IMAM KU

IMAM KU
Kedai Es yang Panas


__ADS_3

Hari ini cuaca lagi panas-panasnya, lebih enak kalo ngadem sambil nyeruput segelas es pakek sirup. "Neraka bocorkah ? Puanas nya oik." Keluh Bizar yang sudah dibanjiri keringat, habis ngadep kompor seharian eh langsung disengat matahari beh melepuh tuh kulit.


"Padahal udah habis ashar tapi masih mentereng aja." Saut Naswa yang sedang berkipas dibawah pohon. Untungnya nggak lagi puasa dan nggak lagi ngejob, jadi bisa terhindar jauh dari dehidrasi dan kelelahan.


"Astagfirullah, baru panasnya dunia udah pada ngeluh. Gimana ntar di neraka." Sambung Sauqi menggelengkan kepala. Baru segini aja udah pada tersiksa tapi masih aja bikin dosa, inget inget tuh neraka panasnya bukan main.


Disaat ketiganya sedang berpendapat, tibalah sianak pemilik kedai jus dengan membawa nampan berisikan bermacam minuman yang mengandung es. "Dateng bertiga, pesen minumnya 3kali lipat." Ucap Farhan seraya meletakkan pesanan sahabat-sahabatnya.


Mendengar ucapan Farhan, Bizar mendengus kesal. "Itu ntar juga gue bayar semuanya, lagian yang dua punya lu setan." Sewotnya dan Farhan hanya tersenyum bodoh menanggapi perkataan sahabatnya itu.


"Restonya Bang Juan emang nggak jual minum apa ? Bisa-bisanya chef sekaligus anak pemilik resto ternama mau minum es jauh banget nyampek sini." Ucap Naswa setelah menyeruput es jeruknya hingga hampit tandas. Haus apa doyan neng ?


"Minuman resto sama minuman ginian rasanya beda jauh Nty, nikmati hiduplah sekali dua kali. Hitung-hitung sambil bantu pemasukan usahanya temen." Jawab Bizar dengan entengnya.


"Emang besti gue lo." Ujar Farhan membanggakan Bizar. Kalo gini aja bangga, coba ntar palingan juga saling bully.


Melihat ketiganya, Sauqi hanya mencebikkan bibirnya mengejek. "Ngapa lu ? Gak suka gue akur sama abang lu ?" Tanya Farhan.


Belum sempat Sauqi menjawab, diantara keempatnya datang lah dua makhluk yang tak diundang. "Masih boleh gabungkan ?" Ucapnya dengan sangat percaya diri.


"Bi, lu pesen minuman sebanyak ini buat mereka juga ?" Tanya Farhan sedikit tak mengerti dengan situasi ini, pasalnya sejak dulu keberadaan nya selalu tidak disukai oleh dua orang yang baru datang ini.


Mendengar pertanyaan yang terlontar dari Farhan membuag tiga bersaudara itu langsung menyeruput semua minuman yang ada dihadapan masing-masing. "Ya kagaklah enak aja." Ucap Bizar melotot kan matanya kearah Farhan.


Pikirannya bertanya-tanya ada apa sebenar nya, namun sebelum berucap sudah terdahului Sauqi. "Boleh, silahkan duduk dan pesanlah." Ucap Sauqi mempersilahkan kedua orang itu.


"Thank's". Ucap salah satunya.


"Jadi, lo yang ngundang ?" Farhan kembali bertanya, dan kali ini tertuju pada Sauqi.


"Gue mempersilahkan doang, kalo mereka beli jus emak lu kan lumayan." Jawab Sauqi yang bersikap tenang. Beda dengan laki-laki yang baru datang itu yang terlihat gelisah.


Melihat gelagat aneh dari Pasha, Naswa berniat untuk sedikit menggaduhnya. "Nggak usah tegang gitu lah Sha, gue udah pensiun dari kerjaan cabut kuku tanpa bius." Ucap Naswa tenang namun sedikit sadis.


"Emmm gue santai kok." Jawab Pasha seraya sedikit melirik kearah Sauqi yang tengah sibuk dengan es sirup nya.

__ADS_1


"Minum bro, hari ini puanas banget cuacanya." Ucap Bizar setelah Farhan meletakkan dua gelas jus mangga.


"Makasih Bi." Jawabnya tanpa berani menatap Bizar, rasa bersalahnya membuat nyalinya menciut dihadapan seorang Abizar.


