IMAM KU

IMAM KU
Keributan Sauqi


__ADS_3

"Sialaan nih manusia." Geram Farhan yang tidak menerima kekalahan. Sedangkan Bizar langsung merebahkan badannya menenangkan diri.


Sauqi menatap tajam. "Lu bedua lupa ama gue, mana udah lama beut gue nungguin lu diluar." Ucapnya dengan masih berdiri didepan pintu.


"Lagian lu kan lagi pdkt ama mas duda, gue kan abang yang baek jadi nggak mau jadi nyamuk." Saut Bizar menjelaskan supaya sang adik gagal ngambek.


"Udah ah, pulang yok bang. Gue mau cek isi lemari." Ajak Sauqi.


Tanpa pamit kepada pemilik kamar, Bizar menyusul Sauqi yang lebih dulu meninggalkan kamar Farhan.


"Ohhh ya nggak ada sopan-sopannya tu bocah kembar, main nyelonong aja." Gumam Farhan seraya menggeleng kepala.


****


Dalam perjalanan, Bizar Sesekali melirik sang adik yang kadang terbengong dan kadang tiba-tiba tersenyum dengan rona merah dipipinya.


Merasa heran dengan tingkah sang adik, Bizar pun akhirnya bersuara. "Ngapa lu kak ? Kesambet ?" Tanya nya.


Sauqi menoleh sejenak sebelum akhirnya mendengus. "Abang kek gak tau aja, kan gue baru aja ketemu mas duda." Jawab Sauqi.


"Lah apa hubungan nya ?" Bizar lagi-lagi bertanya.


"Ya senenglah, makanya abang mulai jatuh cinta kek." Jawab Sauqi.


"Eh elu baru juga diselingkuhin, gampang banget move on."


"Lah buaya kek gitu mah gampang lupainnya bang, inget rasa sakit dari dia gue jadi termotivasi buat cepet cari penawar."


"Good sih."


"Lah elu kapan nih memulai untuk jatuh cinta bang ?" Tanya Sauqi gantian.


"Lagi planning, doain aja lancar." Jawab Bizar seraya fokus membelokkan mobilnya komplek perumahan keluarga nya tinggal.


"Udah ada target ? Apa perlu gue cariin ?" Sauqi menatap Bizar dengan alis yang naik turun.


"Nggak usah, target dari bunda udah ada. Ahpi lagi bantu cari info sebelum abang naik level ke proses pdkt." Jawab Bizar dengan tersenyum.


"Paling juga gurunya Ahpi ini mah." Sauqi menebak.

__ADS_1


Bizar terkekeh. "Tau aja lu."


"Bunda terinspirasi dari celoteh nya Ahpi." Jelas Sauqi yang hanya diangguki oleh Bizar.


****


Tak terasa waktu cepat berlalu, semalam Sauqi menjadi bahan ledekan sekeluarga karena Bizar mengatakan pada sang ayah bahwa anak gadisnya habis ketemuan sama mas duda dan calon anaknya.


Hingga pagi menjelang siang ini pun dirinya masih saja digoda oleh ayah dan bundanya, apalagi setelah mereka tahu bahwa Sauqi akan pergi sore nanti menemani calon anaknya keacara ulangtahun, bahkan juga bersama ayah dari calon anaknya itu.


"Aciyee udah di publish nih." Goda Juan pada anak gadisnya.


"Butuh bantuan bunda nggak kak ?" Tanya Shena seraya mengedip kan sebelah matanya.


"Makasih ayah bunda, udah yaa. Muka kakak panas nih, malu." Ucap Sauqi seraya memasuki kamarnya dengan gerakan cepat.


Diluar, Shena dan Juan kompak tertawa renyah. Kebahagiaan keduanya semakin mekar bagai bunga-bunga ditaman.


Disaat dua orangtua itu berpeluk mesra, suara teriakan pun terdengar dari arah kamar anak gadisnya. Lagi ada waktu berbagi kasih ada aja pengganggunya.


"Bunda cek dulu Yah, takutnya kakak tenggelam di akuarium." Ucap Shena seraya melepas pelukannya.


Dikamar Sauqi.


Ruangan yang semula rapi dan bersih kini lebih menyerupai tempat pengumpulan kain bekas. Segala jenis dress, kaos, celana, rok, bahkan kalelawar dan kacamata pun hinggap diberbagai sudur kamar.


Shena yang awalnya khawatir menjadi murka melihat pemandangan absurd ini.


Tarik nafas, lepas. "Kakak !!! Apa yang kamu lakukan ????" Teriak Shena sekuat tenaga.


