
Air mata masih meluncur tanpa jeda, isak tangis masih bersautan. Syauqi tak juga bersuara dan Pasha masih saja menundukkan kepala bertumpu pada bahu Syauqi. Keduanya masih sama-sama merenungi segala hal yang telah terjadi.
Namun disaat Syauqi sedikit mengangkat kepalanya memberanikan diri untuk meluruskan yang sudah seharusnya diakhiri. Diujung jalan tampak sosok tegap menatap lurus kearah mobil yang ditumpanginya, dari kaca yang jernih terlihat jelas siapa orang yang berdiri di sebrang jalan sana.
'Mas.... Dia.....' Batin Syauqi tersadar. Nafsnya seketika terasa sesak, seolah baru saja melakukan sebuah kesalahan besar.
Hati yang awalnya menghangat menjadi kelu, dia yakin bahwa apa yang dilakukannya sekarang terlihat jelas walaupun dari sebrang jalan. Perasaannya bimbang, dia takut jika orang yang berada di sebrang jalan akan pergi menjauh dan takkan kembali, tapi pikirannya juga ragu untuk mengambil keputusan.
Perlahan namun pasti, sosok yang awalnya berdiri tegap itu kini mulai melangkah untuk menjauh. Kepalanya menunduk, tangannya mengepal erat.
Syauqi tak bisa bertahan lebih lama lagi, melihat langkah demi langkah seseorang yang mulai menjauh diujung jalan. Hatinya memanas, air matanya semakin deras.
Dia tersadar jika hatinya kini bukan untuk laki-laki disamping nya melainkan untuk sosok lelaki yang melangkah pergi dengan menundukkan kepala disebrang jalan.
Syauqi memejamkan matanya perlahan, mengatur nafas dan mengepalkan tangan.
Tekadnya sudah bulat, rasa nyamannya saat ini kepada Pasha hanya sebatas kenangan.
"Bang." Syauqi membuka suara.
Pasha mengangkat kepalanya, mengendorkan dekapannya. Menatap Syauqi dengan penuh rasa bersalah.
"Maaf." Lanjut Syauqi.
Hanya satu kata yang Syauqi ucapkan membuat Pasha semakin tak mengerti. Maaf ?
Apakah usahanya belum juga membuahkan hasil ? Apakah Syauqi masih belum bisa memberikannya kesempatan ??
Lalu apa yang barusan ? Apakah dirinya terlalu berharap ?
"Maaf ? Maksudnya sayang ?" Pasha memberanikan diri bertanya.
Syauqi menghela nafas. "Maaf, kita nggak bisa lagi kayak dulu bang. Semuanya udah Syauqi maafin, tapi untuk mengulang lagi Syauqi nggak bisa. Hati Syauqi udah jadi milik orang lain." Ucapnya dengan tegas walaupun masih dibarengi isakan.
__ADS_1
Bagai disambar petir disiang bolong, Pasha mendadak lemas. Jantungnya seakan tak ingin lagi berdetak. Pupus sudah harapannya.
"Semudah itu kamu lupain semuanya Qi ? Semudah itu kamu dapet pengganti ?" Pasha bertanya dengan nada lemah, tak ada lagi kekuatan pada dirinya.
"Mudah, karena hanya mengingat luka itu semua yang dulu Syauqi anggap indah perlahan memudar dan menghilang." Jawab Syauqi terus terang.
Pasha hanya tertawa sumbang.
"Syauqi nggak pernah cari pelarian bang, tapi Allah kirimkan seseorang yang dengan sukarela menjadi obat dan penyembuh akan luka yang abang ciptakan." Lanjut Syauqi dengan bergetar.
Pasha terduduk lemas, tubuhnya bersandar tak berdaya.
"Jadi ?"
"Tidak ada kesempatan untuk kita mengulang bang, izinkan Syauqi bahagia dengan pilihan Syauqi."
Lagi-lagi hanya helaan nafas berat yang terdengar dari Pasha. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Syauqi membuatnya ingin binasa saja dari dunia.
