IMAM KU

IMAM KU
Acara Ulangtahun 2


__ADS_3

Waktu berlalu, perjalanan akhirnya terhenti tepat di halaman parkir sebuah resto nan mewah dengan konsep outdoor. Sauqi dengan anggunnya turun dari mobil dengan menuntun sibujang kecil dan diikuti oleh Luthfi dari sebelah kanan.


Karena resto yang disewa berkonsep outdoor, maka semua tamu undangan dapat melihat dengan jelas area parkir dan siapa saja yang hadir.


"Sepertinya akan menjadi pusat perhatian." Gumam Sauqi.


"Mom, gimana ?" Tanya Ghifa seraya membenarkan rambutnya.


"Apanya ?" Tanya balik Sauqi dengan polos.


Belum sempat menjawab, Luthfi sudah membuka suara. "Kamu udah ganteng boy, sebelas duabelas sama papi." Ucapnya datar.


"Huh, pasti gantengan papi kayak biasanya. Orang-orang udah pada liatin." Ghifa cemberut.


"Faktanya Boy, papi lebih unggul dari kamu." Jawab Luthfi yang tak mau kalah.


Dengan tersenyum lembut, Sauqi meraih tangan kedua manusia yang sedang beradu tampang itu. Jika dibiarkan maka akan semakin membuang waktu.


"Udahlah, Mommy udah pengen cicip-cicip nih." Ucap Sauqi seraya menggandeng ayah dan anak itu untuk segera menuju tempat acara.


"Mommy jawab dulu, ganteng Ghifa atau Papi ?" Ghifa mendesak.


"Papi." Singkat Sauqi tidak ingin ribut, membuat Luthfi tersenyum senang.


"Mommy kenapa belain papi ?" Ghifa marah.


"Boy, kamu itu cuma belum ganteng okey. Besok kalo udah gede bakalan lebih ganteng dari papi." Bujuk Sauqi. Hanya dengan satu kalimat saja, Ghifa sudah kembali tenang dan bahkan menyempatkan diri untuk sedikit menjulurkan lidah kearah sang Papi.


Akhirnya sepasang ayah dan anak itu bisa lebih akur dan tidak bertingkah aneh. Jika kelamaan beradu ketampanan maka akan membuat Sauqi dirundung malu.


Ketiganya berjalan menuju tuan rumah berada, mengantar Ghifa yang akan memberikan sebuah kado berpita ungu untuk gadis kecil yang sedang menghadap kue tart nan indah.


Saat kaki ketiga nya melangkah, banyak pasang mata yang menatap dengan seksama bahkan ada yang terang-terangan menunjukkan rasa suka, menggoda atau bahkan ketidaksukaan. Terutama tatapan sinis kaum mama muda yang tertuju pada Sauqi.


'Buset, gue bukan buronan kalik. Ngapa pada natap gue setajem itu. Sajam legend emak gue waktu STM kalah tajem ini mah.' Batin Sauqi ingin menangis pilu.


"Mommy calm down oke. Kalo tante tante jelek itu jahat sama Mommy, biar Ghifa yang urus." Bisik Ghifa yang peka terhadap Sauqi dan sekitarnya.


Sauqi tersenyum dan mengangguk. "Sorry ya Ki, ini juga yang bikin saya males pergi." Ucap Luthfi yang ijut berbisik membuat Sauqi sedikit meremang.


"Selamat ulangtahun ya Tamara." Ucap Ghifa seraya menyerahkan kado kepada gadis kecil yang sedang berulang tahun.


"Sama-sama Ghifa." Jawab Tamara dengan senyum manis .


"Makasih ya Ghifa, Pak Luthfi udah mau dateng diacara ulangtahun putri saya." Ucap seorang wanita bergaun merah dengan sedikit centil.


"Sama-sama." Jawab Luthfi datar.


"Silahkan dinikmati makanannya ya Pak Luthfi, Ghifa juga ya." Ucapnya lagi, bahkan kali ini dilengkapi dengan kedipan mata.