Sauqi yang sedang mencoba satu stel baju pun terkaget dan melemparkannya sembarang arah. "Astagfirullah Nyi Roro Kidul !!!" Teriak Sauqi tak kalah kencangnya.


Tanpa sadar baju yang terlempar sudah mendarat dengan manis dibahu Shena.


"Beginikah cara mu menyambut ibu mu wahai anak gadisnya Juanda ???" Tanya Shena dengan menggeram.


"Maaf Bunda, kelepasan." Jawab Sauqi yang segera menghampiri sang bunda dan menyisihkan baju yang bertengger.


Mendengar dua wanita tercinta nya, Juan bergegas menyusul. Dan seketika wajahnya yang panik kembali datar bahkan lebih terkesan sebal.

__ADS_1


"Kalo mau berantem nggak usah pakek kain, pakek piring sama gelas dong biar pro." Ucap Juan datar.


"Kelakuan anak mu ini, mau pergi nemenin bocah ulangtahun aja kayak mau ketemu presiden. Milih kostum sampek berantakin isi lemari." Ucap Shena dengan sengit. Dirinya saja dulu ketemu mertua cuma pakek dress alakadarnya, bahkan kerumah mertua pertama kali cuma pakek kaos, pakek sandal jepit lagi.


Juan mengecup kening Shena, meredakan api yang meletup didalam kepala istrinya itu. "Namanya juga mau dapetin nilai plus dari mas duda, dukung dong." Ujar Juan.


"Jadi diri sendiri aja kak, gimana nyamannya." Lanjutnya.


"Bener kata ayah kamu, jangan berusaha untuk sempurna dimata orang lain. Tapi jadilah sempurna dengan kenyamanan pada diri sendiri." Sambung Shena yang masih sedikit kesal karena pemandangan didepannya.


"Iya bunda, maaf." Ucap Sauqi lirih. Takut Bundanya jadi ngamuk.


"Kamu beresin ini, kalo nggak beres, jemputan kamu Bunda usir." Ancam Shena sebelum melenggang pergi.


"Semangat gadis ayah." Ucap Juan menyemangati dan akgirnya menyusul sang istri untuk melanjutkan sesi cium mesra yang tertunda.


Setelah mendapat pencerahan dan sedikit omelan serta ancaman, Sauqi menjadi termotivasi untuk cepat menemukan baju mana yang akan ia pakai.


Namun lagi-lagi dirinya masih dibingungkan dengan dua pilihan yang ada didepan mata.


"Yang ini atau yang ini ??" Tanyanya pada diri sendiri.


"Lah bodo yang ini aja udah, repot amat." Ucapnya lagi dengan menyisihkan satu dress hitamĀ  dan cardigan warna maroon.


Mengingat ancaman sang bunda, Sauqi langsung membereskan kamarnya yang berantakan. Mengembalikan semua baju kedalam lemari, melipag kembali kacamata dan kalelawarnya, menyusun kembali seperti semula.


Selepas sholat dzuhur, dirinya kembali merapikan brnda-benda yang berserak akibat hantaman kain terbang. Bahkan sprei yang ikut berantakan kini juga sudah terlihat lebih rapi dari sebelumnya.


Setelah berberes, Sauqi memutuskan untuk memilih heels mana yang akan dipakainya nanti. Namun lagi-lagi dirinya dibuat bingung, jika bukan karena ancaman Shena mungkin Sauqi juga akan mengacak rak sepatunya. Butuh waktu puluhan menit hanya untuk memindai alas kaki koleksinya dari rak paling ujung ke ujung, dari atas hingga bawah balik lagi keatas dan begitu lun seterusnya.


"Ya Allah, bantu Sao memilih nya." Gumam Sauqi yang fokus memandang wedges hitam maroon dan sneakers putih bergantian.


"Ya udah keluarin aja 2 ini, mari kita mandi." Ucapnya kemudian meletakknya dua pasang alas kaki didepan meja riasnya.


15 menit berlalu, adzan ashar selesai berkumandang. Setelah membersihkan diri dan memakai pakaiannya, Sauqi melaksankan kewajiban 4 rakaatnya terlebih dahulu. Diakhir sholatnya, Sauqi tak lupa berdoa untuk kelancaran kencan pertamanya. Ya anggap saja begitu.


"Rambutnya digimanain ini ? Yah mulai nyesel nih nolak diajarin dandan sama Aunty Naswa." Gumam Sauqi didepan cermin.


Tangannya menyisir rambut panjangnya, kadang kala Mengikat dan kadangkala ia lepaskan kembali.

__ADS_1


"Ya ampun belom shareloc !!!!!"


__ADS_2