IMAM KU

IMAM KU
Kondangan yang Terlupakan


__ADS_3

Nggak kerasa ya udah berhari-hari. Sampek nggak inget kalo ada undangan makan enak. Untungnya sih acaranya diundur sebulan dengan alasan nggak ada tanggal baek dibulan kemaren.


Dan pada akhirnya, acara kondangan itu jatuh pada hari ini.


Namun sayang seribu sayang, Shena melupakannya begitu saja. Padahal yang punya hajatan adalah sahabat karibnya, Si Arka.


Nggak tau aja nih si cebong rawa dilupain ama ratunya.


"Its my dream mass !! not Her !!"


Heii dengar, itu bukan dialog layang potek. Melainkan mbak Shena yang sedang murka pada suaminya akibat terganggu tidur siangnya.


"Heleh, baru melek mata juga, udah langsung berperan sebagai mbak juminten yang dikhianati mas Boris." Ucap Juan seraya menatap istrinya yang seksi dengan daster batik warna hijau dan dibagian bahu serta ketiak yang terbuka lebar.


"Abang sayang ahhhh." Ucap Shena dengan tambahan suara lucknut disiang bolong.


Gatau aja sih dia nafas aja udah goda kejantanann Juan.


"Godain suami siang hari gini emang paling mantep, pelepas dahaga dan menunda lapar." Gumam Juan dengan senyum mengembang.


Shena yang jadi incaran malah ngangkang ga sopan.


Behh ga ada akhlak emang. Sadar umur we !! salah posisi, salah gerak bisa lewat lu bedua.


"Shena jelly ahhhh".


Dan brughhh....


Juan langsung memeluknya dengan erat, wajahnya menempel di dada Shena yang empuk kenyal tiada tara. Shena benar benar bisa membuat seorang Juan kebat kebit sampek mleyot.


Bangkee emang sih ibu 3 anak ini. Oky jeli dring kalah saing.


Keduanya menikmati posisi yang nyaman, saling berbagi kasih dan sayang. Hingga getar ponsel keduanya menjadi penunda aktivitas selanjutnya yang mungkin akan lebih panasss lagi.


"Tumben rame grup bang, ada apaan ?" Shena meraih ponsel suaminya.


"Kalik aja pada promo ikan sapu-sapu ay buat jadiin crispy." Jawab Juan kurang minat. Dirinya masih terlalu nyaman menjadi bayi tua istrinya.


"Ehh pada pap pakek batik lo ay. Acara apaan dah ?"


"Baca ay, kalik aja ada event bagi bagi batik gratis."


Dengan seksama, Shena membaca chat teman-temannya di grup wa. Dari Arka yang marah-marah karena belum pada dateng kehajatan nya. Dari Ara yang sewot karena Dion lupa narok hellsnya dan Arjun yang malah ngajakin Sultan mancing dan lain lain.


Shena melongo, Juan menatapnya naffsuu.


Hingga........


"Astagfirullah abang !!!" Pekik Shena melebihi suara toa masjid kampung rawa bebek.


Juan yang kaget reflek gigit puding pepaya.


"Ahh abang sakit." Keluh Shena.


"Maaf sayang. Abang kaget sumpah."


"Bang ada kondangan yang kelupaan tauk." Adu Shena dengan wajah panik.


Juan mengerut kening. " Siapa ?"


"Arka. Khitanan anaknya Arka si Azzam." Jawab Shena mengingat kan. Padahal sejak ganti tanggal, dirinya selalu di kabari oleh Arka agar tak lupa. Ehh kenyataan nya tetep terlupakan.


Kasian Arka dan keluarga.


"Lohh kapan ? Nggak sekarang kan ?" Tanya Juan masih santai, lagian ini bukan hal mendesak kan.


"Sekarang abang, hari ini. Lihat nih." Shena memperlihat kan layar ponselnya dan terlihatlah photo yang Arka kirim bebarapa menit yang lalu.


Juan hanya mengangguk, masih enggan meninggalkan posisi nyamannya yang diapit kaki sang istri dengan wajah tepat diatas puding pepaya.

__ADS_1


"Abang ayok siap-siap dan otewe kita. Makan gratis hayuk. Ntaran amplopnya diisi sambil jalan kalo nggak transfer aja." Ajak Shena. Bahkan dirinya dengan tak punya hati menggulingkan suaminya kesamping.


