
Matahari sudah mulai terik. Keluarga Dirgantara beserta dua tamu spesialnya memilih untuk duduk santai diruang keluarga. Menikmati pagi yang cerah dengan sekedar berbagi obrolan serta menikmati teh hangat dan kudapan ringan.
"Ada agenda apa hari ini Mas Luthfi ? Nggak lagi sibuk kan ?" Juan memilih untuk mengobrol dengan Luthfi.
"Rencana mau nganter Ghifa potong rambut Yah, kemaren nggak jadi." Jawab Luthfi dengan sopan. Dirinya sudah lebih terbiasa dan tidak secanggung seperti sebelum-sebelumnya.
"Loh ayah kira udah, ayah kemaren juga mikir itu rambut yang mana yang dipotong." Ujar Juan seraya memandang Luthfi meminta penjelasan.
Luthfi menatap Syauqi yang berada disamping nya, meminta persetujuan apakah dirinya harus mengatakan apa yang terjadi kemarin sore hingga gagal mengantar Ghifa potong rambut.
Namun bukan persetujuan yang Luthfi dapat, malah Syauqi sendiri yang buka suara. "Kemaren ada kejadian dramatis Yah, kakak hampir kemakan rayuan biawak buntung." Ucap Syauqi.
"Kamu diajak balikan lagi sama mantan kak ?" Tanya Juan yang paham siapa biawak buntung yang Syauqi maksudkan.
Syauqi hanya mengangguk.
"Ada yang kebakaran juga kemaren Yah, sampek ada yang nelpon adek sama abang buat jadi pawang hujan." Kahfi menyahut. Masalah kemarin juga ada campur tangannya kan.
"Kalo diliat dari kakak sama mas Luthfi sih kemaren abis ada adegan kayak didrama drama gitu, ga mungkin kan langsung baik-baik aja ?" Ucap Shena menimpali.
Bisa Shena simpulkan dari ucapan anak bungsunya tadi jika kejadian yang Syauqi katakan diketahui oleh Luthfi. Dan demi hubungan keduanya, salah satu diantaranya meluluhkan egonya dan akhirnya saling mengungkapkan rasa.
Jika tidak demikian, tidak mungkin ada cerita yang kebakaran dan belum tentu dua manusia yang sedang duduk berdampingan ini masih bisa saling bertukar senyum.
"Demi hati, kakak mengakuinya Bun." Jawab Syauqi. Dan benar bukan tebakan Bunda Shena sipawang siluman ikan asin.
Semua hanya menanggapi dengan senyum.
"Kalu begitu saya dan Ghifa mohon pamit Ayah, Bunda, Bi, Kahfi. Saya juga izin membawa Syauqi lagi untuk menemani Ghifa portong rambut." Luhtfi akhirnya berpamitan.
Bizar mengangkat alisnya, tanda memiliki pemikiran usil. "Nemenin si boy apa nemenin elu mas ?" Tanyanya. Sekali kali menggoda calon ipar apa salahnya yakan ?
Luthfi yang ditanya demikian hanya tersenyum kikuk. Jika tidak dihadapan Juan dan Shena mungkin dia akan menjawab untuk menemaninya, tapi kali ini apa ? Sekedar mengatakan tidak atau iya saja dirinya takut.
"Kalo ayah jawabnya dua-duanya, nemenin saya iya juga nemenin Ghifa iya juga." Saut Juan dengan tawa.
Ah ada ada saja anak-anaknya ini jika menggoda orang.
"Tuh mas, belajar dari ayah." Sambung Kahfi.
"Udah ayok berangkat, 5 detik tidak ada pergerakan aku masuk kamar balik tidur mas." Ancam Syauqi yang ternyata sudah siap untuk pergi.
Tanpa banyak kata, Luthfi langsung berdiri tegak.
"Ayok boy potong rambut dulu keburu Mommy marah, papi belum upgrade cadangan mental." Ajak Luthfi pada sang anak yang asik bermain game di ponsel Bizar.
Mendengar ucapan Luthfi yang spontan membuat Syauqi mendelik kesal, apa apan itu tadi ?
__ADS_1
Yang lainnya hanya bisa tertawa.
"Ahh papi mah penakut, nanti kalo mommy direbut orang papi ga berani lawan lagi." Oceh Ghifa seraya berdiri dan menghampiri Syauqi.
Luthfi hanya mendengus, anaknya ini kapan bisa tidak merendahkan nya dihadapan orang lain. Apalagi ini dihadapan calon mertua.
Apa kata mereka nanti.
"Papi tidak selemah itu boy."
