
•••••
Suasana hati Shena sudah dapat diajak berdamai, paling tidak sudah lebih tenang daripada hari kemarin. Juan juga bisa bernafas lega ketika istrinya tidak lagi menguarkan hawa dingin, terlebih lagi si kembar dan sang adik yang tak hentinya mengucapkan syukur atas kedamaian sang bunda.
Namun dengan berdamai nya Shena bukan berarti masalah kemarin akan dibiarkan berlalu begitu saja. Mau tidak mau, suka tidak suka semua anggota keluarga harus berkumpul di resto milik keluarga Dirgantara tak terkecuali Rudi beserta anak dan istrinya. Untuk Dion dan keluarga mendapat bagian kedua setelah urusan Shena dan Rudi selesai.
-VIP Room Dirgant Resto-
"Baru juga bisa napas eh engap lagi paru-paru adek." Keluh Kahfi dengan sorot mata memelas bak anak musang kehilangan taring, dan bukan Kahfi namanya kalo nggak ngeluh disituasi susah nafas seperti sekarang.
"Adek kan jenis binatang aer, napas pakek insang ya wajar engap kalo di darat." Saut Bizar, sebenarnya dirinya juga mulai engap tapi apalah daya sang bunda yang mendiskon asupan oksigen di ruangan ini. Pasrah adalah jalan terakhir bagi semuanya.
"Adek kan amphibi, bisa di aer bisa didarat. Buaya kan?" Sambung Sauqi, jika ditanya bagaimana dirinya sekarang mungkin lebih mengenaskan daripada Bizar maupun Kahfi. Jika keduanya hanya engap, lain hal dengan Sauqi yang kembang kempis ngumpulin nyawa.
Disaat ketiga pokemon sedang beradu pendapat untuk menghilangkan stress akibat kurang nafas, Shena dan Juan memilih diam. Mereka berusaha untuk setenang mungkin menghadapi Rudi dan keluarga nanti, sesulit apapun kenyataannya mereka tetaplah sahabat dimasa muda hingga hari ini.
"Assalamu'alaikum, maaf telat semuanya." Sapa Rudi dengan ramah, jika seperti ini bisa dipastikan bahwa Rudi sama sekali belum mengetahui perbuatan sang anak bujang yang kurang ajar.
"Waalaikumsalam, duduklah." Balas Juan dengan datar, sedangkan Shena memilih diam karena emosi nya kembali memuncak saat melihat wajah Pasha.
"Shen, lama nggak ketemu apa kabar?" Tanya Rania basa basi, dirinya menyadari jika Shena dalam keadaan tidak baik.
"Baik." Jawab Shena datar.
"Oh ya Wan, tumben ngajakin ketemu. Ada apa?" Tanya Rudi langsung terus terang, nggak biasanya Juan dengan mendadak mengadakan pertemuan yang mungkin terbilang sangat privat. Dalam pikiran Rudi hanya ada dua kemungkinan, yang pertama hal baik mengenai Sauqi dan Pasha atau yang terburuknya adalah kesalahan yang diperbuat anak bujangnya .
"Pertanyaanmu bagus, jadi aku nyuruh kamu kesini itu cuma mau minta kamu jadi saksi dari penjelasan putramu yang berlagak sok jadi buaya." Terang Juan tanpa basa-basi, langsung ke inti itu lebih baik daripada harus banyak pengantar.
"Maksudnya gimana ya Wan?" Tanya Rania yang belum paham dengan situasi saat ini, apa mungkin anak bujangnya berulah sehingga membuat Juan maupun Shena menjadi manusia es balokan.
"Maaf mbak sebelumnya, mungkin mbak belum tau permasalahan nya jadi lebih baik mbak dengerin penjelasan dari anak mbak Rania." Jawab Shena yang masih menampilkan raut datar.
"Bang kamu jelasin sekarang ada apa? Kenapa Om Juan sampek marah sama kamu, apa yang kamu lakuin dibelakang Papa?" Desak Rudi kepada Pasha yang hanya diam sejak masuk di ruangan itu, bahkan mengangkat kepala saja dirinya tidak berani.