'Gatel, gue garuk sini pakek sikat wc. Laki lu disamping noh.' Geram Sauqi yang tak dianggap. Bisa-bisanya disamping suami masih berani ngegoda laki laen.


"Terimakasih."

__ADS_1


"Boy kita ke sebelah sana." Ajak Luthfi seraya menggandeng tangan Sauqi dengan mesra. Bahkan semua orang yang ada disana sudah pasti berkesimpulan bahwa Sauqi adalah kekasih Luthfi.


"Astagfirullah." Lirih Sauqi dengan helaan nafas jengah.


"30 menit lagi kita pulang." Ucap Luthfi yang tau bahwa Sauqi tidak nyaman.


"Aku nggak papa mas, lagian udah biasa diginiin." Ujar Sauqi.


"Tapi bener kata Papi, kita pulang cepet aja mom. Disini norak, banyak tante badutnya." Sambung Ghifa dengan sinis menatap sekeliling, bahkan beberapa kali mengerutkan kening jijik.


Beberapa rangkaian acara anak-anak telah berjalan, dan tidak satupun Ghifa tertarik untuk mengikuti nya. Hingga detik ini pun dirinya masih nyaman dipangkuan Sauqi.


Ketiganya asik dengan dunia mereka sendiri, berceloteh ria tanpa menyimak acara ulangtahun yang sedang berlangsung. Bisa dikatakan kehadiran mereka hanya formalitas.


"Nyonya Sauqi ?" Sapa seseorang dengan ramah.


"Eh iya, Miss Sarah ?" Sapa balik Sauqi. Akhirnya ketemu orang yang waras. Batin Sauqi girang.


"Nemenin Ghifa ?" Tanyanya lagi.


"Iya Miss, Ghifa minta ditemenin." Jawab Sauqi dengan tersenyum tulus, bahkan Luthfi sempat terlena untuk senyum yang bukan untuk nya itu.


Disaat Sauqi sedang bertegur sapa dengan Miss Sarah, Ghifa sesekali melirik dan tersenyum kearah Lauren.


"Lauren nggak ikut main ?" Tanya Ghifa dengan lembut, berbeda ketika berbincang dengan Orang lain.


Lauren menggeleng. "Kata Ghufa kan norak kalok acara kayak gini." Jawabnya polos.


Sejak kapan duduk deketan bisa ketularan good looking ?.


Dengan nurutnya, Lauren pindah posisi menjadi duduk disebelah Sauqi. Lebih tepatnya dipangkuan Luthfi, karena hanya itu posisi paling dekat dan tepat.


"Maaf Pak Luthfi, anak saya tidak sopan."  Ucap Abdi selaku ayah dari Lauren.


"Tidak masalah pak." Jawab Luthfi.


"Keluarga berencana." Ujar Sauqi dengan kekehan ringan membuat Sarah dan suaminya menatap heran, sedangkan Luthfi memilih untuk tidak peduli.


Sarah tersenyum. "Udah cocok loh, bisa nih dipercepat."


"Nunggu dapet hidayah dulu Miss." Jawab Sauqi yang lupa akan kehadiran Luthfi.


"Kode Pak Luthfi." Ucap Abdi seraya menepuk pundak Luthfi.


Luthfi menunduk, namun senyum tipis nya menghiasi wajah datarnya. "Lihat saja nanti Pak Abdi." Jawab Luthfu sederhana namun terselip makna yang sangat meyakinkan, bahkan Pak Abdi yang sesama pria pun langsung bisa menebak.


Akhirnya Keempatnya Terlibat obrolan yang panjang, Membahas tentang anak-anak dan kadangkala terselip candaan. Yang biasanya Luthfi jarang suka mengobrol kini menjadi lebih aktif, mungkin karena Sauqi yang pandai memberi topik.


Ghifa dan Luaren juga sudah asik dengan dunia mereka sendiri, cicip sana sini tanpa peduli jika mereka masih diacara ulang tahun salah satu teman mereka.


