
Beberapa menit telah berlalu. Semenjak Bizar menyinggung soal ta'aruf tadi, Naraya menjadi diam dan menundukkan kepala.
Ntah dimana letak kesalahan dari ucapan Bizar, namun itu membuat Naraya seketika bungkam.
Hanya kepalanya saja yang mengangguk saat Bizar meminta izin untuk bertemu dengan kedua orangtuanya.
"Kita sudah sampai. Apakah benar boleh saya menemui kedua orangtua mu ?" Tanya Bizar saat mobilnya sudah berhenti tepat didepan gerbang rumah minimalis modern berwarna putih. Yang ia yakini itu adalah rumah Nayara.
"Boleh mas. Tapi jika Ayah dan Ibu sudah pulang." Jawab Naraya yang masih menunduk.
Sebenarnya, jika Bizar peka maka ia akan tahu apa yang terjadi pada Naraya saat ini dan kenapa gadis itu memilih diam dan menunduk dalam.
Tapi sayangnya Bizar belum pernah mendekati seorang gadis hingga diusianya sekarang, jadi dia tidak akan bisa memahami apa yang terjadi saat ini.
Maklum saja, pergaulan nya dengan perempuan hanya sebatas sang bunda, saudara kembar dan auntynya Naswa juga sang Oma, Salma. Dan mereka semua bukan wanita normal menurut Bizar.
"Baiklah, terimakasih."
Naraya turun dari mobil Bizar, membuka gerbang rumahnya dan kemudian disusul oleh Bizar.
Naraya mempersilahkan Bizar duduk dikursi yang berada diteras, sedangkan dirinya pamit untuk masuk terlebih dahulu mencari kedua orangtuanya.
Didalam rumah, Naraya mengipasi wajahnya yang terasa menghangat. Tangan kirinya mengelus dada, jantungnya berdetak tak berirama.
Sebenarnya dirinya sudah salah tingkah sejak pertama kali Bizar menyapanya, namun ia berusaha untuk menutupi nya. Wanita mana yang tak akan jatuh hati pada sosok sempurna seperti Bizar ? Naraya tidak munafik mengenai hal itu.
Saat tengah larut dalam lamunannya, Naraya dikagetkan suara sang adik.
"Haih kakak kenapa ? Itu yang diluar siapa ?" Tanya sang adik dengan senyum menggoda. Semakin merah pipi Naraya dibuatnya.
"Ayah sama Ibu belum pulang dek ?" Tanya Naraya mengalihkah perhatian.
Adiknya hanya mendengus tidak terima, bukannya dapat jawanban malah ditanya balik. "Udah, lagi ngeteh di taman belakang." Jawabnya.
Tanpa menanggapi sang adik, Naraya langsung menuju taman belakang mencari kedua orangtuanya. Ia tak enak hati meninggalkan Bizar diluar terlalu lama.
"Ayah Ibu, ada yang mau ketemu." Ucap Naraya setelah mencium tangan kedua orang tuanya bergantian.
Ayah dan Ibu Naraya menatap sang anak bingung. Siapa yang bertamu di jam sibuk sibuknya pulang kerja ini ??
"Siapa kak ?" Tanya sang ayah penasaran.
Naraya menundukkan kepalanya, dia malu dan bingung harus menjawab bagaimana.
"Hayo siapa ??" Tanya sang Ibu semakin menggoda nya.
__ADS_1
Dengan kepala yang semakin menunduk, Naraya menjawabnya. "Temen kakak Bu."
Mendengar kalimat teman, sang Ayah hanya mengerut kening. Tapi beberapa detik kemudian dirinya berdiri dan berlalu menuju teras depan.
Naraya dan sang ibu hanya mengikuti nya dari belakang.
"Ehh ada tamu, maaf ya masnya jadi nunggu lama disini." Ucap ayah Naraya dengan ramah saat sudah tiba diteras dan melihat Bizar disana.
Bizar langsung berdiri dan menyalami Ayah serta Ibu Naraya dengan sopan.
"Maaf mengganggu bapak dan ibu. Perkenalkan saya Abizar teman Naraya" Ucap Bizar memperkenalkan diri.
