IMAM KU

IMAM KU
97


__ADS_3

Zahra dan Reynan sedang duduk di teras rumah mertuanya. Setelah tadi sempat beristirahat sebentar di kamar, kemudian memutuskan untuk bersantai di halaman depan. Jangan tanyakan Kinanti, sudah pasti dia bersama Alvian. Terdengar suara tawanya yang sedang berada di halaman belakang kediaman Bagaskara. Tak hanya Alvian yang sedang menemaninya berenang, namun Oma dan opa nya juga berada di sana untuk keceriaan cucunya yang selalu aktif dimana pun.


" Mas, pestanya sangat meriah ya, aku sampai tidak bisa menemui Zahwa kembali karena sangat banyak tamu undangan yang datang." Zahra berucap sambil memandang lurus ke depan.


" Kamu mau kita mengulang lagi pernikahan kita? bukankah dulu kamu yang bersikeras ingin melangsungkannya secara sederhana. Padahal aku sudah menanyakan berulangkali, takut kamu menyesal. Reynan menatap Zahra dengan rasa bersalah. Seandainya dulu Reynan bisa membuat Zahra jatuh cinta padanya lebih dulu mungkin Zahra tidak akan memilih pernikahan yang sederhana. Namun bagaimana lagi, semua sudah berlalu namun jika Zahra ingin mengulanginya lagi dengan pesta yang meriah Reynan pasti akan mengabulkannya.


" Mas, ngomong apa sih, pernikahan itu kan berkesan bukan karena pestanya, namun setelahnya. Alhamdulillah kita bisa menjalaninya sampai sekarang. Yang terpenting dari pernikahan itu niatnya. Kita meniatkan pernikahan kita untuk ibadah dan melaksanakan perintah Allah untuk menyempurnakan separuh agama kita. Aku tidak menyesali sedikitpun. Meriah atau tidak akan sama saja pada akhirnya, jika takdir Jodohnya hanya sebentar semeriah apa pun pestanya itu akan menjadi kenangan yang membawa luka begitupun sebaliknya. Yang terpenting adalah rukun dan syarat nikahnya terpenuhi, sudah sah secara hukum dan agama.". Zahra menatap lekat suaminya.


" Terimakasih, sudah mau mendampingi Mas sampai saat ini. Mas berharap kita akan mampu menghadapi apapun cobaan yang akan datang nanti. Mas tidak ingin. anak berjanji namun Mas, akan berusaha untuk menjadi imam yang baik untuk kamu dan anak-anak kita nanti. Tolong tegur Mas jika suatu hari nanti Mas melakukan kesalahan dalam memimpin keluarga kita." Reynan mendekati Zahra dan menariknya kedalam pelukannya.


" Aku minta maaf Mas, jika aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Aku ingin Mas selalu membimbing ku agar kita bisa bersama sampai surgaNYA kelak." Zahra kemudian terisak di dalam dekapan suaminya. Dalam hati dia berjanji untuk selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya. Begitupun Reynan, dia berharap bisa selalu membuat keluarga kecilnya bahagia, dia pun akan berusaha untuk selalu menjadi imam untuk mereka.


Keduanya larut dalam haru, berpelukan erat seolah tidak ingin terpisahkan oleh apapun. Mereka berdua memang telah benar-benar saling menautkan hati mereka satu sama lain. Apalagi mereka. kedua memang sudah memutuskan untuk menambah momongan ditambah lagi dengan kedua orang tua mereka yang selalu mengatakan bahwa menginginkan hadirnya kembali seorang cucu yang akan menambah keceriaan di hari tua mereka.


_______


Pagi hari di kediaman Bagaskara sudah terdengar riuh dengan celotehan si kecil Kinanti. Apalagi di usianya yang akan memasuki lima tahun, terlihat semakin pandai dalam berbicara.

