IMAM KU

IMAM KU
Nggak Bisa


__ADS_3

Langit mulai menggelap, rintik air mulai membasahi bumi. Ntah ini berkah atau akan menjadi musibah untuk sebagian orang, terkadang musim hujan selalu dinantikan dan kadangkala musim hujan juga memberi rasa was-was dan ngeri.


Banyak warung sederhana yang sudah tutup karena tidak mau mengambil resiko besar akibat hujan yang tiada menentu, jalanan mulai menyepi dan aspal mulai licin akibat genangan air.


Motor matic yang telah dimodif sedemikian rupa beranjak menepi untuk menghindari derasnya air yang mulai berjatuhan, banyak pemotor yang juga berebut untuk mendapat tempat meneduh. Dan itu juga dilakukan oleh si pengendara motor matic modifikasi yang memilih warung sederhana yang tidak terlalu ramai untuknya meneduh.


"Hujannya deres neng, masuk dulu sini." Ucap seorang ibu paruh baya pemilik warung itu dengan ramah, jika dilihat dari garis wajah nya usianya sudah menginjak 60 an.


"Terimakasih bu, disini aja nggak apa apa." Jawab Sauqi sopan, bagaimana pun juga  karana lupa membawa jas hujan dirinya sudah setengah basah dan lebih mirip kucing persia tenggelam dalam kolam ikan,  jadi tidak sopan jika masuk kewarung ibu paruh baya itu.


"Angin nya kencang diluar neng, masuklah tidak apa. Jika diluar malah makin basah nanti." Ucap pria paruh baya yang seperti nya adalah suami dari ibu pemilik warung tadi.


"Terimakasih pak, maaf." Ucap Sauqi seraya berdiri, jika menolak maka dirinya akan semakin basah karena air yang terbawa angin.


Warung itu terlihat sangat sederhana, tidak orang yang meneduh diwarung itu karena keadaan teras yang tidak cukup melindungi dari rintik hujan dan warung sudah dalam keadaan setengah tutup.


Pada saat dirinya hendak masuk ke warung itu menyusul dua paruh baya yang mempersilahkannya tadi, tiba-tiba pergelangan tangannya ada yang mencekal dari arah belakang sehingga membuatnya menghentikan langkah kakinya.


"Astagfirullah setan jin dedemit jurik sembarang lah apa bentukan lu, plis jangan minat sama gue. Gue gak good looking nih, jangan kan good looking, good morning aja gue kesiangan." Gumam Sauqi yang merasa gemetar akibat cekalan tangan yang terasa dingin menusuk kulit tangannya. Udah lah gemetar karena kehujanan eh tambah gemetar dicekal keturunan setan.


"Neng, maaf itu manusia bukan demit." Ucap bapak pemilik warung menyadarkan Sauqi yang setengah kesurupan. Karena Sauqi tak kunjung masuk sibapak penasaran dan saat kembali mempersilah malah melihat adegan sinetron.

__ADS_1


"Ki, ini aku." Ucap orang itu dengan suara bergetar.


Dan Setelah mendengar suara orang yang mencekal tangannya, Sauqi mengurungkan niatnya untuk menoleh. Karena mau bagaiman pun dirinya sangat tau dengan siapa pemilik suara itu sebenarnya.


"Kita udah nggak ada urusan."  Ucap Sauqi seraya menghempaskan tangan seseorang yang sedang mencekalnya.


Sakit, itulah yang diarasa orang itu saat tangannya dihempas kasar oleh wanita yang selalu diharapkan untuk kembali. Kesalahan yang dilakukan nya dulu sangat lah keterlaluan, tapi tidak dapat dipungkiri jika dia masih menginginkan gadis dihadapannya saat ini.


"Neng masuk dulu, mas juga sekalian. Hujan makin deres, teras bapak nggak bisa buat neduh." Ucap bapak pemilik warung dengan ramah, beliau tidak tau jika dua manusia itu sedang berseteru.


Sesampainya didalam warung, Sauqi langsung mengambil tempat untuk duduk dan juga disusul oleh Pasha, seseorang yang tiba-tiba hadir dan mencekal tangan Sauqi.


"Cuaca dingin begini mari diminum dulu tehnya." Ucap ibu pemilik warung menyuguhkan dua cangkir teh tanpa diminta dan itu membuat Sauai merasa sangat segan dengan pasangan paruh baya itu.


"Tidak masalah neng, masnya juga silakan." Jawab paruh baya itu dan kemudian meninggal kedua manusia itu dalam keheningan.


