IMAM KU

IMAM KU
Duka


__ADS_3

Sesuai dekrit yang dikeluarkan oleh sang maha ratu amuba. Sehari setelah Bizar melamar Naraya, keluarga Dirgantara kembali mendampingi anak bujangnya melamar putri Ghaitsaa.


Ya Farhan dan Naswa, kini mereka sudah resmi menjadi calon pengantin sama seperti dua pasangan sebelumnya. Dan sesuai pembahasan yang sudah-sudah, pernikahan ketiganya akan dilangsungkan secara bersamaan.


Satu pelaminan untuk 3 pasang manusia.


Hari berganti, semua orang telah sibuk dengan urusan masing-masing tapi dengan tujuan yang sama, mempersiapkan pernikahan mewah nan megah.


Sama halnya dengan Syauqi yang kini sedang kesusahan membujuk bujang kecilnya membeli sepatu. Kemauan bujang kecil itu sudah sama persis dengan bujang tanggung diluaran. Banyak permintaan dan komentar.


"Please ya sayang, mommy lelah kalo gini terus." Syauqi terduduk lemas dikursi yang disediakan ditoko sepatu tersebut.


Ghifa masih memasang wajah datar. "Ghi mau yang kayak punya Om Kahfi, Mom. Nggak mau tau." Baginya, pilihan sang ibu sangat kekanakan dan sama sekali tidak sesuai dengan seleranya.


Jika sudah begini, Syauqi rasanya ingin melompat kelantai bawah tanpa pemanasan.


Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya drama anak bujang dengan sepatu sudah berakhir dengan hasil yang lumayan. Keputusan sudah ditetapkan, yakni tripel sneakers putih garis hitam hasil diskusi panjang Syauqi dan Ghifa serta dengan Luthfi jalur video call.


Khayalan dengan sepatu pantofel dan heels sudah menguap ntah kemana, jangan dibayangkan lagi pernikahan ala pangeran dan putri. Itu semua tak akan terjadi.


Dalam perjalanan, Syauqi memilih menyandarkan kepalanya ke jendela mobil dengan mata yang terpejam. Jujur saja, ia lelah dan pikirannya sedikit terganggu. 


Ghifa hanya diam dan sesekali memperhatikan sang mommy yang terlihat sangat lelah, hatinya mulai merasakan rasa bersalah.


"Mom." Panggilnya lirih. Ia takut menganggu sang mommy.


Syauqi hanya berdehem sebagai jawaban.


Ghifa menautkan jemarinya. "Maaf. Ghifa udah bikin mommy lelah." Ucapnya dengan suara yang hampir tak terdengar.


Melihat Ghifa yang bersikap manis seperti ini, senyum Syauqi tersungging. "Tidak masalah sayang, maaf kan mommy juga yaa." Syauqi meraih Ghifa dan mendudukkan bocah itu dalam pangkuannya.


"Perasaan mommy tiba-tiba menjadi tidak tenang sayang. Itu sebabnya mommy diam, mommy tidak marah pada Ghifa." Lanjutnya dengan mendekap Ghifa erat.


Setidaknya dengan Ghifa berada dalam pelukan nya, hatinya sedikit tenang.

__ADS_1


"Apa Mommy takut terjadi sesuatu disaat pernikahan Mommy dan Papi nanti ?"


"Ntahlah.. Mommy hanya..." Ucapan Syauqi terhenti kala dering ponselnya menyapa. Dengan sigap dirinya mengangkat panggilan itu.


Namun tak satupun kalimat keluar dari mulutnya, hanya saja tubuhnya seketika menegang.


"Pak, ke Rumah Sakit Medika." Perintah Syauqi kepada pak supir setelah ponsel dalam gengamannya tak lagi ada suara dari seberang.


Ghifa yang menyadari perubahan sang mommy langsung memberikan pelukan hangat guna menenangkan.


Keduanya masih terdiam, hingga beberapa saat barulah Ghifa mulai bertanya tentang apa yang terjadi.


"Mom, are you okey ?" Ghifa mendongakkan kepalanya.


Syauqi mencoba untuk tersenyum. "Mommy okey sayang, kirim pesan pada Papi untuk menyusul kita ke Rumah Sakit Medika ya sayang. Katakan Om Pasha sedang kritis." Ucapnya masih dengan senyum.


Dengan sangat menurut, Ghifa langsung mengirim pesan kepada sang Papi.