"Panggil saja Pak Faiz dan ini istri saya Nazra. Silahkan masuk, saya dengar dari Naraya kamu mau ketemu sama saya dan istri." Pak Faiz mempersilahkan masuk Bizar dan mengajaknya duduk diruang tamu.
Ketiga nya sudah duduk berhadapan, sedangkan Naraya diperintahkan untuk membuat minuman dan mengambil cemilan ringan.
Dirasa cukup tenang dan mendapat respon yang baik, Bizar memantapkan niatnya untuk mengutrakan maksud dan tujuanya.
"Jadi begini Pak Faiz dan Bu Nazra, saya terus terang saja dengan maksud dan tujuan saya ingin bertemu bapak ibu. Saya ingin memohon izin untuk mengenal Naraya lebih jauh. Mungkin ini terlihat begitu terburu-buru, padahal jujur saja saya baru berkenalan dengan Naraya beberapa menit yang lalu dan dengan lancangnya saya mengantar nya pulang. Saya mohon maaf sebelumnya." Ucap Bizar tenang. Siapa sangka lelaki yang bodo amat dengan sekitar bisa begitu serius di situasi seperti ini.
Melihat kewibawaan yang Bizar pancarkan, Pak Faiz diam diam mengulum senyum kebanggaan. Sudah dapat dinilai bahwa Bizar ini adalah sosok lelaki yang baik dan bertanggung jawab.
"Kami memaklumi nya, walaupun sebenarnya saya cukup terkejut dengan pengakuan mu yang baru berkenalan dengan putri kami siang ini. Melihat dirimu yang meminta izin pada kami, kamu adalah sosok laki laki yang beretika baik. Jadi, tidak ada alasan kami menghalangi pertemanan kalian bukan ?" Tanya Pak Faiz dengan senyum.
Bizar tersenyum tipis, namun ada ketulusan dibalik senyumnya. "Terimakasih bapak ibu, selain memohon izin saya juga ingin memohon persetujuan untuk saya dan Naraya bertukar CV, agar kami saling mengenal melalui ini tanpa harus mengenal dalam hubungan pacaran." Lanjut Bizar kembali mengutarakan isi hatinya.
Nazra yang sejak tadi hanya diam, saat ini menampil kan sebuah senyum simpul. "Apakah Nak Bizar ingin men-ta'aruf putri kami ?" Tanya nya dengan pandangan fokus pada Bizar.
"Maaf bu, lagi lagi mungkin ini terlalu cepat dan mengejutkan. Tapi jika memang bapak dan ibu setuju maka saya akan sangat menghargai itu. Tapi sekali lagi saya mohon maaf jika Ta'aruf versi saya ini jauh melenceng dari prosedur ta'aruf menurut islam. Tapi sedikit banyaknya saya berusaha untuk mengikuti prosedur itu walaupun tidak sesuai." Jelas Bizar dengan penuh kemantapan.
Jika sudah begini , apakah masih ada orangtua yang meragukannya ??
Naraya datang dengan membawa nampan, dan kemudian menyajikan teh dan beberapa cemilan ringan
"Kakak duduklah." Nazra meminta Nayara untuk duduk disampingnya.
"Saya juga tidak paham betul prosedur ta'aruf itu nak Bizar, tapi jika bisa kita jalankan sebagai mana mestinya tentu lebih baik. Saya meberikan persetujuan untuk itu, tapi kembali lagi kepada putri saya apakah bersedia atau tidak." Jawab Pak Faiz seraya menatap sang putri.
Nayara masih saja betah menundukkan kepala. Perasaannya tak menentu, pikirannya masih belum bisa mencerna kejadian ini.
Apakah doanya selama ini dikabulkan oleh Allah ?? Apakah sosok lelaki yang selalu ia adukan adalah Bizar ?? Kakak dari muridnya sendiri ??
"Bagaimana kak ?? Apa kakak keberatan atas permintaan Mas Bizar mengenai bertukar CV ini ??" Tanya Bu Nazra seraya menggenggam lembut tangan Naraya.
"Naraya bersedia Ibu." Jawabnya dengan suara lirih.
__ADS_1
Bizar tersenyum senang. "Baiklah, nanti kirim kan saja ke email saya dan saya juga akan mengirimkan nya. Ini kartu nama saya." Bizar menyodorkan kartu namanya dimeja.