"Kamu jelasin sekarang sebelum Papa kamu marah oke, kalo kamu salah, kamu minta maaf jangan lari dari masalah yang udah kamu perbuat." Ucap Rania seraya mengelus lembut lengan sang anak, menenangkan.
__ADS_1
"Papa bilang jelasin sekarang atau kamu nunggu Papa marah?" Tegas Rudi yang menaruh curiga terhadap sang anak. Jika para orang tua sedang beradu tatapan dingin nan tajam, lain hal dengan peranakan Shena dan Juan yang masih menikmati cemilan dengan santuy walaupun sedikit susah nafas dan keringat dingin yang mengucur.
"Mm Pa, Ma.... Pasha minta maaf, semua salah Pasha." Lirih Pasha dengan kepala yang masih menunduk, dirinya tak memiliki keberanian untuk menatap kedua orang tua nya dan yang lainnya, terutama Sauqi.
"Jangan bertele-tele, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Rudi dengan suara yang sudah meninggi, dirinya geram dengan sang anak, percumah dimasukin tentara tapi masalah beginian ciut nyali.
"Pa..pa..pasha nye..nyelingkuhin Sauqi Pa."
Plakkkk!!!
Pelan, bahkan terbata. Pengakuan yang membuat Rudi murka seketika bahkan tanpa sadar tangan nya melayang ke pipi sang anak dengan kencangnya .
"Dimana otak mu?? Seharusnya kamu sadar seberapa besar kepercayaan yang diberikan Om Juan, Tante Shena bahkan Bizar dan terutama Sauqi sendiri ke kamu? Papa juga memberikan kepercayaan padamu." Bentak Rudi pada akhirnya, dirinya sudah tak lagi mampu menahan amarah.
"Mama nggak nyangka kamu akan sebodoh ini, apa yang kurang dari Sauqi?" Tanya Rania menahan tangis, sungguh kecewa. Dirinya seperti tidak becus menjadi seorang ibu, bagaimana mungkin putra yang dibanggakannya berani menyakiti hati seorang perempuan.
"Aku menyesal Ma, Sauqi tidak kurang sedikit pun, dia sempurna bagi Pasha." Jawab Pasha yang semakin menunduk. Amarah orangtua nya tak seberapa tapi apabila Juan ataupun Shena yang akan marah setelah ini maka dirinya tak lagi ada kesempatan dihati Sauqi.
"Lalu kenapa kamu menyelingkuhi nya? Apa yang kamu dapatkan dari selingkuhanmu hingga kamu membuang permata?" Cerca Rudi dengan emosi, rasa bersalahnya kepada Juan membuatnya ingin melenyapkan sang putra detik itu juga. Jika mungkin biaya bumi ke mars murah pasti Rudi sudah mengirim Pasha untuk mengasingkan diri disana.
"Maaf pa, Pasha tergoda oleh rayuan Shazia hingga Pasha menghianati Sauqi." Jelas Pasha dengan ketakutan, amarah sang ayah tidak main-main sekarang.
Untuk kedua kalinya tamparan mendarat mulus dipipi Pasha. Kali ini bukan Rudi yang melakukannya melainkan Rania yang juga diliputi amarah serta kekecewaan.
"Kalian bertiga adalah sahabat , bagaimana mungkin kalian menghianati satu sama lain? Kalian tidakah berpikir bagaimana dengan Sauqi? Disini yang paling tersakiti adalah Sauqi, kamu harus nya sadar itu." Marah Rania, dirinya tak lagi mampu menahan air mata, dirinya juga perempuan itu sebabnya dia marah. Dia tau betul bagaimana dihianati, ditusuk teman sendiri, sebagai perempuan dirinya paham dengan apa yang Sauqi rasakan.
Jika Rudi dan Rania sedang diliputi amarah, lain hal dengan Shena dan Juan yang malah bengong nggak karuan. Dalam pikiran Juan, segalak-galaknya Shena, dirinya tidak pernah main tangan, sedangkan dalam pikiran Shena, dirinya mengucap syukur karena masih waras saat kesurupan, ya walaupun mencak-mencak tapi nggak sampek nampol anak.
