IMAM KU

IMAM KU
Mirip Mommy


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, Juan masih memasang tampang garang dan menguarkan hawa dingin dari tubuhnya. Namun walaupun demikian, kepala Juan masih menempel pada dada sang istri tanpa ada niat ingin berpisah.


Sedangkan Shena menikmatinya tanpa protes, namun wajahnya menatap kedua anak kembarnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kayaknya bunda sama ayah habis ngalamin kejadian nggak baik." Bisik Sauqi pada Bizar. Sedangkan Kahfi sudah berlabuh pada dunia mimpi sejak menunggu Shena dan Juan.


Bizar menoleh kebelakang, seketika tatapannya bertemu dengan sang bunda yang langsung membuatnya merinding tak karuan. "Abang nggak tau kejadian apa yang menimpa ayah sama bunda, tapi ayah sama bunda kayaknya lagi nggak baik." Ucap Bizar setelah memalingkan wajahnya untuk kembali fokus pada jalanan.


"Bunda berpikir, seperti nya salah satu dari kalian harus cepet menikah. Tadi temen ayah udah punya cucu bikin bunda pengen." Jawab Shena acuh.


"Abang belum ada jodoh bund." Jawab Bizar singkat.


Sauqi yang menjadi sasaran utama hanya menghela nafas pelan takut ketauan kalo lagi menghindar. "Kakak yang udah punya buruan, minta pak duda nya dateng kerumah." Ucap Shena tegas.


"Jangan bantah kak, ayah nggak mau acara bikin adek untuk Kahfi batal." Saut Juan yang tidak ada hubungan nya dengan desakan Shena agar Sauqi atau Bizar segera menikah.


"Ayah bunda, kakak masih perjuangan. Baru juga lelehin es batu anaknya belom bapaknya. " Jawab Sauqi pasrah dan sedikit ada keputus asaan.


"Perjuangin, ayah nggak mau tau." Ucap Juan.


**


Dilain tempat, seorang bocah kecil nan tampan sedang dalam kondisi yang kurang menyenangkan. Wajah terlihat kusut, bahkan sesekali dahinya menampakkan kerutan seolah sedang berpikir sesuatu yang sangat serius.


"Boy, habis jalan-jalan sama oma kok nggak seneng tapi malah cemberut gitu mukannya ?" Setelah memperhatikan beberapa waktu akhirnya Lutfi buka suara menegur sang putra.


Ghifa menoleh. "Cuma kepikiran sesuatu aja Pi." Jawabnya singkat.

__ADS_1


"Emang mikirin apa sih ?" Tanya Lutfi semakin ingin tahu penyebab mengapa bujang kecil nya terlihat murung.


"Kenapa sayang ?" Tanya Guntur pada cucu kesayanganya.


Matanya menyipit, memperhatikan sang Oma dan Opanya bergantian. Sedangkan yang ditatap hanya mengangkat bahu seolah bertanya kenapa. "Yang ketemu sama oma tadi siapa ?"


Aleta yang paham mengapa cucunya terlihat kusut langsung menjawab sesederhana mungkin. "Teman lama Oma, sayang."  Jawabnya dengan senyum canggung mengingat dirinya dan Juan serta yang lainnya pernah dalam keadaan terburuk.


"Kenapa teman-teman Oma yang tadi kayak nggak suka sama Oma ? Bahkan nyapa balik Opa aja nggak." Ucapnya lagi dan semakin membuat Aleta kebingungan hendak menjawab bagaimana.


Melihat sang istri tidak sanggup menjawab akhirnya Guntur mencoba menjelaskan pada cucunya. "Dulu oma kamu pernah melakukan kesalahan pada mereka, tapi mereka udah maafin oma kok walaupun masih bersikap seperti itu." Jelas Guntur.


Ghifa mengangguk, yang jadi persoalannya bukan sikap mereka terhadap omanya tetapi satu orang yang membuatnya lebih tertarik.


Ghifa menggaruk kepalanya, bingung hendak kenyampaikan bagaimana soal pemikirannya. Raut wajahnya berulang kali berubah ubah ekspresi.


