
Akhirnya hari-hari yang di tunggu oleh Alvian dan Naima datang juga. Sejak pagi keluarga Bagaskara sudah sibuk untuk mempersiapkan keberangkatan.
Mama Siska yang sibuk dengan barang bawaannya, Tante Rima yang sibuk berhias juga beberapa keponakan yang memang akan ikut mengantar. Reynan akan berangkat bersama istrinya dan juga mertuanya. sedangkan Kinan akan berangkat satu mobil dengan Alvian, Papa Bagas dan Mama Siska. Ada dua mobil lain yang membawa keponakan serta tantenya Alvian dan juga satu mobil terakhir yang berisi barang-barang hantaran untuk lamaran. Tak lupa setiap mobil ada seorang sopir yang mengemudi dan akan mengantarkan mereka ke Bandara. Ya mereka akan naik perawat menuju ke sana. Jika memakai mobil pastilah mereka harus berangkat dari sejak kemarin. Namun dengan naik pesawat walaupun berangkat pagi ini, mereka semua masih bisa beristirahat dahulu di hotel sebelum acara lamaran di mulai. Beruntung acara lamaran akan diadakan malam hari, jadi mereka akan beristirahat dengan cukup di sana.
Jantung Alvian berdegup kencang, ini merupakan hari yang mendebarkan untuknya, walaupun hatinya tidak ingin lagi menerka-nerka. Benarkah semua keputusan yang telah diambilnya.
Sungguh ini bukan waktunya untuk bertanya tentang perasaannya.
Sekarang dia hanya ingin tetap berjalan lurus kedepan tanpa lagi berbalik kebelakang. menoleh pada masa lalu yang hanya menjadi kenangan. Alvian sudah memastikan bahwa seseorang dimasa lalunya sudah bahagia dan diapun kini harus bisa bahagia untuk masa depannya bersama Naima. Wanita yang dia percaya telah bisa mengisi hatinya kini.
Mobil mereka pun satu persatu mulai meninggalkan halaman rumah Reynan. Itupun setelah Mama Siska memastikan tidak ada yang kurang apalagi tertinggal.
__ADS_1
Mobil-mobil mereka mulai membelah jalanan yang lengang. Mereka memang sudah memperhitungkan untuk jam keberangkatan, sedikit saja terlambat mereka akan mengalami kemacetan.
Kinan terlihat sangat senang dengan perjalanan ini, bagaimana tidak baru kali ini dia akan merasakan naik pesawat. Kinan yang cerewet memang selalu mengatakan bahwa dia ingin sekali mencoba naik pesawat terbang, namun sayang kedua orangtuanya belum sempat memenuhi permintaan sang putri. Apalagi kondisi ibunya yang sedang hamil, membuat sang ayah membatalkan rencana liburan yang telah mereka susun jauh-jauh hari.
Namun sekarang sepertinya keinginan Kinan terkabul, maka dari itu dia begitu riangnya di perjalanan
Di mobil belakang yang di tumpangi Reynan dan juga Zahra terlihat mengikuti lajur mobil depan dengan kecepatan sedang. Zahra yang baru pertama kalinya akan melakukan perjalanan jauh apalagi menaiki pesawat, merasa sedikit cemas apalagi sekarang dia tengah hamil. Walaupun sebelumnya mereka telah berkonsultasi dahulu dengan dokter kandungan yang biasa memeriksa kandungan Zahra. Dokter mengatakan bahwa kandungannya sudah cukup kuat dan boleh melakukan perjalanan jauh termasuk menaiki pesawat. Namun tetap saja dia seorang ibu yang akan tetap khawatir. sebelumnya memang Reynan memutuskan untuk tidak ikut namun Zahra merasa tidak enak jika tidak menghadiri acara lamaran Alvian. Alvian adalah satu-satunya adik dari suaminya, Zahra yakin Reynan tidak ingin melewatkan kesempatan hadir dalam acara tersebut.
