
Semenjak mendapat dukungan dari kedua sahabatnya, Luthfi sudah menyusun rencana demi rencana untuk memulai proses pendekatan pada Sauqi.
Bahkan dirinya juga bekerja sama dengan sang bujang kecil untuk menyempurnakan rencana yang telah disusunnya.
"Nah boy, gimana caranya kamu ngajak Mommy Sao ke acara ulangtahun temen kamu ?" Tanya Luthfi memastikan rencana nya akan berjalan dengan lancar.
Ghifa menoleh. "Papi telpon dong, kok susah banget." Jawab Ghifa dengan entengnya, membuat Luthfi mendengus.
"Kamu kira Papi udah punya contact nya kah ?"
"Kirain udah, nggak ngomong sih Papi."
Mendengar ucapan sang anak, Luthfi hanya mampu menggelengkan kepala. Ntahlah bagaimana bisa anaknya memiliki ide cemerlang namun tidak tahu bagaimana menjalankan rencana tersebut.
Disaat Luthfi memejamkan matanya, disaat itulah Ghifa berpikir berbagai kemungkinan yang mungkin bisa saja dicoba. Dengan senyum yang mengembang indah diwajah bulatnya, Ghifa sesegera mungkin menyadarkan sang Ayah dari keputus asaan.
"Papi, Ghifa punya ide baru." Ucapnya seraya menggoyangkan lengan sang ayah.
"Ide apa lagi boy ? Udah deh gak usah kebanyakan ide, lagian yang tadi aja nggak tau gimana caranya." Jawab Luthfi malas. Dalam otaknya saat ini, ide yang akan Ghifa sampaikan masih sama dengan yang sebelumnya, tidak bisa direalisasikan.
Mendapat respon tidak mengenakkan dari sang ayah, Ghifa cemberut. "Ini serius Papi, please deh dengerin." Katanya.
"Iya deh iya, apa ?" Tanya Luthfi seraya melirik anak bujangnya, masih ada sedikit rasa enggan.
"Inikan weekend, bagus kita ke kedai Jus yang biasa Ghi pergi beli es po..." Ujar Ghifa terpotong oleh sautan Luthfi.
"No, ide apa itu ? Gini ya boy, kita itu mau deketin Mommy Sao bukannya ngenyangin perut." Sarkas Luthfi yang tanpa mau mendengar ucapan sang anak.
"Heh Papi, Ghifa ngajakin kesana itu sambil nyari Mommy Sao, itukan kedai punyanya temen om ganteng." Ucap Ghifa melanjutkan kalimatnya yang belum kelar, agak sebel juga.
Luthfi melotot kan matanya. "Heh siapa lagi Om ganteng ? Belum cukupkah Papi mu ini yang paling ganteng ?" Tanyanya tersulut emosi.
"Papi ganteng ? Ghifa aja yang anak TK Nol Besar tau kalo ganteng aja nggak cukup. Percumah ganteng, deketin Mommy Sao aja nggak berani." Ketus Ghifa.
"Bukannya gak berani tapi....."
Kalimat yang terucap dari bibir mungil putranya seketika melesat mebembus relung hati. Memang dia akui, tampan dan mapan saja tidak cukup. Ini bukan pengalaman yang pertama, namun Sauqi sangat berbeda jauh dari Mamanya Ghifa waktu itu.
"Udahlah ayok, waktu itu Mommy di kedai jus bareng om ganteng." Ajak Ghifa yang sudah beranjak dari duduknya.
Mau tidak mau akhirnya Luthfi pun beranjak. "Om ganteng siapanya Mommy Sao ?" Luthfi mulai kepo.
"Kekasih hati."
"Kamu serius Ghi ?"
"......" Ghifa terdiam.
"Mommy Sao kira-kira pilih Papi atau Om ganteng ?"
"....." Masih diam, ucapan Papi nggak penting.
"Ghi, nggak masalah kan kalo Papi rebut Mommy Sao."
"......" Terserah, taunya Ghifa Mommy Sao resmi jadi Mommy.
