
Senja perlahan menampakkan indahnya, mentari perlahan pulang ke peraduan. Seiring terbangnya para burung kesangkar, semua orang juga membawa lelahnya untuk pulang. Begitupun Sauqi dan Ghifa yang berpisah dan menuju kerumah masing-masing.
Dalam perjalanan, bujang kecil itu tak hentinya menceritakan tentang tante Sao. Awalnya Manda dan Argi hanya ingin mengetahui bagaimana Ghifa bisa dekat dengan gadis itu, tapi siapa sangka jika bujang kecil itu akan bercerita panjang lebar hingga malam menjelang dikediamannya.
"Kalian bawa anak gue kemana aja sih ?" Tanya Lutfi seraya menatap kedua sahabatnya dengan tajam. Ntah apa salah keduanya hingga membuat Lutfi jadi berubah garang.
"Jalan-jalan doang ke mall, beli es pokat kocok favorit dia. Emang ngapa sif Fi ? Sensian amat lu." Jawab Manda dengan ketus, udah bagus anaknya diajak jalan biar nggak bosen.
Lutfi hanya mendengus dan sedikit sebal dengan jawaban Manda. "Ngape dah lu ? Anak lu tu lagi curhat dengerin ngapa, bukannya malah uring-uringan." Saut Argi yang ikutan sensi karena melihat pak duda yang nggak jelas apa maunya. Anaknya lagi khotbah bukannya didengerin malah nyalahin orang, kalo sebel liat anaknya ngoceh ya off in aja kalik.
"Papi, besok Ghifa mau ketemu sama tante Sao lagi ya, boleh kan ?" Tanya Ghifa seraya menggoyangkan lengan sang ayah.
"Ha apa ? Eh boy jangan ketemu sama orang sembarang deh, nggak aman buat kamu." Jawab Lutfi yang sebenarnya malas meladeni ocehan sang anak.
Wajah gemasnya berubah cemberut dalam waktu singkat, membuat Lutfi berkerut kening. "Ngapa Boy ?" Tanya nya.
"Lah si bapak, ngambek anak lu noh. Jadi bapak pengertian dikit kek ama anak." Ucap Argi, bisa-bisanya nih bapak tidak paham situasi.
"Tante Sao itu orang baik, lucu, sayang sama Ghifa bukan sembarang. Papi tu yang sembarangan." Teriak Ghifa kesal dengan sang ayah.
Bukannya merespon, Lutfi malah mengacak rambutnya kesetanan. "Ngapa lu Fi ? Sehat kan ?" Tanya Manda menatap Lutfi ngeri, takut rontok tuh rambut pak duda.
"Lu bedua seandainya jadi gue, udah gantung diri yakin deh." Ujar Lutfi, kepalanya tergeletak lemas diatas meja. Udah nggak mampu.
"Apa hubungannya heh Imam ??" Tanya Argi menggebrak meja. Ikutan kesel kan.
"Pokoknya Ghifa mau tante Sao." Ketusnya dan kemudian pergi menuju kamarnya berada. Panggilan sang ayah pun tak ia hiraukan, dan tetap melangkah tanpa dosa.
__ADS_1
"Tante peri petir, tante dekil, lah ini siapa lagi cobak tante Sao ?? Ohh emaknya Ghifa, itu anakmu mau emak baru berapa biji ?" Ucap Lutfi semakin frustasi, setiap pekan pasti ganti tante. Udah kek penggemar tante-tante aja tu bujang.
Argi dan Manda kompak menghela nafas, kasian melihat Lutfi yang tak berdaya. " Yang sabar ya Fi, gue dukung sama tante Sao deh. Orangnya cantik, lembut banget sama anak lu." Ujar Argi yang menepuk pundak Lutfi memberi semangat.
"Tante dekil sama tante Sao masih satu orang kok Fi, udah nggak apa-apa." Sambung Manda meyakinkan sahabatnya itu.
Lutfi mengerutkan kening. "Maksud lu pada ?"
"Tadi kita ke pondok es langganan nya Ghifa, pas nyampek sana Ghifa langsung izin sama kita buat gabung sama meja yang nggak jauh dari kita. Eh pas gue tanya mereka siapa, dia jawab tante dekil." Jelas Manda.
"Nah pas balik tadi eh panggilannya berubah jadi tante Sao." Lanjut Argi menambahi ucapan Manda.
"Haruskah gue biarin tu bocil deket ama tu orang ?" Tanya Lutfi meminta saran dari kedua sahabatnya. Sejak Ghifa kecil, anak itu jarang bisa dekat dengan orang lain selain keluarga dan kedua sahabat Lutfi.
