
Serasa bagaikan sumpah. Langit menghitam, angin berhempus kencang, petir menggelegar hingga rintik hujan menderas. Apa yang diperbincangkannya dengan salah satu sahabat bundanya tadi siang soalah menjadi cerita nyata dan meminta bukti atas apa yang sudah terucap.
Ntah nasib buruknya karena telah bertemu dengan Arka dan menyinggung soal balikan dengan sang mantan, hingga dirinya dipertemukan oleh sosok yang telah menghiantinya atau malah memang takdir dari Tuhan yang sengaja untuk mengujinya.
Dalam derasnya rintik hujan, Sauqi mengendarai motornya dengan tatapan kosong. Jika mungkin malaikat maut sedang gabut, sudah dapat dipastikan Sauqi akan meninggalkan dunia dengan hanya sekali tiup. Namun Malaikat maut masih menyayangkan makhluk Tuhan yang satu ini.
Licinnya jalan yang banyak genangan tak ia hiraukan, petir menggelegar ia abaikan, dalam lamunan panjangnya dia menggumam seolah merutuki nasib buruknya. "Salah apa aku dimasalalu Ya Rabb, apakah aku yang sering merusak keharmonisan para kodok hingga nya aku Engkau hukum dengan sedemikan ?"
Jaketnya kuyup, wajahnya mulai memucat, tangannya menggigil kedinginan. Dengan gerakan setengah gemetar dirinya mengusap wajahnya yang basah dengan kasar. "Mohon Ampun Ya Rabb, gue pengen udahan !!!!!". Teriaknya frustasi.
Sreeeeetttt Jedeeeerrrrr !!!
Tanpa diduga, seolah langit salah menyampaikan pesan kepada Sang Khalik. Petir menyambar dengan kilatan cahaya tepat dihadapan Sauqi, maksud hati meminta menyudahi drama patah hati malah disalah pahami semesta.
Matanya membelalak, jantungnya berdebar tak karuan. "Lahaula Walakuata Ilabillah". Lirihnya seraya megusap wajah dan dadanya bergantian.
Sepatah hatinya dia, mati cepat tidak masuk dalam daftar kegalauanya selama ini. Tapi hanya karena sebuah keluhan ditengah hujan seolah langit ingin cepat menjemputnya pulang.
"Ya Rabb, aku mohon pada Mu untuk tidak membiarkan semesta memanggil sang Malaikat pencabut nyawa, hamba Mu yang rendah ini belum memiliki banyak bekal untuk merayu Malaikat Ridwan." Gumamnya dengan mendongakkan kepala menghadap langit, motornya ia pinggirkan dan dirinya sendiri terduduk lemas dipinggir jalan.
Memikirkan apa yang diucapkan oleh Pasha tadi membuatnya tak mampu berpikir, kalimat maaf lelaki itu terus terngiang dalam otaknya. Dan tanpa sadar membuat dirinya melupakan jalan pulang.
__ADS_1
Perhatian gadis itu menerawang sekeliling yang tampak begitu asing. Komplek perumahan elit dengan nuansa sederhana, pagar rumah yang memiliki warna sama disetiap bangunan sangat berbeda dengan perumahannya yang didominasi dengan bangunan bak istana merdeka. "Buset, demi pintu kemana sajanya doraemon, yakin deh gue nyasar." Linglung, hujan mulai mereda, kabut mulai berkurang dan dimana dia sekarang ?
Persetan dimananya dia, yang jelas saat ini adalah kembali mengendarai motornya mencari jalan pulang sebelum dikira gelandangan yang nyasar dan menjadi perhatian banyak orang.
Dalam perjalanannya, matanya mengamati sekeliling hingga pada akhirnya tatapannya terkunci pada seorang bocah yang sedang bermain genangan air. Bajunya, rambutnya, semua badannya basah, baju putihnya berubah mencoklat, namun tawa dan ekspresi wajahnya cerah.
Perlahan namun pasti, Sauqi menepikan motornya dan berjalan perlahan mendekati bocah itu. "Hey, nggak takut dimarahin mama hujan-hujanan ?" Tanya Sauqi ramah.
Bocah laki-laki itu menoleh, mengamati Sauqi dari atas sampai bawah seolah menilai. "Emm tantenya buluq, habis kecemplung didanau taman ya ?" Tanyanya polos.
