
Alvian dengan tidak sabarnya berjalan tergesa menuju rumah Naima, setelah dia keluar dari taksi yang membawanya ke alamat tersebut.
Dia berjalan tergesa seolah sudah tidak sabar untuk menemui gadis yang selama inibjat hatinya gelisah. Ketika dia yakin bahwa itu rumah Naima dia pun langsung masuk ke halaman rumah dengan jantung yang berdebar lebih cepat. Namun ketika dia hampir sampai di dekat pintu, sayup-sayup dia mendengar percakapan seseorang
" Ima apa ibu sudah bicara padamu?" Terdengar seorang pria rbertanya, yang Alvian yakini pria itu berbicara pada Naima. Alvian tidak mengerti dengan pertanyaan yang diucapkan pria tersebut namun dia diam, ingin mengetahui jawaban dari orang yang diberikan pertanyaan oleh pria itu.
Lama Alvian menunggu, namun cukup lama hening tak ada suara jawaban. Membuat Alvian penasaran apa sebenarnya yang mereka bicarakan. Namun setelah beberapa lama menunggu kbali terdengar suara dari dalam. Kali ini Alvian yakini bahwa itu adalah suara Naima.
" Mas, aku sudah berbicara dengan ibu. Ibu memang menyerahkan semua keputusan padaku tentang lamaran mas untuk meminang ku..." sesaat kata-kata Naima terjeda.
Alvian yang mendengar kata melamar seolah otaknya berhenti berfungsi, dia hanya terdiam berusaha mencerna satu kata yang terdengar namun begitu mengusik hati.
Namun sesaat kemudian pikirannya kembali normal, Alvian tidak ingin terlambat. Maka semuanya akan berantakan. Dia tidak mau kedatangannya ke rumah ini sia-sia. Bengan segera dia mengetuk pintu itu dan mengucapkan salam.
Naima menoleh pada pintu yang diketuk, dia segera berdiri setelah meminta ijin terlebih dahulu pada Kemal untuk membuka pintu.
" Sebentar mas, aku buka pintu dulu. Sepertinya ada tamu " Kemal pun mengangguk pekan. Dalam hatinya dia sudah tidak ada untuk mendengar jawaban dari Naima. Kemal berharap jawabannya akan membuat dirinya bahagia.
Naima pun membuka pintu, dia terbelalak melihat siapa yang datang kerumahnya. Naima tak mampu berkata-kata melihat Alvian yang berdiri didepannya sambil tersenyum padanya. senyum yang menghanyutkan, siapa pun yang melihatnya akan terbuai dengan senyum itu termasuk Naima. Dia hanya terbengong tanpa bicara apapun. Sepertinya pembendaharaan kata yang ada di otaknya hilang entah kemana. Melihat itu Alvian yang berinisiatif memulai untuk menyapa gadis di depannya yang telah membuatnya resah beberapa hari ini.
__ADS_1
" Hai Nay, apa kabar?" Namun Naima masih terdiam dengan posisinya. Gadis itu sepertinya benar-benar terkejut dengan kedatangannya. Alvian pun melambai-lambai kan tangannya di depan wajah Naima sambil memanggil nama gadis itu.
" Nay...Naima..." Barulah Naima tersadar dengan apa yang terjadi.
" Pa Alvian, kenapa bapak ada di sini?" tanyanya dengan wajah yang masih terlihat bingung .
Bukannya menjawab Alvian malah menarik tangan Naima dan mengajaknya masuk, membuat gadis itu semakin tidak mengerti dengan yang terjadi. Namun dia hanya menurut dan mensejajari langkah Alvian.
" Nay, rupanya sedang ada tamu?" Alvian menoleh kearah samping, menatap Naima dengan sorot mata tajam. Membuat gadis itu gugup.
" i...iya, kenalkan ini mas kemal, mas kemal kenalkan ini..." kalimat Naima di potong oleh Alvian hofq,. dia langsung mengenalkan dirinya pada pria yang duduk sambil menatapnya penuh tanda tanya.
" Kalau begitu saya permisi. Ima sampaikan salam saya pada ibu." Kemal pun berlalu tanpa menunggu jawaban dari Naima. Dia pergi dengan perasaan kesal. Kesal dengan kedatangan pria yang tidak di kenalnya dan mengaku calon suami Naima. Ada keterkejutan yang terlihat di wajah Naima, namun gadis itu hanya diam tidak membantah maupun mengiyakan. Membuat hati kemal sakit. Mungkinkah mereka berdua punya hubungan. Itu pertanyaan yang terlintas di kepala Kemal. Maka dia memutuskan untuk pergi saja dari sana karena dia sudah mendapatkan jawaban dari kedatangan pria menyebalkan tadi dan juga diamnya Naima mendengar pria itu memperkenalkan dirinya sebagai calon suaminya.
Dikediaman Naima terlihat dua orang sedang terlibat perdebatan kecil.
" Bapak ngapain kesini? ngaku-ngaku calon suamiku pula, hah" Naima kesal dengan sikap Alvian.
" Memang benarkan, aku calon suamimu Nay? kamu ingat, aku pernah mengajakmu menikah." ucap Alvian dengan nada yang naik satu oktaf."
__ADS_1
" Sejak kapan? saya tidak pernah mengiyakan ajakan bapak." Naima tak kalah kesal.
" jadi kamu menolak saya dan lebih memilih pria tadi, dia ingin melamar mu kan?" Alvian menjadi emosi. Dia kecewa dengan sikap Naima.
" Bu...bukan begitu maksud saya." Naima menjadi frustasi. Kenapa ketika dia sudah akan memilih dan menjalani takdirnya, pria ini datang mengacaukan semuanya. Tapi tunggu takdir, Apakah ini takdir baik itu? Naima mencerna apa yang telah terjadi barusan. Bukankah dia mengharapkan takdir baik. Lalu, apakah pria di depannya ini takdir baik itu.
" Maaf Nay, saya emosi mendengar pria itu melamar mu. Saya takut kehilanganmu Nay, berhari-hari saya kehilangan kamu. Saya hampir gila dan ketika saya bisa menemukan mu, saya tidak akan membiarkan kamu menjauh lagi."
Naima hanya diam mendengarkan semua yang dikatakan Alvian. Jantungnya berdegup kencang. Bukankah ini yang sebenarnya dia inginkan. Pria di depannya inilah yang dia harapkan. Namun Naima terlalu takut Untuk memulainya. Naima takut mimpinya terlalu tinggi dengan menjalin hubungan ini. Naima takut dia terbangun dari mimpi ini. Naima takut terjatuh dan merasakan sakit.
Jangan takut untuk jatuh cinta, karena tidak semuanya akan berakhir patah hati.
Dan jika menemukan patah hati janganlah takut karena itu adalah proses menemukan cinta sejati.
Happy reading πππ
Maaf jika banyak typo, jempolku lagi cedera dua hari iniπ€ππ
Jangan lupa untuk like,vote dan komen yang positif. jika berkenan koinnya juga π€£π€£ππ
__ADS_1