Hingga pada saat Luhtfi hendak mengajak pulang Ghifa, seseorang datang menghampiri.


"Mas Luthfi, apa kabar ?" Sapanya dengan centil.

__ADS_1


"Baik." Jawab Luthfi dingin.


"Kebetulan ya ketemu disini, biasanya kalo disekolahnya anak-anak jarang bisa ketemu." Ucapnya dengan sok akrab bahkan seperti terkesan menggoda.


"Ghifa kita pulang." Panggil Ghifa tanpa menanggapi wanita yang berdiri disampingnya. Jangankan menjawab menoleh saja Luthfi enggan.


"Kok pulang, kan acara ulangtahunnya Tamara belum selesai." Ucap wanita itu lagi walaupun tidak ditanggapi oleh Luthfi.


Ghifa berjalan mendekat. "Ihh tante centil ngapain deketin Papi nya Ghifa ?" Tanya Ghifa dengan sinis.


"Eh Ghifa sayang, nggak boleh loh ngomong nya gitu." Jawab wanita itu seraya mengulurkan tangan namun segera ditepis oleh Sauqi.


"Hey Marcell, ini bawa pulang Mama kamu. Jangan sampai gangguin Papi aku lagi." Teriak Ghifa memanggil anak dari wanita centil tersebut.


Mendengar teriakan Ghifa, semua mata tertuju kearah Luthfi dan Ghifa berdiri. Terlihat disana ada juga seorang wanita dengan penampakan yang teramat seksi.


"Itu bukannya yang ngatain saya babysitter waktu itu ya miss ?" Tanya Sauqi kepada Sarah.


Sarah mengangguk. "Dia itu janda." Jawab Sarah.


"Pantes gatel." Sauqi mengangguk.


"Temen sekolah Pak Lutfi dulu mbak." Abdi menambahi.


Sampai detik ini, Sauqi masih menyimak dari posisinya semula. Males mau ikut campur.


Tapi kelamaan dirinya menyimak, terlihat jelas jika Luthfi sudah muak dan sesekali mengode untuk meminta bantuan.


Hingga akhirnya, mau tak mau dirinya bergerak menibggalkan cupcake yang hampir habis dalam dua kali comot.


"Miss Sarah dan suami, saya mohon pamit. Bujang kecil saya dan bapaknya butuh bantuan." Ucap Sauqi sopan dan diangguki sepqsang suami istri itu.


Kakinya melangkah anggun, rambutnya berkibar ringan.


Tatapan datarnya membuat Sauqi semakin terkesan sempurna dimata orang-orang yang melihatnya.


"Maaf nyonya, Tuan Luthfi dan Bujang Kecil saya sudah harus pulang." Ucap Sauqi dengan sopan, namun wajahnya datar dan sekilas tersenyum formal yang amat tipis.


"Siapa kamu ?" Tanya janda centil itu dengan sinis.


"Bukan siapa-siapa. Lagi pula juga bukan urusan Anda." Jawab Sauqi santai.


Wanita itu mencibir. "Ohh kamu babystter yang jemput Ghifa waktu itu ya ? Ada muka dong buat dateng kesini bareng majikan ?" Tanya nya menghina.


"Anda terlalu memuji keberanian saya Nyonya, tapi seperti nya Anda salah menilai tentang saya." Ujar Sauqi seraya meraih tangan Luthfi dan Ghifa.


"Saya permisi nyonya." Sambung Suaqi yang kemudian beralalu meninggal lokasi tersebut.


Bahkan saking keselnya Luthfi malas untuk diajak berpamitan dengan sang tuan rumah. Sehingga Sauqi hanya bisa menurut dan melanjutkan langkahnya menuju parkiran.


Masih ditempat, Wanita yang centil tadi masih menggerutu kesal karena merasa dipermalukan oleh Sauqi.


"Liat aja kamu, suatu saat aku bakal bikin kamu dipecat." Gumam nya penuh dendam.

__ADS_1


__ADS_2