Setiap pertanyaan yang dilontarkannya tidak mendapat jawaban dari sang buah hati. Bayangan Sauqi yang sudah bertali kasih dengan Om ganteng membuat Luthfi memiliki pemikiran yang tidak-tidak. Perasaannya mulai resah, pikirannya mulai gundah, dan tekadnya menjadi tak terarah .
__ADS_1
****
Dengan setengah hati, Luthfi menjalankan mobilnya membelah keramaian kendaraan yang berlalu lalang menikmati akhir pekan.
Sepanjang perjalanan itu pula Ghifa terdiam tidak menanggapi ocehan maupun keluh kesah dari Luthfi. Sedangkan Luthfi sendiri mulai lelah berbicara, tidak satupun rasa penasarannya tentang Sauqi dan Om ganteng mendapat respon dari putra tunggalnya.
Sesampainya dikedai jus.
"Om, seperti biasa 2 gelas." Ucap Ghifa saat Farhan menghampiri mejanya.
"Oke Bujang ganteng." Jawab Farhan ramah.
"Mommy nya Ghi belom kesini ya Om ?" Tanya Ghifa seraya memperihatikan sekeliling, dirinya sengaja mengambil posisi di tongkrongan Sauqi pada biasanya.
Farhan ikut memperhatikan. "Sao ?" Tanyanya memastikan.
"Iya." Ghifa mengangguk.
"Ohhj, bentar lagi juga bakalan nyampek." Jawab Farhan seraya menatap Luthfi dengan seksama.
'Ini nih duda inceran Sao ? Mayan.' Batin Farhab menilai.
"Nanti bilangin sama Mommy ya Om, kalo Ghi tunggu disini." Ucap Ghifa dan diiyakan oleh Farhan.
Melihat interaksi anaknya dengan orang baru membuat Luthfi tidak bisa membendung rasa ingin tahunya.
"Itu Om ganteng yang kamu maksud ?" Tanya Luthfi setelah Farhan sudah menjauh.
"Bukan". Jawab Ghifa singkat.
'Untungnya, kalo itu sih darimana gantengnya.' Batin Luthfi sedikit julid.
Ghifa mengangguk. "Temennya Om ganteng dan Mommy."
Setelah mendapat jawaban yang cukup memuaskan, Luthfi sibuk bermain game bersama Ghifa sambil menunggu pesanan datang. Keakraban keduanya menjadi pusat perhatian semua konsumen jus dikedai Farhan, terutama ibu ibu muda dan para gadis.
"Si abang jadi pusat perhatian dikedai saya." Ucap Farhan seraya meletakkan dua gelas es pokat kocok diatas meja.
"Besok buat kedai jus kamu indoor, vip. Supaya mereka nggak liatin saya." Jawab Lutfi yang mulai tidak nyaman dengan tatapan liar para buaya betina.
Ghifa mendesah. "Please ya Papi, ini kedai nya Om Han temanya outdoor." Ucap Ghifa seraya melirik tajam Luthfi.
"Papi kasoh masukan Boy, sa....."
" Bang Han, tongkrongan lu pindah ya ?" Suara seorang perempuan memotong ucapan Luthfi.
Seketika semua orang menoleh kearah sumber suara.
"Mommy....." Teriak Ghifa antusias dan langsung menghambur untuk memeluk Sauqi.
Sauqi terperanjat. "Eh ?? Gue udah punya anak ?" Tanyanya kurang kesadaran.
"Calon anak lu setaan." Ketus Bizar. Bisa-bisanya kaget langsung lupa ingatan.
"Mommy dekil ? Mommy Sao ? Are you okey ?" Tanya Ghifa beruntun.
"Yes i'm okey. Sorry boy, mommy lupa ingatan tadi." Jawab Sauqi setelah pulih dari ke tidaksadarannya. Tangannya kemudian reflek meraih Ghifa dan membawanya dalam gendongan.
__ADS_1
Ketika Sauqi sibuk dengan Ghifa yang berada dalam rengkuhannya, Bizar dengan tak tau malunya langsung mengambil tempat disis Luthfi.
"Gabung bos." Ucapnya tanpa basa-basi.
Luthfi tersenyum samar. "Eh om ganteng, tante cantik mana ?"
Deg !
