
" Ayo duduk di sini Nak!" Mama Siska menatap Naima dengan tatapan lembut. Menepuk-nepuk tempat duduk disampingnya, mengisyaratkan Naima agar duduk disebelahnya. Naima pun duduk di samping Mama Siska.
Di sana ada Bu Fatimah dan juga Tante Rima, mereka semua menyambut Naima dengan hangat.
" Gabung di sini Nay, jangan berduaan melulu. Nanti ada setan lewat." ucap Tante Rima sambil terkekeh. Naima hanya tersenyum saja mendengar candaan tantenya Alvian itu.
" Jangan heran Nay, Tante Rima memang suka bercanda." kali ini Zahra iyang berbicara. Dulu pun Tante Rima selalu menggoda Zahra dan Reynan ketika mereka baru menikah. Mungkin dulu Zahra tak bisa berkata seperti itu dengan ringan karena pernikahannya dahulu kan seakan mendadak. Bahkan dia pun belum mengenal Reynan seperti apa.
" Kamu kenal dimana si Al?" Tante Rima bertanya sambil menatap Naima yang sepertinya canggung duduk diantara mereka.
__ADS_1
" Sudah, sudah jangan ganggu calon mantu ku, kamu nanti membuat dia takut Rim," kali ini Mama Siska yang berbicara, melihat Naima hanya menunduk saja.
" Biar saja, aku kan penasaran dengan pertemuan mereka. Alvian kan terlihat cuek, aku bahkan tak pernah tahu dia punya hubungan dengan siapa. Padahal dulu ketika kecil dia dengan denganku kan, mbak?" Nanti Rima menoleh pada Mama Siska. Mama Siska pun mengangguk mengiyakan. Memang dulu Alvian ketika kecil sering menginap di rumah Tante Rima.
" Naima ini sekertarisnya Alvian di kantor." Kali ini Zahra malahan yang menjawab pertanyaan Tante Rima.
" Wah, bahaya mbak. Mereka bertemu setiap hari loh" Tante Rima kali ini tersenyum sambil menatap Naima yang yang tersipu malu.
Di ruangan lain, dimana para lelaki sedang berdiskusi masalah pekerjaan yang dilanjutkan dengan pembahasan tentang lamaran yang akan dilangsungkan Minggu depan. Semua keluarga sudah sepakat, tidak akan mengulur waktu untuk sesuatu yang baik. Maka di mulai hari esok mereka semua akan disibukan untuk persiapan lamaran Minggu depan.
__ADS_1
Alvian pun hanya menurut saja, dia tidak diijinkan bicara untuk berpendapat. Semuanya akan diurus oleh orang tua Alvian juga Reynan kakaknya. Alvian hanya disuruh untuk mempersiapkan diri saja. Papa Bagas menasehatinya supaya menjadi seorang suami yang baik dan bertanggung jawab. Bukan hanya materi namun bentuk perhatian justru lebih dibutuhkan dalam suatu hubungan. Apalagi komunikasi, itu adalah salah satu yang terpenting dalam membina suatu hubungan. Apapun masalahnya harus di bicarakan dengan pasangan kita, jangan saling memendam suatu masalah karena akan menjadi bom waktu yang suatu saat akan meledak dan menghancurkan segalanya. Maka sebelum semuanya terjadi berhati-hatilah, bijaklah dalam mengambil keputusan. Itu semua adalah nasihat dari Papa Bagas, Alvian pun hanya terdiam mendengarkan. Begitupun Om Tio, sama dengan Papa Bagas diapun menasihati Alvian agar selalu menjaga keutuhan rumahtangga dengan tidak menunjukan ego masing-masing yang ingin Menang sendiri dan selalu merasa benar. Menurut Om Tio pernikahan bukanlah tentang siapa suami, siapa istri dan Mana tugas suami dan mana tugas istri. Meskipun semua sudah diatur sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya tapi tetap saja sebagai suami jangan selalu ingin dilayani sesekali suami juga harus melayani istri, sesekali memanjakan istri dari pekerjaannya tidak akan membuat Haraga diri sebagai seorang suami jadi terjatuh. Menurut Om Tio rumah tangga itu harus saling. Saling membantu dalam hal apa pun. Semuanya dilakukan bersama. Jika Papa Bagas dan Om Tio menasihati Alvian panjang lebar, tidak dengan Reynan. Reynan hanya memberi semangat pada adiknya itu. Reynan yakin Jika Alvian mampu menjadi seorang suami yang baik. Reynan percaya bahwa adiknya Alvian, kini sudah dewasa dan bisa bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan. Terbukti dalam hal pekerjaan pun Alvian tidak pernah gegabah dalam mengambil keputusan. Walaupun Reynan tidak membantu di perusahaan namun Alvian tak jarang akan meminta nasihat dan pendapat dari Reynan jika akan mengambil keputusan besar untuk perusahaan.
Mereka mengobrol sampai lupa waktu. Jika saja Reynan tidak menoleh pada jam yang tergantung didinding di belakangnya mungkin mereka akan mengobrol sampai pagi. Berbagi cerita dan nasihat tentang berumah tangga supaya menjadi contoh yang baik untuk Reynan juga Alvian yang serius mendengarkan obrolan Papa Bagas dan juga Om Tio. Reynan dan Alvian hanya menyimak saja dan sesekali menimpali jika mereka saling melemparkan candaannya.
Akhirnya pukul satu dini hari mereka membubarkan diri. Reynan masuk ke kamar dan melihat istrinya sudah terlelap. Begitupun dengan Papa Bagas dan Om Tio. Alvian pun malas untuk pulang kerumah walaupun dekat. Dia akhirnya memutuskan tidur saja di sofa ruang keluarga karena sudah tidak kebagian kamar. Kamar tamu di rumah Reynan hanya ada 4, yang tiga di isi para orang tua dan yang satu diisi oleh Naima.
Namun tidak perlu waktu lama Alvian pun terlelap setelah merebahkan tubuhnya di sofa .
Happy reading 💜💜
__ADS_1
Maaf mulai tidak bisa update setiap hari karena kesibukan di dunia nyata. 🙏🙏
tetap dukung ya🤗