
Pagi menjelang, sinar mentari terlihat sangat cerah menghangatkan penduduk bumi.
Para istri berkumpul di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi dibantu para asisten rumah tangga terpercaya.
Para suami ngeteh dan ngopu diteras seraya menikmati udara segar dipagi hari.
"Gimana para istri, semalam pada lemburkah ??" Tanya Syauqi menggoda.
Ia paham jika wanita disekelilingnya saat ini sedang merasakan remuk dibadan akibat semalam lemburan. Terlihat dari pergerakan mereka yang agak sedikit kaku, apalagi untuk dua orang yang berstatus sama dengan nya sebagai pengantin baru, alamiah tidak dapat disembunyikan.
"Kamu kok seger bener kayak nggak terjadi apa apa kak ?" Tanya Naraya dengan menatap Syauqi seksama. Kan mereka kemarin gugup nya bertiga, kok sekarang susah jalannya berdua doang.
"Emang harus gimana ?" Syauqi bertanya balik.
"Emang beda sih yang garap amatiran sama yang berpengalaman." Saut Naswa yang juga menatap Syauqi intens.
Syauqi yang ditatap demikian hanya menggedikan bahunya acuh.
Untuk para ibu yang mengetahui kejadian iblis kecil sembelit semalam hanya memilih diam dan tidak ingin mengungkitnya. Takut pihak laki-lakinya tersinggung karena sejak keluar kamar sudah memasang wahah kusut tak enak dipandang.
Diluar rumah, tepatnya diteras dimana para kaum Adam menikmati teh hangat dan secangkir kopi nikmat. Semua memasang wajah gembira riang tak terkira, terutama lelaki yang sudah beristri.
Tapi itu tidak berlaku untuk Luthfi, dirinya memasang wajah masam sejak keluar dari kamar. Bahkan morning kiss dari istrinya hanya berlaku 5 menit saja, sisanya ia panas dingin dan berakhir dengan sabun didalam kamar mandi.
"Pengantin baru, pada gol nggak semalam ?" Tanya Faiz to the point tanpa basa basi.
Farhan dan Bizar mengangguk dengan iringan senyum bahagia. Bahkan Farhan mengacungkan 2 jempolnya.
"Nggak ada bola." Ketus Luthfi seraya memandang hamparan tanaman hijau ditaman.
"Persis sama bapak mertuanya nih kayaknya hahah." Saut Dani dengan tawa renyah.
Juan yang disindir pun seketika meninggalkan kopi hitam nikmatnya. "Maksud nya apaan nih ?" Tanya nya seraya mendelik kearah Dani.
"Emang Ayah,Om ehh manggilnya apaan sih Pa ?" Farhan dibuat bingung sendiri untuk panggilannya pada Juan.
"Abang harusnya." Jawab Dani.
"Hehe abang bro, dek Bizar." Ucap Farhan dengan tawa renyah guna menggoda Bizar yang duduk disebelahnya.
Bizar mendengus, kemudian menjawab. "Iya Om Farhan." Saut Bizar dengan iringan jitakan dikepala Farhan.
"Ngapa tadi ?" Tanya Juan pada Farhan, karena Farhan belum melanjtkan pertanyaan nya.
"Nggak jadi, lupa saya Bang."
Sesaat semuanya diam, namun kemudian semua orang menatap kearah Luthfi yang masih memasang muka kusut dan masam seperti siap ditagih hutang.
"Menantu Ayah kenapa ?" Tanya Juan pada Luthfi yang menatap taman dengan pandangan kosong.
"Kayaknya gagal gol deh ini." Jawab Bizar sekenanya.
Dan itu sukses membuat Luthfi seketika bangkit dari duduk nya.
"Heh mau kemana ?" Tanya Faiz dan Dani bersamaan.
__ADS_1
Luthfi menatap kedua bapak itu dengan tatapan tajam, dan kemudian menatap ayah mertuanya. "Luthfi kekamar Yah mau menenangkan diri, disini adik kecil Luthfi terzholimi dengan obrolan ini." Pamit Luthfi yang kemudian berlalu setelah mendapat anggukan dari Juan.