Pak Faiz mengambil kartu nama itu dan membaca nya sekilas. Lagi dan lagi Pak Faiz dibuat tersenyum bangga setelah tahu siapa Bizar. Si pemilik kesekian dari resto nusantara terkenal dikota ini.
"Terimakasih nak Bizar, semoga ini menjadi langkah baik."
"Aamiin, saya juga berharap demikian pak. Sebelumnya saya mohon maaf telah menganggu, saya permisi." Pamit Bizar.
Pak Faiz dan Bu Nazra hanya mengangguk. Dan sebelum benar benar pergi, Bizar kembali menolehkan kepalanya.
"Maaf Naraya, setelah bertukar CV mungkin saya tidak akan menemui mu ataupun berkontak melalui sosial media denganmu. Tapi saya pastikan secepatnya saya akan datang kemari bersama orangtua saya setelah keluarga saya membaca CV dirimu." Ucap Bizar memberitahukan pada Naraya agar gadis itu nantinya tidak salah paham.
Naraya hanya mengangguk patuh.
"Maaf mas Bizar, tapi apakah boleh jika bapak yang menghubungi Mas Bizar ??" Tanya Pak Faiz sebelum Bizar benar benar pergi.
"Untuk sekedar bertanya kepastian, bapak tidak ingin ada kesalahan pahaman ataupun dari keluarga kami yang tidak ada persiapan seandainya nanti Mas Bizar datang kembali." Lanjutnya dengan senyum canggung.
Bizar mengangguk. "Silahkan Pak, saya tidak keberatan sama sekali." Jawabnya.
Kemudian Bizar benar benar pergi dari kediaman Naraya dan menuju rumah besarnya karena langit sudah terhias dengan sandyakala.
Setelah Kepergian Bizar, kini saatnya Naraya yang disidang oleh kedua orangtuanya. Bagai tersangka pencurian jemuran warga komplek, Naraya diintrogasi.
"Kakak jujur sama ayah, apakah laki-laki itu yang selalu kakak cerita kan pada ibu ??" Tanya Pak Faiz.
Naraya mengangguk.
Beberapa minggu yang lalu, Naraya mulai bangkit dari keterpurukannya pasca ditinggal menikah oleh kekasihnya. Hatinya perlahan membeku, namun saat tak sengaja bertemu dengan sosok lelaki yang saat itu menjemput adiknya disekolah tempatnya mengajar. Hatinya kembali menghangat.
Tapi dirinya tidak berani untuk berharap lebih, karena ia tahu lelaki itu bukan orang biasa. Walaupun dirinya terlahir dari seorang dokter tapi kehidupan nya hanyalah warga kelas menengah bukan orang kaya. Dan karena itulah ia hanya berdoa kepada Allah untuk jodoh yang seperti lelaki itu. Bukan lelaki itu.
Dan dirinya juga selalu menceritakan pada sang bunda setiap kali tanpa sengaja melihat sosok Bizar saat menjemput sang adik. Ia menaggumi lelaki itu, sungguh.
Tapi kini, lelaki itu dengan sendirinya datang padanya. Siapa yang akan menolak jika demikian ??
"Kakak yakin dengan Mas Bizar ??" Kali ini sang ibu yang bertanya.
"Kakak yakin ibu, kakak tau jika mas Bizar adalah orang yang baik dan dari keluarga baik. Adiknya sangat dekat dengan kakak saat disekolah ibu." Jawab Naraya.
Faiz dan Nazra tersenyum. Mereka juga tau betul bagaimana Bizar walaupun baru bertemu sekali. Orang yang benar benar baik akan memiliki aura yang sangat berbeda dari pada kebanyakan orang.
"Jika kamu sudah yakin, segera buat CV mu dan nanti biar ayah yang kirimkan. Semoga ini yang terbaik untuk putri ayah." Ucap Faiz seraya mengelus puncak kepala Naraya dengan penuh kasih sayang.
Ini jawaban dari doa anaknya setiap sepertiga malam. Walaupun tak tersebut nama, namun Allah Maha Tau apa yang diinginkan setiap hamba Nya. Allah Maha segalanya.
__ADS_1