
Melihat Aleta tidak melanjutkan ucapannya dan berlalu begitu saja, Guntur hanya menghela nafas dan menyuruh anaknya untuk tidak menjadi wartawan gosip dadakan.
Dirinya sangat paham dengan sang istri yang menyimpan banyak rasa bersalah pada teman-teman masa lalunya, terutama Juan. Dan apalagi jika sang putra dan sang cucu memang benar sedang mendekati seorang gadis yang berparas cantik seperti Shena, maka Aleta sudah pasti menjadikan ini sebuah beban baginya. Itulah yang dapat di simpulkan oleh Guntur saat ini.
"Fi, jangan desak mama mu untuk melanjutkan ucapannya yang barusan, kapanpun itu. Tolong mengerti lah." Ucap Guntur sebelum pergi menyusul sang istri.
Luthfi mengerutkan kening tidak mengerti. "Memang ada apa Pa ?" Tanyanya.
"Ada sesuatu yang tidak perlu kamu tahu sekarang, ini masalah Mama mu jauh sebelum Papa mengenalnya." Jawabnya seraya menggelengkan kepala.
Sebelum mendapat pertanyaan lain dari Luthfi, Guntur sudah melenggang pergi dengan sesekali mendesah. Otaknya dipaksa untuk berpikir jalan keluar untuk masalah yang sesungguhnya belum terjadi, namun dirinya harus memiliki rencana untuk kejadian dimasa depan.
Melihat sang Mama yang memilih bungkam dan sang Papa yang meminta pengertian darinya, Luthfi hanya terdiam. Hati kecilnya mengatakan jika Mamanya mengetahui siapa sosok manis yang dijadikan Mommy oleh putra tunggalnya, namun ibu sambungnya itu memilih untuk merahasiakan hal ini darinya.
"Pi, Oma kayaknya kenal deh sama Mommy Sao. Tapi kenapa kayaknya Oma nggak suka ya sama Mommy ? Kan belum pernah ketemu." Ucap Ghifa menyadarkan Luthfi dari lamunannya.
Luthfi tersenyum getir. "Papi nggak tau Boy, doa aja kalo itu cuma perasaan kita. Masak iya Papi belum berjuang udah di halangin." Jawabnya seraya memeluk sang anak, mendramatisir keadaan.
"Walaupun Mommy Sao gak suka dandan dan lebih mirip gembel kadang-kadang, tapi kan Mommy Sao baik banget, kenapa Oma nggak suka ?"
"Kan Papi bilang mungkin ini perasaan kita aja Boy, semoga aja kalo udah ketemu Oma setuju. Sekarang ini yang penting kamu dukung Papi buat mikir gimana caranya deketin Mommy Sao kamu itu." Jelas Luthfi yang mendapat anggukan antusias dari Ghifa. Apapun yang terjadi, dialah pendukung utama dan setia perjuangan sang Ayah mengejar cinta Photogrpher cantik.
***
Sudah empat hari sejak reuni dilaksanakan, keluarga Dirgantara sudah mulai sibuk dan jarang pulang kerumah, hanya Shena lah yang standby dirumah besar itu dengan segala kegabutan.
Hingga hari ini pun, suaminya belum juga pulang berdinas. Anak bungsunya yang diharapkan bisa menemaninya malah memilih ke kota sebelah turnamen. Jangan ditanya bagaimana anak kembarnya, yang jelas si sulung pergi menjelajah negeri mencari resep leluhur dan satu-satunya gadis nya sudah mulai padat job pra wedding dan wedding.
"Mondar mandir aja Mbak Shen, sampek licin nih." Ucap Bi Mira, pengganti Bi Jum di Rumah Dirgantara.
"Bantuin saya ngepel ya Mbak Shena ?" Tanya Lina dengan polosnya.
Shena berdecak. "Saya kok ngerasa kayak janda kaya nggak punya anak ya, tiap hari nongkrong sama kalian terus." Ucapnya mengambil duduk dianakan tangga.
"Lah Mbak Shena kalo gabut ngomongnya ngasal, lagian mbaknya nggak mau keluar gitu Shopping atau minimal ke salon biar gabutnya nggak jadi semakin parah." Saran Lina, bagaimana bisa nyonya nya ini ayem tentrem ngejogrok dirumah ikut para pembantu ngupas bawang.
__ADS_1
"Saya cuma pengen manjain suami sama anak-anak Lin, tapi sayangnya mereka memilih sibuk cari cuan." Jawab Shena dengan tampang memelas, membuat dua asisten rumah tangganya mengelus dada prihatin.
"Loh Mbak Shena nggak tau kalo Abang udah dirumah ?" Tanya Bi Mira, tumben si Nyonya rumah masih lesu aja padahal anak sulungnya baru pulang, biasanya juga bakalan heboh girang tiada tara.