Dengan pasrah, Juan hanya manut aja. Shena juga tak melupakan anak-anaknya. Dirinya mengintruksi ketiga anaknya untuk segera bersiap dalam waktu yang telah ditentukan. Tidak boleh lebih.


Setelah bersiap dengan kecepatan diatas rata-rata. Kini keluarga besar Dirgantara itu sudah dalam perjalanan.


Tidak ada yang bawa kado, melainkan hanya amplop putih dengan isi yang lumayan tebal. Bahkan amplop Bizar sampai tidak bisa dilem dengan rapat.


Ntah uang atau malah batu bata yang Bizar masukkan dalam amplop itu siapa yang tau. Namanya juga tadi dalam keadaan panik.


Akhirnya, mereka tiba diparkiran yang disediakan. Berjalan dengan beriringan, keluarga Dirgantara memasuki tenda dan disambut sengit oleh Arka dan istri.


"Bagus, pasti lo lupa kan Jin sama undangan gue ?" Arka menatap sinis.


Si Shena mah cuma senyum doang.


"Tenang Ka, lagian kita udah nyampek kan. Nggak pakek telat loh yaa." Jawab Juan dengan cengiran kuda.


Cocok, suami istri nggak punya urat rasa bersalah.


"Kalian emang gak telat, tapi dateng paling akhir diantara mereka." Sewot aja yang punya hajat nih. Tenda lu dirubuhin mampusss.


Shena mengendarkan pandangannya, dan terlihatlah keluarga dari teman seperjuangan dirinya dan suaminya sudah duduk manis menyantap hidangan yang tersedia.


Senyum tanpa dosa kembali terukir, bahkan yang kali ini terlihat sangat lebar dan menyebalkan.


"Sory yaa." Ucap Shena disela senyuman nya.


"Iya. Yodah silahkan duduk tamu terhormat, selamat menikmati." Arka mempersilakan Shena dan 4 pokemon nya duduk. Dengan tak tau malu Kahfi udah langsung aja gitu ngambil piring lengkap dengan segala isinya


"Pejabat negara baru dateng, gue kira mau kondangan virtual tadi." Sindir Aldo dengan kekehan ringan.


Seneng aja gitu liat Arka susah. Lah apa hubungannya.


"Maklum, esek-esek disiang bolong dulu." Sambung Rudi ikutan sindir menyindir.


Namun yang disindir ya bodo amat. Mana peduli.


Tanpa menunggu semua mata tertuju padanya.


"Lah buset, mental nya udah beton ini. Sumpah kagak inget umur." Arjun ikut menimpali. Kepala nya sampek geleng ajeb.


"Tanda cinta sitri nggak boleh disembunyikan. Biar para mbak mbak Lismayani diluaran sana nggak berulah." Jawab Shena sekenanya. Kalo diladenin nih para cebong lansia pada bacott nggak berkesudahan.


Dan untungnya lagi, pembahasan ini jauh dari jangkauan anak-anak.


"Lu juga gue cap deh sini pas jidad, biar kagak dicomot orang." Ujar Nisa seraya menangkup wajah sultan dengan kedua tangan dan ...


Cup


Terpampanglah cap bibir warna merah dijidat Sultan hadiah dari sang istri.


"Mantap." Arka mengacung kan jempol nya bersamaan dengan Dion.


Yang lain hanya tahan tawa aja, apalagi istri dari Arjun, Arka dan Aldo yang dasarnya kalem dari orok. Masih canggung aja mau nimbrung.


"Aku juga ah, Papi sini dong dicap biar nggak kayak Mas Boris yang gampang ke lain empedu." Ucap Ara dengan tangannya yang berusaha mengarahkan wajah Dion kehadapannya.


Emang yaa virus layangan potek merusak citra bapak bapak setia.


"Jangan ngadi-ngadi kamu, aku setia lahir batin sampek mati. Dunia akhirat." Ucap Rudi saat Rania menatapnya.


"Aman, nggak disini kok. Tapi nanti dirumah yang lebar dileher hehe." Jawab Rania yang sudah sama bobroknya dengan Shena.


Bahkan semua keabsurd an Shena perlahan menular ke sesama para istri yang lain. Ngga cuma satu atau dua, tapi banyak.


Bahkan istri-istri dari sahabatnya itu berguru kepada Shena. Tak kecuali Rania dan Ara yang bahkan lebih tua dibandingkan Shena.