__ADS_1


Biasanya di rumah itu sangat sepi karena hanya di tinggali sepasang suami istri paruh baya bersama Beberapa asisten rumah tangga. Namun hari ini ini rumah itu ramai Karena Kinanti terus saja berceloteh tanpa mengenal lelah, dia terlihat aktif bergerak kesana-kemari. Pak Bagas dan Bu Siska sangat senang dengan kehadiran anak-anaknya. Apalagi kehadiran Kinanti yang membuat suasana terasa hangat dan ceria.


Namun bukan seorang ibu namanya jika tidak melihat kegelian didalam diri anak bungsunya. Keceriaan yang di buat sang cucu tetap tidak bisa menutupi kegundahan yang terlihat pada diri Alvian. Semua itu membuatnya merasa khawatir jika anak bungsunya itu masih belum bisa melupakan wanita pujaannya yang kini menjadi kakak iparnya.


Ada sedikit rasa bersalah pada dirinya, melihat Alvian yang terlihat kurang bersemangat. Walaupun tidak menampakkan nya secara jelas namun dia adalah orang yang telah melahirkannya, tentu dia memahami apa yang terjadi pada anak-anaknya walaupun mereka tidak mengatakannya.


" Kamu tidak akan buru-buru pulang kan?" tanyanya pada sang menantu yang duduk tidak jauh darinya.


" Kami akan menginap beberapa hari Ma, mumpung Kinan belum masuk sekolah, jika Kinan sudah bersekolah mungkin kami akan jarang berkunjung ke sini, karena pasti menunggu libur sekolah. Ari bisa menginap beberapa hari. Jadi aku minta Mama dan Papa yang nanti akan sering berkunjung ke sana." Zahra menatap ibu mertuanya lalu tersenyum.


" Pasti, jika Papa mu tidak sibuk mengontrol perusahaannya. Memang sekarang semuanya di kelola Alvian, namun tetap Papa akan tetap sesekali mengontrol perkembangan perusahaan apalagi yang berada di luar kota."


Alvian mendekati keduanya yang terlihat tengah asyik mengobrol.


" Ck, jika sudah bertemu kalian ini akan melupakan yang lain." Alvian berbicara seolah merajuk, merasa diabaikan.


" Al, bagaimana hubungan mu dengan dia?" tanya Zahra seolah ingin menggoda adik iparnya tersebut.

__ADS_1


" Dia, maksudnya siapa?" membuat sang mama penasaran sekaligus lega, karena berarti Alvian telah memiliki seseorang dan sudah melupakan masa lalunya.


" Itu Ma, dia... calon istrinya Al, apa mama belum tahu?" Zahra seolah sengaja memancing reaksi Vian untuk berbicara terus terang tentang perasaannya.


" aku tidak tahu." Jawabnya sambil menarik nafas berat.


" Jadi benar, perempuan itu yang membuat dirimu terlihat kacau seperti ini?" ucap Zahra sambil terkekeh.


" Dia siapa Al? kenapa tidak kamu kenalkan pada Mama." Bu Siska menjadi sangat penasaran dengan siapa yang dimaksud Dia oleh kedua orang di depannya ini.


Namun Alvian malah menghindari dengan beralasan ingin melihat Kinan yang sedang belajar bermain sepeda di halaman belakang.


" Apa benar yang kamu katakan, jika Alvian menyukai seseorang? Bu Siska tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya dan segera bertanya setelah Alvian berlalu dan menghilang dari pandangan mereka.


" Sepertinya begitu Ma, Mama tenang saja pasti sebentar lagi mama akan mempunyai menantu baru. Tapi Mama harus tetap menyayangiku walaupun sudah ada menantu baru. Sontak saja Mama mertuanya langsung memukul Pelang lengannya.


" Mama akan menyayangi kalian berdua. Tentu saja kalian sama-sama menantu mama. Wanita yang disayangi kedua anak mama dan mama juga akan menyayangi kalian seperti anak mama sendiri." ucap Bu Siska tulus.

__ADS_1


Dan ucapan Bu Siska membuat Zahra terharu dan menghambur memeluk sang mama mertua yang sudah begitu menyayangi dirinya.


Happy reading 💜💜


__ADS_2