Kini sepasang ibu dan anak itu sudah sampai dirumah sakit. Keduanya langsung menuju ruangan dimana keluarga Nugraha berkumpul. Dan disana juga sudah ada Shazia dengan keadaan yang bisa dikatakan memprihatinkan.


"Tante apa yang terjadi pada Bang Pasha ?" Tanya Syauqi tanpa ada basa basi cium tangan.


Rania menghela nafas dengan tatapan sendu. "Anak itu melampiaskan semua rasa bersalah dan penyesalannya pada hal-hal terlarang Qi. Selama ini tanpa kita tau, dia mengkonsumsi miras dan obat terlarang. Dia juga sudah lama keluar dari angkatan." Jelas Rania tenang, namun tetap dengan nada kesedihan.


"Dia overdosis." Lanjutnya lagi.


Syauqi yang mendengar itupun seketika melemas. Apa ini karena dia ?? Kenapa Pasha melakukannya ??


"Mommy !!" Ghifa berteriak saat Syauqi terhuyung. Untung saja Dion sigap menangkapnya.


"Mommy, please mommy jangan begini. Are you okey mommy ??" Ghifa menggoyangkan bahu Syauqi. Sungguh, bocah kecil itu takut terjadi apa apa pada sang ibu.


"Mommy tidak apa-apa sayang. Dimana papi nak ??" Tanya Syauqi lemah. Dia butuh Luthfi sekarang.


"Papi bentar lagi sampai, mungkin 5 menit lagi." Jawab Ghifa seraya merengkuh lengan sang mommy.

__ADS_1


Syauqi masih terduduk lemas dengan Ghifa disampingnya. Pikiran nya melayang ntah kemana.


'Bang, maaf jika aku melukai hati mu. Maafkan aku yang tak bisa kembali padamu. Terimakasih atas 23 tahun kebersamaan kita, aku menyayangi mu. Dan aku juga sudah memaafkan dirimu sejak dimana kamu mengatakan permintaan maaf mu untuk yang pertama kalinya.' Bathin Syauqi dengan hati yang pilu.


Ia tak menangis. Namun dalam sorot matanya terkihat jelas jika ia sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Hingga beberapa menit berlalu, dokter yang menangani Pasha keluar dan bersamaan dengan datangnya Luthfi.


"Bagaimana keadaan anak saya dok ?" Rudi langsung mengajukan pertanyaan.


Sang dokter menghela nafas sesaat. "Maaf pak, kami sudah melakukan yang terbaik. Namun Allah lebih menyayanginya dari pada kita semua yang ada disini." Jelas sang dokter.


Tak perlu lagi diperjelas, semuanya sudah paham apa maksudnya. Pasha memilih pergi untuk selama-lamanya.


"Terimakasih dok, sudah berjuang sampai detik ini. Mungkin ini yang terbaik untuk putra kami." Jawab Rudi dengan tenang walau pun air mata mengalir deras.


Semua sudah ikhlas, semua sudah menduga jika akan seperti ini akhirnya. Rania sang ibu hanya terduduk dilantai tanpa menangis. Dalam hatinya hanya berulang kali mengatakan betapa ia menyayangi putra tunggalnya lebih dari apapun.


Luthfi langsung sigap mendekap Syauqi yang hampir hilang kesadaran. Calon istrinya itu masih belum mampu menerima apa yang terjadi saat ini, rasanya semua hanya ilusi. Dan ia paham bagaimana perasaan Syauqi saat ini, karena dirinya juga sangat terkejut.


Jika bertanya Shazia, gadis itu hanya mampu menunduk dalam. Tangan nya mengepal, air matanta terus menetes. Ia menyalahkan dirinya sendiri.


Karenanya Pasha dan Syauqi berpisah, membuat Syauqi terluka dan membuat Pasha menggila hingga berakhir meregang nyawa. Semua salahnya, salah nya dan salah nya.


Aarrrrrrrrghhhh !!!!!!!!!!!!!!!!


°°°°°°°°°


Hiks Hiks Hiks Huaaaaaaa😢😭😪 Srooootttt hmmm🤧🤧


Nggak nyangka ya Bang Pasha, kamu pergi secepat ini😫


Ketika Alm. Eril tenggelam di sungai Aare, kok kamu malah tenggelam dalam luka dalam ??😞 Sungguh cepat sekali kamu ter-shutdown🙁


Saya selaku author dan pencabut nyawa dalam cerita, turut berduka cita😔💐

__ADS_1


__ADS_2