
Setelah beberapa saat telah berlalu, Sauqi sudah merasa lebih nyaman dan tidak segugup saat sebelumnya.
Bahkan Luthfi juga sudah terbiasa untuk mencari topik obrolan supaya suasana diantara dirinya dan gadis dihadapannya tidak menjadi canggung.
"Hmm, saya nggak nyangka kamu bisa luluhin Ghifa yang nggak pernah mau untuk kenal sama orang lain." Ucap Luthfi melanjutkan obrolan.
"Memangnya Ghifa susah interaksi dengan orang lain ya mas ?" Tanya Sauqi, baginya Ghifa adalah sosok anak yang manis dan ramah walaupun mulutnya sedikit tajam.
"Kamu kan udah tau sendiri dia gimana, banyak anak dari temen-temen saya ataupun dari Almarhumah mamanya yang mau ngajak kenalan atau main. Tapi dia suka pilih-pilih." Luthfi menjelaskan, bahkan raut wajahnya seketika berubah menjadi sedikit sendu.
Ntah apa yang membuat Luthfi berubah ekspresi, ntah teringat almarhumah istrinya atau kasian dengan nasib anaknya yang susah berteman.
"Tapi menurutku Ghifa termasuk anak yang ramah kok mas, ya walaupun mulutnya kadang kala agak nyakitin sih." Jawab Sauqi diringin dengan senyuman canggung. Bukan apa-apa, cuma saat ini Ghifa yang dipangkuannya sudah menatap sinis.
Luthfi tersenyum. "Saya salut sama kamu, udah dijulid in Ghifa berulang kali masih aja tetep tabah. Banyak yang males sama dia, gegara omongan nya yang suka ngancurin mental orang." Ucap Luthfi.
'Kalo nggak demi ngejar bapaknya mah udah hancur lebur ni ati kenak mental mulu.' Batin Sauqi.
Sauqi hanya tertawa ringan menanggapi ucapan Luthfi, hanya dihina bocah bau kencur saja bukan masalah untuk Sauqi asalkan ayahnya bocah bisa dimiliki. Dihina mah ikhlas asal direstuin jadi bini bapaknya. Fiks itu mah bahagianya.
Disaat Luthfi sedang memandang manisnya tawa Sauqi, Ghifa memandang sang ayah dengan tatapan menyelidik, takut kesambet setan kedai jus karena kebanyakan bengong.
"Papi jangan lupa rencana awal kita yaa." Tegur Ghifa yang langsung menyadarkan Luthfi dari tatapan terpesonanya..
"Ganggu keindahan aja sih Boy, itu kan acara kamu." Ucap Luthfi acuh.
Ghifa mendesah malas. " Demi Papi juga nih, sebenernya Ghifa juga malas tauk pergi keacara anak kecil yang norak itu." Ucapnya dengan kesal.
"Kamu juga masih kecil boy." Ujar Luthfi malas menanggapi ocehan anaknya.
"Ya udah nggak usah jadi pergi ya Papi, kadonya biar disekolah aja Ghifa kasih ke Tamara. Lagian yang rugi juga Papi." Putus Ghifa pada akhirnya.
Sebenarnya jika bukan karena ingin membantu sang ayah yang lagi memulai perjuangan mendekati Mommy Saonya, Ghifa malas untuk mengikuti acara itu.
Alasannya karena acara anak-anak itu norak, apalagi anak perempuan.
Dan alasannya yang lain adalah disaat semua orang datang bersama papa dan mamanya, Ghifa hanya datang bersama sang Papi. Itulah yang membuatnya enggan.
Dan kadang pula Luthfi juga kurang berminat untuk menemaninya, dengan dalih untuk menghindari godaan wanita-wanita liar di acara itu.
"Papi nggak peduli Boy, mau kamu pergi atau nggak. Lagian ulangtahun temen kamu yang ini juga bukan yang terakhir." Ucap Luthfi menatap sang anak malas. Lagian nggak pergi dirinya juga bersyukur bisa terbebas dari wanita-wanita genit yang berserakan diluaran sana.
"Oke rencana kita digagalkan, Mommy Sao nggak jadi diajak karena kita nggak jadi pergi." Ujar Ghifa dengan tegas dan tatapan yang penuh keyakinan.
__ADS_1
"Oke kalo gi......"
"Eh tunggu, apa kata kamu ? Boy, sayang nya Papi ?" Tanya Luthfi setelah sadar akan sesuatu yang salah.
Ghifa memalingkan wajahnya, ngambek.
Sauqi mendadak bingung. "Boy, Mas, kalian kenapa sih ?" Tanyanya tidak mengerti situasi apa yang tengah berlangsung antara anak dan ayah didekatnya saat ini.
"Boy jawab Papi dong." Desak Luthfi seraya berpindah duduk disebelah Sauqi, dan tangannya meraih wajah Ghifa.
"Kan kita mau ngajak Mommy pergi, kalo Papi bilang nggak jadi ya sudah." Ucap Ghifa yang masih enggan menatap Papinya.
"......"
"Pergi ?". Gumam Luthfi seraya berpikir.
