IMAM KU

IMAM KU
Peresmian Label Halal


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 11.00 waktu setempat. Serangkaian acara sudah dilewati, dan juga sudah diakhiri sejak 1 jam yang lalu.


Kini semua orang yang terlibat dalam pernikahan 3 pasang anak manusia itu sedang mengistirahatkan diri dikamar masing-masing.


Untuk keluarga inti, semuanya berkumpul dirumah besar Dirgantara, yang mana banyak kamar tersedia disana bak penginapan.


Disaat semua orang sedang meluruskan punggung yang kaku, dan dua pengantin lainnya sedang bersiap untuk mengguncang ranjang, maka berbeda pula dengan pak duda dan istri gadisnya yang malah sibuk mengurus iblis kecil.


"Boyy, makanya kalo disuruh makan sayur yang nurut, semebelit kan." Omel Luthfi yang senantiasa jongkok didepan pintu kamar mandi.


"Please Papi, jangan ngajak ngobrol. Menteganya Ghi jadi masuk lagi karena malu mau keluar." Balas Ghifa dari dalam kamar mandi.


Sedangkan Syauqi hanya memperhatikan interaksi anak dan ayah itu dari jarak yang tidak jauh. Bukannya tidak perhatian pada Ghifa, tapi bocah ganteng itu yang menolak untuk Syauqi temani karena alasan malu. Padahal, bocah kecil itu sudah tertidur bersama Shena, namun karena perutnya bereaksi dan ingin mengeluarkan sesuatu, akhirnya ia memilih kabur mencari sang ayah.


Dan berakhirlah dengan Ghifa yang berjuang dikamar mandi karena sembelit dan Luthfi yang berjongkok didekat pintu.


Dengan begini, Syauqi sedikit merasa lega karena malam pertamanya tertunda. Jadi ia memiliki waktu untuk mempersiapkan mental dan batinnya serta tubuhnya yang akan diguncang.


"Aahhh lama banget sih boy, Papi ada kerjaan wajib nih." Lagi dan lagi Luthfi berteriak supaya sang anak segera menyelesaikan kegiatannya.


Dirinya sudah tidak sabar untuk mengoperasikan adik kecilnya kembali setelah hampir 5 tahun puasa.


"Sayang, ada yang bisa mommy bantu ??" Tanya Syauqi yang kini berdiri disamping Luthfi, tepat didepan pintu kamar mandi.


"Noo !!! Ghifa malu." Ya, masih jawaban yang sama persis saat bocah kecil itu datang kekamar ini mencari sang papi meminta bantuan.


"Hah, tinggalin aja lah ya. Mau buka puasa nih." Luthfi mengambil ancang-ancang untuk berdiri, maklum kaki nya sudah terasa kebas karena terlalu lama jongkok.


"Sabar dong mas, kasian anak kita." Cegah Syauqi saat Luthfi mulai melangkah kan kaki.


Sejak hari dimana mereka resmi menjadi calin suami dan istri, keduanya sudah tak lagi canggung. Dan juga Luthfi sudah tak seformal sebelumnya.


Luthfi mengusap wajah nya kasar. "Adik kecilnya mas udah tegak sejak tadi sayang, mau buka puasa. Hah, ada ada aja sih." Ucapnya seraya menunjuk pusaka miliknya yang sudah siap tempur.


Syauqi mengarahkan pandangannya pada apa yang ditunjuk sang suami, dan sedetik kemudian ia menelan ludah dengan kasar. Pikirannya langsung traveling kemana-mana hingga benua antartika bolak balik.


"Aduhh, kok reaksi yaa." Gumam Syauqi seraya merapatkan kakinya dengan wajah yang memerah, bahkan sampai ketelinganya juga.

__ADS_1


Luthfi tersenyum manis saat melihat reaksi sang istri yang sesuai harapannya. "Ayokk."


"Mass..." Syauqi menunjuk pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat.


Keduanya sama-sama menghela nafas, bukan nafas lega melainkan nafas pasrah dikala mengingat masih ada satu makhluk yang belum terselamatkan dari sembelit.


Akhirnya keduanya memutuskan untuk menunda malam pertama mereka, dan ntah kapan akan dilaksanakan mereka belum menentukan.


****


Dikamar lain, keadaan malah terbalik. Jika biasanya suami memegang kendali, tapi untuk pasangan ini malah istri yang mendominasi.


"Sayang, nggak mau unboxing aku yaa ?" Tanya Naswa seraya berkacak pinggang.


Mata nya melotot memperhatikan sang suami yang malah duduk bersila diatas ranjang bagaikan petapa yang mencari hidayah dibawah batu pecahan gunung berapi.


"Iya bentar, aku lagi ngumpulin keberanian buat goyangin kamu. Masih tutor dulu nih dari ingatan saat aku nonton film iya iya." Jawab Farhan tanpa dosa dan salah sedikit pun, bahkan saat ini matanya terpejam rapat. Padahal Naswa sekarang sudah hampir tak menutupi tubuh putih mulus nya.


