
Setelah membersihkan tubuhnya, Syauqi bergegas menyusul dua pangerannya untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah.
Tok tok tok !!
"Masuk aja mom !!" Teriak Ghifa dari dalam kamar.
Dan tak menunggu lama, Syauqi langsung masuk setelah mendapat intruksi dari bujang kecilnya. Dilihatnya dua pangeran pujaannya sudah mengambil posisi dengan Luthfi sebagai imam. Bahkan mukenah untuknya juga sudah disiapkan.
"MashaAllah, mommy tersentuh banget liat pemandangan ini." Ujar Syauqi seraya menghampiri kedua lelaki beda generasi itu.
"Kami kan manusia sholeh mom, jadi emang udah seharusnya mommy bangga." Ghifa mulai menyombongkan dirinya sendiri.
Luthfi hanya tersenyum. Setelah Syauqi siap mengenakan mukena nya, Sholat pun dimulai oleh Luthfi dan diikuti Syauqi beserta Ghifa.
Sholat maghrib hari ini terasa berbeda bagi Luthfi dan Ghifa.
Seusai melaksanakan 3 rakaat, Luthfi memimpin doa. Memohon ampunan segala dosa dan meminta atas segala keridhoan sang maha kuasa. Tak terkecuali mendoakan sang istri yang telah berada disisi sang Ilahi Rabbi.
**
Ketiganya kini sudah berjalan menuju dapur, dengan Syauqi diurutan paling belakang.
Saat berada diruang tengah, dirinya tak sengaja melihat photo pernikahan Luthfi dan almarhumah Maira terpampang didinding.
Hatinya terenyuh, kenapa wanita selembut dan seanggun Maira lebih cepat pulang ke pangkuan Nya.
"Mbak, kamu wanita anggun dan lembut. Aku mengagumi mu." Syauqi bermonolog. Matanya memandang lurus kearah photo yang terpajang.
"Aku tidak akan pernah mengantikan dirimu mbak, tapi aku memohon izin mu untuk melanjutkan tugas mu, menjaga mas Luthfi dan Ghifa." Lanjutnya dengan senyum tulus.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Syauqi langsung menyusul kedua pangerannya yang sudah duduk manis dimeja makan.
"Kamu mampir kemana dulu kok lama ?" Tanya Luthfi.
Syauqi tersenyum. "Ngoceh didepan photonya Mbak Mai." Jawab Syauqi.
"Lah mommy kayak nggak ada kerjaan. Kalo mau curhat besok aja didepan mama langsung jangan sekarang. Kita butuh makan." Saut Ghifa dengan bersungut-sungut. Maklum cacing diperutnya sudah demo jadi agak rese.
"Maksud kamu mommy suruh nyusul mama ke surga ?" Syauqi bertanya dengan wajah polosnya yang minta ditampol. Emang yaa otak hasil cuci gudang suka ngelantur.
"Ya nggak, maksudnya didepan pusara mama." Jawab Ghifa dan hanya ditanggapi Syauqi dengan nyengir kuda.
Luthfi yang melihatnya hanya mampu geleng kepala. Males nimbrung.
"Jadi mau dimasakin apa ?" Tanya Syauqi yang sudah ready dengan celemek.
"Makan diluar aja gimana ?" Bukanya menjawab, Luthfi malah balik nanya.
Syauqi memberengut, niat baiknya tidak ditanggapi. "Jadi nggak mau dimasakin ?" Tanyanya sedikit kecewa.
Ghifa yang paham situasi langsung nyaut. "Bukannya gitu mom, papi belom minta tolong aunty Manda belanja jadi nggak ada yang dimasak." Jelasnya.
Luthfi mengangguk tanda mengiyakan. "Lagian kan kita belum pernah makan bertiga."Ucap Luthfi cari aman, kalo udah di salah pahami gini jadi serba salah dan takut.
Seolah sedang menyelidiki sesuatu, Syauqi hanya diam dengan alis berkerut menatap Luthfi dan Ghifa bergantian.
Melihat tingkah Syauqi yang lain membuat Luthfi maupun Ghifa jadi semakin merinding.
"Gimana Mom ? Mau yaa, apa mommy mau masak goreng es batu pakek kecap ?" Ujar Ghifa memberanikan diri. Kalik aja mommy nya luluh ama dia.
