IMAM KU

IMAM KU
2 Bujang Mommy Sao


__ADS_3

Luthfi mengajak pujaan hatinya masuk rumah, mencari Ghifa yang sejak beberapa jam yang lalu dia tinggalkan sendirian. Niat hati beli mie rebus buat ganjel perut berdua eh malah jadi pemeran utama sad boy drama sore.


"Mas, Ghifa mana ? Kok rumah sepi ?" Syauqi memperhatikan sekeliling. Rumah besar itu terasa sepi seperti tak ada kehidupan.


"Paling dikamar. Tadi sebelum saya tinggal, saya suruh dikamar aja nggak usah kemana-mana." Jawab Luthfi yang langsung mengarah menuju kamar nya berada. Tautan tangannya juga tak ia lepaskan sehingga Syauqi mengikutinya.


Wah pak duda, main gandeng gadis orang masuk kamar bae.


"Mas Luthfi udah balik formal lagi. Tadi aja bisa aku kamu." Ujar Syauqi. Lagipula tadi kan Luthfi setengahnya nggak sadar karena saking sadnya.


"Oh. Apa iya ?" Luthfi acuh seakan tak pernah mengucapkan aku kamu.


Syauqi hanya mengangguk, tapi bibirnya mencibir.


Sesampainya didepan kamarnya, Luthfi langsung masuk begitu juga dengan Syauqi yang tangannya masih tergenggam erat oleh Luthfi.


Didalam kamar terlihat Ghifa yang sedang rebahan manja dengan hanya mengenakan ****** ***** gambar angry bird dan kaos polos bewarna biru langit.


Tangannya sibuk mewarnai, matanya fokus pada buku dihadapannya dan tidak menyadari jika ada dua makhluk yang masuk menyusulnya.


"Sibuk amat boy, Mommy nggak disambut ?" Tegur Syauqi. Jengkel aja gitu dicuekin anak sendiri.


"Kayak presiden aja minta disambut." Ghifa menjawab dengan masa bodo. Bahkan kepala nya tidak menoleh.


"Yodah mommy buat papi aja, kamu nggak boleh cemburu ya." Saut Luthfi, dirinya tau jika sang anak tidak akan lama bersikap cuek dengan calon mommy nya.


Dan benar saja, Ghifa langsung beranjak dari rebahan nya. Posisinya terduduk dan menghadap lurus kearah Syauqi yang bersantai ria disofa yang disediakan dikamar pak duda itu.


Syauqi mengangkat alisnya.


"No !! Big No !! Mommy Sao milik Ghifa dan milik papi. Jadi milik berdua." Ucap Ghifa tegas.


Enak saja mommy Sao nya di monopoli sendiri oleh sang papi.


"Oh ya papi, mana mie rebus nya ? Papi belinya ke Ukraina yaa terus perang dulu makanya lama ?" Lanjutnya. Mata nya mengintimidasi sang papi.


Pamit beli mie rebus, pas pulang bawa gadis. Itu beli ke warung apa kerumah calon mertua ??


"Papi buang tadi, sebel sih liat mommy kita dipeluk orang lain." Jawab Luthfi sewot. Ntahlah hatinya masih nggak karuan kalo inget kejadian tadi.


Ghifa berkerut kening. Siaalan juga nih papi. "Pantes papi keliatan kayak sadboy." Ucapnya santai.


"Papi ini juga manusia boy, punya rasa punya hati. Untung hatinya buatan Tuhan, kalo buatan Cinaa mah tauk dah gimana." Luhtfi terpancing, udah tau anaknya julid masih aja diladenin.


"Panas lah habis tu meledak, tamat sudah." Jawab Ghifa spontan, bahkan tangannya juga ikut digerakkan seoalah berpuisi.


Luthfi mencebik. "Salah emang Kalo papi cemburu ? Terus insecure ?" Tanya Luthfi dengan kepala mendongak menantang.


Ghifa yang ditantang malah tersenyum sinis. "Nggak ada yang salah Pi. "


"Nahkan...." Belom selesai Luhtfi berucap sudah tersambar oleh Ghifa lagi.


"Cuma salahnya papi duda udah gitu aja, mana nggak sat set sat set lagi. Papi tuh kurang gercep makanya tadi mommy dipeluk orang lain." Oceh Ghifa lumayan panjang, jarang jarang nih kutu ngomong banyak.


Luthfi terdiam, rasanya barusan dia sudah tertembak tepat dijantungnya. Syauqi hanya bisa menggelengkan kepala, mau nimbrung juga ga ada celah jadi yaa nonton aja.


"Jadi maksud kamu  papi harus lebih gercep lagi ?" Tanya Luthfi setelah beberapa saat terdiam.


Dan Ghifa mengangguk sebagai jawaban seraya mengacungkan jempolnya ala mbak Anya Geraldine.


Tanpa diduga-duga, Luthfi yang berdiri didepan pintu kamar mandi langsung berlari kearah Syauqi dan langsung memeluk gadis itu dari samping. Syauqi dan Ghifa reflek menganga secara bersamaan.


What the ?


"What are you doing, Papi ?" Tanya Ghifa yang masih lupa cara berkedip.