Dari urusan kasur, pelayanan plus plus, kamar mandi, dapur dan lain lain. Shena adalah suhu.

__ADS_1


° ° °


Meninggalkan arena para emak dan bapak yang kadang kurang akhlak. Diarena perkumpulan anak-anak tidak juga jauh beda dari orangtuanya.


Sama sama minus akhlak.


"Azzam sudah dipangkas masa depannya, bisa nih langsung tembak pujaan hati." Gurau Gheza seraya melirik Maura yang menunduk malu malu kucing.


Ini nih makhluk perusak generasi penerus bangsa yang sesungguhnya.


"Dianya malu malu bang. Rencana mau berguru dulu ama bang pasha gue." Jawab Azzam terus terang.


"Jangan dah gue saranin." Ucap Bizar santai. Nggak ada niat juga buat cari perkara.


"Lu bagus belajar ama yang pengalaman Zam, gue mah baru satu belum banyak ilmu." Jawab Pasha, dirinya terlihat tenang.


Walaupun sebenarnya dalam hati kebat kebit nahan rindu sama ayang Syauqi .


"Gue saranin lu belajar ama suhu noh." Saut Kahfi memberi masukan.


"Siapa bang ?" Kali ini yang penasaran bukan Azzam tapi malah Maura.


"Lah ngapa lu yang kepo ?" Tanya Shazia sinis. Heran nih orang kagak bisa santai gitu, sewot mulu.


"Nanya doang kali kak. Sensi amat." Balas Rumaisa ketus.


Nyahok lu dilawan bocah.


"Lah emang yang suhu sapa dek ?" Kini Syauqi buka suara, kepo juga. Emang siapa yang lebih suhu dari para orang dewasa yang hanya beberapa ini.


"Sayangnya dek Sasya dong." Jawab Kahfi dengan gelak tawa.


Gimana gak ketawa, Denish udah malu malu mpus meong meong. Mukanya memerah. Gumush.


Kakaknya bar bar, eh adeknya behh kalem beut kek kucing anggora kekenyangan.


"Yaahhh,, bocil yang katanya mau beli gelang inisial berdua." Gheza juga tak tahan untuk tidak ngakak.


Masih inget aja ama obrolan jaman baheula.


"Yah aku juga mau gelang kayak gitu Zam." Ujar Maura tiba-tiba. Membuat semua yang tertawa diam seketika.


"Iya ntar kalo aku udah sembuh kita beli, sekarang kan aku belum bisa boncengin kamu naik sepeda. Ini kalo kegencet ntar hasil ga bagus." Jawab Azzam lemah lembut.


Para orang dewasa dan remaja hanya melongo tak percaya.


"Sasya kita ganti kalung aja yaa." Ujar Denish pada Sasya. Dan gadis manis yang diajak bicara hanya menganggu malu malu.


Buset, penerus bangsa yang sudah bucin sejak dini.


"Bangkeeee !!! Pepaya belum tumbuh juga udah pada gatel minta digaruk. Nih juga yang laki, Baru berani motong timun secuil aja sok banget." Rumaisa emosi. Ya bagaimana tidak, anak bau kencur seperti dirinya udah bahas gelang dan kalung couple. Pretttt


"Sabar mpok, ngegas mulu kek ditanjakan." Syauqi mengelus punggung Rumaisa lembut.


Bahaya kalo ni anak kadal ngamuk.


"Sumpah, jaman gue kecil masih main cebong didepan rumah pak rete." Ucap Bizar geleng kepala.


"Lu ama gue maen bareng satt, perosotan di gundukan pasir bangunan depan masjid komplek." Saut Pasha yang malah ngangguk kek ayam cari makan.


"Gue yang kecilnya main asep poging nyamuk terheran melihat bocil jaman sekarang." Lanjut Kahfi.


Obrolan unfaedah terus berlanjut antara kubu para orang tua maupun team para anak non akhlak.


Sampai tak terasa jika hari sudah menjelang sore. Akhirnya semua tamu undangan yang dateng cuma merusuh doang pamit undur diri.


Kado dan amplop berbagai ukuran diserahkan kepada Azzam. Salam salaman tak terhindarkan. Para ibuk peluk cium pipi kanan kiri.


Para anak adu tinju, bahkan kecup tangan bak pangeran dan putri.

__ADS_1


Ya siapa lagi pelakunya jika bukan para bocil.


Lagi lagi yang dewasa kenak skip.


__ADS_2