
Entahlah kabar kebahagiaan ini membuat Naima sedikit sedih, bukan karena sedih karena kehamilannya bukan itu namun sedih karena kalau dia hamil harus berhenti bekerja di perusahaan. Naima sudah membayangkan hari-hari kesepiannya di rumah sebesar itu. Apa yang akan dia lakukan. Namun dia pun tidak ingin membantah keinginan suaminya yang menyuruhnya hanya menjadi ibu rumah tangga ketika hamil dan punya anak.
" Nay, apa yang kamu pikirkan?" Di tengah-tengah keluarga sedang berbahagia Naima kelihatan murung, maka dari itu Alvian pun menegurnya.
" Eh...iya Mas, kenapa?" Naima kaget dan sedikit gugup takut suaminya bisa menebak apa yang dia pikirkan.
Untungnya Alvian mengira Naima tengah sensitif dan mudah lelah karena faktor kehamilan. Karena itu Alvian pun segera mengajaknya pulang untuk beristirahat.
Baru saja mereka berdua mau meninggalkan ruangan itu, Tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka di sana tampak Zahwa beserta suaminya. Zahwa terlihat tengah hamil besar. Disusul dibelakangnya Rania bersama Anand dan juga anak keduanya, seorang putri yang bernama Zulfa.
Zahwa yang memang sudah mengenal Naima sebelumnya, dia pun mendekati Naima dan saling bertanya kabar. Rania pun di perkenalkan juga oleh Zahwa dengan Naima. Setelah saling sapa dan bertanya kabar Alvian pun pamit pada semuanya. Para orang tua pun berpamitan dengan alasan ingin mencari makanan di kantin rumah sakit, begitupun dengan Reynan, dia ingin memberikan ruang untuk istridan teman-temannya, tak lupa dia mengajak Kinan bersamanya. Sedangkan Arjuna tadi langsung pamit karena akan menjemput dua keponakannya yang akan berlibur di rumahnya.
Zahra sebenarnya cukup terkejut dengan kedatangan mereka. Kalau Zahwa sudah pasti tahu karena dulu mantan karyawan suaminya sebelum dia hamil besar seperti sekarang mungkin dia tahu dari rekan kerjanya dulu. Tapi Rania... Zahra sungguh tidak menyangka. Namun ternyata Rania sedang ikut suaminya bertugas di kota ini. Awalnya ingin ketemuan dan mengajak berkumpul seperti biasa, tak disangka ketika menghubungi Zahwa, dia berencana menjenguk Zahra di rumah sakit karena telah melahirkan.
" Aduh lucunya...ponakan tante." Rania menatap gemas pada bayi yang baru beberapa jam saja dilahirkan kedunia ini.
" Iya Ra, lucu banget ganteng lagi kaya Ayahnya. Ups... " mereka pun tertawa bersamaan.
" Namanya siapa Ra?" Tanya Zahwa sambi berjalan mendekati ranjang setelah tadi mengikuti Rania melihat bayi laki-laki yang begitu menggemaskan.
__ADS_1
" Namanya Albiruni Bagaskara Wijaya." Zahra mengucapkannya sambil menatap lurus pada box bayi yang berada agak jauh dari ranjangnya.
" Pas banget emang namanya juga cakep." Rania menimpali.
" Nama itu Mas Rey, yang memberikannya.
" Sampai kapan kamu di kota ini?"Tanya Zahra pada Rania yang sibuk dengan celoteh anaknya karena suster yang mengasuhya sedang menunggu di ruangan bermain bersama anak ke duanya.
" Kira-kira sekitar dua mingguan lagi deh."
" Anand kamu lucu banget sih, masih aja bawel kaya dulu." Zahwa mendekati Anand dan mencubit pipi chubby nya.
"Ya ampun Ran, anakmu masih aja jutek kaya dulu." Zahwa semakin gemas pada anak yang kecil yang berubah gembul itu.
" Oh...ya Ra, tadi kenapa kamu tanya aku berapa lama lagi disini?"
" Kamu berarti bisa dong nanti datang ke rumah ketika syukuran kelahiran Albi. "
" Pasti Ra, kalau aku masih disini, aku pasti datang." ucap Rania yakin.
__ADS_1
Mereka pun asyik bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing, begitupun dengan pertumbuhan anak mereka. Sampai-sampai mereka lupa bahwa disini adalah rumah sakit dan ada seorang bayi, mereka tertawa bersama sampai membuat Alby menangis kencang barulah mereka sadar keberadaannya ini telah membuat gaduh ruangan. Sedangkan Anand malah terlelap dan tidak merasa terganggu. Dia tertidur di sudut sofa ruangan setelah kenyang minum susu yang dibelinya dikantin rumah sakit.
Sepertinya kedatangan kami telah membuat kegaduhan deh Ra," Ucap Zahwa merasa bersalah karena Alby menangis kencang.
" Menang sudah waktunya kali dia minum ASI, kan dari tadi dia anteng tidur gak keganggu sama sekali."
Dan mang kebersamaan mereka sudah cukup lama sehingga Arjuna sudah datang mengajak istrinya pulang, begitupun dengan Reynan yang juga masuk keruangan bersama Kinanti.
" Yah aku belum ada yang jemput nih." Rania sibuk dengan ponsel nya melihat barangkali sang suami menghubunginya.
" Santai aja, tuh Anand juga masih nyenyak tidur." Zahra berkata sambil menunjuk ke arah Anand dengan dagunya. Dan memang benar anak itu benar-benar nyenyak tak terganggu dengan suara berisik. Namun baru saja Zahwa pamit, terdengar dering ponsel Rania, ternyata suaminya Rania pun sudah menunggu di parkiran rumah sakit.
" Oke kalau gitu kita pamit ya Ra... " Mereka sepertinya masih kangen dan memang obrolan mereka kalau bertemu tidak akan pernah ada habisnya. Mereka pun berpisah dengan drama pelukan dan cipika-cipiki.
" Rey, kita balik dulu ya." pamit Arjuna pada Reynan. Mereka memang tidak terlalu akrab namun sekedar basa basi dan karena kedekatan istribmereka yang membuat mereka pun mengakrabkan diri.
Happy readingππππ
jangan lupa mampir di karyaku yang lain ya.. yang berjudul Mencintaimu dalam diam. Sudah dikit-dunit aku revisi ya bab nya.
__ADS_1