__ADS_1


Syauqi mengarahkan wajahnya kekiri, tepat dihadapan wajah Luthfi dengan jarak yang amat tipis.


"Kata kamu kan papi kurang gercep sat set boy makanya mommy dipeluk orang lain. Nah sekarang papi peluk nih mommy biar gak dicomot orang lagi." Jelas Luthfi dengan posisi masih memeluk Syauqi. Bahkan semakin erat pula dekapan tangannya.


Ghifa menepuk jidadnya keras dengan kotak pensil warna. "Ghi malu punya papi nggak ada otak."


Syauqi meringis mendengar anaknya memaki sang ayah. Keluarga macam apa ini pikirnya.


"Mas, lepasin dulu aku nggak napas." Ucap Syauqi dengan terbata. Nafasnya sudah tinggal satu dua, lengan Luthfi terlalu kuat mendekapnya.


"Eh maap." Luhtfi gelagapan.


Nahkan baru nyadar.


"Kamu tau maksud nya Ghifa nggak mas ?" Tanya Syauqi setelah kembali bebas menghirup nafas.


"Kurang sih, cuma badan saya reflek nya bagus." Eh ? Jawaban macam apa ini Luthfi ?


"Jadi maksudnya Ghifa itu, kamu gercepnya untuk keseriusan atau minimal pengakuan dulu deh kayak yang udah kita lakuin tadi." Jelas Syauqi. Emang ya kalo naluri emak itu bisa menjelaskan bahasa kera sekalipun.


"Ohhh" Luhtfi hanya beroh ria, dirinya sudah terlanjur malu.


"Huh masak iya pinter mommy daripada papi,  ah nggak keren nih." Ucap Ghifa meledek sang Papi. Nah nah cari masalah lagi kan.


Sebelum Luthfi membalas ucapan sang anak, Syauqi buru-buru menyela. "Udah udah, mommy mau mandi nih gerah." Kalo nggak ditengahin bisa nyampek Ibu kota nusantara diresmikan.


"Pakek baju mama aja mom, masih ada beberapa dilemari." Tawar Ghifa tanpa bertanya mengenai persetujuan sang papi.


Syauqi menoleh kearah Luhtfi yang masih diam.


"Iya pakek aja, kan nggak mungkin kamu pakek dress ini lagi." Jawab Luhtfi cepat.


Dengan langkah lebar Luthfi menuju lemari dan membuka pintu lemari paling ujung. Dirinya meminta Syauqi mendekat dengan lambaian tangannya.


"Kamu pilih aja sendiri, aku sengaja nyisahin bajunya Maira nggak banyak, jadi cuma segini." Ucap Luthfi seraya membuka lebar pintu lemari sepaya Syauqi bisa melihatnya.


Dan terpampang lah beberapa dres dengan warna pastel. Memang tidak banyak, mungkin hanya ada sekitar 15 an baju yang tertinggal.


"Kok kamu mau kasih ke aku mas ? Bukannya ke mbak Manda kamu nggak kasih ?" Tanya Syauqi, dirinya ingat saat pertama kali main kerumah ini dan Manda mengatakan jika Luthfi melarangnya meminjam baju Almarhumah istrinya.


"Mommy Sao, asal mommy tau. Aunty Manda itu udah kayak perampok. Baju mama banyak-banyak diambil sama aunty aja, sedangkan sepupu Papi aja kebagian dikit." Saut Ghifa dari atas ranjang, dirinya tau semua baju mama nya kemana dan diberikan kepada siapa. Karena Luthfi tidak menyembunyikan sedikit pun tentang mama kandung nya, Humaira.


"Bener kata Ghifa, saya sendiri yang suruh dia pilih waktu itu daripada mubazir. Dan kami hanya menyisakan ini, masak iya mau dia minta juga ?" Sambung Luthfi.


Syauqi hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah itu matanya melirik sekilas kearah photo seorang wanita anggun yang terpampang didinding kamar.


"Udah pilih aja yang menurut kamu nyaman dipakai." Ucap Luthfi menyadarkan lamunan Syauqi. Dirinya mengagumi sosok wanita anggun dalam frame itu.


"Iya mas."


Syauqi mencoba menempelkan dres dres itu ke badannya bergantian, sudah hampir semua dia coba dan yaa begitulah.


"Kenapa ?" Tanya Luthfi sedikit kecewa karena tak satu pun dres mendiang istrinya dipilih oleh Syauqi. Dirinya mengira bahawa Syauqi tak suka dengan dres dres sederhana itu.


Karena sudah terlihat jelas, kualitas dan harga dress yang dibelikannya untuk mendiang sang istri dengan dress yang dipakai Syauqi harganya berbeda jauh.


Seolah tau apa yanh dipikirkan Luthfi Syauqi kembali menyambar satu dres.


"Mas maaf, bukannya nggak menghargai kamu atau nggak suka sama dres nya mbak Maira tapi...."


"Tapi apa ?" Nada Bicara Luthfi berubah membuat Syauqi serba salah.


"Ini dress nya mbak Maira sebernernya caa..."


"Lalu ?"