"Idih mbaknya kalem bener, cuma ngemeng pas tadi dateng doang. Kenape ? Sariawan ??" Tanya Farhan yang mengarah pada Shazia, tumbenan nih ulet bulu kalem. Mau nunjukin kalo wanita anggun dan lemah lembut ? Halah gatel.


"Nggak apa-apa, gue cuma nggak tau harus nimbrung apa." Jawabnya sok manis, tapi matanya melirik Sauqi seolah mengisyaratkan sebuah hinaan untuk Sauqi.


"Ajakin ngobro ngab, jangan dicuekin. Yang udah ya udah." Ujar Naswa ramah, padahal mah pengen nyincang tu orang.


"Kamu bener Nas, kan ini semua juga karena takdir." Ucap Shazia, sontak membuat Naswa ingin memuntahkan biji kelengkeng yang dulu pernah tak sengaja ia telan. Bahkan Farhan dan Bizar bisa sampai tersedak angin.


"Gue minta maaf buat kesalahan yang sebelumnya, terutama sama lu Ki." Ucap Pasha serius, namun Sauqi hanya menanggapi nya dengan senyuman. Males nanggepin, lagian kemaren juga udah dijawab.


"Lu ikhlasin Pasha ya Ki, semoga cepet dapet gantu." Sambung Shazia seraya memegang tangan Sauqi.


Dengan perlahan, Sauqi menarik tangannya. "Aman, gue dapetin gantinya dia sekalian pakek bonus, tanpa dosa tapi berhadiah pahala." Ucap Sauqi yakin, apa salahnya ngejar tuh duda kulkas 2 pintu sama anaknya yang julid dari lahir.


"Bagus dong, kalo bisa cepet kenalin ke kita kita ya kan." Ujar Shazia lagi-lagi sok akrab seolah tidak pernah melakukan penghianatan.


"Nggak usah kak, ntar lu ditikung lagi." Saut Bizar. Kesinggung ya bodo amat, emang fakta.


Naswa memutar bola matanya malas, ada ya makhluk tidak sadar diri ini. "Rantai aja besok Ki lehernya, biar nggak kesedot kuyang." Ucap Naswa yang bermakna sindiran, namun sayangnya yang disindir nggak tau diri.


"Sayangnya yang dijagain juga gatel, makanya lepas juga Nas. Andaikan yang dijagain tau diri, beh langgeng nggak pakek nyesel." Farhan ikut buka suara menanggapi ucapan Naswa. Memang ya cocok, sama-sama nggak sadar diri.


"Maaf gue khilap." Lirih Pasha. Dirinya nggak kuat hati jika berada terlalu lama disini, hatinya sakit karena rasa bersalahnya pada Sauqi, dan dirinya malu karena telah datang bersama Shazia.


"Wussshhhhhhhhhh, malaikat pencatat amal buruk telah tiba. Ada kebohongan dalam drama kita kali ini gaess." Ucap Bizar sinis, bisa-bisanya dia mendengar ungkapan khilap dari seorang yang pernah diberi kepercayaan keluarga nya itu.


"Ki, gue saranin ya. Lo berubah gih biar kekasih lo nggak berpaling ke yang lain. Coba deh lo kayak gue, pinter dandan, anggung, cantik, seksi." Oceh Shazia yang semakin tidak sadar diri, jelas-jelas dirinya yang menggoda Pasha eh sekarang malah ngajarin Sauqi.


Mendengar ocehan unfaedah itu, Sauqi hanya mampu menghela nafas jengah. "Iya seksi, murahan, gatel, nggak tau malu, nggak sadar diri. Punya temen di seruput juga, rakus bener." Ketus Naswa yang sudah tersulut emosi.


"Kok lu yang sewot, Sauqi aja nggak komentar dan itu tandanya di sadar diri akan kesalannya kenapa bisa Pasha berpaling ke gue." Jawab Shazia membela diri.

__ADS_1


"Bener tuh Nty, mana lakiknya juga gatel banget. Liat paha mulus dikit langsung ngiler sambil melet. Jangan-jangan pas dinas sering juga gitu." Saut Bizar semakin memprovokasi, pondok es yang sshafusnya mendinginkan suasana eh malah bikin nambah panas bak kawah gunung merapi.