Sedangkan 3 pokemon malah pura-pura nggak ada di ruangan itu, tetep lanjut makan tanpa ragu ataupun bimbang. Apalagi Sauqi yang namanya jelas-jelas kesebut tapi malah seakan dirinya tuli.
"Paha ayam menggoda, nyam nyam." Gumam Kahfi sambil lanjut makan ayam goreng ala upin-ipin. Daripada dengerin orangtua ngemeng bagusan juga ngabisin makanan, daripada mubazir begitulah pola pikir Kahfi.
"Dada dong dek nyus empuk daging semua." Lanjut Bizar yang memang sedang asik dengan ayam bakar bagian dada. Ngaku nya chef tapi jarang masak, lebih-lebih suka menjelajah negri buat makan-makan. Kalo urusan icip-icip mau ada perang barata yudha juga mana peduli.
"Gue makan ati aja udah, lagian sisanya itu doang." Balas Sauqi yang asik main ponsel tanpa menghiraukan semua orang di sekitar nya, baginya di ruangan itu hanya ada dia dan saudara kembar serta adik nya.
__ADS_1
Tanpa disadari, ternyata obrolan mereka diartikan lain oleh Rudi maupun Rania. Kedua orangtua itu menganggap apa yang diperbincangkan 3 saudara itu adalah sebuah sindiran, padahal kenyataannya memang mereka murni membahas makanan.
"Oh atau kamu udah pernah main fisik sama Shazia?" Sinis Rudi seraya memandang tajam sang putra. Sorot matanya mengatakan jika memang benar demikian maka tiada ampun untuk anaknya itu.
"Ahh anu paa itu...." Bingung, takut, bahkan tidak tau harus jawab bagaimana. Pasha seketika pucat dan mendadak berkeringat dingin. Bagaimana mungkin sang ayah langsung to the point dengan pertanyaan itu.
"Cukup!! Kalian teruskan nanti dirumah. Yang jelas sekarang kamu tau perbuatan anakmu. Aku bersyukur karena ini terjadi lebih cepat, setidaknya putriku tau mana yang terbaik untuk masa depannya." Ucap Juan sebelum Rudi kembali tersulut emosi dan mencakar habis anaknya, jangan sampai restoran nya tercemar hanya karena seorang polisi menganiaya anaknya.
"Aku sebagai orangtua tidak terima untuk hal ini, tapi aku akan berterimakasih jika kalian bisa membuat Pasha sadar akan perbuatannya yang hina." Sambung Shena dengan nadaa yang masih dingin, yang biasanya ngebanyol sambil mencak-mencak sekarang malah kayak es balokan.
"Satu lagi, aku harap Pasha tidak lagi berusaha mendekati putri ku. Kalian pastikan itu tidak akan terjadi, kami sudah memaafkan tapi tidak untuk memberi kesempatan kedua." Lanjut Shena memberi peringatan, sampai ketauan Pasha masih mengejar Sauqi jangan harap ampunan dari Shena si ratu singa afrika.
"Tapi tante, aku masih sayang sama Sauqi." Ntah keberanian dari mana, Pasha mengucapkan kalimat iti dengan tak tahu malu membuat Bizar memuntahkan daging dadanya yang empuk.
"Eh buaya rawa, lu kalo ngomong mikir pakek dengkul jangan pakek otak. Lu sayang sama adek gue? Sekarang lu bilang gitu, kemarin lu kemana anjir? Main sodokan? Ngejilatin noh leher jerapah, iya? Sampek lupa ama adek gue?" Bentak Bizar, dirinya sudah cukup lama diam. Tapi setelah kalimat menjijikkan terlontar membuatnya ingin menjadi rahwana.
"Bi, gue khilap kemarin. Gue gak maksud buat lakuin itu." Bantah Pasha membela diri. Bagaimana pun dirinya masih ada rasa untuk Sauqi.
"Gak sekalian khilap lu bikin anak? Gue gak percaya lagi omongan lu. Gue tau busuk lu, setiap adek gue nanyain kabar lu, jawabannya selalu susah sinyal karena diperbatasan. Tapi kenyataan nya lu komenan di Ig ama Shazia, lu kira gue gak tau? Seandainya gue gak tau masih ada Naswa, masih ada Farhan." Jawab Bizar dengan segala emosi jiwa, kalo nggak takut sama tatapan si bapak mah bogem mentah udah melayang.
