IMAM KU

IMAM KU
114


__ADS_3

Setelah kepulangannya, Alvian menyibukkan diri dengan bekerja. Dia hanya fokus dengan pekerjaannya tanpa ingin memikirkan hal yang lainnya.


Ada rasa hampa dalam diri yang terkadang hinggap dihatinya. Alvian benar-benar mencoba menelaah kembali perasaannya.


Dan satu hal yang dia sadari bahwa Naima, memang telah mengisi ruang dihatinya. Alvian tak perlu mempertanyakan lagi. Lambat lain memang gadis itu telah meluluhkan hatinya. Bukankah beberapa waktu lalu pun dia sempat merasakan kehilangan, lalu apa yang dia ragukan. Bukan, bulan dia yang ragu, namun Naima lah yang menyuruhnya kembali mempertimbangkan. Alvian jadi merasa bersalah. Pertanyaan pun mulai muncul di benaknya. Apakah Naima mempunyai perasaan yang sama dengannya?


Bahkan Alvian tidak pernah bertanya, bahkan Alvian tidak pernah memberi kesempatan pada gadis itu untuk melakukan penolakan, seakan dia memaksa Naima pada awal hubungan yang kini terjalin. Perasaan menyesal pun hinggap kini padanya. Apa perlu dia bertanya dahulu ataukah dia harus egois dan melanjutkan semuanya tanpa bertanya.


Alvian hanya berdiam diri sejak dua jam yang lalu. Dia masih duduk di kursi kebesarannya, menatap tumpukan berkas-berkas yang telah dia kerjakan sebagian. Namun pikirannya sedang berkenalana, mencoba menyelami perasaan orang lain dan mencoba mengulang kembali rangkaian cerita yang telah terjadi diantara dirinya dan juga Naima tanpa ada yang dia lewatkan. Dari semua itu dia hendak mencoba menyelami perasaan Naima. Berulangkali dan dia merasa memang Naima selalu mematuhi apa yang dia perintahkan, walaupun itu bukanlah pekerjaan yang seharusnya. Naima tidak pernah membantah sedikitpun. Naima sangat cekatan dalam bekerja dan dia terlihat sebagai sosok penyayang ketika Alvian meminta bantuannya untuk mengurus Kinan ketika itu. Naima sangat telaten dan melakukan pekerjaannya sepenuh hati.


Setelah berpikir lama, Alvian memutuskan untuk menghubungi Naima. lama, namun tak ada jawaban dari seberang sana.


Alvian pun meletakkan ponselnya kembali'. Dia bersandar pada kursi kebesarannya dan memejamkan matanya. lama... sebelum akhirnya dia terlelap di ruangan kerjanya.

__ADS_1


Itulah yang Alvian lakukan akhir-akhir ini. Kantor menjadi rumah keduanya. Kantor yang biasa rapi terlihat berantakan karena beberapa hari ini Alvian tidak beranjak dari sana. Bahkan petugas kebersihan pun tak diperbolehkan masuk ke ruangannya untuk sekedar merapikan dan membersihkan ruangan tersebut. Membuat Romi hanya menggelengkan kepala setiap harinya. Melihat atasannya yang tak seperti biasa. Dan dialah yang direpotkan untuk mengambilkan baju di rumah bos nya itu dan bertugas mengantarkan pakaian kotornya ke sebuah binatu.


Tak seberapa jauh dari kota tersebut, seseorang tengah memandangi ponselnya yang perlahan meredup, setelah beberapa waktu lalu terus menyala dan berdering.


Ya, Naima hanya memandangi ponselnya sejak tadi dari mulai berdering tanpa henti hingga kembali hening dan perlahan meredup. Namun dia enggan untuk menjawab panggilan itu. Walaupun dia tadi dengan jelas melihat, nama siapa yang tertera di sana. " Calon suamiku"


Naima memang menamainya itu sekarang. Namun dia tak sedikitpun bergerak ketika tadi ponselnya berdering berulang-kali dan sebuah pesan menyusul tadi. Namun dia hanya memandangi ponselnya. Di kamarnya masih berserakan barang kiriman dari calon suaminya beberapa hari lalu, menambah tumpukan hadiah yang ada di sudut kamarnya ketika lamaran. Naima hanya menyimpan dan memandangnya saja setiap harinya. Perasaan ragu yang sempat dia rasakan ketika menjelang beberapa jam lagi dia akan melaksanakan pertunangannya.


Ketika itu dia sudah mantap dengan perasaannya. keputusan pun memang sudah dia ambil. Naima memang mengagumi sosok Alvian sejak lama. Dia pun sudah memantapkan hati dengan menerima Alvian sebagai calon imamnya kelak. Namun pesan dari nomor yang tak dikenalnya yang mengirimkan pesan singkat tentang Alvian yang kembali membuatnya ragu akan pria itu. Ragu akan keputusannya sendiri. Dan sampai hari ini dia tidak menemukan benang merah dari apa yang tengah dia pikirkan.


pesan itu mengatakan sesuatu yang membuat dia menjadi ragu akan hubungan yang akan dijalaninya.


Naima kamu harus tahu bahwa Vian sebentar tidak mencintaimu. Kamu hanya dijadikan pelariannya saja. Tahukah siapa wanita yang sangat dicintai calon tunangan mu itu???

__ADS_1


Wanita itu adalah kakak iparnya sendiri. Ya benar, Zahra adalah kekasih Alvian yang sangat dicintainya. Apa kamu tidak bisa melihat dari kedekatan Alvian dengan keponakannya itu. Itu karena Alvian sangat mencintai ibunya.... Hahaha.... Semoga kamu tidak melakukan keputusan yang salah.


Itulah isi pesan yang membuat Naima hampir saja membatalkan semuanya. Namun dia tidak mau mempermalukan kedua keluarga. Apalagi ketika Naima melihat ibunya yang terlihat bahagia. Naima tidak mau dan tidak mampu membuat raut wajah ibunya berubah kecewa. Apalagi jika dia melihat ibunya kembali sakit.


Namun di satu sisi hatinya menolak. Jika semua itu benar maka itu akan terasa sangat berat. Apalagi wanita itu adalah kakak ipar Alvian sendiri yang mungkin akan sering dia temui.


Haruskah Naima mencari tahu kebenarannya, namun pada siapa dia akan bertanya. Bertanya pada Alvian, mungkin itu solusinya. Namun Mulut Naima seakan terkunci rapat ketika itu. Belum lagi dia tidak punya kesempatan untuk bertanya karena mereka berada di tengah-tengah kedua keluarga yang saling bercengkrama, mendekatkan diri satu dengan yang lain.


Akhirnya Naima hanya mengatakan butuh waktu lagi untuk saling menyelami hati masing-masing.


Ketika melihat kedekatan Alvian pada Kinanti, sikap memanjakan dan selalu menuruti apa yang Kinanti mau, membuat Naima yakin jika pesan itu benar adanya. Namun di sisi lain hati ya ingin percaya dan mengesampingkan semuanya. Biarlah semua itu menjadi bagian masa lalunya. Naima hanya perlu masuk dan menggeser nama lain di hati alvian. Namun pertanyaannya, mampukah dia??


Happy reading 💜 💜💜

__ADS_1


terima kasih kepada semua yang masih setia mendukung


__ADS_2