"Biarin aja kali Fi, mana tau bisa jadi bini lu juga ntar. Lumayan dapet gadis, mana manis banget." Ucap Argi meracuni pikiran Lutfi secara perlahan.
"Gue rela pindahin timezone mall kerumah lu." Saut Argi lagi penuh keyakinan.
"Gue pikirin dulu, kali aja dia cuma sayang anak gue tapi kagak bisa nerima gue. Kan tersakiti hati duda ganteng ini." Jawab Lutfi yang malah mendrama, pikiran dangkalnya membuat Argi dan Manda ingin menyantap mi goreng sewajannya.
"Ohh tante Sao dirimu melelehkan gunung es kecil, bisakah engkau melehkan kutub utara ini ??" Ledek Argi sembari mengambil langkah seribu."Gue pulang dahhh."
"Selamat memikirkan tante Sao, pak Duda." Sambung Manda yang juga sudah menjauh dari Lutfi menyusul sang kekasih.
Belum juga sempat memaki sepasang kekasih itu, mereka sudah raib dari padangan. Membuat Lutfi berdecak kesal. "Cih, sialann." Umpat nya.
Dengan langkah gontai, dirinya menyusul sang putra yang sudah terlelap. Sebelum membaringkan badan, dirinya sempatkan untuk memandang photo sang istri. "Sayang, apa sudah saatnya aku harus melupakan kehadiran mu dan memulai yang baru ? Apakah yang dilakukan Ghifa akhir-akhir ini adalah kode untuk ku supaya mencarikannya mama baru ?" Gumamnya lirih.
__ADS_1
Dirinya menghela nafas lelah. "Sayang, dirimu sudah mendapat pangeran surga disana. Lalu bagaimana dengan ku ?? Tolonglah kirimkan bidadari supaya bujang kecil kita tidak lagi mendambakan tante-tante yang nggak jelas itu." Lanjutnya semakin menggila. Terlalu banyak mendengar ocehan sang putra yang membahas tante Sao, tante dekil membuatnya tidak bisa berkonsentrasi.
"Tapi sayang, aku izin cari pengganti mu ya. Kasian adik kecil ku yang kesepian, dan satu lagi jika tante Sao nya Ghifa masuk dalam kriteria ku, maka izin kan aku untuk mendapatkannya." Ujar Lutfi tanpa sadar telah menyebut nama Sao dalam aduannya kepada sang istri. Setelah lelah berbicara sendiri tanpa mendapatkan jawaban, akhirnya Lutfi memilih berbaring dan terlelap disamping sang putra.
_________
Waktu fajar telah tiba, arunika menampakkan eksistensinya. Setelah melaksanakan sholat subuh, Lutfi sudah sibuk didapur guna membuat sarapan untuknya dan sibujag kecil.
Gesekan alat dapur menghiasi pagi dua lelaki berbeda generasi itu. Ghifa yang tengah asik menonton serial kartun ditelevisi dan Lutfi yang berperan menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Semuanya ia lakukan sendiri untuk bujang kecilnya, tiada gerutuan dan umpatan pada hari biasanya. Namun pagi ini sedikit berbeda, dirinya memaki dan uring-uringan nggak jelas apa alasannya.
"Ayolah Lutfi, bersihkan otak mu dari dua kata itu." Gumamnya mendoktrin diri sendiri.
Tangannya masih sibuk membersihkan dapur, namun mulut juga tak kalah sibuk menggerutu. "Ketemu aja belum pernah, tapi otak gue isinya tante Sao mulu ya ampun."
"Tante Sao, tante Sao, tante Sao"
Mendengar bidadari nya tersebut sang ayah, Ghifa langsung menatap tajam kearah Lutfi berada. "Papi ngapa panggilin tante Sao nya Ghifa ?" Tanyanya sinis.
"Siapa yang panggilin tante Sao nya kamu." Elak Lutfi.
"Halah bilang aja papi udah terngiang-ngiang Tante Sao." Ucap Ghifa mengejek sang ayah, melihat Lutfi yang salah tingkah membuat Ghifa sangat terhibur.
"Gara-gara kamu semaleman bahas tante Sao mulu, papi jadi keiinget terus sampek sekarang." Sewot Lutfi seraya menatap sianak kesal, lagian tante Sao itu virus sejenis apa sih sampek bikin pak duda ikutan terjangkit.
"Lagian si papi sok jual mahal, liat tante Sao dandan dikit ntar kejang kejang." Sindir Ghifa yang udah nyeruput segelas susu hangat, kapan lagi godain sibapak yang judes ini.
__ADS_1
"Tante Sao, tante Sao, tante Sao, tante Sao nye nye nye." Gerutu Lutfi sepanjang pagi ini. Membuat Ghifa tersenyum mengejek melihat si ayah yang lagi demam tante Sao.