur kamu hampir netes." Ujar Lutfi menyadarkan Sauqi.
"Seterpesonanya saya sama bapak nggak sampek ngences juga saya pak, lagian ntar kalo saya ngences ntar bapak kegoda lagi." Jawab Sauqi yang balik menggoda Lutfi.
"Oh ya ini bapak kasih ponsel ke saya buat apa ?" Sambungnya.
"Masukin nomor kamu, nanti saya kirim alamat sekolahnya Ghifa dan kamu jemput dia." Jelas Lutfi yang sudah bersiap untuk pergi kerja.
Sauqi mengembalikan ponsel itu dan berganti melihat ponsel nya, sesaat kemudian ada pesan masuk yang tertera sebuah alamat sekolah. "Saya yang jemput ni pak ?" tanyanya memastikan.
Lutfi menatapnya sekilas ."Iya, saya buru-buru dan sudah terlambat." Jawabnya yang kemudian meninggal kan Sauqi sendiri didalam rumah.
Seperti tidak takut kerampokkan atau kemalingan, Lutfi begitu saja meninggalkan rumah yang masih ada tamu tak diundang. Sepersekian detik Sauqi diam, suara deru mobil sudah perlahan meninggal kan halaman rumah itu.
"Lah main tinggal, dikira gue bininya kali harus nutupin pintu ama jendela ? Gue rampok gelandang lu." Gerutu Sauqi yang menyadari bahwa dirinya tertinggal dirumah orang yang baru di kenalnya, eh tunggu belum sempat kenalan.
Dengan enggan akhirnya dirinya menutup beberapa jendela, mengecek kompor dan alat elektronik lainnya baru setelah itu keluar dan mengunci pintu sebelum menjalankan mobil untuk menjemput calon anaknya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, latihan dulu sebelum beneran jadi. Kepercayaan mu yang tidak tersengaja ini akan menjadi awal cintamu padaku Mas Imam. Hoho." Gumam Sauqi menghalu dahulu sebelum pergi.