"Udah buruan berangkat jangan malah berantem. Ayah sama anak kok udah kayak bujang lapuk saingan dapetin anak gadis orang." Saut Shena dengan tertawa.
Lucu juga pasangan ayah dan anak ini.
*****
Desiran angin siang menemani perjalanan kali ini. luthfi menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju babershop langganan.
Diantara ketiganya tidak saling bicara, karena terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Hingga kini ketiganya sudah sampai ditempat tujuan.
"Ahhh tau gini bawa cemilan tadi." Gerutu Syauqi yang duduk santai disofa yang telah disediakan seraya membaca majalah.
Dirinya suntuk, bahkan sedikit bosan. Karena ternyata yang potong rambut bukan hanya Ghifa tapi Luthfi juga melakukannya.
"Maaf sayang, aku juga sekalian mumpung ada waktu." Ucap Luthfi yang datang menghampiri. Dirinya lebih dulu selesai dibandingkan Ghifa.
Maklum anak anak suka banyak drama.
"Iya nggak apa apa." Jawab Syauqi sedikit cuek. Tapi matanya terus menatap Luthfi tanpa berkedip.
'Bener kata orang, kalo cowo udah potong rambut ketampanannya naik 3 level.' Batin Syauqi mengagumi.
"Kamu bosen pastikan ?"
"Lumayan" Syauqi mengalihkan perhatiannya, takut Luthfi memercik ulahnya.
Sedangkan Luthfi yang sejak awal sudah tau, hanya mengulum senyum.
"Sekali lagi maaf ya." Luthfi mendudukkan dirinya disamping Syauqi seraya menunggu bujang kecilnya selesai.
Dan tak berselang lama, akhirnya Ghifa selesai juga mendrama dengan mas mas baber shop.
"Gimana, Ghi udah tambah ganteng kan ya ??" Tanya nya dengan menyunggar rambutnya kearah belakang.
Beh pede gilak !!
__ADS_1
"Ganteng kok pakek banget." Jawab Syauqi mengangguk.
"Kalo sama Pa....."
"Kalian berdua udah ganteng banget, mommy suka dan sayang oke." Syauqi memotong ucapan Ghifa. Dirinya tau kemana arah pembicaran sang bujang kecil.
Dan jika diladeni maka akan memakan waktu lama. Syauqi sudah cukup bosan dengan suasana babershop ini.
"Kita pulang aja oke." Ajak Syauqi kemudian.
Tanpa bantahan, kedua bujanh beda generasi itu melangkahkan kakinya mengikuti ibu ratu yang sudah lebih dulu beranjak.
Hingga akhirnya ketiga nya saat ini berada ditengah jalanan raya dengan panas matahari yang teramat terik membahana.
Bersyukur saja tidak ada macet hari ini.
"Eh mas kita mau kemana ?? Bukannya simpang ke komplek perumahan kamu masih jauh didepan ??" Tanya Syauqi saat menyadari jika arah mobil yang ditumpanginya tidak pada jalan semestinya.
"Mau cari jalan yang lebih sejuk, daerah sini kan banyak pepohonan." Jawab Luthfi yang masih percaya diri.
"Ini bukan jalan biasanya loh papi, simpang yang biasa kita lewati masih didepan bukan sih ??" Ghifa menyuarakan pendapatnya. Otak google mapnya mulai beroperasi.
"Ahh masak iya ??"
"Mas kita gak nyasar kan ??" Tanya Syauqi meminta penjelasan.
"Liat papi udah sejauh ini nggak ada indoapril, ini jalanan ke rumah Opa kayak nya deh." Lagi-lagi Ghifa berpendapat.
Setelah mendengar ucapan sang anak, Luthfi mulai mengamati sekeliling dan benar saja dirinya sudah salah belok simpang.
"Lah iya ini arah kerumah opa boy. Jadi gimana ??" Tanya Luthfi meminta pendapat, tapi dirinya juga tak menghentikan mobilnya.
Syauqi menghela nafas. Bisa bisa nya lupa jalan.
"Mampir aja kalik Pi, minta makan siang." Jawab Ghifa.
"Boleh. Kita mampir kerumah Papa ya Qi, gak papa kan ??" Tanya Luthfi meminta pendapat Syauqi.
Agak lama Syauqi tidak menjawab, bahkan keningnya berkerut seolah sedang berpikir dengan pertimbangan yang begitu berat.
"Gimana ??" Tanya Luthfi sekali lagi.
"Mmm aku nggak bawa apa apa mas, dan aku nggak ada persiapan buat ketemu orang tua kamu." Jawab Syauqi dengan wajah sedikit panik.
"Jadi ..??"
"Gimana kalo aku mampir nya kapan kapan aja mas ???"
__ADS_1