__ADS_1


Belum juga siap ngomong, udah main potong aja si Luthfi.


"Mommy ketinggian kayak tiang listrik, baju Mama jadi keliatan mini." Ucap Ghifa menggeleng kepala. Dia tau dari photo photo yang disimpan sang Papi jika Mama nya adalah wanita dengan tubuh mungil berbanding jauh jika disandingkan dengan Mommy Sao nya yang tinggi bak model luar negri.


"Iya, Mommy Sao kayak burung onta jadi nggak pantes pakek dresnya putri kelinci kayak Mama Mai." Jawab Syauqi lesu. Ini yang mau dia katakan sejak tadi tapi disalah pahami oleh Luthfi.


"Jadi gimana Mom ? Kali mommy paksa pakek bajunya mama lucu jadinya. Kekecilan." Ujar Ghifa lagi.


"Mas, baju mbak Mai kekecilan di aku. Kalo aku paksa pakek, pas jongkok ntar mas nampak lagi aset masa depan aku." Ucap Syauqi dengan menatap Luthfi meminta saran.


"Ya kan bagus ." Jawab Luthfi tanpa sadar. Udah mulai no filter mulut nya.


"Hah apa ?" Syauqi terkaget mendengarnya.


"Astagfirullah." Luhtfi mengelus dadanya beristighfar setelah sadar akan kesalahannya.


"Gini aja kamu cari disini deh kalik aja ada legging atau celana panjang." Tunjuk Luthfi pada 2 laci yang berada dibawah gantungan baju dan masih berada disatu pintu lemari yang sama.


Dengan cekatan Syauqi mencari apa yang diinginkannya tanpa merusak tatanan kain-kain dilaci tersebut  hingga akhirnya dirinya menemukan sebuah legging hitam panjang.


"Nah dapet mas. Aku pinjem kaos kamu aja deh mas. Lagian kalo maksa pakek baju mbak Mai didada aku juga ketat banget jadi ga leluasa, kan aku mau masak." Ucap Syauqi seraya menunjukkan legging yang ditemukan nya.


"Yakin ?" Tanya Luhtfi.


"Iya, lagian kaos kamu yang agak oversize kalo aku pakek juga panjang selutut kan ?"


"Yodah bentar. Oh ya ini dalemannya buat kamu, itu belum pernah dipakek sama Maira, nggak tau juga kenapa. Saya juga belum liat gimana bentuknya." Ucap Luthfi seraya menyerahkan satu kotak yang berisi satu set daleman wanita.


Saat Syauqi sibuk mencari kan kaos untuknya, Syauqi menyempatkan diri untuk melihat isi kotak itu. Memangnya daleman seperti apa kok Mbak Maira nggak mau pakek, begitulah pikiran Syauqi.


Saat matanya menatap isi kotak itu dengan jelas, langsung lah bola matanya seperti hendak keluar.


'Pantes mbak Mai yang polos dan anggun itu nggak mau pakek, orang bentuknya kayak gini.' Batin Syauqi menahan nafas.


"Kenapa ?" Luthfi mebalikkan badannya, dirinya sudah mendapatkan apa yang diminta Syauqi padanya.


"Mas, pantes mbak Mai nggak pernah mau pakek. Isinya ginian." Ucap Syauqi seraya menunjukkan isi kotak yang ada ditangannya, seketika itu juga Luhtfi menelan salivanya kasar.


"Huh mana mau Maira pakek ginian, disuruh pakek lingeri aja malah nangis." Luthfi menghela nafas berat, siapa juga yang ngado daleman cuma seuprit kain dengan tali begini.


Udah tau istrinya sholeha luar dalem. Diluar rumah ukhti didalem rumah ya tetep ukhti. Apa itu sholehot.


"Ini nutupin apanya ya mas ? Ujung gunung sama ujung lembah doang kah ?" Tanya Syauqi bergidik, udah tau itu kain haram malah ditanyain ke laki laki yang status nya juga masih haram.


"Tauk ah yang, mandi lah sana buruan. Mas juga mau mandi panas dingin jadinya." Ucap Luthfi seraya berlalu masuk kamar mandi. Dirinya hendak mengguyur badan yang panas  dibawah shower lagipula bentar lagi adzan magrib.


Pikirannya bertraveling mendaki dua gunung milik Sao dan menyusuri lembah. Bisa bisanya nemu barang haram peninggalan istri.


Syauqi langsung berlalu menuju kamar sebelah untuk menbersihkan tubuhnya. Pikriannya melayang membanyangkan seandainya Maira masih hidup dan kedua nya hidup diatap yang sama dan memiliki status yang sama oh betapa serunya.


Ehh apa itu ? Dimadu kan Maira ? Emang mau punya madu nggak ada akhlak kayak Syauqi ?


Yang ada rusak dah itu kepolosan Maira.


Dan lagian walaupun balasan nya surga nggak semua wanita rela dipoligami.


*****


Woyyh Warga apa kabar ??


Yang masih jomblo udah punya ayang belom ?


Nah yang udah berdua kapan nikah ??


Teros yang udah nikah kapan nambah ? Nikah lagi gitu wkwkwk😅😅

__ADS_1


__ADS_2