Sampai di sana mereka di jemput oleh beberapa supir perusahaan yang sudah Alvian siapkan dari hari-hari kemarin. Mereka menuju hotel untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum nanti malam acara akan dilangsungkan.
Namun bukan Kinan namanya jika dia bisa diam saja. Lihatlah dia yang merengek ingin melihat candi yang berada di sana. Dia teringat cerita temannya yang pernah berkunjung ke kota ini dan berkunjung ke candi Borobudur. Kinan sangat penasaran, makanya dia begitu bersemangat. Dia merajuk sama semua orang, menempel pada Dady nya. Namun bukan Alvian jika tidak bisa membujuk gadis kecil itu. Sekarang dia sudah diam dan berbaring sambil memeluk boneka kesayangannya yang sengaja dia bawa tadi. Setelah di bujuk dan dijanjikan bahwa besok akan diajak berkeliling kota Yogyakarta bersama calon Mami nya. Akhirnya dia pun diam. Namun entah jika besok tidak berangkat, maka kinan sudah pasti akan merengek terus dan tidak bisa dibujuk lagi.
__ADS_1
Biarlah, Alvian hanya ingin beristirahat untuk sekarang. mengistirahatkan pikiran dan juga badannya yang lelah setelah perjalanan.
Setelah salat magrib mereka pun bersiap menuju rumah Naima. Seperti tadi pagi, maka kali ini pun Mama Siska yang terlihat paling sibuk memastikan semuanya. Setelah semuanya siap maka mobil yang ditumpangi mereka pun perlahan bergerak melewati jalanan yang lumayan padat namun masih terbilang lancar. Beruntung Hotel yang mereka tempati tidak berjarak terlalu jauh dari kediaman Bu Rahma.
Mobil pun sampai di sebuah lapangan yang tidak jauh dari rumah Naima. hanya berjarak beberapa meter saja. Mobil mereka pun di parkirkan di sana. Mereka berjalan beriringan menuju rumah Naima.
Ketika jarak yang sudah semakin dekat, terlihat beberapa kerabat Naima menyambut kedatangan keluarga Alvian. Keluarga mereka disambut dengan sangat baik di sana. Acara lamaran yang mendebarkan pun berlangsung dengan lancar dan dilanjutkan dengan ramah-tamah dua keluarga. Mereka mencoba saling mengenal dan mengakrabkan diri. Apalagi Mama Siska dan Bu Rahma mereka terlihat sudah akrab saja membicarakan masa kecil anak-anak mereka dan juga membicarakan masa depan mereka. Karena tanggal pernikahan pun sudah ditentukan. Tidak lama lagi kedua paruh baya tersebut akan berubah status dari baru mengenal menjadi besan. Bu Fatimah pun melengkapi keakraban mereka setelah tadi berbincang dengan calon menantu sang besan. Akhirnya mereka larut dalam obrolan anak-anak mereka apalagi setelah Tante Rima, Zahra dan juga Naima yang bergabung dengan mereka.
Ketika para wanita larut dalam nostalgia dan masa depan, maka para pria lebih serius membicarakan tentang pekerjaan dan perusahaan. Paman Handi yang merupakan paman dari Naima. Adik dari almarhum ayahnya Naima yang ternyata datang dari kota yang jauh, menyempatkan diri menghadiri awal dari hari bersejarah keponakannya. Dia merasa bertanggungjawab atas Naima, kepo akan yang dititipkan oleh mendiang sang kakak agar kelak ia menjadi walinya ketika menikah. Sania yang sepertinya bosan dengan obrolan para orang tua lebih memilih beristirahat terlebih dahulu. Apalagi dia besok pagi ada jadwal mata kuliah penting yang tidak boleh dilewatkan.
Happy reading 💜💜💜
__ADS_1
sebelumnya author minta maaf karena sudah lama tidak up. terimakasih yang masih setia dan menunggu kelanjutan cerita Naima dan Alvian.