Semenit, dua menit, tiga menit, Naswa masih menanti. Kesabaran nya masih bertahan hingga 5 menit kemudian. Namun untuk saat ini......


Bruuukkk


"Lagian itu nya udah tegak masih aja kalem, aku cuma nengok aja panas dingin tauk. Aku nggak tahan." Omel Naswa dengan sengit.


Dan sekarang pun tangannya mulai bergerak nakal, menjamah setiap inci tubuh sang suami. Farhan yang diperlakukan demikian hanya pasrah dan tentunya sangat menikmati.


Hingga beberapa saat kemudian, situasi berbalik. Farhan mulai mengambil kendali atas tubuh istrinya, dan terjadilah kegiatan panas namun membahagiakan bagi keduanya.


Pasangan yang sejahtera, berhasil dan sentosa.


* * *


Meninggalkan adegan iya iya tetangga kamar sebelah. Kini beralih ke kamar anak sulung Juan Shena.


Semua orang tau jika putra sulung Dirgantara dan istri menikah karena ta'aruf versi seorang Abidzar. Dan keduanya pun hanya terlibat pada perkenalan singkat yang kemudian menjadi  hubungan dunia akhirat.


"Buka aja hijabnya, kan kamu istrinya mas sekarang. Itu dikening dan hati udah dilabel halal." Ucap Bizar seraya menatap wajah malu-malu sang istri.

__ADS_1


Karena dasarnya Naraya adalah sosok yang penurut pada orang-orang terdekatnya, dengan perlahan Naraya melepas hijab instannya dan meletakkannya diatas meja rias.


"Iya mas, maaf"


"Nggak apa-apa, mas paham kok. Kamu belum terbiasa, dan mungkin ini juga terlalu cepat. Tapi mas minta kamu untuk mulai membiasakan diri." Ucap Bizar dengan lembut, dan kini pun dirinya sudah duduk tepat disamping sang istri.


Lagi dan lagi, Naraya mengangguk patuh.


"Boleh mas minta hak mas sekarang sayang ?" Tanya Bizar dengan hati-hati. Dirinya tidak mau memaksakan keinginannya pada Naraya. Dan jika istrinya itu menolak pun ia akan mengerti.


"Apakah sakit mas ?" Tanya Naraya dengan wajah yang merona. Jujur ia takut melakukan kewajibannya karena kebanyakan ilmu yang ia dapat, saat melakukan itu unyuk pertama kali akan terasa sakit dan pedih.


Bizar tersenyum. "Mungkin karena pertama kali akan terasa sakit, tapi setelahnya mas rasa tidak akan terasa sakit." Jawab nya tenang.


Ia pun sejujurnya tidak tau menahu soal itu. Kalo ditanya resep rendang, rawon, empal gentong nah paham dia melebihi sang bunda si ahli pedapuran Dirgantara.


"Mas juga nggak tau detailnya sayang, mas aja belajarnya dari film iya iya kemaren malem, supaya nggak salah dan nggak nyakitin kamu." Lanjut Bizar dengan iringan tawa ringan.


Yaa sebetulnya untuk Bizar sendiri juga sedikit takut untuk melakukan itu, tapi naluri pria nya sudah mendorongnya untuk segera mengesahkan label halal sang istri.


"Mas,"


"Iya"


"Kita nggak akan tau kalo nggak nyoba, tapi pelan-pelan ya mas." Ucap Naraya seraya menatap Bizar dalam.


Gadis itu tau jika sang suami sudah berhasrat sejak dirinya melepas hijab tadi, dan karena dirinya takut ia menjadi tidak terlalu peka.


Namun sekarang saat sang suami berada didekatnya, ia juga merasakan getaran yang mendorongnya untuk meresmikan label halal.


Bizar langsung tersenyum cerah, bahkan pusaka kebanggaannya semakin bereaksi ingin segera dipuaskan. "Terimakasih sayang, maaf kalo nanti mas ada kesalahan. Pengalaman pertama soalnya, kemaren berguru sama suami kakak eh dianya juga lupa caranya." Ucap Bizar.


Beberapa saat kemudian, akhirnya kedua pasangan itu saling memberikan sentuhan lembut dan ciuman hangat. Dan tak perlu waktu lama untuk pemanasan, kini dua anak manusia itu sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang. Ranjang perlahan terguncang, suara merdu mengalun seirama dengan peegerakan udara diruangan.


Walaupun sempat ada ketakutan untuk mencoba melakukan, namun akhirnya label halal yang disematkan pada keduanya kini sudah sah diresmikan.


Malam ini benar benar menjadi malam pertama bagi Naswa dan Farhan. Itupun juga berlaku untuk Bizar dan Naraya. Kedua pasangan itu berbahagia sentosa.

__ADS_1


Bagaimana dengan Syauqi dan Luthfi ? Ntahlah, mereka belum memutuskan kapan akan melakukannya karena Ghifa tak kunjung menyelesaikan sembelitnya.


__ADS_2