
"Apa bedanya sekarang dan kapan kapan ?" Luthfi bertanya dengan lembut, pandangannya juga terfokus pada Syauqi yang sudah menampakkan raut panik.
"Ya beda, dari segi huruf aja udah beda mas. Lagian kan aku juga butuh persiapan, bawain cake buatan aku misalnya buat mama papa nya mas Luthfi." Jawab Syauqi. Sungguh hatinya menjadi tidak tenang, dia juga tak mau dianggap calon menantu yang tidak sopan karena berkunjung secara dadakan dan bahkan dengan tangan kosong.
Mau ditaruh dimana muka nya.
Anak orang kaya dengan penghasilan pribadi melimpah ruah tapi bertamu tidak membawa buah tangan. Bisa dikira pelit ntar.
Luthfi hanya tersenyum.
"Lagian kita ini mampir bukan sengaja berkunjung, mereka bisa maklumin kok." Ujar Luthfi. Ini kesempatan untuk mengenalkan calonnya kepada kedua orangtuanya, kapan lagi jika tidak sekarang sekalian.
Terdengar ******* frustasi dari Syauqi, gadis ini benar benar belum siap mental lahir batin. "Nggak enak mas, apalagi nanti mas ngenalin aku sebagai calon istri dan aku kayak gini aja tanpa bawa apa apa, itu nggak sopan." Jelas Syauqi yang berusaha memohon pengertian dari Luthfi.
Bukan nggak mau dikenalin, dia seneng malah. Tapi time nya nggak tepat banget. Ya kalik ketemu calon mertua pertama kalinya dengan penampilan ala preman pasar. Celana jeans hitam sobek dilutut sama kaos panjang putih polos mana masih dilipat dikit bagian lengannya.
Dan satu lagi, dirinya tidak terbiasa bertamu dengan tangan kosong.
"Lagian kan kita belom kepergok orangtua mas, jadi kalo nggak mampir juga nggak papa kan ? Aku janji secepatnya aku mau diajak kesini tapi jangan dadakan gini." Lanjut Syauqi karena Luthfi tak kunjung menjawab.
Luthfi hanya memandangnya dalam diam. Dalam hatinya juga tak ingin memakasa Syauqi untuk bertemu orangtua nya saat ini juga.
Tapi ternyata....
"Percuma mom, Opa udah liat mobil kita barusan tangannya dada manggil kita." Ucap Ghifa yang sejak awal hanya menyimak obrolan kedua orang yang satu mobil dengannya itu.
Lama kelamaan juga bosen.
"Beneran boy ??" Tanya Syauqi seketika panik. Kalo udah gini gak mungkin ngajakin Luthfi kabur kan ??
Ghifa mengangguk.
"Iya, rumah opa udah kelewat dua gang tuh." Ghifa menunjuk gang yang berada tak jauh didepan.
Syauqi menatap Luthfi, dan Luthfi hanya menoleh sekilas disertai anggukan. Pria itu tau jika wanita nya memiliki mental baja, perkara seperti bukan hal yang sulit untuk nya.
"Ya udah deh mampir, nggak bawa apa-apa ntar diganti sama masak aja kayak cara bunda dulu. Semoga mama mas Luthfi belom masak." Pasrah Syauqi akhirnya. Udah nggak ada pilihan lain selain mampir, lagipula Luthfi sejak awal juga tidak terlalu merespon kegundahannya.
"Beneran nggak papa mampir ??"
"Udah ketangkep basah mas, jadi mau gimana lagi ?? Lagian mas Luthfi juga maunya gini kan ??"
Luthfi tersenyum melihat Syauqi dengan muka pasrahnya. Jarang jarang gadisnya ini begitu pasrah dalam menghadapi keadaan. Biasanya apapun diterjang bebas tidak peduli apapun.
__ADS_1
Luthfi memutar balikkan mobilnya. Tak berselang lama mobil yang dikendarai nya berbelok kerumah minimalis disebrang jalan. Dan rupa-rupanya benar kata Ghifa, buktinya saat ini kedatangan mereka sudah disambut tepat diteras.
"Bismillah, bos preman pasar mau ketemu calon mertua." Gumam Syauqi memantapkan mental nya yang mendadak ciut.
Fiks kesan pertamanya jelek ini mah.
"Ayok turun mom, itu Oma sama Opa udah tungguin Ghi. Pasti mereka kangen." Ujar Ghifa membuyar kan lamunannya.
Sedangkan Luthfi ternyata sudah berdiri tepat didekat pintu mobilnya yang masih senantiasa tertutup.
"Buset dah elah bisa bisanya udah keluar duluan tanpa menenangkan calon istri yang lagi cepak jeder." Gerutu Syauqi dengan tatapan sengit.
Nggak bisa gitu yaaa kayak didrama atau novel online, yang kalo perempuannya tegang pasti ditenangin dulu sampek bener bener tenang.
"Jangan menggerutu teros mom, nasi udah jadi lontong. Mommy mau sampek kapan disini ??" Tanya Ghifa sinis, ya kalik mommy nya yang biasa sangar jadi ciut kayak burung beo kebanyakan minum sprite.
"Mommy kan juga butuh persiapan mental boy." Ketus Syauqi.
Dengan perlahan akhirnya terbukalah pintu mobil itu, Ghifa langsung berlari menghambur kepelukan dua paruh baya yang berdiri diteras rumah.