Dipikir pikir kalo nggak ada yang dimasak mau makan apa. Syauqi akhirnya membuka kulkas dua pintu yang mejeng asik didapur itu, dan setelah pintu terbuka lebar tampaklah kekosongan yang nyata, hanya ada es batu dan beberapa minuman susu kotak milik Ghifa.
'Buset, laki gue pelit bet ini. Kulkas habis dijarah perompak yaa ? Kosong nya extreme.' Batin Syauqi terkejut. Langusng nge-lag nggak habis pikir Syauqi.
Melihat Syauqi diam Luthfi jadi merasa akan ada semburan lava panas, hawanya jadi lain, merinding sedap . "Mom gimana ? Makan diluar ya ?" Tanya Luthfi. Sengaja nih manggilnya mom biar nggak disemprot gegara kulkas yang kosong melompong.
__ADS_1
Syauqi menatapnya sinis, masih sebel sih sama isi kulkas tapi ya apa boleh buat.
"Yaudah deh ayok."
Dengan wajah datar dan dingin, Syauqi melepaskan celemeknya. Kaki nya melangkah lebih dulu keluar rumah.
Luthfi dan Ghifa mengikutinya dari belakang dengan perasaan merinding. Keduanya saling bertautan tangan saling menguatkan jika sewaktu waktu kenak omel Syauqi.
Sesampai nya didalam mobil, ketiganya hanya diam. Biasanya Ghifa akan ngoceh dan ngejulid, kali ini memilih bungkam dan duduk tenang dipangkuan Syauqi. Luthfi juga tak mau Menggali kuburnya sendiri. Lebih baik cari aman.
Setelah beberapa menit, akhirnya Syauqi tak tahan dengan keterdiamannya. Dia harus meluapkan semuanya, begitulah pikirnya.
"Mas." Panggilnya tanpa melihat Luthfi.
"Ya mom." Jawab Luthfi dengan menoleh Sebentar.
"Besok besok kulkas jangan dibiarin sampek kosong kayak gitu. Kamu punya anak, kalo semisal tengah malem kalian laper terus mau makan apa ? Kalo kamu mungkin nggak masalah, tapi kalo Ghifa gimana ?" Mulai sudah acara tausiah dari Syauqi malam ini. Dugaan Luthfi tidak meleset sedikit pun, walaupun Syauqi ngomongnya datar tapi tetep aja ini namanya disemprot emak emak.
"Iya sayang maaf." Lagi lagi Luthfi cari aman dengan menggunakan panggilan sayang.
Kamu pikir Syauqi akan berubah pikiran kah ? Ohh tidak mempan Luthfi.
Syauqi hanya mendengus dan kemudian melanjutkan khotbah nya. "Kalo mbak Manda ga bisa kamu mintain tolong, bilang sama aku mas. Jangan biasain sampek nggak ada apa-apa dikulkas, kalian makhluk hidup yang bisa laper kapan aja. Juga kalo misal ada tamu mau kamu kasih apa ? Kamu itu dosen pasti temen banyak, kalo yang dateng aku juga ga masalah." Lanjut Syauqi. Gatau kenapa rasanya kayak istri yang dua hari nggak pulang Karena dinas terus nyampek rumah liat kulkas kosong berasa anak nggak dikasih makan.
Luthfi mengangguk pasrah, Syauqi lebih merinci dan detail kalo lagi sebel ketimbang Maira. Bukan niat membandingkan tapi inilah kenyataan yang harus Luthfi terima dan membiasakan diri.
"Iya mom nggak lagi." Iyain aja, besok lakuin biar nggak marah level dewi rubah.
Bukannya berhenti, Syauqi malah semakin menjadi dengan segala ocehannya. Mulai dari kasus kulkas kosong, sampek Ghifa yang cuna dibiasain pakek kolorr kalo dirumah, dari letak baju dan selimut yang di lemari sampek Ghifa yang jangan ditinggalin dan bla bla bla.
