IMAM KU

IMAM KU
Aleta Takut


__ADS_3

Syauqi memandang Aleta dengan tatapan bingung juga takut. Apakah bundanya dulu beneran menyeramkan sehingga membuat Aleta salah seorang yang mengenal nya mendadak terkejut dan ciut saat hanya sekedar mendengar namanya.


Ntahlah Syauqi tidak tahu ini situasi semacam apa.


"Mama kenapa ma ? Ada yang salah ?" Luthfi memandang Aleta meminta penjelasan, dirinya kembali teringat saat pertama kali bujang kecil nya menyinggung Syauqi dan mendapat respon aneh dari sang mama.


Guntur yang paham apa yang terjadi langsung berusa menenangkan sang istri. Untuk hal ini jangan sampai diketahui Syauqi lebih cepat karena ini adalah pertemuan perdana mereka.


"Mama cuma kaget aja, karena mama kenal dengan bunda Kamu Qi, dan lama udah ga ketemu." Bukan Aleta yang menjawab melainkan suaminya, Guntur.


Mana ada keberanian Aleta mengungkapkan itu. Sebisa mungkin dirinya bersikap tenang seolah apa yang suaminya katakan adalah kebenaran walaupun ada yang masih ada yang tersembunyi.


Berulangkali Aleta menghembus kan nafasnya hingga sekarang lebih tenang.


"Iya Qi, maaf yaa bikin kamu nggak nyaman." Sambung Aleta dengan senyum canggung. Ntahlah perasaan nya saat ini lebih mengarah pada rasa takut.


"Kirain ada apa ma, calon  Luthfi udah langsung pucet nih kayak cumi kesiram cuka." Saut Luthfi seraya menyentuh bahu Syauqi yang menegang.


Gimana nggak tegang cobak, ekspresi calon mama mertuanya mendadak serem begitu. Hati calon mantu sholeha kan jadi ketar ketir .


Syauqi menghela nafas lega, badannya yang kaku mulai melemas dengan sendirinya. Bahkan badannya sedikit merosot.


"Yaudah kalo gitu mama tinggal dulu, nyiapin makan siang buat kita semua." Aleta beranjak dari duduknya.


Sebelum benar-benar pergi, Syauqi menghentikan nya.


"Maaf nyonya, boleh saya ikut membantu." Ucap Syauqi penuh kemantapan hati. Walau sempat mendapat serangan dan menjadikannya manusia tanpa nyawa sesaat, Syauqi tak lupa dengan rencananya untuk meniru sang bunda meluluh kan hati mertua


Tangan boleh kosong, tapi kesempatan memasak makan siang nggak boleh dibiarin gitu aja.


Dengan senyum ragu, Aleta mengangguk. Perasaan takutnya ia kesampingkan untuk sementara. Dirinya terlalu menyayangi Luthfi walaupun bukan darah dagingnya, dan dia tidak ingin membuat anak sulungnya itu kecewa. Jadi sebisa mungkin Aleta berusaha menerima Syauqi dengan lapang dada. Lagi pula Syauqi juga tidak bersalah.


. . .

__ADS_1


Keduanya saat ini sudah berada didapur, Syauqi yang memang dasarnya adalah babu perdapuran di rumah Dirgantara dibawah kepemimpin sang bunda langsung siap siaga dengan peralatan dapur Aleta.


Bahkan rasa canggungnya sudah lenyap bersama sisik ikan yang dibersihkannya.


Disela dirinya memotong bahan masakan, Aleta memandang Syauqi kagum. Gadis cantik yang hampir sempurna itu suka rela menerima cucunya, menerima putranya yang duda tanpa pamrih.


Bisa dilihat jika Syauqi adalah gadis muda yang mapan, bukankah mendapatkan pria yang sebanding dengan nya begitu mudah ?? Dan yang jelas bujangan, bukan duda.


Syauqi yang merasa terperhatikan menoleh kearah Aleta dan tersenyum manis.


"Ini ikannya udah bersih. Nyonya biarkan saya saja yang memasaknya boleh ??"


Syauqi bertanya sekaligus izin, ini kesempatan nya untuk mengambil hati calon mertuanya melalui keahlian wanita diwilayah kekuasaannya, dapur.


"Kamu nggak perlu bantuan ??"


"Khusus hari ini, Nyonya duduk saja. Biar saya yang mempersiapkan makan siang."


