
Sudah hampir dua bulan terakhir, Syauqi mulai sibuk dengan berbagai aktivitas. Mulai dari berperan menjadi seorang istri dan ibu, menjadi ibu rumah tangga yang melakukan semua nya sendiri dan juga mengurus segala yang dibutuhkan untuk perusahaan dibidang photography miliknya yang saat ini melebarkan sayapnya hingga diseluruh kota di Indonesia.
Dirinya selalu membagi waktunya dengan semaksimal mungkin, dirinya yang sebagai wanita karir juga tak melupakan tanggung jawabnya sebagai istri dan sosok ibu.
Hari ini weekend, dia memutuskan untuk tetap stay dirumah bersama keluarga kecilnya. Lagipula beberapa waktu belakangan, dirinya selalu terbang wara wiri ke sabang bahkan merauke demi cabang-cabang usahanya.
Dan dia juga tak setega itu untuk merenggut hari libur putra tampannya.
"Aahh mommy ga asik, kemaren sibuk mulu. Sekarang dirumah cuma melukin guling, kayak orang ga guna." Gerutu Ghifa yang tengah duduk bersila disamping sang ibu.
Syauqi hanya berdehem. Ia malas bergerak, malas bicara juga. Maunya hanya merem dan rebahan. Efek lelah mungkin.
"Biarkan mommy istirahat sayang, hari-hari sebelumnya mommy sudah bekerja keras. Selain menjadi ibu yang baik untuk Ghi, mommy juga wanita pekerja keras." Luthfi mencoba memberi pengertian pada putranya yang masih menekuk wajah.
Ghifa mendengus tidak suka. "Ayolah papi, mommy belum mandi sejak kemarin siang. Kerjanya hanya merebahkan badan, bahkan makan saja sambil merem."
Luthfi nampak berpikir. Iya juga, sudah hampir 24 jam lebih istrinya sama sekali belum membasuh diri. Bahkan makan saja masih dengan memejamkan mata.
Dan lagi, istrinya bergerak hanya jika ada panggilan alam dan waktu makan.
"Sayang, mommy, apa kamu sakit ?" Tanya Luthfi seraya mendekat kearah Syauqi yang masih menyembunyikan wajah dibalik guling.
Ghifa juga mulai memperhatikan mommynya dengan seksama. Khawatir juga jika sang mommy ternyata sedang sakit.
"Mom ? Are you okey ?" Lirih Ghifa seraya mendekatkan wajah kekapala sang mommy. Niat mengintip wajah mommy nya.
Syauqi masih sama seperti sebelum nya. Jangankan menjawab, ada pergerakan saja tidak.
"Pi ?" Panggil Syauqi dengan wajah cemas.
Luthfi mengalihkan pandangan. "Hem ?".
"Mommy nggak lagi latihan mati kan ?" Ghifa bertanya dengan muka polosnya.
Tangannya masih bertengger cantik dibahu sang mommy yang tidur miring.
Luthfi mengerjap beberapa kali, masih mencerna pertanyaan bujang kecilnya.
"Kan kasihan Pi, padahal masih muda." Lanjut Ghifa yang kemudian menatap sang mommy iba.
__ADS_1
Seketika Luthfi melotot kan matanya. Sialan ! Batinnya.
Bisa-bisanya sang anak mengira jika istri barunya latihan mati. Memang bener bener, mulut Ghifa belum sembuh dari perkataan tajam yang kurang ajar.
"Heh bujang, ini mommy kamu. Ya kali latihan mati." Sembur Luthfi tidak terima. Baru juga adik kecilnya beropwrasa selama satu tahun, masak iya mau kembali di museumkan.
Ghifa hanya nyengir nggak minat.
"Sayang bangun ya, mandi dulu gih. Kalo mager kita berdua mandiin deh." Bujuk Luthfi seraya menguncang lembut tangan Syauqi.
Ghifa mengangguk setuju seraya menggoncang bahu sang mommy.
"Kita guyur deh mommy, mau gaya mandiin kebo juga boleh. Ghifa sanggup dan mampu." Sambung Ghifa dengan sesekali mencoba mengintip wajah sang mommy.
Masih sama tak ada jawaban, hanya saja kali ini Syauqi mengulurkan tangannya.
Dan Luthfi serta Ghifa mengartikan jika Syauqi bersedia dimandikan.
Beberapa saat berlalu, Syauqi sudah selesai dimandikan oleh Luthfi. Ghifa hanya bertugas menyiapkan baju dan Perlengkapan skincare sang mommy.
Kini ketiga nya sedang bersantai diatas ranjang, Syauqi menempatkan wajahnya tepat dileher belakang Ghifa. Perlahan mencium aroma khas anak-anak dengan mata masih terpejam.
Dan gilanya, Syauqi memang benar benar belum membuk matanya walaupun sempat di guyur air.
Syauqi masih nyaman dengan posisinya. "Mata mommy berat boy, pengennya merem aja gitu."
"Kamu ga konsumsi obat penenang terus kebanyakan kan sayang ?" Kini gantian Luthfi yang bertanya dengan cemas.
Syauqi menggeleng. "Aku ga minum yang aneh-aneh mas. Aku kan lagi program hamil." Jawab Syauqi yang beralih memangku bujang kecilnya. Dan masih dengan mata terpejam tentunya.