Mendengar kalimat om ganteng, Luthfi langsung melirik kearah laki-laki yang duduk disebelahnya. Rasa was-was dihatinya makin menyeruak, pikirannya menjadi tak tentu.
'Lah kalo saingan sama ini auto bendera putih gue.' Batin Luthfi meratapi nasib.
"Eh iya, mana Naswa Bi ?" Tanya Farhan.
"Lagi ngekor bapaknya." Jawab Sauqi mewakili Bizar yang sudah sibuk dengan jus mangga yang ia bawa sendiri.
"Boy, ini siapa ?" Tanya Bizar yang sesekali melirik Luthfi. Dan yang dilirik makin nggak nyaman dihatinya.
"Ini Papinya Ghifa om, mau ketemu Mommy katanya." Ucap Ghifa lurus tabung membuat Luhtfi tersedak minumannya. Sedangkan Bizar dan Farhan saling kode kedipan mata.
Farhan berdehem sejenak. "Bi, mabar yok dikamar gue. Monitor bekas lu, udah gue pasang dikamar buat temen Surti yang mulai bobrok." Ajaknya.
"Ya hayuklah."
Tanpa mendengar ucapan Sauqi yang ntah apa, Farhan dan Bizar meninggalkan tempat itu menuju dalam rumah.
"Duda calon adek gue ngeri euy, perawakannya ngiler gue." Ucap Bizar saat langkahnya tinggal beberapa mendekati pintu masuk.
"Ototnya sedep, apa daya gue yang cuma tulang ini. Mana masih keliatan muda lagi, Sao pinter bener cari gantinya si bangkee biawak." Jawab Farhan yang memuji kepintaran Sauqi dalam mencari pendamping hidup.
****
Ditempat semula, Sauqi sudah duduk di sebrang Luthfi. Ghifa masih nyaman dipangkuan Sauqi tanpa memedulikan sang ayah yang menatapnya meminta bantuan.
Melihat suasana menjadi canggung, Sauqi berusaha mencari topik pembicaraan. Namun tetap saja hanya pikiran buntu yang didapatnya.
"Kenapa Diem ?" Mendadak Luthfi mengeluarkan suara dan membuat Sauqi sedikit gelagapan.
Luthfi menatap Sauqi. "Mmm ?"
"Canggung pak." Jawab Sauqi jujur.
"Pak ?"
"Eee itu, anu, Mas maksudnya." Sauqi menjadi gugup. Jika biasanya dirinya terkesan blak-blakan maka disituasi seperti ini, dirinya layaknya seorang gadis desa yang kalem dan pemalu.
Luthfi tersenyum. "Santai aja, kita bisa ngobrol, nggak usah terlalu formal ataupun canggung. Sebelumnya saya minta maaf dengan sikap saya saat pertama dan kedua kali ketemu kamu." Ucap Lutfi yang mulai membuka obrolan, walaupun dirinya masih banyak pertanyaan yang menganggu, tapi sebisa mungkin dirinya membuat suasana menjadi lebih nyaman.
'Aduh jangan senyum apalagi banyak omong, jadi gak kuat jantung dedek masss.' Sauqi menggigit bibir bawahnya, membatin dengan jantung yang berdetak luar biasa.
"Iya mas nggak papa. Aku minta maaf juga kalo ada salah." Jawab Sauqi. Ehh lah malah maaf-maaf an.
"Maafin Ghifa juga yang ngerepotin kamu, apalagi sekarang yang duduk dipangkuan kamu seenaknya."
'Lah kamu mau juga ? Ayo ayo sini.' Astagfirullah sadarlah Sauqi.
"Nggak masalah mas, lagian aku juga nyaman kok manjain Ghifa kayak gini." Jawab Sauqi dengan menampilkan senyum termanis nya, bahkan lesung pipi warisan sang bunda terlihat jelas.
__ADS_1
'Ghi gantian papi ya yang dipeluk, pengen nih. Papi nggak kuat liat Mommy kamu ini' Pikiran Luthfi melayang ntah kemana-mana, pandangan nya sesekali melerik Sauqi dan sesekali melirik sang anak yang menyandarkan kepala di dua buah nan lembut.