IMAM KU

IMAM KU
Kenalan


__ADS_3

Setelah sholat maghrib, semua orang sudah berada dimeja makan mengambil posisi masing-masing. Karena sudah terbiasa melayani semua anggota keluarga saat dirumah, kali ini Sauqi juga mengambil peran yang sama, menganggap tempatnya berdiri sekarang adalah rumahnya sendiri. Ntah sadar atau tidak dirinya saat ini, yang pasti semua orang sedang menatap nya takjub.


"Abang nasinya lagi atau udah ?" Tanya Sauqi saat mengambilkan nasi untuk Ghifa.


"Cukup Mommy." Jawabnya.


"Uhh dah Pantes jadi Mommy loh Qi, buruan gih." Ucap Manda, hari ini dia banyak belajar dari Sauqi menjalani peran sebagai istri maupun ibu yang baik.


"InysaAllah mbak." Jawab Sauqi dengan senyuman manis.


"Makasih udah jadi contoh yang baik buat calon istri gue Qi." Ujar Argi, dirinya mengagumi kemampuan Sauqi yang bisa menjadi ibu atau pun istri walaupun belum pernah mengalami. Contoh yang baik untuk Manda calon istrinya .


"Sama-sama mas, lagian gue sama mbak Manda juga sama-sama belajar." Jawab Sauqi.


"Waktunya makan." Ucap Lutfi menghentikan obrolan dan setelahnya memimpin doa.


Semuanya menikmati makan malam yang dimasak oleh Sauqi dengan khidmat, Sauqi sendiri lebih sibuk karena membantu Ghifa menyuapkan nasi yang ada dipiringnya. Bukannya belum pandai makan sendiri, tapi Ghifa bersikap manja untuk memanfaatkan keadaan.


"Sory guys, kalo tadi dan sekarang ada bau yang kurang mengenakkan mohon maafkan. Gue doang yang belom mandi." Ucap Sauqi sambil merapikan meja makan karena semuanya sudah menyelesaikan acara makan malam.


"Lu kira gue udah mandi ? Noh tuan rumah doang yang udah wangi." Sewot Manda yang merasa tersindir karena dirinya juga belum mandi. Jangan kan mandi, cuci muka aja pas wudhu doang.


"Salah sendiri lu nggak mandi." Ucap Lutfi cuek.


"Lah gue mandi mo pakek apaan saat, baju Maira gue minta kagak lu kasih." Manda semakin sewot dibuatnya. Calon pengantin kok emosian.


"Duh segernya udah mandi." Ucap Argi yang baru datang tanpa tau situasi dan kondisi.


"Nah si dugong, calon bini nya belom sempet mandi dia udah keramas aja." Sindir Manda.


"Mandi bareng yok sayang." Ajak Argi menggoda, yang digoda bukannya tersipu malah semakin emosi jiwa.


Sauqi menggelengkan kepala nya puyeng. "Tuan Nyonya, silahkan duduk sambil makan buah." Ucap Sauqi menyodorkan satu piring buah-buahan segar yang sudah dipotong.


"Makasih ya." Ucap Manda.


"Nggak usah kamu cuci, biar saya aja besok." Cegah Lutfi saat Sauqi sudah siap sedia membasuh semua piring kotor. Kehadirannya bukan untuk jadi pembantu dirumah ini, melainkan tamu.


"Nggak papa mas, nanggung."  Jawab Sauqi dan hanya diangguki oleh Lutfi, mau dicegah pun kalo udah jiwa pembantu bakalan sulit. Jadi Lutfi memilih untuk membiarkannya.


"Gue pulang ah, dah gerah." Ujar Manda yang  sudah menenteng tas nya.


"Qi, mbak pulang dulu yaa." Lanjutnya berpamitan dengan Sauqi.


"Gue juga, mo nganterin calon bini tersayang." Sambung Argi yang juga berpamitan.


Setelah keduanya pergi, Sauqi juga telah siap membersihkan dapur milik Lutfi yang sempat dijajahnya tadi. Dirinya menghampiri Ghifa dan Lutfi yang sedang fokus bermain lego.


"Boy, tante pulang dulu ya." Ucap Sauqi seraya mengekus pucuk kepala Ghifa penuh kelembutan.


"Mas aku pamit pulang, maaf udah ngerepotin." Lanjutnya berpamitan pada Lutfi.