Disaat seperti inilah Luthfi diuji kesabarannya, ingin berteriak sudah tapi tak mampu. Jadi dirinya hanya mengangguk dan bilang iya Sayang, iya mom. Sedangkan Ghifa memilih diam, mulutnya emang racun, bahkan pedes jiwa julidnya. Tapi kali urusan nimbrung emak pas lagi kesel sebel ya mon maap, undur diri dari ngomong dia.
***
Setelah beberapa menit berlalu, ketiganya sudah duduk disalah satu meja restoran makanan jepang.
"Selamat makan Papi dan Mommy." Ucap Ghifa setelah membaca doa. Ini kalinat pertama yang keluar dari mulutnya sejak keluar dari rumah tadi.
"Selamat makan sayang." Jawab Syauqi dan Luthfi serempak.
Ketiganya sudah kembali normal, mengobrol seperti biasa dengan iringan senyum. Masalah dimobil udah keskip jauh, ngomelnya Syauqi sudah berlalu dan Luthfi sudah merekam Semuanya dalam kepala agar hari esok tak terulang kembali.
"Ehh ada mas Luthfi disini." Sapa seorang wanita dengan centilnya. Bahkan tangannya nangkring asik dibahu Luthfi.
"Iya." Jawab Luthfi dingin. Bahunya iya gerakkan supaya tangan yang menempel bisa terhempas jauh hingga afrika.
"Gabung boleh yaa ?" Tanyanya genit.
"Udah penuh." lagi lagi Luthfi menjawab dengan dingin.
Syauqi masih diam tak peduli, yang terpenting urusan perut dulu. Kalo udah aman ntar baru baku hantam.
"Ihh kok gitu, ini babysitter nya si boy disuruh pindah aja mas sebentar biar aku bisa gabung." Ucapnya seraya melirik Syauqi sinis. Luthfi tak menanggapi dan Syauqi tetap tak peduli.
"Mass." Rengeknya lagi membuat Luthfi mual ingin muntah bahkan Syauqi sempat mengekuarkN suara menahan mual.
"Mamanya Marcel please deh jangan ganggu, Ghi jadi hilang selera makan nih." Ketus Ghifa dengan lirikan tajamnya.
Wanita yang disebut mama Marcel oleh Ghifa adalah Chintya, janda anak satu teman lama Luthfi.
"Kok gitu sih boy sama mimi." Ucap Chintya memasang wajah memelas.
Berharap Ghifa luluh ? Hehehe maap mbak anda salah server.
"Mimi peri jangan ganggu lagi yaa, nanti kalo disini terus Ghi bisa muntah karena liat mimi peri." Ujar Ghifa yang lagi-lagi terkesan julid.
__ADS_1
Mendengar ucapan calon anaknya, Syauqi ingin tertawa tapi berusaha ia tahan hingga akhirnya...
Uhuk uhuk !!
Syauqi tersedak unagi yang dicaploknya penuh minat dengan harapan bisa membungkam mulutnya yang ingin tertawa ngakak.
Dengan sigap Luthfi memberikan minum untu kekasihnya itu dengan sesekali menepuk pelan tengkuk Syauqi.
"Aduh mommy tersedak gara-gara liat wujud valaq dunia nyata." Keluh Ghifa dengan mata melotot. Ntah sadar atau tidak dirinya sekaligus menyindir tante janda disampingnya.
"Are you okey mom ?" Tanya Luthfi dengan cemas.
"I am okey honey." Jawab Syauqi dengan senyum manis. Nafasnya masih sedikit tak beraturan.
Melihat interaksi keduanya, Chintya dibakar api cemburu hingga hampir gosong.
"What ?? Hey apa-apaan kalian. Mas kamu punya hubungan apa sama babysitter anak kamu ?" Tanya Chintya dengan nada tinggi. Masak iya dia kegeser gitu aja dari antrian.
Luthfi menatap tajam. "Dia mommynya Ghifa, yang akan menjadi adik Maira dan menjadi istri saya." Jawab Luthfi tegas.
Chintya Menganga tak percaya.
"Diaa ?? Babysitter ? Hahah." lagi lagi Chintya mencibir.
"Maaf mbaknya, saya photograher Bukan babysitter." Ujar Syauqi. Enak aja profesi nya diganti, mau syukuran berapa hari lu.
"Oh yaa ?"