Juan paham apa yang membuat Luthfi seperti ini, karena semalam ia berhasil lemburan juga karena cucunya yang kabur melarikan diri. Dan itu juga sebab utama kenapa Luthfi berwajah masam dihari nan cerah sekarang ini.
Sedikit egois memang mertua yang satu ini.
"Fiks kayaknya emang nggak ada bola makanya nggak gol." Ucap Farhan seraya menatap kepergian Luthfi.
"Wajar sih tersinggung, ketimbang kita yang nggak dapet, lebih sakit Mas Luthfi sih. Dia dulu udah ngerasain terus harus puasa dalam waktu lama, tiba pas mau buka malah tertunda." Sambung Bizar dengan tatapan kasihan pada Luthfi yang sudah menghilang dibalik pintu.
"Ibarat udah ngantri pertalite di SPBU panas-panas an, eh pas giliran kita abis." Saut Fais memberikan perumpamaan.
*****
Sejak pamit kekamar untuk menangkan diri, Luthfi hanya keluar saat sarapan dan kemudian kembali mengurung diri.
Semuanya yang ada disana maklum saja dengan apa yang dilakukan Luthfi saat sekarang ini. Dan bahkan Aleta selaku ibu, sudah berulang kali memohon maaf atas sikap anaknya.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, keluarga Faiz dan Guntur serta Dani memilih untuk berpamitan dan pulang kerumah masing-masing. Farhan ikut kekediaman Ghaitsaa dan Bizar yang ikut pulang kekediaman Naraya, selaku mengantarkan mertuanya dan sekalian mengambil barang milik Naraya untuk dipindahkan kerumah Dirgantara.
Untuk iblis kecil pengganggu kini sedang ntah dimana bersama Kahfi dan juga Rendi. Merasa aman dari pengganggu, Syauqi memilih menyusul sang suami kekamar dan menemaninya disana.
"Sayang." Panggilnya dengan nada manja.
Luthfi yang menelungkupkan badannya hanya memiringkan kepalanya untuk melihat sang istri.
Syauqi naik keranjang dan memposisikan dirinya tepat dihadapan wajah Luthfi. Sejurus kemudian kepala Luthfi sudah berpindah keatas Pangkuan Syauqi.
"Maaf sayang, pasti adik kecilnya mas terzholimi kan ?" Tanya Syauqi seraya tanganya mengusap lembut rambut Luthfi.
Syauqi hanya tersenyum, kemudian menundukkan kepalnya untuk mencium kening sang suami. "Siang-siang boleh kan ?" Tanyanya.
Jujur saja ia juga merasa bersalah karena tidak memberikan hak Luthfi. Harusnya semalam ia bisa memuaskan sang suami yang sudah berpuasa sejak lama. Namun apa daya jika sang anak yang menjadi penghalang nya.
Lagi pula, tidak bisa malam bukankah siang juga tak masalah ?.
"Serius mau siang-siang gini ?" Tanya Luthfi seraya menatap mata indah Syauqi.
Dan syauqi hanya mengangguk. "Emang mas nggak mau ?"
"Kebanyakan istri kayaknya bakalan nolak kalo gituan pas siang bolong."
"Lah istrinya mas kan beda dari yang lain, mau nggak ?? Nggak mau aku paksa nih ?" Tanya Syauqi, yang bener aja nih suaminya sok nolak.
Luthfi mengedipkan matanya seraya berfikir, dalam otak nya ia merasa bahwa Syauqi seperti seirus tapi juga bercanda. Ia jadi bimbang ingin bagaimana.
"Seriusan sayang ??"
"Iya sayang, Ya Allah mau nggak ?" Tanya Syauqi sekali lagi.
Luthfi terdiam, tidak kunjung menjawab. Ntahlah, sejak semalam mengalami kegagalan ia jadi kurang fokus, apa-apanya menjadi lola alias loading lama.
Syauqi yang sudah tidak sabar karena jujur saja, miliknya sudah berdenyut tidak karuan sejak ia memangku kepala Luthfi. Mau tidak mau, suka tidak suka akhirnya Syauqi beraksi dengan segala keahliannya yang dipelajari melalui tontonan khusus dewasa secara kilat pagi tadi.