Kini dia fokus menghirup rambut Ghifa yang wangi stroberi khas shampo anak anak.
Ghifa sesekali tertawa geli, ketika Syauqi mengusel usel dileher nya. Dan kemudian berucap. "Atau mommy lagi hamil ? Soalnya Oma Naswa dulu juga males mandi pas lagi hamil om kecil. Tapi nggak separah Momny sih."
Luthfi mengalihkan perhatiannya. Menatap fokus kearah Ghifa dan Syauqi bergantian.
Pikirannya kembali ke masa lalu. Mengingat bagaimana awal mulanya Mama Ghifa mulai ngidam dan bertingkah aneh.
Mungkin polah aneh Syauqi saat ini juga karena faktor ngidam ?
__ADS_1
"Sayang, atau mungkin yang dibilang bujang kecil kita ada benernya." Ucap Luthfi yang kini menatap Syauqi serius.
Syauqi hanya tertawa ringan nggak minat. Dia malas membahas apapun, melakukan apapun dan semuanya ia malas. Yang ia mau hanya bersantai dan menutup mata serta menghirup aroma manis bujang kecilnya yang tampan. Selebihnya ia tidak peduli.
Luthfi menghela nafas. Memang ini kelakuan Syauqi yang amat langka.
"Dulu sewaktu Maira mengandung Ghifa, tingkahnya juga sama anehnya denganmu sayang. Hanya saja dia bertingkah jika hendak tidur, dia hanya bisa tidur setelah mengganti semua sprei dan sarung bantal. Itu berlaku setiap hendak tidur." Jelas Luthfi sembari menerawang jauh.
Maira yang selalu anggun dan tidak menye-menye saja fase ngidamnya mengerikan.
Syauqi membatin, dan tak habis pikir. Segila itukah ibu hamil ?
"Awalnya aku menganggapnya aneh, dan sering bertanya apa yang ia lakukan dan mengapa. Bahkan sempat menjadi pertengkaran diantara kami. Hingga akhirnya mama memberi tahu dan meminta Maira melakukan tes kehamilan. Dan ternyata Ghifa sudah berada diperutnya dengan usia kandungan 4 minggu." Lagi dan lagi Luthfi bercerita, dan juga mengaitkan tingkah Syauqi saat ini sama dengan apa yang Maira lakukan dulu.
Syauqi hanya berdehem sebagai tanggapan. Sungguh demi apapun dia tidak minat.
"Ibu hamil sungguhlah mengerikan." Gumam Ghifa menyampaikan apa yang sempat terpikirkan oleh Syauqi sebelumnya.
"Ayolah sayang, apa salah nya kita mencoba mengeceknya, lagipula sudah hampir empat bulan kamu berhenti melakukan tes kehamilan yang sebelumnya hampir seminggu sekali kamu lakukan." Bujuk Luthfi dengan lembut. Dia sangat yakin jika sekarang ada sikecil didalam perut Sang Istri.
Ghifa mengangguk setuju. "Coba saja mom, masalah hasil kita pasrahkan kepada Yang Maha Esa." Ungkapnya seolah dirinya adalah pria dewasa dengan kedewasaan nya.
Bukan tak ingin, atau putus harapan. Syauqi sebenarnya juga berpikir hal yang sama. Apakah tingkah anehnya ini adalah bawaan bayi atau apa.
Bahkan dirinya juga sadar jika sudah telat datang bulan hampir dua bulan lamanya. Intinya selama ia sibuk, tamu bulanannya juga tak datang.
Tapi ia hanya berpikir bahwa itu adalah faktor kelelahan dan stress. Makanya telat datang, dan itu biasa baginya karena dulu pun juga sering begitu.
Namun lagi-lagi ia mengesampingkan pikirannya itu. "Aku belum siap melihat mu kecewa lagi mas." Lirih Syauqi yang sedikit redam karena wajahnya berada dibalik kepala sang anak.
Luthfi mengernyit. "Aku percaya pada takdir sayang, ayo coba sekali lagi. Mungkin ini pertanda." Ucapnya memohon.
Bahkan Ghifa juga menangkupkap tangan nya memelas. "Mom ayolah, setidak nya mencoba dulu kan ?" Ucapnya.
Syauqi masih tak bergeming. Dirinya masih sibuk dengan dunianya yang penuh dengan kemalasan. Mata nya yang terpejam sedikit bergerak tapi tak juga ada niat terbuka.
Ingin menjawab mari kita coba, namun rasanya ia malas dan sangat malas. Bukannya ia tak ingin hamil, hanya saja dia terlalu malas untuk membahas atau melakukan apa yang Luthfi inginkan saat ini. Menjawab saja Syauqi enggan, intinya lain kali saja.
Dirinya benar benar menjadi makhluk paling malas, bahkan perutnya yang mual saja ia tahan dengan menghirup aroma manis bujang kecilnya. Apalagi cek kehamilan ?
__ADS_1
Rasanya Syauqi enggan melakukannya saat ini. Lain kali saja, pikirnya.
Melihat Syauqi yang tak berniat sama sekali, Luthfi dan Ghifa hanya bisa pasrah.