'Astaghfirullah, rencana awal.' Batinnya setelah mengingat rencana yang telah tersusun dan ucapannya barusan. Penyesalan tiba-tiba hinggap dalam diri dudanya.
"Skip boy, kita lanjutkan. Kita pergi." Ucap Luthfi.
"No!." Sentak Ghifa.
"Come on dong, Papi khilaf ya ya."
"Ghifa bilang, kita nggak jadi ngajak pergi Mommy Sao."
Melihat situasi yang semakin tidak ia mengerti, dan apalagi melihat Luthfi yang memasang wajah memelas membuatnya berpikir untuk menjinakkan Ghifa yang lagi ngambek.
Nggak sanggup liat mas Duda memelas gitu, Sauqi jadi pengen cium soalnya.
"Upss, abang ganteng gak boleh ngambek." Ucap Sauqi seraya membela lembut pipi gembul Ghifa.
"Emangnya abang mau ngajakin Mommy pergi kemana sih ?" Lanjutnya.
Ghifa mendongak, menatap Sauqi yang juga menatapnya. "Mau ajakin Mommy pergi keacara ulangtahun temennya Ghifa. Biar Ghifa ada Mommy dan Papi kayak temen yang lain." Jawab Ghifa jujur apa adanya.
Selain termasuk dalam rencana dirinya dan sang ayah, tapi ini juga merupakan keinginan kecil dalam hatinya sejak sekian lama.
"Ohhh, emang kapan acaranya sayang ?" Tanya Sauqi.
"Besok sore sudah sholat Mom, tapi kata Papi nggak jadi per..."
"Kita jadi pergi." Ucap Luthfi dengan cepat, bahkan Ghifa belum sempat menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
Melihat Kedua orang yang Menjadi impian masa depan nya, Sauqi tersenyum manis dan dalam Hatinya pun tak Mampu untuk menolak.
Bahkan dalam pikirannya saat ini, situasi ini adalah kesempatan untuk dirinya memulai rencana Melelahkan hati dua makhluk itu.
"Oke, Mommy mau pergi temenin Ghifa." Ucapan Sauqi menjadi angin segar untuk Ghifa dan terutama Luthfi.
Mendengar itu, Ghifa langsung menggeser tubuhnya supaya bisa memeluk Sauqi. Sedangkan Luthfi sudah bersorak girang didalam hatinya yang sudah terlalu lama sepi.
"Saya minta contact kamu, supaya besok bisa lebih gampang saat kami jemput kamu." Luthfi menyodorkan ponsel nya, dan dengan senang hati Sauqi menerimanya.
Jarinya dengan lincah mengetik beberapa deret nomor, bahkan dirinya sempatkan pula untuk melakukan panggilan ke contact nya sendiri supaya contact Luhtfi juga ada pada ponselnya.
"Besok aku shareloc rumah aku Mas." Ucapnya seraya mengembalikan ponsel Lutfi.
"Oke." Jawab Luthfi.
Setelah menyetujui keinginan Ghifa, ketiganya kembali dalam obrolan yang penuh canda. Apabila orang lain melihatnya pasti akan mengira jika mereka adalah keluarga kecil yang sangat harmonis.
*****
Dikamar Farhan.
"Bre." Panggil Bizar.
"Paan ?". Jawab Farhan yang enggan menoleh.
Keduanya kini sedang asik bermain game, bahkan mereka lupa dengan Sauqi yang mereka tinggalkan begitu saja.
"Bantu gue cari info gurunya Kahfi."
"Lah lu bisa tu cari info dari Kahfi, lebih akurat malah." Jawab Farhan yang masih terfokus pada layar monitor nya sendiri.
Bizar mengela nafas. "Udah, cuma gue gak percaya ama dia. Kalik aja tu info dilebih-lebihkan."
"Lah lu mau cari info gurunya Kahfi buat apa juga dah ?" Tanya Farhan penasaran, bahkan dirinya menyempatkan diri menoleh sejenak.
"Gegara Kahfi noh bilang sama Bunda kalo guru di sekolah nya ada yang jomblo terus orang nya baik, si Bunda jadi girang bet, auto nyuruh gue deketin." Jelas Bizar pasrah tak berdaya.
"Kalo gue jadi elu mah gue gebet langsung Bi, gue paham selera adek lu gak pernah maen-maen. Kalo dia bilang cantik ya cantik, kalo dia paling good attitude udah pasti bukan kalen-kaleng." Jawab Farhan menanggapi Curhatan Bizar.
Bener juga yang dikatakan Farhan, adiknya berselera tinggi. Bahka setiap perempuan yang menurutnya sempurna memang betul kenyataannya demikian. Itulah sebabnya sang Bunda antusias saat Lahfi menyarankan gurunya untuk menjadi calon abangnya.
"Gue coba deketin besok dah, kata Bunda sekali-kali nganterin Kahfi." Putus Bizar hendak memulai rencana awalnya dengan pertemuan tak sengaja.
__ADS_1
Disaat keduanya kembali terfokus dengan game masing-masing, tiba-tiba suara melengkibg mengagetkan keduanya hingga tangan keduanya tidak stabil dan alhasil keduanya sama sama kalah dalam game.
"Woyyyyy, udah pada lupa diri ya lu beduaaa.....!!!!"