IMAM KU

IMAM KU
Mengantar Pulang


__ADS_3

Setelah bebas dari hadapan ondel-ondel, Luthfi berulang kali menghembuskan nafas kelegaan. Untungnya ada Sauqi yang bisa membawanya pergi, kalo nggak ntah apa yang akan terjadi dengannya saat dihadang janda gatel itu.


Buru-buru dirinya menggiring dua orang yang bersamanya untuk masuk kedalam mobil, tanpa babibu Luthfi Langsung mengemudikan mobilnya dan meninggalkan halaman parkir, seolah pergi secepat mungkin tanpa meninggalkan jejak.


Melihat kelakuan Luthfi yang menurutnya aneh, Sauqi reflek mengedipkan mata berulang kali tanda tak percaya. Hei duda anak satu, itu dideketin janda seksong ngapa malah kabur wahai umat ??


"Mata kamu kenapa melek merem gitu ? Kesetrum ?" Luthfi meliriknya sekilas dan kemudian kembali fokus pada jalanan yang lurus berkelok menikung.


Sauqi yang ditanya bukannya menjawab tapi malah Ghifa yang mewakilinya. "Mommy Sao terheran heran liat papi ketakutan pas dihadang tante centil."


"Bukannya takut boy tapi jijik, emang Ghifa mau punya mama kayak gitu ?" Tanya Lutfi pada sang anak yang langsung reflek geleng kepala sekuat tenaga. Ghifa menolak keras.


"Kalo nggak sama mommy ya jangan sama itu boy, takutnya tiap malem kamu kejang liat mukanya." Ucap Sauqi lurus lurus tabung. Ntah terniat untuk sekaligus menghina atau tidak disengaja hanya dia dan Tuhan yang tau.


"Tuh mommy kamu aja paham, papi takut kenak serangan jantung karena tiap pagi pas melek mata liat kuntilanak gagal cosplay." Jelas Luthfi dengan wajah kesal, ada ada aja. Pembahasan semacam apa ini.


"Tapi kan seksi mas, lumayan lah ada yang bisa buat pegangan." Saut Sauqi santai.


Ya kalik ada duda kesepian menolak keseksian janda kembang.


Ghifa mengangguk yakin membenarkan ucapan Sauqi. "Om Argi aja suka tante seksi, makanya Tante Manda sering ngamuk ngamuk. Masak papi malah takut ?" Ucapnya polos tanpa filter.


Nah gini kalo anak kecil dititipin ke orang dewasa minus akhlak, rusak sudah kepolosannya.


"Ya ya, papi emang duda kesepian tapi apakah kalian tega melihat papi yang ganteng ini hidup bersama pengikutnya mimi peri haaa ??" Tanya Luthfi yang sudah jengah dengan anak dan calonnya. Ehh calon.


"Santai aja kalik mas gitu aja ngegas, saya juga nggak rela dilangkahin gitu aja." Jawab Sauqi seraya melirik Luthfi.

__ADS_1


"Tetep Mommy Sao yang dihati, harga mati." Sambung Ghifa dengan gaya mengepalkan tangan. Tekad nya sudah bulat nggak kotak lagi.


Setelah membahas janda, ketiga nya kembali pada mode diam. Mereka bingung mau bahas apalagi, semuanya terasa sulit untuk dibahas. Mau bahas harga minyak yang melambung tinggi takut ketinggian dan gak bisa turun, mau bahas peraturan pemerintah yang nggak jelas takutnya malah dijeblosin ke jeruji besi.


Emang diam lebih baik daripada banyak bicara.


Tapi kalo kelamaan diem juga nggak baik, soalnya ini udah muterin kantor wali kota dua kali. Luthfi yang baru menyadari kebodohannya seketika menghembuskan nafas dengan amat kasar yang membuat Sauqi menatap nya curiga.


"Kenapa ?" Tanya nya tanpa dosa. Gue tau ganteng gak usah dipandang sampek melotot gitu, batin Luthfi terlalu percaya diri.


"Masnya kenapa ? Hembusin nafas udah kayak mau niup obor pembukaan asian games aja." Sauqi memandang Luthfi dengan alis yang tertaut.


Buset ni duda bisa gitu ngelawak tapi dalam bentukan muka yang masih datar. Batin Sauqi bertanya-tanya.


"Papi kok muterin gedung tinggi terus sih, bosen nih liat abang abang jualan. Tuh mamang bakso sampek udah mau pulang." Ucap Ghifa yang terlihat asik menikmati pemandangan.


"Papi tau rumah mommy ga sih ?" Ghifa menatap sang ayah dengan curiga diikuti pula oleh Sauqi.


Luthfi menundukkan kepala, malu mengakui kebodohannya. "Mas masih inget rumah aku kan ? Dulu pernah nganterin aku pas malem-malem ?" Tanya Sauqi.


"Lupa". Lirih Luthfi. Yaken malu banget nih siduda anak satu.


Itulah jika malu bertanya maka jalan-jalan.


Ghifa dan Sauqi kompak menepuk jidad masing-masing. "Papi kalo lupa nanya, jangan diem aja sok tau gitu."


"Kamu juga diem aja." Luthfi malah menyalahkan sang anak yang gatau apa-apa.

__ADS_1


Ghifa mendengus. "Bukannya papi harusnya lebih tau, kan Ghi waktu itu bobok dipangkuan Mommy." Jelas Ghifa yang gantian menyalahkan sang ayah.


Melihat ayah dan anak itu mulai saling menyalahkan, Sauqi memijat pelipisnya.


Tahan Sauqi, tahan. Ini latihan untuk kedepannya, kejadian seperti ini jangka panjang kamu harus tabah. Batin Sauqi menyemangati dirinya sendiri.


"Udah udah, Boy nggak salah papi juga nggak salah. Lupa itu wajar dan itu nggak inget oke." Sauqi menengahi.


"Jadi gimana Mom ?" Ghifa mendongakkan kepala nya menatap Sauqi.


"Tenang aja boy, rumah mommy udah deket." Jawab Sauqi seraya tersenyum.


"Simpang nya saya lupa, maaf." Ucap Luthfi.


"Aku udah share loc ya mas tadi, makanya aku diem aja nggak ingetin kamu mana simpangnya." Jawab Sauqi sedikit menggunakan nada sindiran salam ucapannya.


Mendengar jawaban Sauqi, Luthfi reflek memukul stirnya. Bagaimana bisa dirinya sebodoh itu disaat sedang pdkt. "Maaf itu juga ga kepikiran." Jawabnya dengan canggung.


Sauqi hanya diam, males nanggepin pelupa semacam Lutfi. Dengan cekatan Luthfi langsung membuka ponselnya dan menghidupkan google map sesuai yang telah dikirim Sauqi sore tadi.


Tak menghabis kan banyak waktu, akhirnya ketiganya sampai didepan sebuah rumah mewah. Karena hari sudah magrib Sauqi mengajak Luthfi dan Ghifa untuk sekalian makan malam dirumah nya. Dan itu membuat Luthfi seketika bingung harus bagaimana, bahkan dirinya lupa jika seorang manusia.


"Boy, karena udah maghrib ikut mommy masuk ya. Mas mampir dulu ya, nggak papa kan ?." Tanya Sauqi pada Luthfi dan Ghifa.


"Horee main kerumah mommy." Ghifa bersorak senang, sedangakn Luthfi malah diam mematung.


"Haduh". Keluhnya tanpa sadar.

__ADS_1


__ADS_2