
Alvian dan Naima akhirnya tiba di kota X. Perjalanan yang melelahkan membuat mereka tidak langsung ke rumah Reynan melainkan pulang ke rumah Alvian yang dulu hanya ditinggali seorang diri. Kini statusnya sudah berubah dengan ketika dia pergi beberapa hari lalu. Kini Alvian pulang dengan membawa seorang istri yang akan dia jadikan teman sampai masa tua nya nanti.
" Mas, apa kita gak langsung ke rumah mas Rey,? "
" Nanti saja, kita istirahat saja dulu. Toh, kita gak bilang akan pulang hari ini kan, jadi besok ke sananya pun gak masalah. " Alvian terkekeh sambil menarik tubuh Naima dan mendekapnya erat.
Alvian berusaha menyelami kembali perasaannya yang terkadang masih terombang-ambing. Namun dia juga terkadang memang yakin telah mencintai Naima, disisi lain terkadang masih ada seseorang di masa lalu yang masih mempunyai tempat di hatinya walaupun dia berusaha menyangkal semua itu. Namun entah sebagai apa, yang jelas seseorang itu masih mempunyai tempat istimewa. Entah itu hanya rasa kagum ataupun entahlah. Yang jelas dia selalu berusaha meyakinkan bahwa Naima lah wanita yang kini dia cintai dan diapun tidak pernah mau menyakiti ataupun mengkhianati perempuan yang sekarang ada dalam dekapannya. Perempuan baik yang telah meluluhkan hatinya yang telah lama membeku.
__ADS_1
" Mas yakin kita gak ke sana sekarang? " Naima kembali bersuara dan hanya ditanggapi dengan gumaman oleh Alvian.
Akhirnya Naima pun berusaha memejamkan matanya setelah lama dia hanya terdiam dengan pikirannya yang berkelana.
Selepas Ashar Alvian memesan makanan untuk mereka berdua. Naima pun tidak menanyakan lagi perihal kepergian ke rumah kakak iparnya. Alvian benar- benar tidak ingin keluar rumah. Dia ingin menikmati kebersamaannya berdua saja dengan Naima.
" Nay, apa kamu akan tetap bekerja di perusahaan? " Alvian membuka percakapan disela menikmati makanannya.
__ADS_1
" Aku akan ijinkan, namun ketika nanti kamu hamil dan punya anak, aku ingin kamu tinggal di rumah saja mengurus anak-anak kita nanti dan menyambut ku pulang. Manis sekali... " Kemudian Alvian pun terkekeh membayangkan kelak dia pulang bekerja akan disambut oleh istri dan anak-anaknya.
Naima pun tersenyum mendengar perkataan Alvian. Tak menyangka suaminya sudah berpikir sampai sejauh itu, membuat hatinya merasa lega karena pemikiran suaminya yang telah jauh tentang masa depan pernikahan mereka.
Hari ini benar-benar mereka menghabiskan waktu berdua, Naima merasa bahagia, merasa jadi wanita yang paling dicintai dengan perlakuan lembut Alvian. Mereka berdua memang sama-sama memiliki keinginan dan tujuan yang sama dalam pernikahannya. Mereka pun berharap semoga takdir mengikat mereka sampai di kehidupan kekal nanti. Walaupun merekapun menyadari tak ada pernikahan yang benar-benar tanpa hambatan. Pasti dalam satu hubungan akan ada masalah- masalah yang akan mereka lalui, namun ketika itu datang mereka akan ingat kembali dengan tujuan awal mereka, sehingga apapun kedepannya masalah yang datang mereka yakin akan bisa menghadapinya bersama-sama.
Pernikahan adalah sebuah hubungan awal dari perjalan hidup kita di dunia. Perjalanan awal yang sebenar-benarnya dalam kehidupan manusia dewasa untuk menyempurnakan separuh agama. Berharap kita akan menjadi pasangan dunia akhirat kelak.
__ADS_1
Happy reading 💜💜💜
maaf telah lama menghilang. semoga masih setia mengikuti cerita Alvian dan Naima.