"Selamat datang cucu kesayang opa dan oma." Ucap lelaki paruh baya yang Syauqi tebak pasti ayahnya Luthfi.
"Ghifa kangen sama Opa dan Oma. Oh ya Om Ren mana ??"
Setelah puas melepas rindu pada dua paruh baya itu, Ghifa langsung lari kedalam rumah. Bahkan tanpa menoleh pada Syauqi yang sudah hampir tremor.
Syauqi semakin gugup saat ayah Luthfi menatapnya, ntahlah apa arti tatapan itu Syauqi tidak paham. Yang jelas saat ini dia tidak bernyali sama sekali.
"Fi, ajak masuk tamunya. Masak mau berdiri disini." Melihat Syauqi yang mendadak pucat pasi, ibu Luthfi mengajak anaknya untuk masuk dengan tamunya sekalian.
Bukannya lega, Syauqi semakin dibuat tak berdaya. Bernafas saja sulit baginya.
Kini semuanya sudah duduk diruang keluarga, kenapa tidak diruang tamu .? Jawabannya adalah semua sudah tau jika Luthfi datang bersama orang spesial.
Bahkan Ghifa dan Rendi adik dari Luthfi juga ikut bergabung disana karena rasa penasaran nya.
"Silahkan diminum tehnya, jangan tegang." Ucap wanita paruh baya itu dengan lembut dan ramah.
Syauqi menganggukkan kepalanya.
Dengan ragu dirinya mengangkat cangkir tehnya, gerakannya slow motion takut tremornya berdampak pada menyipratnya teh itu hingga membuatnya menjadi perempuan tidak tau tata krama.
"Ma, Pa dan Rendi. Ini calon mommy nya Ghifa dan calon istri mas, namanya Syauqi." Luthfi langsung to the point memperkenalkan Syauqi.
__ADS_1
"Saya Syauqi tuan dan nyonya." Akhirnya dirinya memperkenalkan diri, walaupun dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup.
"Saya Guntur papa nya Luthfi dan ini istri saya Aleta, ibunya Luthfi." Saut Pak Guntur. Diluar dugaan Syauqi ternyata ayah dari calon suaminya ini teramat lah ramah. Lalu apa tatapan nya tadi ??
Ah Syauqi hanya bawa perasaan karena saking gugupnya.
"Saya ibu sambungnya lebih tepatnya." Ucap Bu Aleta dengan senyum lembut.
Satu fakta lagi jika Luhtfi di besar kan oleh ibu sambung. Dan Syauqi baru mengetahui nya.
"Jangan lupain adek dong pa, ini gak dikenalin sekalian. Kak kenalin aku Rendi adeknya mas Luthfi." Ucap seorang remaja laki-laki, dilihat dari wajahnya lebih muda dari Kahfi.
"Saya Syauqi."
"Oma Opa, keren kan mommy pilihan Ghi ?? Dulu mama kan anggun dan tubuh nya mungil, nah yang mommy kayak model luar negri ya walaupun sekarang kayak tukang parkir pasar sih." Ucap Ghifa memamerkan kepiawaiannya mendapatkan mommy. Tapi juga jangan lupa, julidnya masih ada.
"Ghi...." Tegur Pak Guntur.
Nggak enak hati rasanya calon mantu dijulidin sama cucu sendiri.
Syauqi hanya terseyum, sebisa mungkin untuk bersikap santai.
"Oh ya ngomong-ngomong kok kamu mirip seseorang ya Qi ??" Tanya Aleta seraya memandang Syauqi. Sorot matanya penuh kehangatan dan kelembutan.
"Banyak yang bilang saya mirip bunda, Nyonya." Jawab Syauqi yang juga membalas tatapan Aleta tak kalah hangat.
Keduanya bersitatap, dan dari sorot mata yang Syauqi pancarkan Aleta menyadari dengan siapa Syauqi terlihat sangat mirip.
Jantungnya berdebar secara mendadak, raut wajahnya berubah pias.
"Ka... Kamu. Apakah kamu putrinya Shena ??" Aleta tiba tiba bertanya dengan suara terbata. Tatapan nya masih mengunci sosok cantik yang dibawa putra sulungnya pulang.
Syauqi yang mendengar nama bundanya langsung mengangguk antusias. Ternyata calon mertuanya kenal dengan bunda somplaknya yang sedang dirumah ngeremin telor komodo.
Namun sesaat setelahnya, Syauqi tercengang tatkala melihat Aleta yang berubah menjadi shock. Bahkan matanya berkaca-kaca dan tangannya refelek menutup mulutnya yang menganga saking terkejutnya.
Waktu di cafe malam itu, dirinya masih menyangkal dengan segala pemikirannya. Namun hari ini semua benar. Dan apa yang harus ia lakukan ??
"Mas..." Syauqi memanggil Luthfi yang kebetulan malah asik sendiri ngobrol dengan sang ayah.
Mendengar kekasihnya memanggil, Luthfi mengalihkan perhatiannya yang juga diikuti Guntur.
Dan terlihatlah Syauqi yang cemas dengan keterkejutan Aleta. Apa yang sebenarnya terjadi ??
__ADS_1
"Paaa, gadis ini. Gadis ini putri Shena paa, putrinya Juan." Gumam Aleta lirih kepada Guntur suaminya.