IMAM KU

IMAM KU
127


__ADS_3

Sebulan berlalu setelah penandatanganan kontrak kedua perusahaan. proyek pun sudah mulai berjalan dan Wildan yang mengurus semuanya. Alvian tak pernah sekalipun datang ke lokasi, selain letaknya yang jauh di luar kota dia pun enggan terlibat dekat dengan rekan bisnisnya. Alvian hanya memantau dari jarak jauh, cukuplah dia mengirim Wildan ke sana untuk meninjau langsung ke lokasi dan Sela pun tak sekali duakali menanyakan Alvian pada Wildan bahkan sempat Sela menelepon dan menanyakan langsung pada Alvian kenapa sang pimpinan justru tidak pernah sekalipun meninjau langsung namun justru semua itu membuat Alvian menjadi kurang respect pada Sela. Apalagi Naima mengetahuinya bahwa Sela menghubunginya secara pribadi karena kebetulan ketika Sela menelepon Alvian sedang bersama Naima. Sesuai dengan kesepakatan mereka berdua bahwa tidak akan ada kebohongan diantara mereka meskipun Naima tidak berada di sana Alvian oun tidak akan merahasiakannya dia tidak ingin terjadi kesalah-pahaman pada hubungan mereka yang baru seumur jagung ini.


Dering ponsel memecah keheningan ingan diantara mereka berdua. Alvian yang tengah sibuk menikmati makanannya sedangkan Naima yang sedang merenungkan semua yang terjadi diantara mereka, pikirannya sedang berlarian entah kemana. Namun sering ponselnya menyadarkan meraka


Setelah mengucapkan salam Naima berkata" iya baiklah kami akan segera ke sana. " dan ditutup dengan ucapan salam kembali.


" Siapa? " tanya Alvian sambil mengerutkan keningnya penuh tanya.


" Mbak Ara, katanya mau melahirkan dan beliau mau ke rumah sakit. Kita harus ke rumahnya untuk menjaga Kinanti. " Naima bergegas menyelesaikan makannya.


" Loh Mama dan Papa kan di sana? " Alvian menu bukan kecemasan. Tiba-tiba saja bayangan masa lalu ketika zahra melahirkan Kinanti terlintas di kepalanya, dia pun panik dan bergegas beranjak dari duduknya.

__ADS_1


" Ayo Nay, kita harus cepat ke sana."


' Mas, apa sekhawatir itu kamu pada Kinanti atau mungkin pada ibunya... " Naima bergumam dihatinya sambil menatap Alvian yang beranjak tanpa menoleh pada Naima yang masih banyak menyisakan makanan dipiringnya. Naima bergegas mengikuti langkah Alvian, untung saja Naima sudah berpakaian rapih karena sudah bersiap untuk berangkat ke kantor.


Hanya butuh waktu lima menit saja untuk sampai ke rumah Reynan dengan menggunakan mobil. Alvian langsung bergegas masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam.


" Daddy.... " Kinanti berlari menyambut kedatangan Alvian.


" Tadi pergi ke dokter mengantar ibu yang akan melahirkan dede bayi. Hore.. aku nanti akan ketemu dede bayi loh Daddy. " Celotehnya.


" Daddy.... "

__ADS_1


" hemmm... "


" Mana tante Ima? " Dan Alvian baru tersadar dengan istrinya. Namun Naima muncul melangkah masuk mendekati mereka berdua. Tiba-tiba sja Alvian merasa bersalah telah mengabaikan istrinya.


" Nay, maaf... aku panik karena teringat Mama dan Papa yang hari ini ada kunjungan ke perusahaan rekanan yang mengundang mereka belum lama ini. Aku panik memikirkan Kinanti tidak ada yang menjaga. " Alvian meras memang dia tidak berbohong karena dia mengkhawatirkan keadaan Kinanti walaupun sedikit mengkhawatirkan ibunya juga karena bayangan dulu begitu saja melintas dipikirannya. Namun Kinanti lah yang benar-benar dia khawatirkan. Alvian teringat kala gadis kecil itu dilahirkan dulu ibunya sempat mengalami baby blues. Dialah yang merawat Kinanti kala itu sampai terjalinlah kedekatan seperti seorang ayah dan anak diantara mereka. Sedangkan Reynan ayah kandungnya sedang terbaring koma. Bahkan kala itu sempat Mama Siska yang mengetahui kisahnya dengan Ibu dari anak ini menyuruhnya untuk menikahi kakak iparnya karena putus asa dengan keberadaan sang anak sulung yang tidak juga bangun dari komanya. Namun Alvian masih berfikiran waras pada saat itu, dia menolak keras permintaan ibunya walaupun saat itu perasaannya masih tetap sama. Justru Alvian berusaha keras Mati-matian dia menekan perasaannya saat itu. Dia tidak ingin memiliki yang memang tidak ditakdirkan untuknya walaupun sempat kecewa karena wanita yang dulu sangat mencintainya telah berpaling bahkan pada orang terdekat yang dia sayangi. Namun gadis kecil ini sudah membuatnya jatuh hati, tangisan kecilnya membuat dia melupakan rasa sakit itu perlahan, dia sangat menyayanginya. Sangat dan sangat. Bahkan sampai sekarang pun. Namun ketika sang kakak terbangun dari komanya dia pun berusaha menjauh tidak ingin mengambil posisi sebagai seorang ayah, dia pun sadar jika dulu Kinanti lebih dekat dengannya dibandingkan ayah kandungnya. bahkan gadis kecil ini sempat merasa asing dengan Reynan.Mungkin saat ini pun sebenarnya mereka masih begitu dekat bamun sama-sama menjaga perasaan seorang Ayah yang juga sangat menyayangi gadis kecil ini.


Naima pun mengangguk dan tersenyum berusaha mengerti walaupun hatinya sedikit terluka namun dia berusaha memaklumi kekhawatiran suaminya. Naima tahu sedekat apa hubungan keduanya bahkan Naima sempat berpikir bahwa Kinanti adalah anak kandung Alvian karena perlakuannya yang sangat istimewa pada Kinanti.


Happy reading๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ


jangan lupa like dan komentar ya

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2