Shena menoleh. "Beneran ? Kapan pulangnya ?" Tanya nya Antusias.
"Tadi sebelum subuh Mbak, saya kira Mbak Shena tau."
"Kalo tau, saya nggak bakal gabut Bi." Setelah menjawab, Shena langsung menghilang dari pandangan Bi Mira, bahkan Lina yang sedang ngepel pun tidak sadar kapan nyonya rumah melewatinya. Dirinya hanya merasakan hembusan angin menerpa tubuhnya.
"Ya Allah, Nyonya ku punya kekuatan teleportasi ala pendekar Timur kah ?" Gumam Lina yang menatap Shena sudah berada didepan kamar Bizar, lantai dua.
**
Diatas kasurnya yang empuk dan hangat, Bizar menikmati sejuknya hawa pagi yang membuatnya betah untuk memejamkan mata.
Namun, disaat dirinya merubah posisi telentang, sesaat kemudian seluruh bagian wajahnya merasakan bendah dingin nan lembut menyentuh.
"Aduh, jadi kangen Bunda. Setidaknya nggak ada pacar yang cium, tapi masih ada bunda." Gumamnya seraya menikmati setiap kecupan yang mendarat diwajahnya. Rasa Kantuk dan lelahnya membuat dirinya lupa jika saat ini sudah berada dirumahnya, jika kangen Bunda Ratu ya tinggal temuin ngapain malah ngelindur.
"Masih ada Bunda yang bisa cium-cium gini, uhh anak Sulung emang paling disayang." Gumamnya makin nggak karuan, belum bangun juga nih pokemon.
"Udah ah, abang bangun gih. Bunda gabut nih." Shena menggoyang kan kepala anak bujangnya sedikit mengandung kekerasan.
Bizar dengan terpaksa membuka matanya. "Ehh kirain mimpi ternyata beneran Bunda." Ucapnya nggak jelas karena dibarengi menguap.
Shena hanya menggeleng kepala, anak bujangnya ini kadang malah Seperti anak TK kurang belaian kasih sayang. Dengan gerakan cepat, Bizar memposisikan kepalanya dipangkuan Shena, memanfaatkan waktu bermanja. Karena jika ada sang ayah, maka akan mendapat jitakan maut dikepalanya.
"Terimakasih pacarku." Ucap Bizar seraya terkekeh, sudah biasa baginya menganggap sang Bunda sebagai pacarnya, bahkan waktu kuliah pun dirinya memamerkan sang pada bunda sebagai kekasihnya pada semua temannya.
"Sampai kapan, abang mau jadiin Bunda Pacar ? Nggak enak loh selingkuhin Ayah kamu." Ucap Shena menanggapi anak sulungnya.
"Nunggu sampek Abang dapet calon."
"Bang, buruan gih cari calon istri. Kakak bentar lagi tuh. Bunda biar ada temennya dirumah." Kata Shena memelas. Tangannya mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Kan ada Bi Mira sama Lina sih Bun." Jawab Bizar.
"Ya beda dong, mereka mah udah bosen sama bunda. Tiap hari bunda ajakin ngupas bawang".
Bizar menatap Shena dengan alis yang terangkat, ya kalik Bunda nya tiap hari ngupas bawang ?
"Buat bikin rendang pas nikahan kamu." Jawab Shena sekenanya, seolah tau pikiran Bizar yang sedang menatap nya.
"Belom ada jodohnya Bun."
"Cari dong, kalo nggak sama gurunya adek. Minta adek kenalin." Saran Shena yang mengingat usul putra bungsu nya.
"Ya kalo gurunya adek masih jomblo Bun."
"Sebelum janur kuning melengkung masih bisa nikung."
"Pertanyaan nya, mau nggak sama abang ?"
Shena terdiam, ada ya cowo tampan dan mapan insecure ? Pikirannya tiba-tiba langsung error.
"Kalik aja bu guru cari yang speknya Ustadz, beh kan nggak mampu." Lanjut Bizar dan segera menenggelamkan wajahnya dipaha Shena.
"Alah bunda nggak mau bakso, pokoknya kamu coba dulu. Siapa yang tau kalo tempe berjamur meracuni sebelum ada yang nyoba makan." Jelas Shena.
"Besok sekali-kali anterin adek mu. Sekalian cari tau soal bu Guru itu." Lanjut Shena tidak boleh ada bantahan. Dirumah dialah ratunya.
Bizar hanya mengangguk pasrah, kalo udah didesak gini mana bisa ngelak. Mau bantah juga udah ada warning.
****-----****
Assalamu'alaikum Wargaaa😅
Masih inget gue kagak ?
Ya kalo lupa gue ingetin nih, gue yang dulu jual pampers ama tisu ?
__ADS_1
Ah elah pada kagak inget ya ? Hiss udah pada pikun, kebanyakan micin di seblak ceker luh.