"Mommy pulang sama kita ya, Papi sama aku anterin." Ucap Ghifa memberi tawaran namun dengan sopan Sauqi mencoba untuk menolak.

__ADS_1


"Nggak usah, Tante bisa pulang sendiri kok." Jawqb Sauqi.


Ghifa mengedipkan matanya memberi kode pada Sang Papi ."Kamu kita anter aja, ini udah malem." Ucapnya setelah paham dengan kode sang anak.


"Maaf ngerepotin." Jawab Sauqi, dirinya tak berani menolak lagi karena Lutfi sudah menatap nya dengan tajam.


Setelah menunggu Lutfi bersiap, ketiganya kini sudah berada didalam mobil dengan Ghifa yang berada dipangkuan Sauqi. Mobil berjalan dengan perlahan meninggalkam halaman rumah dan menuju kejalan raya.


"Maaf ya Boy, tante Sao bau keringet." Ucap Sauqi memecah keheningan.


"Dont worry, oh ya Papi udah izinin Ghifa untuk panggil Mommy loh." Jawabnya terkesan antusias, membuat Sauqi melirik kearah Lutfi sekilas. Semudah itukah ?


"Oh ya, kapan Ghifa izin ?" Tanya Sauqi sambil mengelus lembut kepala Ghifa, dan tanpa sadar membuat Ghifa terhanyut rasa kantuk yang tiba-tiba datang.


"Tadi pas Mommy cooking, kata Papi boleh." Jawabnya pelan.


"Terus Ghifa udah bilang makasih ?" Tanya Sauqi, dengan ngobrol bersama Ghifa bisa mengurangi rasa gugup, begitulah pikiran Sauqi. Namun kenyataannya diluar ekspetasi.


"Boy, are you okay ?" Tanya Sauqi karena tidak mendapat jawaban.


Sauqi mengguncang pelan bahu Ghifa. "Are you sleeping boy ?" Tanyanya lagi.


Lutfi menoleh sekilas. "Yes, he fell asleep." Ucapnya.


"Ya ampun, terus Mommy ngajak ngobrol tadi kamu dah otewe kah ?" Gumam Sauqi seraya menghela nafas, bakalan terjadi lah moment canggung.


"Santai aja gak usah gugup, saya minta maaf untuk kejadian sebelumnya hingga hari ini." Ucap Lutfi memulai obrolan walaupun masih terkesan dingin, kesempatan juga mumpung Ghifa tidur.


"Iya mas nggak papa, aku juga minta maaf." Jawab Sauqi canggung.


"Sauqi." Jawabnya singkat, bingung mau tanggepin gunung es kayak gimana.


"Rumah Kamu ?"


"Perumahan belakang kantor Walikota."


Keduanya kembali terdiam, Lutfi memilih fokus mengendarai mobilnya dan Sauqi yang kembali canggung lebih memilih untuk mengelus kepala bujang kecil yang dipangkuannya, ya untuk sekedar menghilangkan kegugupan.


Sauqi belum sempat membayangkan adegan seperti ini sebelumnya, misi yang dirancang diotaknya hanya sebatas bagaimana dia meluluhkan Hati bujang kecil. Namun siapa yang menyangka sekalinya lelehin anakan gunung sibapak ikutan cair.


'Gue lupa cara pdkt sama cewe, anjirrrrr.'


'Adegan ini belum masuk daftar misi satt.'


Sauqi menghela nafas, sesak rasanya berdua dalam mobil tapi diem-dieman. Hanya otak saja yang sibuk berpikir yang tidak-tidak.


"Kenapa ?" Tanya Lutfi tanpa menoleh, fokusnya masih pada jalanan yang mulai menyepi.


"Nggak ada mas." Jawab Sauqi singkat.


'Duh mau nafas aja canggung gue, setann. Berenti nih napas kan.'


Batinnya berkecamuk karena rasa canggung dan gugup. Mau ngelap keringat yang tiba-tiba muncul saja Sauqi enggan karena takut menggangu manusia yang ada disebelahnya. Sedangkan Lutfi sedang berpikir bagaimana caranya ngobrol, dan apa saja yang akan dia lakukan saat bersama seroang gadis.

__ADS_1


'Gue harus apa, dia canggung banget. Sumpah status duda yang nggak laku ini mahh.'