Setelah mendapat persetujuan, Syauqi langsung mengeluarkan jurus jurus nya. Keahliannya memasak memang didapat dari sang bunda dan Oma Ratih.


Aleta hanya memandang nya dari meja makan, hatinya bimbang dan perasaan takut menghantuinya.


Dia mengidamkan Syauqi menjadi menantunya. Sangat.


Walaupun ini pertemuan pertama, tapi Aleta tau jika Syauqi adalah wanita baik dengan penuh ketulusan dalam dirinya.


Tapi kenyataan Syauqi putri dari Shena dan Juan membuatnya takut jika suatu saat nanti semuanya tau, Syauqi tak mendapat restu dari kedua orangtuanya hanya karena Luthfi adalah putra sambungnya.


Dirinya tidak siap melihat putra sambungnya terluka dan kecewa karena menjadi anak nya. Dan dirinya juga tidak sanggup jika Syauqi ikut merasakan kekecewaan itu.


Dan bagaimana dengan Ghifa ?


Sehancur apa hatinya nanti jika Syauqi tidak menjadi mommynya ??

__ADS_1


Tak terasa air matanya menetes tanpa izin, hanya dengan memimirkan nya saja hati Aleta terasa diremas dengan kuat.


Tapi dirinya juga tidak ada keberanian melawan Juan. Terlalu banyak kesalahan yang diperbuatnya dahulu.


. . .


30 menit berlalu, Syauqi menyelesaikan acara masaknya dan selama itu pula Aleta berperang dengan dirinya sendiri.


Guntur yang menyadari keadaan istrinya memilih diam. Dia tau betul apa yang menjadi beban pikiran Aleta saat ini.


Kemudian acara makan siang berlangsung dengan khidmat. Tidak ada yang aneh, semuanya baik baik saja. Lebih tepatnya Aleta berusaha sebisa mungkin untuk terlihat baik baik saja.


Hingga Luthfi mengantar Syauqi pulang dan Ghifa yang dibawa Rendi untuk tidur siang.


"Mama udah bisa melepaskan semuanya sekarang. Papa tau mama berusaha terlihat baik baik saja didepan Luthfi dan Syauqi." Guntur menghampiri istrinya yang terduduk lesu ditepi ranjang.


Aleta menoleh, kemudian langsung memeluk suaminya. " Pa, mama takut akan kemungkinan yang terjadi nanti jika Juan tau kalau Luthfi adalah putra ku."


"Apa dia akan merestui hubungan putrinya dengan Luthfi, sedangkan Luthfi adalah putra dari seorang yang sangat ia benci sejak dulu ?"  Aleta mencurahkan semua kegundahan nya.


"Mungkin semua sudah berubah ma, semua sudah berlalu begitu lama." Guntur mencoba memberi pengertian. Tangannya terus mengusap lembut lengan sang istri.


Aleta memejamkan matanya sejenak. "Apa papa lupa bagaimana sikap Juan saat kita tak sengaja bertemu di resto malam itu . Semua masih sama Pa. Mama takut jika nanti Juan menolak kenyataan bahwa putri nya memilih Luthfi. Mama nggak mau Luthfi terluka Pa." Aleta sudah tak bisa menahan  isak tangisnya. Air matanya luruh begitu saja.


Guntur hanya diam, dirinya membenarkan apa yang dikatakan sang istri. Dirinya juga berpikir bagaimana nanti jika keduanya tidak mendapat restu Juan ??


"Lalu jika itu terjadi pa, bukan mama su'uzhon pada Juan tapi sebagai ayah pasti Juan akan melarang Syauqi putrinya untuk dekat dengan Luthfi dan Ghifa. Jika hanya Luthfi yang terluka mama atau papa masih bisa membantunya bangkit, tapi bagaimana dengan Ghifa cucu kita pa ?? Sehancur apa dia nanti jika kenyataan menjauhkan nya dari Mommy kesayangannya ??" Aleta melemas, mengingat kebahagiaan cucunya saat bersama Syauqi. Sanggupkah dirinya melihat sang cucu yang kecewa ??


Tapi bagaimana caranya membujuk Juan untuk merestui keduanya ?? Demi sang cucu. Dia tak memiliki keberanian itu.


Ataukah dirinya meminta Luthfi menjauhi Syauqi saja sebelum semua terlambat ..??


Tapi bukankah itu efek nya akan sama saja dengan Juan yang tidak merestui. Aleta benar benar kalut dengan pikiran dan perasaan takutnya.

__ADS_1


__ADS_2