"Serah mau percaya apa nggak mah bodo amat, emang saya peduli." Ucap Syauqi acuh. Emang apa untungnya juga.
Melihat sikap Syauqi yang bodo amat, Chintya semakin marah. Dirinya merasa tak dihargai dan Syauqi tidak pantas memperlakuny seperti itu.
"Heh kamu, jangan merasa tinggi yaa. Kamu tu nggak pantas sama Mas Luthfi. Kalian beda jauh, kamu harusnya bercermin." Ujar Chintya neggas. Syauqi hanya menggedikkan Bahuny malas.
Ghifa asik Menikmati makanannya, Luthfi sibuk mengelus bahu Syauqi supaya tidak meledak lagi. Baru aja diademin ehh malah mau dibakar lagi, panaskan.
Melihat Syauqi yang slow respon, Chintya jadi tak terkontrol. "Kamu ni gadis rendahan yaa, padahal kan masih banyak bujang diluaran sana, tapi kenapa kamu malah nyari dudaa ? Mau hartanya aja ?? Iyaaa ? Pasti iyaa kan ??" Chintya masih lanjut.
'Ya Allah maap sombong, penghasilan gue sebulan bisa beli kebon sawit 3 hektar mana jatah bulanan emak bapak belom keitung, bagi hasil aset Keluarga juga. Beh dikata mau morotin duda, kurang apa lagi gue cobak.' Batin Syauqi mengasihani lawan bicaranya.
"Maap mbak, kalo cuma buat modal idup sampe mati saya masih mampu mbak." Jawab Syauqi tetap tenang tanpa emosi.
"Lagian nih ya mbak janda, jangan nilai orang sesuka hati. Tampilan boleh gembel tapi saldo rekening siapa tau, jangan keliatan wah tapi ntar kasus kan nggak enak. Malunya nyampek keliang lahat." Lanjutnya dengan sesekali melirik si mbak janda.
"Masalah saya pantes nggak nya itu urusan takdir dari yang di Atas. Mbak nya kalo nggak suka its okey itu hak mbak. Lagian Ghifa sama Mas Luthfi udah nerima saya apa adanya, mas Luthfi juga udah izin ke orangtua saya jadi mau gimana lagi mbak ? Harusnya mbak nya yang ngaca, mbak status nya udah janda masa iya ditolak laki-laki bukannya sadar diri malah jadi nguber terus kayak gini. Malu atuh mbak, kita perempuan harusnya dikejar bukan malah ngejar. Emang mbak mau dibilang orang janda gatel ? Nggak kan ?" Ucap Syauqi panjang lebar, bisa gitu bijak amat tu mulut. Mana nggak sadar diri lagi, kan lu juga ngejar Luthfi.
Chintya mendengus, dirinya sudah tak mampu lagi melawan apa yang Syauqi ucapkan. Tanpa pamit dan basa basi dirinya pergi begitu saja. Rasanya dia sudah sangat malu dihadapan anak kemarin sore yang bermulut pedas ini.
"Yah pergi, emang aku ada salah ngomong ya mas ?" Tanya Syauqi polos polos bengek setelah kepergian Chintya.
"Mommy mulutnya ngeri, kita satu frekuensi Mom." Jawab Ghifa dengan tawa renyah dan rasa bangga.
"Nggak ada yang salah, cuma mungkin nyakitin dikit." Jawab Luthfi dengan senyuman. Yaaaa sudah takdirnya punya dua manusia julid dalam hidupnya.
Mendengar jawaban kedua pangerannya Syauqi hanya mengangkat alisnya tak peduli. Mau salah bener bodo amat siapa peduli.
***
"Kalian nginep dirumah mommy aja yaa. Soalnya kayak mau hujan." Ucap Syauqi.
"Nggak usah mom, kita pulang aja. Nggak enak sama tuan dan nyonya dirgantara." Luthfi menolak dengan halus. Masak iya nginep kan canggung, pikir Luthfi.
"Ghifa ngikut mommy aja." Jawab Ghifa yang sudah terlalu ngantuk, matanya sudah sulit di kondisi kan dan dia cari aman.
Syauqi tersenyum. "Tuh Ghifa nya aja mau."
__ADS_1
"Tapi kan ......"
"Tidak menerima penolakan bapak duda yang terhormat."