IMAM KU

IMAM KU
Mengeluh


__ADS_3

Merasa terdesak, Bizar akhirnya mulai menyusun rencana masa depannya. Keinginan sang bunda harus segera dituruti, nasehat dan sarannya harus segera dilaksanakan. Bagaimanapun juga, apa yang seorang ibu ucapkan menjadi wajib hukumnya.


Ntah apa yang ada dipikiran Shena saat ini, Bizar pun tidak mengerti. Hubungan adik kembarnya saja belum ada titik terang bagaimananya, bukannya membantu sepak terjang sang putri, Shena malah mengeluarkan dekrit untuknya mengejar Ibu Guru Cantik di sekolahan Kahfi.


"Dek..." Panggil Bizar dari lantai 2 saat melihat adiknya melintas hendak menuju dapur.


Kahfi yang baru pulang dari sekolah dengan terpaksa mendongakkan kepala nya. "Paan bang ? Haus nih minum dulu gue yak." Ucapnya seiring langkah kakinya menuju kulkas 2 pintu terpajang indah.


Sambil menunggu adiknya, Bizar kembali mengingat apa saja yang telah ia rencanakan sebelumnya. Tak berselang lama, Kahfi menyembulkan kepala nya dari balik pintu kamar Bizar.


"Masuk, jangan kek maling." Ucap Bizar tanpa melihat kearah pintu.


Kahfi menghampiri Bizar "Ada apa wahai abangku terganteng ?" Tanyanya.


"Abang dapet tugas dari ibu negara. Dan butuh bantuan lu." Jawab Bizar dengan tampang serius, seketika Kahfi yang lagi mode lesu dipaksa untuk fokus. Biasanya kalo udah bahas ibu negara pasti akan ada tugas yang sulit untuk dikerjakan.


"Perasaan gue gak enak bang." Ucap Kahfi seraya mengelus tengkuknya yang sedikit meremang.


"Ya emang gak enak, gegara lu juga ni tugas ada." Bizar sedikit menaikkan nada bicaranya.


Kahfi mengernyit. "Kok gue sih bang ?"


"Ya elu yang nyaranin Bunda ngejodohin gue ama guru disekolah lu. Masih nanya lagi." Jawab Bizar yang sudah habis kesabaran.


"Jadi tugasnya dari Bunda itu, lu di suruh deketin guru gue bang ?" Tanya Kahfi berubah menjadi antusias.


Bizar hanya mengangguk sebagai jawaban. "Terus lu mau gimana ? Lu mau gue bantu apa ?" Tanya Kahfi dengan senyum menggoda.


"Untuk sekarang bantu gue cari info terupdate dari guru elu itu." Perintah Bizar tanpa menatap sang adik.


"....." Kahfi terdiam. Eh si abang minat juga rupanya.


"Ngapa lu diem ? Kagak mau bantu ?" Tanya Bizar berburuk sangka.

__ADS_1


Kahfi tertawa renyah. "Gue bantu bang, aman aja deh. Info yang ada sama gue sekarang adalah Bu Guru itu lagi jomblo habis ditinggal nikah 2 minggu yang lalu." Jelas Kahfi mulai membantu.


Bizar merespon dengan senyum, namun jika diteleti lebih dalam maka dari senyumnya yang manis ada makna terselubung. Dengan hanya melihat respon Bizar yang misterius ini, Kahfi sudah dapat menyimpulkan jika Bizar memiliki rencana hantu dikepalanya yang kebanyakan menyimpan resep masakan leluhur itu.


****


Jika Bizar sedang menyusun rencana dan sudah mendapat bantuan. Maka dilain tempat ada seorang pria yang sedang dalam mode lesu tak berdaya.


Badannya menyandar di sandaran kursi, matanya menatap lurus kedepan dengan sesekali menghela nafas lelah.


"Lu ngapa sih Fi ?" Tanya Manda keheranan.


Seorang pria yang terlihat tidak baik itu adalah Lutfi, ntah apa masalah yang dihadapinya yang jelas kedua sahabatnya yang duduk dihadapannya saat ini berulang kali mengerutkan kening.


"Lu salah nelen obat sakit kepala ya ?" Tanya Argi yang juga heran melihat kulkas dua pintu dihadapannya bertingkah tak seperti biasanya.