Tanpa mendengar jawaban dari Pasha, Syauqi sudah lebih dulu keluar dari mobil. Berjalan cepat dan menyebrang.
Didalam mobil, Pasha menatap kosong kearah Syauqi yang perlahan menjauh. Air matanya kembali luruh dan semakin deras. Senyum tipis ia paksakan terukir di wajah sendunya.
"Begitu kah ? Aku akan mencoba nya Qi, demi cinta ku pada mu."
* * *
Teriknya mentari memang mulai meredup dan berganti dengan teduhnya langit sore. Tapi pemandangan yang terlihat didepan mata membuat panas dalam hati membara. Gerah tiba-tiba.
"Siall !" Umpatnya dengan iringan kepalan tangan.
Ingin marah tapi dia sadar dirinya siapa dan berada dimana posisinya.
"Lo harusnya sadar diri Fi, lo nggak pantes buat dia. Dari awal pun lo harus nya sadar kalo lo duda anak satu." Batinnya memaki.
__ADS_1
Gadis yang diharapkannya dipeluk laki-laki lain yang berstatus sebagai mantan pacar membuat hati nya mengempis bagai kerupuk tersiram kuah. Ingin mencoba tetap kriuk tapi apa daya tak mampu.
Apalagi gadis itu menangis seolah juga masih ada rasa yang belum hilang membuat nya semakin mengasihani hatinya yang telah lama berkarat dan sekarang rapuh, tersapu angin sedikit saja dan hancurlah sudah.
"Gue nggak sanggup, ini lebih sakit daripada saat Humaira pergi." Gumamnya.
Angin berdesir tapi tidak menyejukkan, keputusan nya untuk membeli mie rebus diwarung depan komplek berujung teriris nya hati. Tau gitu mending dia stay dirumah gelitikin Ghifa.
Kakinya melangkah tanpa ragu, dirinya sudah tidak ingin lagi memantaskan diri jika kenyataan selalu menyadarkan posisinya yang memang tidak layak untuk seorang Syauqi. Gadis cantik dan mandiri.
"Lo duda, punya anak satu. Mana pantes." Gerutu nya sepanjang jalan menuju rumah.
"Apa ? Kata orang duda kaya mapan tampan bakal jadi rebutan ? Hah tetep aja kalah sama yang bujang mapan tampan. Duda ada buntut satu berharap dapet gadis ?? Mimpi lo ketinggian Fi." Lagi dan lagi, dirinya mengumpat diri sendiri. Ntah apa yang ada diotaknya saat ini. Semua omongan orang mengenai duda semakin didepan ditepis nya mentah-mentah seolah olah itu hanya mitos.
"Kalo lo sebagai duda bisa dapetin gadis kayak Sao, hmm keberuntungan seumur hidup lo ke pakek."
Biasanya para ibu yang ngedumel, eh sore ini malah sibapak yang asik ngoceh dan ngomel. Tapi ya maklum hampir 6 tahun merangkap jadi ayah dan ibu.
- - -
Disisi lain, Syauqi yang masih belum selesai nangis udah langsung lari-lari. Nafasnya ngos-ngosan, ingusnya keluar masuk, dadanya kembang kempis kek balon ditiup anakan monyet.
Sosok yang dikejar masih belum terlihat, ntahlah padahal jarak waktu tidak terlalu lama. Apakah Luthfi lari dengan sekuat tenaga ?
"Ya Allah, sesak dada gue. Tuh laki cepet amat larinya." Gumam Syauqi seraya berjongkok dibawah naungan dedaunan yang rimbun milik warga.
Kakinya lemas, jantungnya berdebar. Dirinya takut Luthfi marah karena dirinya bertemu dengan Pasha si mantan nggak ada otak.
Syauqi menggelengkan kepalanya pelan. "Padahal status ntah apa, tapi kok gue ngerasa jadi bini yang ketauan selingkuh." Disela ngos-ngosannya nafas, mulutnya juga tak bisa diam.
"Duh gimana nyelesainnya ini, gue takut dia nggak mau nemuin gue."
"Ya Allah tolong !!"
__ADS_1