'Lah buset kenal gue sama nih bocah, mukanya aja dekil gegara maen comberan sampek gue pangling, tapi mulutnya anjiimmmm hapal beut gue'
"Tante kehujanan, tadi tante pulang kerja terus karena hujan lebat tante gak fokus jadi nyasar kesini deh." Jawab Sauqi sambil mengambil posisi jongkok dihadapan bocah itu.
Gerakan kakinya lincah, senyumnya tulus, rasa jijik pada air yang kotor seoalah tak pernah ada. Bocah itu adalah Al-Ghifari, bocil bermulut julid yang pernah Sauqi temui di studio photonya beberapa waktu lalu.
"Ouh gitu." Jawabnya acuh, air yang tergenang membuat bujang kecil itu lupa dunia, bahkan orang yang dihadapannya saat ini seakan tiada.
Sauqi menghela nafas. "Udahan yok boy mainnya, nanti kalo mama kamu marah, genangan air disini bisa pindah ke planet mars." Bujuknya, melihat Ghifa saat ini mengingatkan dirinya dan si abang yang sakit gegara hujan-hujanan nangkep cebong.
"Lagi seru nih tante, lagian mama Ghifa juga udah disurga sama pangeran ganteng. Papi juga belum pulang." Seakan bukan masalah jika dirinya akan sakit, bujang cilik itu malah semakin menjadi dengan berguling digenangan.
__ADS_1
Tepuk jidat mak, Sauqi lupa jika Ghifa sudah tak memiliki seroang ibu, padahal dipertemuan pertama mereka, bocah cilik itu sudah pernah mengatakannya. "Terus, abang dirumahnya sama siapa ?" Tanya Sauqi, nggak mungkinkan sendiri.
"Sama tante Amanda, tapi lagi sakit gigi didalem." Jawab bujang cilik itu seraya menunjuk kearah rumahnya.
Sauqi hanya mengangguk untuk mengiyakan, tapi dalam hatinya banyak muncul pertanyaan.
'Tante Amanda ? Calon emaknya kah ? Bisa ditikung nggak nih ?' Otaknya mulai berpikir licik. Lagian kan baru calon, bisalah mendaftarkan diri.
Karena pikiran ngawurnya, Sauqi tidak sadar jika dalam keadaan bengong. Dengan sengaja dan tanpa belas kasih, Ghifa mengoleskan tanah berlumpur kewajah mulus Sauqi. "Haha tante bengong kayak kebo. Udah dekil malah tambah bengong, makin jelek aja." Ejek bocil itu dengan iringan tawa riang.
Setelah menyadari perbuatannya yang amat sangat memalukan, dan bahkan mendapat hinaan secara telak, Sauqi akhirnya membalas bujang cilik itu dengan hal serupa dan berakhirlah keduanya main basah-basahan di pinggiran jalan komplek.
"Haha jadi pengen punya mama beneran biar bisa main kayak gini." Ucap Ghifa disela tawanya.
Bagai disengat listrik saat mendengar ucapan polosnya, Sauqi menengang ditempat. Sedih yang ia rasa ketika melihat Ghifa, materi tidak kekurangan, apapun yang diminta akan ia dapatkan. Namun kasih sayang seorang ibu belum ia temukan selama hidupnya hingga hari ini. Sebagai wanita yang kelak juga akan menjadi sosok ibu, batin Sauqi terenyuh saat ini.
"Mau nggak kalo tante yang jadi mama nya abang ??" Tanya Sauqi seraya menaik turunkan alisnya. Siapa tau langsung jawab iya, kan mantep.
Mendengar pertanyaan Sauqi, bujang cilik itu langsung mengalihkan pandangan. Menatap Sauqi dengan lekat. "Ghifa emang pengen punya mama, tapi ya nggak tante juga kalik. Tante tuh dekil, jelek, nggak modis, Ghifa malu kalo mau gandeng tante pas ulangtahun pacar Ghifa." Jawab bocah itu sekaligus menusukkan seribu jarum.
Jlebbb. Tembus sampek tulang sumsum, Sauqi dibuat ternganga oleh kepolosan bujang cilik itu. 'Gue dandan habis lu bocil, lu kira gue mau jadi mama lu apa selingkuhan yang lu mau pamerin, buset'.
__ADS_1