
Hari ini Alvian tidak benar-benar mengesampingkan urusan kantornya. Buktinya sejak tadi dia sibuk dengan laptopnya samping sesekali melirik, bukan... bukan sesekali tapi sering kali dia menatap wajah-wajah di sampingnya yang sedang terlelap.
Dua wanita cantik yang berbeda generasi itu sedang terlelap dalam buaian mimpi indah sepertinya. Diam wanita inilah yang sangat Alvian sayangi saat ini setelah ibunya. Alvian bahkan berlama-lama memandangi wajah mereka yang terlihat damai. Sejak drama tadi siang Akhirnya Naima tertidur dalam pelukannya. Akhirnya Alvian merebahkan tubuh istrinya yang terlelap di samping gadis kecil kesayangannya. Setelah itu dia merenung, mencari jawaban kenapa sang istri tiba-tiba seperti ini. Namun entahlah dia pun tak memiliki jawaban pasti. Akhirnya dia memutuskan untuk mengerjakan urusan kantornya di dekat keduanya. Diam-diam dia membayangkan nanti ketika sudah dikaruniai seorang anak dan situasinya mungkin akan seperti ini. Dia pun tersenyum membayangkan semua itu akan terjadi suatu hari nanti. Ya itu adalah salah satu daftar mimpinya kini, mempunyai anak-anak yang lucu selain menjalankan peran sebagai seorang anak yang berbakti kepada ke-dua orangtuanya dia pun ingin memberikan kebahagian untuk istri dan anak-anaknya kelak.
Di Rumah sakit, Reynan terlihat mendampingi istrinya yang sedang kesakitan merasakan kontraksi, namun belum tiba waktunya untuk melahirkan. Kata dokter masih sekitaran beberapa jam ke depan sejak dari awal mereka kesini dan kini tiga jam telah berlalu. Reynan melihat istrinya yang semakin kesakitan walaupun Zahra tidak terlalu memperlihatkannya namun dia tahu dari cengkraman tangannya yang sesekali lebih menekan kadang meremas seprai terkadang memegangi lengan suaminya dan mencengkram nya lebih erat.
Mama Siska dan Papa Bagas pun yang tadi dikabari sekarang sudah sampai di rumah sakit dan menunggu diluar ruangan dengan cemas, sesekali Mama Siska akan masuk keruangan melihat keadaan menantunya sedangkan kedua orang tua Zahra masih di perjalanan menuju rumah sakit.
__ADS_1
Ini adalah kelahiran pura ke-dua mereka namun bagi Reynan ini adalah pertama kalinya dia mendampingi sang istri. Ketika Kinanti lahir dia tidak mendampingi istrinya dan itu membuat dia merasa bersalah. Kesakitan seperti ini pasti di alami istinya ketika melahirkan Kinanti dulu dan dia kala itu sedang terbaring koma. Dia membayangkan sang istri pastilah lebih berat menjalani Persalinannya dulu karena tidak ada suami yang mendampinginya. Semua itu membuat Reynan meneteskan air matanya. Rasa bersalah semakin menyerangnya membayangkan kesakitan yang sama yang dirasakan istrinya sekarang.
" Maaf... " Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya. mengecup kening sang istri yang mulai berkeringat samping menggenggam tangannya seolah-olah menyalurkan kekuatan.
" Untuk? " keningnya mengerut dan sempat mengulas senyum tipis melihat suaminya terlihat rapuh, seakan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
" Atas kesalahanku dulu yang tidak mendampingi mu saat melahirkan Kinanti, Mas, telah membiarkan kamu berjuang sendiri merasakan semua kesakitan ini."
__ADS_1
' Dan dukungan dari adikku juga' tiba-tiba saja sisi lelaki Reynan muncul dan pertanyaannya ini hanya terucap dalam benaknya saja. begitu saja. ' Apa dulu dua yang mendampingi mu seperti ini?' Sisi cemburu Reynan muncul begitu saja bakan selama ini dia tidak merasakannya. Kemana Reynan yang begitu bijaksana ketika menyikapi sesuatu yang terjadi padanya, termasuk ketika tahu hubungan istri dan adiknya dimasa lalu. Kenapa... kenapa sekarang rasanya dia ingin marah ketika dalam keadaan seperti ini.
Melihat sang suaminya yang tiba-tiba diam dan raut muka nya berubah Zahra seolah tahu apa yang tengah dipikirkan sang suami.
" Dulu ketika melahirkan Kinanti, sakitnya tidak seperti ini Mas, mungkin dia tahu bahwa ayahnya tidak mendampinginya kala itu. Walaupun aku sendiri berada dalam ruangan seperti ini. Ketika itu bukan kontraksi yang membuat aku sakit tapi melihat kamu yang terbaring tak sadarkan diri Mas, itu jauh membuat aku sakit." Sebuah penegasan membuat Reynan kembali pada rasa bersalahnya.
" Maaf dan Terima kasih atas semuanya. Maaf karena pernah membiarkanmu berada dalam masa sulit sendirian dan Terima kasih telah menjadi pendamping Mas, melengkapi setiap kebahagiaan dalam hidup Mas. Sekali lagi terimakasih telah mau berjuang dan bertahan disisi Mas. " Mereka saling menggenggam dengan erat memberikan kekuatan satu sama lain. Keduanya mempunyai harapan yang lebih baik untuk masa depan mereka. Reynan pun segera menepis pikiran buruknya, dia yakin istrinya telah begitu setia mendampinginya selama ini dalam suka maupun duka. Apa mungkin dia masih meragukannya, itu rasanya tidak adil.
__ADS_1
Happy readingπππ
terimakasih atas dukungan kalian, jangan lupa like dan komennya ya. ππ