"Mas, nanti belok kiri yaa." Ucap Sauqi menunjukkan simpang empat dikomplek perumahannya, takut kebablasan.


"Ohh, oke." Jawabnya singkat.


Setelah mengucapkan sepatah kata, keduanya kembali terdiam. Ntah apa yang mereka pikirkan saat ini hingga topik pembicaraan pun tidak ada sama sekali.


"Mas/Qi." Ucap keduanya barengan, dan lagi-lagi membuat suasana semakin tidak jelas.


"Mas aja duluan." Sauqi memberi kesempatan untuk Lutfi.


"Kamu aja."


"Mmm rumah aku kelewatan 2 rumah mas." Jawab Sauqi sambil tersenyum canggung, udah fokus sama jalan supaya nggak kebablasan ehh malah kelewat dua rumah.


"Oh soryy, saya mundurin mobilnya." Ucap Lutfi yang tiba-tiba menjadi gugup, fokusnya seketika terpecah belah dan tercecer ntah kemana.


"Makasih mas, malem-malem udah ngerepotin. Mau mampir dulu ?". Tanya Sauqi sebelum kekuar dari mobil itu, namun tangannya sudah membuka pintu secara perlahan.


"Lain kali." Jawab Lutfi yang sudah kembali pada mode awal.


Sauqi melangkahkan kakinya keluar mobil. "Sekali lagi terimakasih mas." Ucapnya.


Sebelum benar-benar pergi, langkah kaki Sauqi terhenti dengan panggilan dari Lutfi. "Qi."


'Duh dia tadi kan mo ngomong yak, lah apaan nih ?'


Sauqi memutar badannya "Ya mas ?" Tanyanya polos.


"Ghifanya mau dibawa kemana ?" Tanya Lutfi seraya menunjuk kearah Ghifa yang masih terlelap dalam dekapan Sauqi.


Sauqi menundukkan pandangannya. " Astaghfirullah, maaf mas aku lupa." Ucapnya terburu-buru mengembalikan Sauqi kedalam mobil, dan memasangkan seatbeltnya. Kegugupan membuatnya ingin segera kabur namun juga membuatnya lupa ingatan jika ada seorang anak yang ia larikan.


"Saya pulang. Assalamualaikum." Ucap Lutfi dengan senyum tipis menghias wajah tampannya.


"Waalaikumsalam mas."


Setelag mobil hilang dari pandangan mata, Sauqi segera berlari kedalam rumah. Jantungnya yang sejak tadi tidak terkontrol dengan baik, bahkan nafasnya yang enggan berhembus membuatnya seketika menegang dan sekarang langsung melemas.


"Cihuyyy dianter siapa neng ?' Teriak Bizar dari arah ruang keluarga.


"Pak duda." Jawab singkat dan kemudian melarikan diri kedalam kamar, wajahnya ngeblush.


"Nah disko tuh jantung pasti." Gumam Kahfi.


"Sssttt jangan diledekin ntar ngambek." Ucap Juan menengahi, lagi deg degan jangan dipancing nanti jadi maung.


"Wah anak gadis ku incarannya duda, ada kemajuan generasi ku." Ucap Shena membanggakan dirinya sendiri. Jika diingat dirinya yang berusia 18 tahun mengincar polisi dewasa, dan sekarang putrinya sedang mengejar duda anak satu. Memang kemajuan.


Dalam perjalanan pulang, Lutfi menghembus kan nafas nya berung kali. Jantungnya yang mendadak maraton membuatnya sedikit sesak nafas sekarang. Keberanian yang dia ucapkan dihadapan Ghifa dan Argi sore tadi hanyalan tipuan semata, karena pada kenyataannya dirinya sama sekali tidak berani untuk sekedar mengajak seorang gadis berbincang .


"Ya Allah niat hati mau minta nomer ponselnya malah nggak kejadian, duda apaan nih godain gadis aja ciut." Gerutunya memaki diri sendiri.

__ADS_1


"Ayolah Lutfi jangan kalah sama anak lu."


"Oke sekarang gue emang cupu, tapi tunggu aja ntar bakalan gue dapetin secepatnya. Anggap aja yang tadi kenalan, untuk step berikutnya gue pikirin dulu." Gumamnya menyemangati diri sendiri, sekarang boleh gagal tapi lain waktu harus bisa.


__ADS_2