Setelah beberapa menit berlalu keduanya masih terdiam dan hanya ditemani rintik hujan dan hembusan angin yang kian mengencang. Jangan kan untuk memulai pembicaraan, menoleh saja Sauqi enggan dan hanya memilih untuk menikmati hangatnya teh manis yang dihidangkan oleh ibu pemilik warung.


Sedangkan Pasha sudah mulai gusar dengan suasana yang dia hadapi saat ini, dan dengan ragu-ragu dirinya memulai pembicaraan untuk menyampaikan segala isi hatinya kepada Sauqi.


"Ki, aku sungguh minta maaf sama kamu soal aku yang berkhianat." Ucap Pasha lirih namun masih terdengar oleh Sauqi walaupun hari masih hujan.

__ADS_1


"Aku beneran bodoh sampai aku hancurin hubungan kita, aku rusak kepercayaan yang udah kamu kasih ke aku, a-aku minta maaf Ki." Lanjutnya lagi dengan tatapan memohon, namun lagi-lagi Sauqi masih tidak memperdulikan setiap ucapan Pasha yang dilontarkan untuknya.


"Ki tolong kasih kesempatan aku sekali lagi, aku akan merubah keburukanku. Apapun yang kamu minta aku akan lakuin demi kamu Ki, tapi aku mohon terima aku lagi." Sauqi hanya mendengus tanpa niat menjawab, dan sebutir air menetes dari mata Pasha,  ntah itu air mata sungguhan atau air hujan yang menetes dari atap, Sauqi tidak peduli dengan apa yang terjadi pada Pasha.


"Ki tolong dengerin penjelasan aku kali ini aja, aku mohon. Aku khilaf telah melakukan semua kebejatan itu, aku akui aku yang gampang tergoda oleh *****. Tapi aku janji akan merubah itu semua jika nanti kita bersama lagi Ki. Aku mohon satu kali saja." Masih belum menyerah, Pasha berusaha sekuat tenaga membujuk dan meyakinkan Sauqi mengenai keputusannya untuk berubah.


Tapi Sauqi bukanlah perempuan yang lemah dan mudah luluh dengan rayuan, bagi Syauqi saat ini daripada dengerin Pasha ngoceh bagusan juga ngupil sambil nyeruput teh hanget biar makin uwuwww.


Karena sudah mengungkapkan segala isi hatinya dan Sauqi tak juga melihat keberadaan nya, Pasha memberanikan diri untuk menyentuh gadis yang dulu selalu ada dalam pelukkannya guna membuatnya menoleh dan melihat keadaan terburuknya, namun belum sempat tangannya menyentuh bahu tempatnya bersandar dulu, gadis itu sudah menghentikannya.


"Stop!! Jangan sentuh gue." Ketus Sauqi tanpa menoleh yang langsung membuat Pasha terpaku.


"Gue ingetin sama lo satu hal bang, gue bukan tipe orang yang mau mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Gue udah maafin lo tapi bukan berarti gue kasih lo harapan untuk kesempatan yang kedua." Ucap Sauqi dengan tegas, dirinya bukan perempuan lemah yang bisa dengan mudahnya memafkan dan memberi kesempatan kedua, tapi dirinya juga bukan wanita tangguh yang langsung bisa melupakan semuanya.


"Apa kita emang gak bisa mengulang dari awal Ki ?" Tanya Pasha dengan airmata yang sudah terjun bebas, mungkin keseriusan nya tidak diragukan lagi namun penghianatan yang pernah dia lakukan tidak dapat di tolerir lagi.


"Maaf bang, gue nggak bisa." Jawab Sauqi penuh penekanan agar Pasha tak lagi datang mengganggunya dikemudian hari.


"Dan satu lagi, jangan pernah ganggu gue dimasa depan, kita hidup di jalan masing-masing. Gue kekanan, abang kekiri, dan tolong pertanggung jawabkan perbuatan abang pada Shazia walaupun itu hanya sekedar ciuman." Lanjut Sauqi dengan sangat tegas.


Setelah dirasa sudah cukup, Sauqi kemudian menghampiri pemilik warung dan menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu sebagai tanda terimakasihnya. Awalnya kedua paruh baya itu menolak namun Sauqi malah meninggalkan uang itu diatas meja dan pada akhirnya kedua paruh baya itu menerima nya.

__ADS_1


Setelah Sauqi keluar dari warung itu, disusul lah oleh pasha yang sebelum nya juga mengucapkan terimakasih kepada paruh baya pemilik warung.


Niat hati hendak mengejar Sauqi dan mengatakan kata terakhirnya, namun sayangnya Sauqi sudah jauh hilang dari pandangan mata. Seragam lorengnya basah karena hujan, namun hatinya basah tergenang air mata penyesalan.


__ADS_2