
Seminggu setelah kepulangannya dari kota kelahiran, Zahra merasakan tubuhnya yang cepat lelah. Apalagi dua hari ini dia merasakan tubuhnya yang sedikit demam sampai-sampai seharian ini dia hanya tiduran saja di tempat tidur tanpa melakukan aktifitasnya. Untung saja Kinan belum mulai sekolah dan akan mulai sekolah di bulan depan. Tiga hari lalu dia bersama Reynan sudah mendaftarkan sekolah Kinan di taman kanak-kanak yang tidak jauh dari rumahnya. Kinan memang sudah setuju bersekolah di sana, Zahra memang sengaja menyekolahkan di sana, selain Kinan suka tempatnya, lokasinya juga masih di dalam komplek sehingga dia tidak begitu khawatir ketika nanti Kinan masuk sekolah tidak akan banyak menyita waktu di perjalanan yang di sebabkan kemacetan.
Zahra mengambil ponselnya yang diletakan tidak jauh dari tempat dia berbaring. Dia hendak menghubungi suaminya dan meminta Reynan membawakan salad yang di buat di restoran. Sebenarnya dia bisa saja membuatnya sendiri bahkan bahan-bahan yang di pergunakan lengkap tersedia didalam kulkas. Namun dia tidak ingin melakukannya, bahkan Zahra hanya menginginkan salad yang di buat di hotel. Zahra sudah membayangkan bahwa makanan itu akan terasa segar di mulutnya.
Namun beberapa kali dia mendial nomor suaminya, hanya berdering tapi tidak diangkat. Membuat dia sebal dan kemudian terisak. Entah kenapa dia sendiri tidak mengerti karena akhir-akhir ini dia begitu sensitif.
Reynan yang sedang sibuk memeriksa laporan keuangan juga pengadaan bahan pangan, mendadak teringat pada istrinya. Reynan merasa akhir-akhir ini istrinya begitu sensitif. Teringat ketika Reynan pulang larut malam saja, istrinya merajuk dan mempermasalahkannya padahal sebelumnya tidak pernah bersikap seperti itu. Namun malam itu istrinya banyak bertanya kenapa dia bisa pulang larut dan bodohnya Reynan tidak mengabarinya karena dia pikir istrinya itu akan mengerti. Seperti biasanya diakhir dan awal bulan dia seringkali sibuk dan terkadang pulang larut. Namun malam itu istrinya begitu marah sampai meminta ponselnya segala dan memeriksa semua chat yang masuk ke ponselnya. Di sisi lain Reynan merasa senang dengan sikap istrinya yang begitu posesif.
Reynan pun merogoh sakunya dan melihat ponsel nya yang sudah terdapat banyak chat dari sang istri dan juga panggilan masuk yang tidak terjawab. Reynan pun merasa khawatir istrinya akan kembali marah dan mengabaikannya, walaupun itu takkan berlangsung lama namun tetap saja membuatnya khawatir dan merasa bersalah karena tengah mengaktifkan mode hening pada ponselnya.
Buru-buru dia menghubungi istrinya, namun beberapa kali dia mencoba tak diangkat juga membuatnya tambah khawatir. Segera dia menghubungi bagian pantry dan meminta menyiapkan salad buah dan juga sayur. Dia bersiap pulang dan membawakannya untuk istrinya yang pasti sedang merajuk.
Butuh waktu hampir satu jam untuk Reynan sampai kerumahnya. Di jam menjelang makan siang memang kendaraan begitu padat. Apalagi lokasi hotel dan restorannya yang dekat dengan pusat kota pastilah kendaraan akan selalu ramai melintas di sekitar situ.
Setelah mengucapkan salam Reynan langsung masuk ke rumah. Dia mendapati Kinanti yang sedang bermain dengan pengasuhnya.
" Ayah..." teriak anak itu begitu melihat ayahnya datang. Reynan pun menghampirinya dan menciumnya.
__ADS_1
" Mana Ibu?" tanyanya pada putri kecilnya. Kinan hanya menunjuk kelantai atas.
" Ibu ada dikamar Pa, dari tadi tidak turun." Bu Lani memberitahu Reynan bahwa majikannya itu memang tidak terlihat turun kelantai bawah sejak tadi pagi. Bahkan dia tidak mau diganggu bahkan oleh Kinanti.