"Ya sayang ?" Jawab Aleta yang sudah menguasai kegugupannya.


"Oma cantik yang ramah tadi siapa ?" Tanya Ghifa dengan serius membuat Lutfi berekspresi kurang menyenangkan.


Aleta tersenyum, mengingat Shena yang selalu baik hati dan berperasaan lembut. "Dia istri teman lama Oma, orangnya baik banget." Jawab Aleta apa adanya, baginya Shena adalah sosok yang baik, sosok yang masih mau berteman dengannya walaupun pernah membuat kesalahan yang mungkin amat menyakitkan.


"Mirip sama Mommy." Ucapnya pelan.


Lutfi tersedak nafasnya sendiri. "What the ? Mommy siapa boy ?" Tanya Lutfi dengan raut wajah yang tidak bisa dibilang shock juga tidak bisa dibilang senang.


Ghifa berdecak malas. "Mommy Ghi lah, lagian tadi Ghi juga ketemu Mommy." Jawabnya.

__ADS_1


Jika Lutfi sedang berpikir Mommy mana yang dimaksud, maka Guntur dan Aleta malah tersenyum girang dengan banyak pertanyaan yang akan terlontar.


"Mmm Ghi, kamu dah punya calon Mommy yaa ?" Tanya Guntur penuh harap.


"Kalo Papi sih I don't know, cuman Ghi punya calon sendiri." Jawab Ghifa seraya melirik sang ayah yang masih berusaha mengingat wanita mana yang tiba-tiba menjadi Mommy putranya disaat dirinya belum pernah mencoba lagi berhubungan dengan lawan jenis.


"Calonnya Mommy kamu pasti cantik ? Kalo tadi ketemu kenapa nggak kenalin ke Oma sih ?" Tanya Aleta dengan senyuman yang mengembang indah, walaupun Ghifa hanya cucu dari anak sambungnya tapi mendengar kabar seindah ini membuatnya bahagia.


"Kira-kira sih cantiknya lebih dikit dari Oma cantik tadi, muka nya mirip soalnya." Jelasnya seraya membandingkan Sauqi dengan Shena dalam imajinasi.


"Mungkin kalo Mommy Sao seumuran Oma yang tadi akan sama persis cantiknya." Sambungnya lagi dengan senyum manis ala bujang kecil.


Mendengar Sao tersebut dari mulut putranya, tiba-tiba wajah Lutfi yang semula serius berubah menjadi tersipu.


"Mommy Sao yaa." Gumamnya pelan namun masih cukup jelas terdengar oleh kedua Orangtuanya.


Guntur tersenyum licik."Ouhhh jadi anak sama bapak punya selera yang sama pada satu orang ??" Tanya Guntur menyempatkan situasi Lutfi yang kurang fokus untuk mencari info yang lebih akurat dari putranya itu.


"Siapa yang nolak pesona gadis sih Pa." Jawab Lutfi tanpa sadar, tatapannya masih menerawang jauh memikirkan kandidat calob istri dari Ghifa.


"Loh heh masih gadis, pasti cantik ini." Balas Guntur.


"Jelas cantik Opa, kalo Opa menilai Oma yang tadi itu cantik banget nah Mommy Sao ini cantik luar biasa, pokoknya mirip banget Mommy Sao sama Oma yang tadi." Ucap Ghifa membanggakan sosok Sauqi, seolah Sauqi adalah bidadari terindah yang ada dibumi.


"Tapi kalo mirip Shena, atau jangan-jangan......." Ucap Aleta terhenti, jantungnya mulai berdetak lebih cepat karena memikirkan kemungkinan yang faktanya akan lebih sulit dijelaskan dikemudian hari.


Guntur dan Lutfi yang sejak awal sudah ingin memperhatikan apa yang akan Aleta ucapkan seketika mengerutkan dahi, Aleta menghentikan ucapannya dan memiliki pandangan kosong seolah kehilangan harapan.

__ADS_1


__ADS_2