Lutfi lagi-lagi mengehela nafas panjang. "Gue lagi dilanda kebingungan." Jawabnya.


"Ngapa dah lu ?" Argi bertanya lebih dulu, tumbenan nih sahabatnya ngeluh.


"Tunggu dulu pak bos, ini perkaranya apa dulu nih ?" Tanya Manda. Bisa-bisanya si Lutfi minta saran tapi belum nyeritain masalahnya apa.


"Mommy Sao nya Ghifa." Jawab Lutfi singkat.


"Lah tu cewe ngapa ? Ditolak lu ?" Argi lagi-lagi berburuk sangka membuat Manda reflek menjitak kepalanya.


Argi mengelus kepalanya. "Ngapa Yang ?"


"Mulut lu dijaga dong Yang, jadi doa tuh ntar." Sewot Manda dengan tatapan tajam.


"Bukannya ditolak, gue cuma bingung harus mulai dari mana." Jelas Lutfi dengan sentuhan keputus asaan.


"Tumben lu ngeluh." Ucap Argi.

__ADS_1


"Gue juga manusia bangsatt." Lutfi acuh.


Manda mendengus. "Lu maunya gimana Fi ? Kalo lu serius ya usaha dong, kan ini bukan yang pertama buat lu." Ucap Manda.


"Lah iya, Masak gitu aja lu harus bingung." Tambah Argi.


Luthfi mengusap wajah nya dengan kasar. "Gimana mau usaha, lu pada kan tau kesan pertama gue ama tu cewe udah minus banget. Terus ni lagi bau-bau nya emak tiri gue kenal ama tu cewek." Ucapnya.


"Makanya perbaiki, lu deketin baek-baek." Kata Argi memberi saran.


"Nah kalo emak lu dah kenal ya bagus dong." Tambah Manda.


"Masalahnya ni yaa, emak gue kek ga setuju. Soalnya kemaren itu pas bujang gue bahas si Sao dia langsung berubah jadi kek menghindar."


Manda mengernyit. "Lah begimana bisa ?"


"Kemaren itu .........".


Akhirnya Luthfi menceritakan kejadian malam itu, dimana Ghifa bercerita bahwa Sauqi mirip dengan sosok istri teman lama ibu sambungnya yang sempat bertemu disebuah restaurant.


Mendengar hal itu, Manda dan Argi saling berpandang sejenak. Bingung akan menanggapi yang bagaimana.


"Gue penasaran, tapi papa bilang gak boleh desak mama buat jawab soal ini." Lutfi mengakhiri ceritanya dengan helaan nafas panjang.


Argi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya menurut gue sih lu perjuangin aja dulu deh Fi, lagian belum tentu juga firasat mama lu bener." Ucap Argi menyimpulkan.


"Lah kalo ntar bener terus emak gue gak restu ? Ya kalik gue kehilangan cinta dua kali setan." Gerutu Luthfi tidak terima.


"Mau nyerah ? Ya kan ini belum pasti sih Fi, lu jangan begoo deh." Ujar Manda sengit. Ya kalik udah pengalaman masih aja bodooh soal mengejar cinta.


"Gini yaa, bagus lo coba deketin dia dulu. Pikir dari sekarang gimana caranya bikin tu cewek luluh dan mau sama duda kek elu. Masalah restu lu pikir belakangan, ntar biar calon bini gue bantuin bujukin emak lu." Ucap Argi memberi saran dan disetujui oleh Manda, bagaimana pun juga Sauqi adalah calon yang tepat untuk Lutfi dan ibu yang baik untuk Ghifa.


Mendengar dukungan dari sahabat-sahabat nya, Luthfi mulai merasa batu dipundaknya perlahan teratasi walaupun tidak sepenuhnya.

__ADS_1


Mereka benar, sekarang bukan waktunya untuk berpikir restu kedua orangtuanya. Yang penting sekarang adalah bagaimana caranya menaklukkan gadis pilihan Ghifa untuknya.


Kalaupun restu didapat tapi calonnya nggak mau kan sama saja, bagus luluhin dulu calonnya maka nanti kenalkan ke Mama Papa untuk meraih restunya bersama.


__ADS_2