Reynan segera ke kamarnya, dia melihat istrinya sedang terlelap dengan berselimut tebal. Reynan pun melangkah mendekati istrinya, namun dia begitu terkejut karena mendapati istrinya yang tengah demam. Badannya panas dan terlihat gelisah dalam tidurnya. Reynan berusaha membangunkan istrinya perlahan. Zahra sedikit membuka matanya dan langsung memijit kepalanya yang terasa pusing.
" Ini aku bawakan salad untukmu..." namun Zahra menggeleng lemah. Reynan menghela nafas dan mengeluarkan dua kotak berisi salad sayur dan buah.
" Pasti kamu belum makan?" tanyanya pada sang istri.
" Ayo makan dulu, nanti kamu sakit!" ucapnya tanpa ingin di bantah. Zahra pun dengan terpaksa membuka mulutnya dan memaksakan mengunyah dan menelan makanan itu sampai habis setengah, setelah itu Reynan pun menyuapkan salad buah padanya. Setelah menyuapi istrinya barulah dia memakan sisa makanannya dengan lahap.
Melihat istrinya yang masih terlihat lemah, Reynan pun mengajaknya ke dokter untuk memeriksakan kondisinya yang mungkin saja membutuhkan obat atau vitamin. Zahra pun menurut saja karena memang dia merasakan tubuhnya yang lemah dan sedikit terasa pusing dan juga mual.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sebuah klinik 24 jam. Reynan segera mendaftarkan istrinya terlebih dahulu sedangkan Zahra menunggu di kursi yang sudah di sediakan di sana.
Untung saja pasien tidak terlalu banyak, setelah menunggu hampir setengah jam , nama Zahra pun di panggil. Reynan memapah istrinya menuju ruangan dokter. Zahra pun di periksa oleh dokter cantik yang masih muda. Mungkin usianya sebaya dengannya. Setelah mendengar keluhan dari pasien dan memeriksanya dengan teliti, dokter yang bernama Rumi itu mengatakan bahwa Zahra tengah mengandung dan untuk memastikannya harus di periksa kebagian obgyn. Reynan pun tak sabar untuk segera mengajak Zahra memeriksakan kandungannya. Zahra melihat antusias suaminya menjadi sedikit khawatir, bisa saja dugaan dokter itu salah. Namun dia hanya diam dan menuruti ketika Reynan mengajaknya untuk diperiksa kebagian obgyn.
__ADS_1
Hari ini semua orang berkumpul. Reynan sengaja membuat syukuran untuk kehamilan kedua Zahra.
Setelah Zahra dinyatakan benar hamil oleh dokter, Reynan segera memberikan kabar kepada kedua orang tua serta mertuanya.
Reynan sangat bersyukur sekaligus merasa bersalah. Bersyukur karena istrinya tengah mengandung anak keduanya, merasa bersalah karena Reynan ketika Zahra hamil anak pertama mereka tidak mendampinginya. Namun kali ini dia akan benar-benar menjadi seorang suami siaga yang siap kapanpun untuk menjaga dan memenuhi keinginan istrinya itu. Konon kabarnya ketika wanita hamil akan merasakan ngidam yang akan meminta makanan yang aneh-aneh di jam yang tidak bisa ditentukan.
Namun bukan hanya Reynan dan Zahra yang merasa bahagia atas kehamilan ini, si kecil Kinanti juga tak sabar menantikan lahirnya seorang adik untuknya. Begitupun dengan kedua orang tua mereka. Ini merupakan kabar yang sangat membahagiakan.
Apalagi untuk Papa Bagas dan Mama Siska di hari yang sama mereka merasakan bahagia yang luar biasa. Selain kabar akan hadirnya cucu kedua mereka, ada satu lagi kabar yang yang membuat mereka bahagia. Alvian, ya Alvian. Dia datang di acara syukuran kehamilan Zahra dengan seorang gadis, tak hanya itu dia pun mengenalkan gadis itu sebagai calon istrinya dihadapan seluruh keluarga dan itu adalah kabar yang sangat membahagiakan untuk semuanya.
Tamat
Kisah Reynan dan Zahra berakhir disini ya... Sekarang mereka sudah bahagia. Tapi tunggu dulu akan ada season 2 yang menceritakan Alvian dan wanita yang akan menjadi istrinya nanti. Di sana juga pasti ada sedikit cerita reynan dan zahra, tapi akan lebih banyak cerita Alvian di season 2. Author akan mulai update season 2 Minggu depan, sampai jumpa..
Terima kasih untuk readers yang sudah membaca dan memberikan dukungan untuk karya ini. 🙏
untuk yang akan memberikan dukungan harap di perbaharui terlebih dahulu aplikasi NT nya 🙏
__ADS_1