Nafasnya memburu, matanya memerah. Dia memang berkhianat tapi dia tidak bejat. Reflek, dirinya langsung mencengkram kerah baju Bizar "Jaga omongan lo !! Gue emang berkhianat, dan itu karena gue khilaf. Gue akui gue salah, tapi gue nggak pernah sebejat itu." Bentak Pasha yang tidak terima dengan ucapan Bizar.


Bizar tersenyum sinis. "Marah ?? Hancurkan perasaan lo ?? Itu gue baru pakek kata-kata. Coba lu pikir pakek otak lu yang kotor itu, gimana perasaan adek gue pas ngegab elo duaan di kontrakan dengan kondisi wanita ini yang lebih mirip jalangg ??" Tanya Bizar semakin menantang Pasha, jika harus baku hantam maka laksanakan. Harusnya sudah sejak saat itu dirinya memberi bogem mentah.


"Gue bilang sama lo gue khilap, semua salah dia yang godain gue duluan. Gue terbawa jebakan dia." Suara PAsha semakin meninggi, sehingga nya semua orang menatap kearah keduanya.


"Lo nggak ada otak, lo bejaatt. Itu sebabnya lo mau sama dia, dan nggak ada terjebak hingga berlarut. Lo nikmati semua itu kan ??" Tanya Bizar yang masih menampilkan tatapan sinis.


"Bizar, jangan keterlaluan dong lo. Dan lo kok malah nyalahin gue ? Bukannya lo juga nikmati itu semua ??" Teriak Shazia tidak terima dengan obrolan dua orang itu.


"Diam, semua gara-gara lo. Lo hancurin hidup gue, puas lo Sekarang ?" Tanya Pasha yang menatap nyalang ke arah Shazia. Dirinya sudah muak dengan kesalahan ini.


"Hahahahahahah, liat. Jalanng peliharaan lo aja bilang kalo lo nikmati semuanya. Mau ngelak lagi hah ??" Bentak Bizar.


"Sialaan." Geram Pasha, dirinya sudah naik pitam sekarang. Dan tanpa sadar dirinya melayang kan kepalan tangannya kearah wajah Bizar, namun segera ditahan oleh Farhan.


Bukannya melerai, Naswa hanya menatap sinis Shazua terus-terusan. Shazia yang ditatap demikian pun akhirnya tersulut juga.


"Apa lo ? Gue tau kalo cantik, tapi mata lo nggak usah liatin gue kayak gitu." Sewot Shazia.


"Jijik. Lo nggak bisa baca ekspresi orang ? Tatapan gue barusan itu merendahkan harga diri lo yang murahan itu." Jawab Naswa dengan senyum menghina yang jelas terpampang.


Melihat keduanya mulai beradu kata dan ada tanda-tanda main fisik seperti Bizar dan juga Pasha, Farhan menepuk jidatnya frustasi. "Ya Allah, berantem dah. Tawuran gih sekalian, gue pinjemin golok nya pakde Patimura." Gumam Farhan seraya menatap Sauqi memberi kode permohonan bantuan.


Namun Sauqi malah tenang dan santai, bahkan menikmati es jeruknya dan es sirupnya dengan nikmat seolah keributan dihadapannya hanya angon berlalu. Heemm pemeran utama malah cuma jadi viewers.


"Udah lah woy, kalian mau berantem disini ? Kagak malu haaa ??" Teriak Farhan mencoba mengamankan dua kubu yang berseteru.


"Lo liat nih, penghianat mau nunjukin hasil Latihan militer nya." Jawab Bizar tenang.


"Peliharaannya juga mau adu otot nih, kalik aja mau pakek jurus matuk kek uler." Sambung Naswa dengan Sinis.


Lagi-lagi, hanya dengan kalimat sederhana itu memprovakasi Pasha dan Shazia. Hingga pada akhirnya Farhan tak mampu menghentikan empat umat yang memutuskan untuk baku hantam.

__ADS_1


Melihat keadaan semakin memanas, Sauqi menyudahi aksi duduk manisnya dan berniat untuk melerai Keempatnya. Namun siapa sangka jika Tuhan berkehendak lain dan membuatnya mengurungkan niat. "Tante, Tante dekil."


Suara cempreng nan imut, namun menusuk kejiwa. Bocah itu, kenapa berada di kedai es milik Farhan ? Apa yang dilakukannya. "Tante, lagi ngapain ?" Tanya bocah itu padanya dan Membuatnya memutar badan.


__ADS_2