
Hari ini adalah hari ke empat Alvian menjadi seorang suami. Dimana ketika tidur ada seorang istri cantik yang menemani disampingnya, ketika bangun pun ada istrinya yang sudah menyiapkan segala macam yang dia butuhkan termasuk sekarang ini di hadapannya sudah tersaji sarapan dan kopi panas. Naima memang seorang istri yang cekatan, ketika suaminya pulang dari shalat Subuh sudah pasti kopi sudah tersaji dan makanan pun siap dihidangkan. Alvian pun sangat menikmati perannya sebagai suami.
Semenjak dua hari lalu keluarga Alvian sudah kembali ke kotanya masing-masing kecuali Papa Bagas dan Mama Siska yang untuk sementara akan tinggal di rumah kakaknya Reynan dikarenakan menantu pertamanya yang sebentar lagi akan melahirkan. Mama Siska ingin membantu mengurus cucunya yang sekarang sudah mulai masuk sekolah.
Siang hari ini begini terasa begitu sepi dikediaman Naima. Ibunya tengah beristirahat di kamarnya sedangkan sang adik sedang melaksanakan magang di sebuah perusahaan. Tinggallah dua insan yang baru saja memulai membuka lembaran barunya duduk saling terdiam di ruang keluarga dengan televisi yang menonton mereka karena dua orang tersebut sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing. Sampai akhirnya salah satu diantara mereka membuka percakapan mereka.
" Kita harus segera pulang ke kota X karena aku pun tidak mungkin meninggalkan pekerjaan terlalu lama." ya, itu adalah suara Alvian. Dialah yang memulai pembicaraan ini. Namun Naima hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara, beliau menyetujui dan akan ikut kemanapun suaminya mengajaknya tinggal.
" Cobalah membujuk ibu untuk ikut tinggal di sana, kalau perlu Sania juga pindah magang saja. Biar kamu fokus di sana dan tidak mengkhawatirkan keadaan mereka disini."
" aku akan coba bicara pada ibu dan juga Sania." ucap Naima sambil menatap wajah suaminya.
Masalah ini memang sebelumnya sudah pernah dibicarakan oleh mereka tapi juga belum menemukan solusi yang baik karena sang ibu pernah menolak untuk meninggalkan rumah yang penuh kenangan almarhum suaminya dari semenjak Naima kecil begitupun dengan sang adik. Rumah ini adalah rumah yang penuh kenangan bagi mereka.
Melihat Naima menatap kosong entah kemana, Alvian mendekatinya dan merengkuh tubuhnya.
" Kenapa kamu terlihat berat untuk meninggalkan rumah ini. Padahal sebelumnya juga kamu bekerja di sana." ucap Alvian sambil menjauhkan sedikit tubuh Naima dan memegangi kedua pundak istrinya yang hanya menunduk."
" Benar, tapi ini rasanya sangat berbeda, aku seolah-olah tidak akan pernah ke sini lagi" ucap Naima lirih.
__ADS_1
" Jangan berkata begitu, kok kamu kelihatan jadi melow gini sih." Alvian terkekeh sambil kembali merengkuh tubuh Naima.
" Kita nikmati saja liburan kita yang tinggal sebentar di sini. Kamu boleh tetap bekerja di perusahaan. Namun setelah nanti kamu hamil kamu harus lebih fokus pada anak-anak kita." Alvian kembali mengeratkan pelukannya dan mengecup puncak kepala Naima yang tidak tertutup hijab seperti biasanya.
" Mas, kita harus membeli dulu oleh-oleh untuk di bawa pulang lusa."
" Sepertinya tidak perlu, kamu tidak ingat mereka kan sudah membeli banyak sekali ketika kemarin pulang dari sini."
" Benar juga. Tapi aku gak enak Mas, aku akan buat kue saja ya buat Mama dan juga mbak Zahra." ucapnya antusias.
" yang penting gak membuatmu repot, walaupun tidak membawa apa pun tidak apa. kamu jangan khawatir."
" Baiklah Mas akan antar."
Mereka pun menghabiskan siang dengan saling mengobrol tentang rencana kedepannya akan seperti apa. Alvian bahkan berencana ingin mempunyai banyak anak, supaya di rumah akan selalu ramai katanya. Dia tidak ingin merasakan sepi seperti dirinya dulu yang hanya mempunyai satu kakak, itu pun mereka sempat terpisah lama walau akhirnya keluarganya kembali berkumpul.
" Kamu tahu Nay, aku dulu gak betah di rumah." wajah Alvian mendadak sendu mengingat dulu dia sering merasakan kesepian jika di rumah. Ketika kedua orang tuanya sibuk dia akan merasa sendiri di rumah yang begitu besar. Maka dari itu kadang dia malas untuk pulang dan lebih sering nongkrong bersama teman-temannya. Untuk saja kenakalannya dulu tidak sampai terjerumus dengan hal-hal yang fatal.
" Bukannya ada mas Rey, aku melihat dia adalah sosok penyayang. Pasti dia sangat menyayangi adiknya." Naima yang tak pernah tahu tentang masa lalu suaminya terlihat penasaran. Kenapa dari cerita suaminya, seakan dia adalah anak tunggal yang kesepian. Padahal Naima mengenal Reynan sebagai sosok seorang kakak yang penyayang yang mungkin tidak akan membuat sang adik merasa sendiri. Reynan adalah sosok yang hangat di dalam keluarga.
__ADS_1
" Maaf, mungkin sebelum menikah kita tidak sempat saling mengenal. Aku pun hanya tahu sosok kamu selama bekerja di perusahaan. Begitu pun sebaliknya. Dulu Mas Rey, sering tinggal bersama nenek dan kakek. setelah beberapa tahun kembali bersama dia juga sempat pergi karena berselisih paham dengan Papa. Dulu Mas Rey sempat di jodohkan namun beliau menolak dan pergi dari rumah. Dia kembali ketika akan menikah dan aku pada saat itu sedang diluar negri bahkan tidak sempat menghadiri pernikahannya." Alvian menarik nafas dalam-dalam sebelum kembali dia menceritakan tentang kakak yang sangat disayanginya.
" Tapi aku bangga. Mas Rey, memulai semua bisnisnya sendiri dari nol tanpa bantuan Papa. Bahkan dia kembali setelah berhasil
membuka cabang restorannya yang berada di kota X dan memulai bisnis hotel juga. Dia benar-benar mandiri. Dan aku dulu hanya bisa menjadi anak nakal yang tidak tahu bekerja keras, yang ku tahu hanya menghabiskan uang saja."
" Setiap orang punya kelebihan Mas, aku tahu kamu orang baik dan penyayang sama seperti Mas Rey, kamu pun orang yang bertanggung jawab. Gak mungkin Papa mempercayakan perusahaannya jika beliau tidak percaya akan kemampuan Mas dalam mengurus perusahaan."
" Ya, itu sekarang dulu Papa ingin Mas Rey yang meneruskan, namun karena Mas Rey pergi dari rumah maka akulah yang haru menggantikannya. Itupun setelah Papa melihat aku berubah lebih baik dan bertanggung jawab."
" berarti seiring berjalannya waktu mas berubah lebih baik."
" Ya, dan mungkin saja aku menjadi lebih baik karena seseorang. Sudahlah kenapa jadi membahas ini." Alvian menyudahi obrolannya dan mengatakan akan ke kamar kecil.
Apakah orang itu yg sekarang menjadi kakak ipar mu Mas?. Ingin rasanya Naima bertanya seperti itu. Namun dia hanya mampu mengucapkan di dalam hatinya.
Happy reading 💜💜💜💜
maaf baru update kembali
__ADS_1