"Lu jangan sembarang ngomong Bi!!" Bentak Pasha yang terbakar emosi, dirinya tidak Terima dengan setiap tuduhan yang Bizar lontarkan.
"Lu masih mau ngelak? Emak bapak gue udah tau kejadian itu, adek gue udah cerita semuanya. Mungkin disini yang nggak tau cuma orangtua elu. Lu yang pulang lebih awal nggak ngabarin adek gue, lu nggak pulang kerumah tapi kekontrakan, dan siang-siang uh ah uh uh pas adek gue dateng. Tiba-tiba perempuan ular keluar dengan keadaan lehernya udah keisep drakula buntung." Ucap Bizar panjang lebar, biarlah Rudi dan Rania tau bagaimana kejadian yang sebenarnya. Biar makin dianiaya tu umat, kapan lagi balas dendam tanpa menyentuh.
"Bang udah, bunda gak mau memperpanjang ini lagi. Lagian adek kamu lebih kuat daripada bunda, untuk kedepannya cukup jaga adek kamu dari laki-laki ini, berlaku juga untuk adek jaga kakak kamu." Ucap Shena memutuskan perdebatan sengit kedua bujangan itu.
"Wan, Shen. Aku minta maaf atas perbuatan anak ku. Aku gagal menjadi orangtua yang baik, aku gagal mendidiknya. Aku dan Rania minta maaf udah kecewain kalian, udah hancurin kepercayaan kalian, udah bikin putrimu terluka." Ucap Rudi lemah, rasanya dirinya tak lagi punya muka di hadapan Juan.
"Shen, mbak minta maaf ke kamu. Mbak tau apa yang kamu rasain, mungkin jika mbak diposisi mu mbak tidak akan setenang kamu yang sekarang." Sambung Rania yang memeluk Shena memohon maaf atas perbuatan putranya.
"Mbak nggak salah, seorang anak yang telah dewasa memiliki jalan pikirannya sendiri. Aku sebagai ibu hanya tidak Terima jika anakku disakiti oleh seseorang yang telah ku beri kepercayaan. Aku harap mbak tidak marah padaku jika aku meminta mbak menjauhkan Pasha dari Sauqi mulai detik ini sampai seterusnya." Jawab Shena seraya mengelus lembut punggung Rania, dia seorang ibu jadi sedikit banyaknya dia tahu apa yang dirasakan Rania saat ini.
"Kalian pulanglah, tenangkan diri kalian. Jika kalian ingin menyelesaikan masalah ini, itu sudah menjadi urusan keluarga kalian. Aku mengundang kalian kesini hanya untuk membuat kalian tahu perbuatan putra kalian terhadap putri ku." Ucap Juan yang masih mode datar, tak ada pelukan persahabatan semuanya terasa dingin. Bahkan makan saja tidak jadi terlaksana.
"Huuufftt, Om Tante maafkan Sauqi jika ada salah selama ini. Dan Pasha, gue minta maaf sama lu untuk semua kurangnya gue selama hubungan kemarin. Maaf juga gue nggak bisa lagi nerima lu dalam kehidupan gue sebagai apapun itu." Ucap Sauqi setelah mengehela nafas panjang, mulai hari ini dirinya akan memulai hidup baru tanpa ada seorang Pasha lagi.
__ADS_1
"Seharusnya kita yang minta maaf sama kamu, Om Tante gak bisa jadiin Pasha lelaki yang baik. Hingga akhirnya dia menyakiti mu. Maaf kan kami Sauqi." Jawab Rania pilu, rasa ingin menjadikan Sauqi sebagai menantu telah hilang sudah.
Keputusan Sauqi sudah bulat, dirinya tak lagi ingin jatuh dilubang yang sama. Seberapa keras usaha Pasha mengejarnya maka tetap tak ada kesempatan kedua. Karena yang memberi luka dalam tak akan pernah mampu menyembuhkan.