"Aahhhh, Mommm." Suara Luthfi menjadi berat dikala tangan Syauqi sudah merayap kemana mana, bahkan posisi keduanya sudah saling bersisihan.
__ADS_1
"Ya sayang." Jawab Syauqi tepat ditelinga Luthfi dan itu semakin membuat Lutfi panas dingin.
"Turun terus, yang dibawah." Ucap Luthfi seraya membimbing tangan Syauqi untuk terus menuju kebagian paling bawah dan semakin bawah hingga menelusup kedalam kain penutupnya.
"Punya mommy gimana ?" Tanya Syauqi yang kesadaran nya mulai melayang ntah kemana akibat dari ulahnya sendiri.
Tanpa menjawab, Luthfi langsung bergerak dengan cepat dan berakhir dengan Syauqi yang dibawah kendalinya.
Ciuman hangat ia berikan, sentuhan lembut nan menggairahkan ia hadiahkan pada tubuh mulus nan putih sang istri.
Bahkan sesekali juga tangan kekar nya meremas benda kenyal yang sudah menantang didepan mata.
Ntah sejak kapan pula aset negara itu terpampang nyata, yang jelas saat ini Luthfi sedang terbuai dengan keindahan yang disuguhkan sang istri untuknya.
"Indah sayang, aku sukaa." Racau Luthfi saat menikmati keindahan setiap inci tubuh Syauqi.
Dan Syauqi juga tak tinggal diam, jari lentiknya juga menari indah didada bidang sang suami hingga semakin turun dan semakin turun lagi.
"Sayang boleh sekarang yaa, mas akan lembut kok. Udah nggak tahan."
"Lakukan sayang, aku juga mau."
Akhirnya disiang hari yang panas terik, terjadi adegan yang lebih panas lagi didalam kamar Syauqi.
Kedua pasang manusia itu saling bergulat, berbagi peluh dan berbagi cinta. Waktu berlalu begitu saja, dan sudah ketiga kalinya benih unggulan Luthfi tertanam apik didalam rahim Syauqi.
Malam pertama yang diharapkan sempat gagal, namun bukan berarti tidak melakukan. Saat malam gagal, maka masih ada siang. Dan siang inilah keduanya meresmikan status halal, saling menjadikan seutuhnya satu sama lain.
"Udah Papi, Mommy lemes." Gumam Syauqi yang teekulai didalam dekapan hangat Luthfi.
"Maaf mom, Papi......"
Cup.
Syauqi mengecup bibir Luthfi, dan seketika Luthfi menjadi bungkam sehingga tak melanjutkan ucapannya.
"Tidak ada kata maaf sayang, ini kewajiban mommy dan ini hak papi. Sebagai ganti yang semalam." Ucap Syauqi dengan tersenyum lembut.
Bagaimana Luthfi tidak jatuh cinta berkali kali jika begini, istri yang pengertian dan se perhatian ini. Menerimanya dan anak bujang nya dengan tulus, dan apa adanya.
"Terimakasih Mommy, kamu adalah wanita terhebat yang ada didunia ini. Kamu menerima Papi dan Ghi dengan tulus dan apa adanya." Ucap Luthfi dengan terharu. Dekapan nya pada sang istri semakin ia eratkan dan ia salurkan segala perasaan cinta dan sayang yang ia punya.
"Sama sama Papi sayang." Syauqi membalas dekapan Luthfi tak kalah lembut dan hangat.
Keduanya kini saling menyalurkan ketulusan, kasih sayang dan cinta melalui dekapan hangat. Berulangkali Luthfi mengecup pucuk kepala Syauqi dengan rasa syukur.
Bahagianya tak tertandingi oleh apapun, ia bersyukur bisa menjadi lelaki yang seberuntung ini mendapatkan seorang gadis berhati selembut sutra.
Gadis yang mandiri, gadis yang mampu menjadi istri yang baik bahkan sekaligus menjadi seorang ibu untuk bujang kecilnya.
Rasanya ia sangat bahagia, dan kebahagiaan nya tak cukup hanya dengan diungkapkan dalam kata-kata.
"Nanti malam boleh lagi Mom ?" Tanya Luthfi disela-sela kegiatan saling memeluk.
"Boleh kalo kondusi mendukung."
__ADS_1